Peduli Keindahan Suara dan Kebijakannya, Tak Peduli Kehidupannya, A Bad News is a Good News


Sepasang suami istri setengah baya kita, kali ini membicarakan tag dari notes sahabat mereka di FB, yang satu dari Kalimantan dan yang satu dari Lampung, Sumatera.

Sang Suami: Sahabat kita menulis bahwa mass media adalah kekuatan yang sangat ampuh di atas bumi ini. Mereka mempunyai kekuasaan untuk membuat orang suci menjadi bersalah dan membuat orang bersalah menjadi suci. Kekuatan yang luar biasa, karena media dapat mengendalikan pikiran massa.

Sang Isteri: Sahabat kita dari Kalimantan, men-tag bahwa almarhum Michael Jackson adalah salah satu korban yang parah dari sikap mass media yang berprinsip “a bad news is a good news”. Selama bertahun-tahun, sang legenda menderita dalam penghinaan atas kasus “pelecehan seksual” terhadap anak-anak, yang tidak pernah terbukti kebenarannya! Bahkan sesaat setelah kematian sang legenda, anak yang dilecehkan tersebut mengaku bahwa ia hanya disuruh oleh orang tuanya untuk membuat keterangan palsu!

Sang Suami: Membaca apa yang dimuat belakangan ini di beberapa sumber berita tentang Bapak Anand Krishna, sepertinya prinsip “a bad news is a good news” masih ditampilkan juga. Seringkali untuk mendapatkan popularitas dan rating yang tinggi, media dengan mudahnya mengungkap berita yang belum terbukti kebenarannya daripada memuat berita tentang prestasi atau jasa-jasanya terhadap negeri ini. Mereka tidak merasakan bagaimana rasanya disalahpahami masyarakat karena berita.

Sang Isteri: Bukankah sejak zaman baheula tindakan demikian sering diulangi? Gusti Yesus, sampai sekarang kata-katanya masih diabadikan dalam Kitab Suci, akan tetapi masyarakat tidak membantu kala dia disalibkan secara tidak adil. Sebagian warga dunia mungkin masih hapal kalimat “I have a dream” dari Dr. Martin Luther King, akan tetapi dia dibiarkan tertembak mati. Demikian pula Mahatma Gandhi yang dianggap Bapak Pejuang Tanpa Kekerasan yang mengilhami banyak tokoh, tetapi dia tak terkawal sewaktu ditembak. Pun demikian pula J.F. Kennedy. Beberapa mendiang pemimpin bangsa “di dunia” disalahpahami di akhir hayatnya setelah lengser karena berita. Semoga para insan mass media sadar atas keampuhan kekuatannya, sehingga dapat menggunakannya untuk kemaslahatan bangsa.

Sang Suami: Kode Etik sudah ada, akan tetapi seperti notes Sahabat dari Lampung, siapa yang mengontrol media dia yang mengontrol pikiran massa. Media sangat terbatas, sedikit sekali jumlah pemilik dan  pengaruhnya terlalu besar. Seperti hukum alam, Hukum Pareto bahwa yang 20% punya pengaruh 80%, itu dalam kondisi normal, dalam keadaan tak normal 5% bisa mempengaruhi 95%.

Sang Istri: Kebiasaan buruk manusia adalah menyia-nyiakan pahlawan saat dia masih hidup dan memujanya kala ia sudah meninggal. Sudah waktunya kita sadar. Kita harus mempertanggungjawabkan semua tindakan kita entah kapan, entah esok atau lusa. Akan ada saat kala mulut dikunci dan anggota tubuh yang berbicara.

Sang Suami: Sahabat kita di akhir notes-nya mengutip,  Don’t hate the media, become the media — Jello Biafra. Kita hanya punya facebook dan blog, marilah kita manfaatkan sebaik-baiknya sebagai media milik kita.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: