Antara Latihan Pengikisan Ego dan Pengkultusan Seseorang, Pandangan Esoteris


Dalam perjalanan dari Semarang menuju Solo, seorang pengemudi setengah baya dua kali istirahat “take a nap” di bawah pohon-pohon yang rindang di tepi jalan, untuk mengembalikan kesegarannya. Kemudian sambil pelan-pelan mengemudi, sang pengemudi bersama isterinya meneruskan pembicaraan mereka tentang keserakahan manusia. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang menarik dan lalu lintas yang ramai tidak lagi menjadi perhatian mereka.

Sang Isteri: Kita melihat peperangan di atas dunia ini tidak pernah berhenti. Konon 5.000-an  tahun yang lalu ada perang Bharatayuda, sebelumnya 10.000-an tahun yang lalu ada perang antara balatentara Sri Rama melawan Balatentara Rahwana. Sebelumnya lagi, sebelum-sebelumnya lagi selalu saja ada perang dan sampai saat ini pun tak pernah berhenti. Mungkin sebab awalnya adalah bahwa dalam diri manusia juga selalu ada perang sehingga tidak pernah ada kedamaian dalam diri. Peperangan tersebut pada hakikatnya dilandasi oleh ego dan kecemburuan.

Sang Suami: Benar isteriku, ketika ego muncul sebagai keserakahan, maka terjadilah tuntutan tanpa henti. Terdapat negara, perusahaan, pribadi-pribadi yang sangat kaya yang tidak pernah puas. Keserakahan telah mengakibatkan banyak penderitaan dan sangat sulit menghentikan mereka yang serakah. Mereka sangat kuat. Dan harus dipahami bahwa keserakahan hidup dalam pikiran manusia. Pikiran tidak bisa dilawan, kita hanya dapat memperbaikinya. Para Master, Para Guru, Para Murshid memberikan jalan keluar yaitu “Cinta”. “Cinta” adalah satu-satunya jalan. Keyakinan dan agama pun selama tidak dijalankan dengan rasa “Cinta”, telah terbukti tidak dapat mendamaikan manusia di atas bumi, bahkan malah menimbulkan peperangan.

Sang Isteri: Benar suamiku, dan semuanya harus dimulai dari diri sendiri. Kita tidak dapat menyerahkan masalah perdamaian kepada orang lain. Hanya apabila banyak orang yang sadar, yang damai di dalam dirinya, maka masyarakat akan damai. Dan itu dimulai dengan membangkitkan rasa “Cinta” dalam diri. Kalau kita belum bisa merasakan “Cinta”, minimal kita harus menyiapkan lahan untuk berkembangnya benih cinta. Kita harus membersihkan semua penghalang yang tidak kondusif. Dan penghalang tersebut adalah ego. Superioritas kita, rasa bangga kita yang merasa lebih dari orang lain.

Sang Suami: Penderitaan akibat perasaan yang memandang diri terlalu tinggi atau memandang diri terlalu rendah, menyebabkan kita tidak dapat merasakan kehadiran cinta dalam diri. Dengan melepaskan rasa bangga yang keliru, melepaskan ego yang menjadi latar belakangnya, kita semakin mendekati keadaan ideal – “Cinta”. Saya ingat pesan seorang yang sangat bijak, “Kelembutan dan sikap rendah hati adalah sifat utama yang dapat mengantarmu kembali pada Tuhan”. Keegoan, kebanggan diri menjauhkan diri kita dari Dia Yang Maha Besar. Menuhankan ego berarti men-“dua”-kan-Nya.

Sang Isteri: Saya pernah membaca penjelasan dari kalimat suci, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga”. “Miskin di hadapan Allah” tidak sama dengan “miskin” dalam pengertian masyarakat sehari-hari. “Miskin di hadapan Allah” tidak berarti tidak memiliki harta, atau tidak mampu. “Miskin di hadapan Allah” berarti menyadari keterbatasannya di hadapan Allah Yang Tak Terbatas. “Miskin di hadapan Allah” berarti menyadari kekecilannya di hadapan la Yang Maha Besar.

Sang Suami: Benar isteriku dalam buku Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern, tulisan Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004, dijelaskan hal tersebut. Apabila rasa kepemilikan dilepaskan dan berserah diri sepenuhnya pada Allah, maka di hadapan Allah kita menjadi miskin. Mereka yang minta-minta, yang pakaiannya compang-camping, yang tidak punya uang, belum tentu miskin. Selama mereka masih punya rasa kepemilikan, mereka tidak bisa dianggap miskin di hadapan Allah.

Sang Isteri: Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara.

Sang Suami: Dimana tiada Kebenaran dan “Cinta”, pasti ada pertengkaran dan ketidakharmonisan. Kepalsuan tidak mengenal kedamaian, egoisme tidak mengenal harmoni. Nilai-nilai palsu dan motif-motif egoistik berada di belakang kerakusan manusia dan segala konflik. Kita tidak mau berbagi dan tidak mampu saling merawat, karena jauh di dalam diri kita merasa lemah. Kita tidak memiliki kekuatan untuk melayani sesama karena kita kelelahan mengurusi problem-problem sepele pribadi kita. Dengan berguru kita belajar menundukkan ego kita. Bukan kemauan Guru untuk duduk di kursi dan kita duduk di lantai, tetapi dengan penuh kesadaran kita berupaya mengikis ego, mempersiapkan lahan bagi datangnya rasa “Cinta”. Bukan mengkultuskan tetapi latihan mengikis ego.

Sang Isteri: Seorang Guru datang dalam hidup seseorang bukan karena kehendak Sang Guru, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan seorang Murshid atau seorang Guru dalam hidup seseorang “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa seseorang tunduk kepadanya, karena sesungguhnya dengan “tunduk” kepadanya kita sedang “tunduk” kepada-Nya. Jika seseorang ingin berguru, maka dia perlu berguru pada seseorang yang dia percayai 100%. Bukan berguru pada seseorang karena pengetahuan orang itu. Seseorang harus berguru karena kepercayaannya. Keputusan untuk berguru harus datang dari diri sendiri. Masukan dari luar hanya merupakan bahan pertimbangan. Diri seseorang yang mempertimbangkan dan memutuskan. Janganlah berguru pada seseorang hanya karena banyak orang berguru kepadanya. Bila jumlah pengikut menjadi pertimbangan, sesungguhnya seseorang berguru pada “jumlah”, pada “kuantitas” tidak pada Guru. Dia tidak akan memperoleh sesuatu yang berharga.

Sang Suami: Benar Isteriku, Guru bersifat sangat pribadi, tidak ada hubungan dengan berita di luar, kita harus merasakannya sendiri. Santa Maria Magdalena meminyaki kaki Gurunya dengan minyak yang sangat mahal dan membersihkannya dengan rambutnya. Hanya Sang Santa sendiri yang dapat merasakan betapa berharganya Sang Guru yang telah mengikis egonya. Orang luar selalu menyalahkannya, mengapa memboroskan uang yang bisa bermanfaat bagi masyarakat hanya untuk  meminyaki kaki seorang Guru. Sang Santa dianggap mengkultuskan Sang Guru. Sebagian sahabatnya pun cemburu, mengapa Sang Santa bisa demikian pasrah.

Sang Isteri: Seorang Guru menggunakan berbagai cara untuk mengikis ego para muridnya. Masyarakat umum dengan menggunakan ego mereka ingin masuk kelompok pengajian atau pendalaman dan mereka ingin didudukkan sejajar dengan para pengajar. Mereka butuh penghormatan karena ego mereka. Itulah sebabnya mereka tidak bisa menerima seseorang yang patuh pada seorang Guru. Ego mereka tidak dapat menerima hal tersebut, mereka tersinggung dan mengatakan hal tersebut sebagai kultus pada seorang Guru. Mereka tidak menyadari bahwa belajar tanpa menanggalkan ego tersebut sudah terbukti tidak dapat mendamaikan diri dan tidak pernah mendamaikan dunia. Hanya bila banyak manusia yang sadar, menyadari egonya, menyadari jati dirinya, akan muncul rasa “Cinta” dan Love is the only solution.

Sang Suami: Kegerahan mereka kala melihat beberapa orang yang patuh terhadap Sang Guru membuktikan betapa kuatnya ego mereka. Mereka sendiri belum “mampu” menundukkan kepala. Mereka belum dapat memahami latihan pengikisan ego yang bukan mengkultuskan seseorang. Semoga semakin banyak orang yang sadar, semoga Keberadaan menumbuhkan rasa “Cinta” di banyak manusia. Love is the only solution.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: