Meditating on the Media

By Anand Krishna on The Bali Times

http://www.thebalitimes.com/2010/03/26/meditating-on-the-media/comment-page-1/#comment-609780

 

March 26, 2010

The media is the most powerful entity on earth,” said the American black militant leader Malcolm X, popular in the 1960s. For, in his own words, “They have the power to make the innocent guilty and to make the guilty innocent, and that’s power. Because they control the minds of the masses.”

How does the media do this? How does it control the minds of the masses? By repeating one thing over and over. In the words of my very dear friend the late Dr Setiawan, a neurosurgeon par excellence, “The mind can be manipulated and controlled by intensive repetition.”

The word “mind” here is used for the “common mind.” A common mind is a dull mind. When it is bombarded with a certain idea – whether constructive or destructive – it begins to believe in it. A dull mind cannot differentiate between the two.

Now, a dull mind is not necessarily an illiterate mind. A highly intellectual mind can also be dull, and therefore destructive. On the other hand, an illiterate mind can be sharp, and therefore constructive. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan: Manusia Baru Menyerasikan Otak Dengan Hati

Malam itu sepasang suami istri sedang bercengkerama di ruangan dalam sebuah rumah di Solo. Di dinding ruangan tersebut terdapat lukisan Dewi Saraswati yang mereka peroleh saat berlibur ke Bali. Mereka sedang membicarakan komentar-komentar para sahabat mereka tentang “Head Oriented”,“Heart Oriented” dan “Neo-Man”.

Sang Istri: Ada manusia yang berorientasi kepada otak dan ada yang berorientasi kepada hati, serta ada yang memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang “Neo-Man”. Manusia Baru adalah Manusia Sempurna dalam pengertian “The Total Man”. Manusia “Lengkap”. Manusia Baru yang tidak diperbudak oleh hati maupun otak. Ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah “Pembantu” hati atau otak, ia adalah “Majikan” yang mengendalikan keduanya. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair, penulis, dan tentu saja para pendidik dan para pemuka agama. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung……. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata….. Suamiku, komentar para sahabat kita sangat bermakna, dan mereka mendiskusikan penyerasian antara otak dan hati, antara pikiran dan rasa. Baca lebih lanjut

Eksistensi “Agama Asli Indonesia” Dan Perkembangannya Dari Masa Ke Masa

http://www.facebook.com/#!/notes/dullnaif-skeptyo/faith-eksistensi-agama-asli-indonesia-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa-/378637844662

ditulis di Facebook oleh Dullnaif Skeptyo

 Hari ini jam 3:40

Oleh: K.P. Sena Adiningrat

*) Disampaikan dalam Sidang Mahkamah Konstitusi dalam rangka Permohonan Uji Materi Undang-undang Nomor 1/PNPS/ 1965, di Jakarta, 23 Maret 2010.

I. Pendahuluan

Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan/ Penodaan Agama − terlepas dari maksud untuk menjaga dan melindungi keluhuran nilai-nilai agama − kenyataannya jelas-jelas mengandung diskriminasi terhadap agama-agama tidak resmi, khususnya penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa.

Penjelasan Pasal 1 undang-undang ini jelas hanya memprioritaskan 6 agama yang diakui pemerintah, sekaligus mendapat bantuan dan perlindungan, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kongfusius. Sedangkan agama-agama lain, misalnya Yahudi, Sarazustrian, Shinto, Thaoism, sekalipun tidak dilarang tetapi terkesan dinomor duakan, seperti tampak pada rumusan “…dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundang-undangan lainnya”.

Ada lagi penjelasan Undang-undang ini yang jelas-jelas merendahkan eksistensi aliran kepercayaan yang berbunyi: Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalur-kan kearah pandangan yang sehat dan ke arah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ungkapan ini jelas-jelas menempatkan para penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seolah-olah mereka menjadi “objek binaan”, karena karena pandangannya tidak sehat dan tidak mengarah kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Baca lebih lanjut

Renungan: Antara “Head Oriented”, “Heart Oriented” Dan “Neo-Man”

 

Saptu adalah hari libur, dan siang itu sepasang suami istri sedang bercengkerama di beranda rumah di daerah Solo. Di dekat mereka berdiri patung Dewi Sri seukuran manusia yang mereka peroleh di Pasar Triwindu, nama lama dari Pasar Windu Jenar pusat kerajinan antik yang berada di jantung kota Solo. Mereka sedang membicarakan Manusia Baru, yang dibahas dalam buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Pustaka bali Post tahun 2007.

Sang Istri: Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang ‘Head-Oriented’, ada yang ‘Heart-Oriented’. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair, penulis, dan tentu saja para pendidik dan para pemuka agama. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung……. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata. Baca lebih lanjut

Renungan: Mengubah Pola Pikir Bagi Persatuan Bangsa

Sudah dua malam berturut-turut sepasang suami istri membicarakan beberapa mutiara dari buku “Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern”, karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia tahun 2002. Kemudian pada siang harinya mereka selalu mendiskusikannya dengan beberapa sahabat mereka. Dan kini adalah pembicaraan mereka di malam ketiga.

Sang Isteri: Dalam Jangka Jayabaya ditulis adanya “zaman jaran makan sambel”, kuda yang doyan sambal. Kuda sebetulnya tidak doyan sambal. Tapi, pada zaman tersebut ada kuda yang menjadi doyan sambal. Saat ini beberapa anak bangsa mudah ngamuk, gampang lepas kendali, sulit diatur, dan merasa benar sendiri. Saya yakin bahwa kita sebenarnya bukanlah bangsa yang suka “sambal kekerasan”. Akan tetapi melihat berita tentang penangkapan para teroris dan berita-berita kekerasan lainnya, rupanya ada beberapa anak bangsa yang suka melakukan tindak kekerasan terhadap saudara sebangsa dan setanah airnya.

Sang Suami: Dalam Jangka Jayabaya disebutkan pula akan munculnya para satria “agegaman tombak budi, tombak kawruh”, agegaman berarti memakai senjata, kemudian budi atau kawruh adalah pengetahuan tentang kesadaran. Putra-putri Ibu Pertiwi yang dengan penuh kesadaran berupaya mencerdaskan bangsanya……… Para pencetak pelaku kekerasan paham tentang subconscious mind. Mereka telah membentuk pola pikiran bawah sadar para pelaku tindak kekerasan dan para teroris. Semakin muda mereka dibentuk, semakin kuat pola tersebut mencengkeram diri mereka. Para pelaku kekerasan tidak sadar bahwa panggilan suci mereka adalah panggilan ‘mindset’ yang sengaja dibentuk oleh para pencetak pelaku kekerasan. Para pelaku merasa berjalan menapaki jalan suci, padahal mereka korban pembentukan mind-set, mereka menjadi budak dari pikiran bawah sadar yang telah terbentuk sejak kecil. Baca lebih lanjut

Science Meets the Arts

http://www.thebalitimes.com/2010/03/19/science-meets-the-arts

March 19, 2010

By Anand Krishna

Hardly? Impossible?

Not in Bali.

Here, science and the arts are not poles apart. Here, science and the arts are not opposed to each other. On this beautiful isle of gods, the two not only meet, but also complement each other.

This is the inner significance of Saraswati, the Goddess of Knowledge and Music. The Balinese are quite naturally drawn to this particular form of the Divine for She represents the totality of human experience. She is the very personification of power and beauty.

Every 210th day, the people of Bali celebrate Her presence in their lives and homes. Hari Raya Saraswati, or Saraswati Festival reminds them of the divine qualities She stands for.

She is depicted as a beautiful lady with four arms.

Each of Her arms represents one of the four purusharthas, the four pillars of the structure of human life. These, as we have discussed before, are Dharma, Righteousness; Artha, Prosperity; Kama, Willpower; and Moksha, the Ultimate Freedom (please see my earlier articles, at http://www.thebalitimes.com).

Two of her arms hold a veena, a stringed musical instrument representing the arts, music, all that is beautiful and fine. When She plays on the veena, the primeval sound Aum resonates and universes come into being. Baca lebih lanjut

Renungan: Melampaui Mind, Berbangsa Dengan Penuh Kesadaran

Sehabis makan malam, sepasang suami istri duduk santai di beranda dan membicarakan buku Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern, karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia tahun 2002.

Sang Istri: Seorang bijak berkata bahwa kita perlu sadar apa yang masuk ke dalam mulut dan apa yang keluar dari mulut. Berhati-hati dengan makanan yang akan masuk tubuh dan berhati-hati dengan ucapan yang akan keluar dari mulut. Akan tetapi manusia tidak hanya butuh makanan bagi fisiknya. Pikiran manusia pun membutuhkan makanan berupa informasi, sehingga pikiran membutuhkan buku, koran, internet, temu hati, berbagi rasa lewat Face Book dan lain-lain. Kembali kita harus berhati-hati dengan asupan informasi bagi pikiran tersebut.

Sang Suami: Mind kita dibentuk oleh informasi yang diperoleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orang tua, pengetahuan tentang agama dan lain-lain yang kesemuanya telah membentuk mind kita. Ilmu medis mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan perilaku yang ada dalam diri manusia. Stimulus atau rangsangan atau informasi yang masuk berulang kali membentuk synap-synap saraf  baru dalam otak. Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan bahkan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari conditioned mind, pikiran bawah sadar yang telah terbentuk. Sirkuit synap-synap saraf otak  hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi lebih permanen, stabil dan sulit dihilangkan. Inilah yang disebut mind. Manusia diperbudak oleh belenggu conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Baca lebih lanjut