“Aji Mumpung”, Berbagai Peraturan Pembendung Dan Peningkatan Kesadaran


Sepasang suami istri setengah baya kali ini berbagi rasa tentang buku Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004.

Sang isteri: Dalam MSN News disampaikan bahwa menurut survey Konsultan Political & Economic Risk Consultancy (PERC), Indonesia termasuk negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi. Indeks korupsi Indonesia mencapai 9,07 dari skala 10 yang ditetapkan survei. Cukup mengkhawatirkan karena nilainya lebih besar dari 8,32 yang merupakan penilaian tahun 2009. Apakah ini ada hubungannya dengan kebiasaan bangsa kita untuk menggunakan “aji mumpung”, memanfaatkan peluang selagi ada kesempatan?

Sang Suami: Kesempatan tidak pernah datang dua kali, dan peribahasa tersebut diimplementasikan secara negatif. Mumpung ada mahasiswi mengalami permasalahan keluarga, sebuah kelompok sakit hati mendapatkan amunisi untuk menjatuhkan seorang tokoh nasional berjiwa kebangsaan. Mumpung jadi pengacara, ada order khusus  serta jaminan suaranya akan diblow-up mass media, maka tanpa dasar hukum yang kuat dia berani mendiskreditkan seorang tokoh yang memperjuangkan kebhinekaan. Aji mumpung diartikan sebagai “menggunakan peluang yang ada untuk keuntungan diri sendiri”. Aji mumpung menggunakan wewenang, kekayaan, kepandaian, garis keturunan, jalur politik dan segala kelebihan yang dimiliki untuk menguntungkan diri sendiri.

Sang Isteri: Berbagai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Kode Etik, Dewan Kehormatan sudah banyak dibuat, akan tetapi para oknum selalu mencari celah kelemahan dari berbagai peraturan yang ada. Mengapa peraturan kurang efektif membendung aji mumpung? Apakah karena di dalam diri ada gairah semangat untuk memuaskan diri pribadi, sehingga ego kita selalu memanfaatkan peluang yang muncul?

Sang Suami: Saya baru saja membaca buku Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004. Manusia mewarisi naluri hewani, animalistic instinct, naluri yang hanya berkepentingan dalam diri sendiri. Naluri yang dapat mendesak manusia berbuat apa saja demi keuntungan pribadi. “Nota Sakti” yang sering dikeluarkan oleh para pejabat tinggi, lobbying, korupsi suap-menyuap, penyelewengan, nepotisme, dan masih banyak hal-hal lain semua berasal dari naluri hewani…….. Chakra Pertama atau Lapisan Kesadaran pertama, Kesadaran Dasar Manusia, berkaitan dengan “makanan”. Begitu seorang bayi lahir, kesadaran awalnya adalah “rasa lapar”, dan dia mulai mencari makanan. Kesadaran Awal ini oleh para praktisi yoga dikaitkan pula dengan “pembuangan”. Karena itu, secara simbolis diletakkan di sekitar dubur. Ada pemasukan, ada pengeluaran. Binatang akan puas jika diberi makanan apa saja. Sebaliknya, manusia sudah bisa memilih. Mau ini, tidak mau itu. Seseorang yang sangat mementingkan makanan dan dapur, sesungguhnya masih berada pada lapisan kesadaran yang satu ini……….. Chakra Kedua atau Lapisan Kesadaran Kedua, Kesadaran Diri Sebagai Energi, berkaitan dengan “seks”. Bayi yang kita pikir “belum tahu apa-apa” bisa main-main dengan alat kelaminnya. Karena itu, Lapisan Kesadaran Kedua ini secara simbolik diletakkan di sekitar alat kelamin. Kebutuhan seks dalam binatang bersifat biologis. Begitu butuh, mereka akan langsung mencari.  Dan asal dapat, entah dari mana dan dari siapa saja, mereka akan menikmatinya. Manusia bisa memilih. Dia bisa menahan diri. Tetapi pada saat yang sama, naluri yang satu ini juga berkembang lebih jauh menjadi “hawa napsu”. Keinginan untuk menimbun harta, untuk memperoleh kedudukan dan ketenaran semuanya masih merupakan pengembangan dari lapisan kesadaran kedua……… Chakra Ketiga atau Lapisan Kesadaran Ketiga berkaitan dengan kebutuhan akan “tidur”. Bagi binatang, tidur pun sekedar kebutuhan biologis. Begitu capai, mengantuk, mereka bisa tertidur di mana saja. Lapisan kesadaran ini secara simbolik ditempatkan di sekitar pusar. Dalam diri manusia, lapisan kesadaran ini berkembang menjadi kebutuhan akan “kenyamanan”, bukan sekedar tidur, sehingga jika mengantuk ia akan mencari ranjang yang empuk, ruangan yang nyaman, baru tidur. Selain itu, kebutuhannya akan kenyamanan diri sering kali membuatnya menjadi egois. Ia bisa mencelakakan orang lain, bisa mengabaikan kepentingan orang lain demi kenyamanan diri, demi kepentingan pribadi……. Jadi aji mumpung yang negatif adalah pengembangan dari sifat dasar manusia yang masih mewarisi sifat-sifat hewani.

Sang Istri: Iya suamiku, saya ingat dalam buku itu dijelaskan bahwa menurut ajaran-ajaran Tantra, kita tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar kita ke puncak kesadaran rohani. Seseorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seseorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, kita tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran. Berbagai keinginan dan obsesi yang tidak terpenuhi akan menghantui kita. Perjalanan rohani hampir tidak mungkin.

Sang Suami: Benar isteriku, obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu birahi terhadap seorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terdapat alam semesta, kita adalah seorang pengasih. Passion dan compassion, kedua kata dalam bahasa Inggris ini, berasal dari suku kata yang sama. Compassion berasal passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap Yang Abstrak, Yang Tak Dapat Dijelaskan.

Sang Isteri: Bapak Anand Krishna menjelaskan bahwa melangkah dari Lapisan Kesadaran Ketiga, kita memasuki Lapisan Kesadaran Keempat……… Dalam lapisan kesadaran ini, kita baru mengenal Cinta. sesungguhnya yang membedakan kita dari binatang adalah rasa yang satu ini, Cinta! Oleh karena itu, secara simbolik Cakra ini dikaitkan dengan dada. Mereka belum kenal cinta, sehingga setia macam apa pun, seekor anjing bisa melupakan majikan lama dan melayani majikan baru dengan mudah, asalkan ia memperoleh perhatian yang sama…………. Lapisan Kesadaran Kelima membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan manusiawi. Berada pada lapisan kesadaran ini, jiwa menjadi semakin bersih. Peletakan simbolik cakra ini disekitar leher………. Lapisan Kesadaran Keenam merupakan manifestasi Kesadaran murni dalam diri manusia, dan dikaitkan dengan suatu titik di tengah-tengah kedua alis mata. Lapisan kesadaran yang satu ini memang menghantar kita pada Kesadaran Ilahi……….. Lapisan Kesadaran Ketujuh berkaitan dengan perayaan, dengan tarian dan nyanyian. Secara simbolik, peletakannya di atas kepala. Berada pada lapisan kesadaran ini, kita memperoleh keseimbangan diri. Pengalaman suka dan duka, panas dan dingin, akan kita hadapi dengan senyuman. Hidup menjadi sebuah perayaan yang tak pernah berakhir. Gelombang kelahiran dan kematian tidak mempengaruhi kita lagi.

Sang Suami: Demikian isteriku, pelajaran leluhur yang diungkapkan pada Candi Sukuh yang terletak di Lereng lawu. Tingkatkan kesadaran, maka gairah semangat aji mumpung untuk memperoleh keuntungan pribadi dapat kita transformasikan menjadi semangat berkarya demi kepentingan bangsa dan kepentingan umat manusia. Dalam hal ini, pendidikan anak-anak bangsa merupakan prioritas utama. Semoga kearifan para leluhur menyebar ke seluruh Nusantara.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: