Kegenitan Pembuat Peraturan, Pembangkitan Kesadaran serta Kode Etik Jurnalistik


Di depan sebuah laptop yang connect dengan internet, sepasang suami istri bercengkerama membicarakan banyaknya peraturan yang dimaksudkan untuk membuat tindakan warga negara menjadi lebih baik akan tetapi terkesan semakin merepotkan. Lebih penting membuat banyak peraturan atau membangkitkan kesadaran?

Sang Suami: Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD berkata, “Saya melihat munculnya UU yang kadang kala tumpang tindih itu karena menteri-menteri genit. Artinya, kalau menjadi menteri harus membuat UU meski UU sudah ada, ingin diubah. Pokoknya biar ada tandanya dia jadi menteri itu buat UU. Itu sebabnya Prolegnas, Program Legislasi Nasional di DPR jadi menumpuk. Karena setiap menteri  usulkan UU ini, tanpa jelas urgensinya. Apa naskah akademiknya, bahwa itu perlu,”……. Saya merasa ada benarnya juga pernyataan tersebut, berbagai peraturan telah dibuat pemerintah, akan tetapi seakan tidak mengubah kondisi juga, bahkan terkesan lebih merepotkan.

Sang Isteri: Ya, dan Menkominfo Tifatul Sembiring tidak setuju dengan pernyataan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD terkait banyaknya UU yang tumpang tindih karena menteri kegenitan. Kata Tifatul, RMP Konten Multimedia yang digodoknya bukan untuk cari perhatian…….. Mungkin sang menteri melihat berbagai kebebasan di dunia maya merugikan beberapa pihak, bukankah ada group yang mengatakan “Say No” kepada suatu organisasi. Group tersebut dalam bulan ini sudah menyembunyikan diri, entah karena pemilu telah lama usai, walapun group itu mungkin pernah merugikan organisasi tersebut?

Sang Suami: Kembali kita mempertanyakan, sesungguhnya mana yang lebih penting, pembuatan berbagai peraturan atau pembangkitan kesadaran? Karena seseorang yang telah sadar dia tidak akan melanggar peraturan. Sedangkan seseorang yang tidak sadar, selalu mencari celah dari sebuah peraturan. Lihat masalah korupsi, kurang peraturan apa? Bahkan larangan dan disiplin pejabat, juga pendaftaran kekayaan pejabat pun sudah memadai. Akan tetapi kalau di bidang pendidikan “copy paste” sudah menjadi kebiasaan, bahkan telah menyangkut pengajar Perguruan Tinggi, ya sudah sangat mendesak pendidikan usia dini tentang kejujuran.

Sang Isteri: Kita bisa mendapatkan banyak pelajaran, bisa membangkitkan kesadaran atas jasa mass media. Mass media adalah jendela dunia bagi masyarakat. Dari mass media kita paham bahwa  kelemahan bangsa kita adalah pengimplementasian sebuah peraturan. Aturan tidak dilaksanakan dengan konsekuen. Dan itu adalah bagian dari ketidaksadaran. Semoga mass media menjaga kode etiknya.

Sang Suami: Semoga mass media menyadari perannya yang suci dan mulia, coba kita simak Kode Etik Jurnalistik Hasil Kongres XXII PWI tahun 2008.

Pasal 3, Wartawan Indonesia pantang menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang menyesatkan memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul serta sensasional.

Pasal 5, Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Karya jurnalistik berisi interpretasi dan opini wartawan, agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya.

Pasal 6, Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.

Pasal 7, Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang.

Pasal 8, Wartawan Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila (asusila) tidak merugikan pihak korban.

Pasal 11, Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita.

Pasal 16, Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahawa penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing.

Sang Isteri: Terus bagaimana sumber berita Tara dan Sum yang memberitakan hal dengan tidak berimbang dan hanya berdasar pengacaranya saja? Semoga sumber berita tersebut cepat sadar dan ingat kode etiknya.

Sang Suami: Nampaknya berbagai tanggapan teman-teman yang tak kunjung padam telah menyadarkan mass media sehingga tidak larut dalam pemberitaan yang memojokkan dan tidak berimbang. Semoga setelah terbukti siapa yang benar mereka masih ingat kode etik pasal 10. Pasal 10, Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional kepada sumber atau obyek berita……. Dengan pemberitaan tersebut maka nama seseorang yang dirugikan segera cepat pulih. Akan tetapi semuanya kembali kepada kejujuran yang saat ini masih merupakan barang langka.

Sang Isteri: Benar suamiku, saya pernah membaca buku bahwa kesadaran dulu baru moralitas. Seseorang yang sadar dengan sendirinya akan menjadi moralis, tetapi seorang moralis belum tentu sadar. Sadar akan hakikat dirinya, sadar akan lingkungan, sadar akan kewajibannya terhadap keluarga, perusahaan di mana ia bekerja – sadar akan segala sesuatu. Seseorang yang sadar dengan sendirinya akan menjadi moralis. *Baghavad Gita, AK

Sang Suami: Saya juga ingat kutipan dari sebuah buku, Biarkan kasih mewarnai setiap lembaran kehidupan anda. Peraturan-peraturan yang dibuat tanpa memperhatikan unsur Kasih akan sirna, akan lenyap, akan hilang. Peraturan yang berasakan kasih, berdasarkan kasih, akan langgeng, abadi dan berlaku sepanjang jaman. Sesungguhnya “kasih” itu sendiri merupakan peraturan. Satu-satunya peraturan. Kata Gibran, “Kasih adalah bayangan Allah dalam diri setiap manusia.” Dan ia benar. Definisinya tentang kasih tepat sekali. Ia yang telah menemukan kasih dalam hidupnya menjadi sadar. Dan kesadaran tidak membutuhkan peraturan. Ia yang belum menemukan kasih masih belum sadar. Dan ketidaksadaran akan selalu melanggar peraturan. Yang penting adalah kasih. *ABC Kahlil Gibran, AK……. Nampaknya Para Sahabat Jurnalis pun perlu latihan Meditasi. (^_^)

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: