MERAYAKAN KEHENINGAN


http://www.facebook.com/#!/notes/made-edy/merayakan-keheningan/373284747760

*Terjemahan bebas oleh Putu Harumini Waras dari artikel Bp.Anand Krishna di Koran The Bali Times edisi 12-19 March 2010, yang berjudul CELEBRATING SILENCE.

MERAYAKAN KEHENINGAN

Biasanya kita mengasosiasikan suatu perayaan dengan suasana hingar bingar, music yang keras, lagu, pesta, dan tentu saja kerumunan orang orang. Namun tidak demikian halnya dengan orang Bali ; tidak selalu demikian. Di pulau dewata ini keheningan dan kesunyianpun dirayakan. Sesungguhnya memang perayaan yang terpenting di Bali adalah perayaan keheningan. Ya, saya bicara tentang Nyepi – hari keheningan. Mengikuti tradisi dan kebijaksanaan kuno wilayah kepulauan ini, hingga kini orang Bali merayakan tahun baru mereka dalam keheningan. Sungguh suatu cara yang khas dan tidak lazim!

Nyepi adalah hari untuk berefleksi, dan melakukan instrospeksi diri. Nyepi adalah hari untuk kontemplasi dan meditasi. Pada hari ini, resolusi tahun baru dibuat dalam keheningan, keheningan yang sangat, sangat dalam. Mengapa mesti dalam keheningan? Apa yang istimewa dari keheningan? Hanya dalam keheninganlah segala konflik terselesaikan, semua perbedaan lenyap, kekuatan-kekuatan yang bertentangan menjadi selaras. Saya teringat pada dua orang pemikir besar China, Lao Tzu dan Kung Fu Tze, yang tidak pernah bisa bertemu secara intelektual. Namun di kedalaman keheningan mereka berdua bertemu :

Lao Tzu : Keheningan adalah sebuah sumber kekuatan yang maha besar.

Kung Fu Tzu : Keheningan adalah sahabat sejati yang tidak pernah berkhianat.

Kung Fu Tzu bicara tentang reformasi sosial. Lao Tzu menganjurkan transformasi ke dalam diri. Kedua tokoh ini tidak pernah bisa bertemu dalam pemikiran, wacana, maupun perbuatan. Namun dalam keheningan mereka bertemu. Kebisingan memecah belah. Keheningan menyatukan. Dan persatuan menguatkan, pemisahan melemahkan.

Nyepi adalah hari untuk mengumpulkan kekuatan – tidak hanya untuk membuat resolusi baru, tapi juga untuk mengejarnya, mewujudkannya. Keheningan Nyepi bukanlah keheningan tanpa makna. Sesungguhnya ia melampaui semua makna; ia adalah intisari kebenaran dari mana semua makna berasal.

Orang-orang bijak jaman dahulu bicara tentang empat lapisan kesadaran yang utama, umumnya diterjemahkan sebagai “keadaan jaga”, “keadaan mimpi”, “tidur pulas/dalam”, dan “keadaan yang keempat” yang melampau ketiga lapisan kesadaran terdahulu.

Lebih dari 2000 tahun sebelum Freud bicara tentang ‘pikiran sadar dan pikiran tidak sadar’ (conscious and unconscious minds) dan sebelum Jung menyelidiki lebih jauh tentang cara kerja ‘unconscious mind’, Rsi Manduka sudah menjelaskan secara detail tentang fungsi ‘mind’ dengan cara yang sangat menakjubkan para ilmuwan modern. Baik Freud maupun Jung tidak dapat menjelaskan lebih dari lapisan pikiran sadar dan tidak sadar. Para ilmuwan saat ini sedang berkutat dengan pemikiran tentang ‘lapisan super-conscious ’. Resi Manduka tidak saja menjelaskan ketiga lapisan kesadaran tersebut dalam risalahnya yang luarbiasa, Mandukya Upanishad, namun ia selangkah lebih maju dengan menyatakan bahwa ada lapisan yang lain, yaitu yang keempat , yang tak dapat dijelaskan oleh semua definisi. Maka dari itu hanya disebut sebagai ‘lapisan keempat”.

Apa yang disebut Freud sebagai lapisan sadar disebut oleh Rsi Mandukya sebagai kesadaran jaga. Kita terjaga sepanjang hari , namun kita tidak selalu sadar sepanjang hari. Kita tidak selalu hidup dengan sadar sepanjang hari. Kita terjaga, namun apakah kita sadar dengan segala tindakan kita? Apakah kita berpikir, berbicara dan bertindak dengan sadar? Apakah kita digerakkan oleh kebijaksanaan dan bimbingan dari dalam diri, atau oleh pemicu-pemicu dari luar? Apakah kita semata-mata bereaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi terhadap kita dan disekitar kita – ataukah kita sesungguhnya merespon secara bijaksana segala kejadiani itu?

Manduka menyebut keadaan ini vaishvanara, kesadaran umum (orang kebanyakan). Untuk hidup dalam kesadaran ini anda tidak perlu melakukan apapun. Ini adalah cara hidup semua insan, semua nara, semua manusia di planet ini.

Nyepi adalah hari untuk bertanya pada diri kita sendiri. Apakah kita puas hidup dalam jenis kehidupan seperti ini – kehidupan biasa-biasa saja orang kebanyakan ? Ataukah kita ingin hidup dengan cara berbeda; dengan lebih sadar. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya hidup dengan sadar, berkesadaran ?

Masuklah ke dalam diri – masuklah ke dalam lapisan kedua kesadaran anda, yang disebut ‘unconscious atau subconscious mind’. Pada lapisan kesadaran inilah anda bisa bermimpi, berimajinasi, dan merencanakan tindakan-tindakan anda. Dalam lapisan kesadaran ini anda bisa menggali, menemukan Taijasa anda, kekuatan dalam diri anda, potensi anda. Mimpi dan imajinasi dibutuhkan bil anda ingin membangun sesuatu yang berharga. Namun tidak cukup hanya itu. Mimpi, imajinasi dan rencana anda harus berasal dari lapisan kesadaran yang ketiga, yaitu Prajna – lapisan kesadaran kebijaksanaan. Lapisan kesadaran kebijaksanaan ini secara tidak sadar kita masuki ketika kita berada dalam tidur yang dalam tanpa mimpi, ketika pikiran kita beristirahat total, dan fungsi otak sangat minimal. Hanyalah setelah kita mengalami tidur seperti itu kita akan bangun dengan segar bugar di pagi harinya. Meditasi adalah cara untuk secara sadar masuk ke dalam lapisan kebijaksanaan ini. Meditasi adalah cara untuk memasuki lapisan kesadaran ini ketika kita berada dalam keadaan jaga, terjaga sepenuhnya. Dengan demikian meditasi mentransformasi ‘vaishvanara’ – kesadaran orang kebanyakan – menjadi Prajna, kesadaran para bijak.

Memasuki lapisan kesadaran ketiga dalam keadaan tidur akan menyegarkan kembali tubuh dan pikiran anda. Namun bila memasukinya dalam keadaan meditasi, jiwa anda mekar. Dan saat itu terjadi, anda bergerak menuju keadaan keempat ‘turiya’. Ini adalah keadaan yang tak terjelaskan, kebahagiaan sejati, ananda. Dalam keadaan ini semua dualitas lenyap, semua perbedaan lebur dan kita temukan sifat sejati sang diri, dengan ‘d’ kecil atau ‘D’ besar – terserahlah. Disinilah dimana seseorang akan berhadapan dengan Kebenaran dalam cahayaNya yang gemilang. Ini adalah keadaan dalam keheningan yang sempurna. Setelah mengalamii keadaan ini seseorang akan dengan mudah mampu mengembangkan ‘sikap yang hening’. Setelah mengalami keadaan ini kehidupan seseorang akan tertransformasi secara total. Mahatma Gandhi berkata : “Dalam sikap yang hening jiwa menemukan jalan yang lebih terang, dan segala sesuatu yang nampak rumit dan memperdayakan akan berubah menjadi sejelas Kristal.”

Nyepi adalah hari yang mengingatkan kita bahwa keadaan kesadaran seperti itu dapat kita capai. Keadaan itu bisa dialami oleh setiap orang. Ya, Nyepii adalah pengingat kita. Salah bila kita berpikir bahwa dengan menyepi setahun sekali pada hari Nyepi sudah cukup. Tentu saja sangat tidak cukup. Setiap orang harus mempraktekkan Nyepi setiap hari.

Apakah arti harfiah Nyepi ? Berasal dari kata ‘menyepi’ – berada dalam keadaan hening – ini bukanlah keheningan yang dipaksakan. Menyepi adalah berada dalam keadaan hening dengan sukarela, dan penuh kesadaran. Ini adalah meditasi. Pelaksanaan hening karena didasari rasa takut bukanlah meditasi. Orang harus melakukannya dengan sukarela. Dan dengan sukarela juga seseorang mesti melakukan langkah-langkah berikut untuk menuju keheningan total.

Amati Geni : Tanpa api/tanpa cahaya.

Diluar diri dilakukan dengan mematikan lampu/listrik, tidak menyalakan kompor, tidak menyalakan mesin, bahkan tidak menyalakan lilin. Kedalam diri, adalah mematikan nyala emosi dan nafsu kita.

Amati Karya : tidak bekerja /tidak beraktivitas

Tetaplah berada dirumah bila anda ingin melakukannya secara harfiah di luar diri, namun janganlah lupa untuk memasuki bagian dalam keberadaan anda. Itulah rumah sejati anda, tempat bersemayan diri sejati anda.

Amati Lelunganan : Tidak berada dalam keadaan yang tak terkendali (no waywardness).

Amatilah pikiran anda. Jadilah saksi dari gejolaknya, bagaimana awan-awan pikiran datang dan pergi.

Amati Lelanguan : Tidak memanjakan indria.

Praktekan pengendalian diri, praktekan disiplin diri dan belajarlah untuk menjadi majikan bagi indra-indra anda. Mulailah dengan puasa, namun tidak berhenti disana. Yang lebih penting dari apa yang masuk ke mulut anda adalah apa yang keluar dari mulut anda. Kendalikan ucapanmu. Batasilah keinginanmu, demikian kata Shre Satya Sai Baba.

Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, orang masuk kedalam meditasi.

Nyepi adalah jalan setapak menuju spiritualitas. Yaitu jalan untuk memasuki kenyataan terdalam kita. Bagi orang Bali, Nyepi bukan hanya hari raya, tetapi Nyepi juga adalah cara hidup, way of life. Dan way of life inilah yang membuat Bali menjadi dirinya : cantik namun balashali – adidaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: