Banyak Jalan Satu Tujuan


Pulang dari Kota Solo menuju Kota Semarang, sepasang isteri seakan mendapat energi baru, rasa segar membuat sang suami mengemudikan kendaraannya tanpa istirahat di jalan. Sang isteri bernyanyi pelan-pelan….. Jalan berbeda tapi menuju Satu……. Banyak jalan satu tujuan, jalan menuju Tuhan.

Sang Suami: Isteriku, kalau kita membaca sejarah dunia, kita akan menemukan semua lembar sejarah selalu bersimbah darah. Perdamaian tidak pernah menang melawan kekerasan kecuali beberapa interval singkat. Lebih dari 3.000 konflik berdarah, pertempuran dan perang selama 2000 tahun sejarah dunia. Dan sampai saat ini dunia masih dilanda perang.Tidak satu benuapun yang bersih dari konflik. Perdamaian selalu menjadi sebuah kemewahan.

Sang Isteri: Berarti umat manusia tidak pernah belajar terhadap sejarah mengapa umat manusia selalu melakukan kekerasan.

Sang Suami: Kekerasan adalah sebuah kualitas bawaan yang buruk yang kita warisi dari sebuah rantai evolusi yang panjang. Bukan hanya evolusi ala Darwin tetapi lebih pada evolusi minat kemanusiaan dan evolusi intelegensianya, evolusi seninya, evolusi sejarah dan evolusi ilmu pengetahuannya. Ada sebuah jenis “kelemahan” yang mendasar yang dicampur dengan “rasa takut”-yang membuat kita melakukan kekerasan. Mengapa kita merasa seakan-akan seluruh beban untuk mempertahankan agama berada pada pundak kita? Mengapa kita mencemaskan keberadaan agama kita, keyakinan kita?…………. Karena konsep “saya” dan “milik saya” lah yang  menyebabkan semua masalah kita. Kesadaran tentang konsep “saya” dan “milik saya” itulah yang pertama-tama harus diubah………

Sang Isteri: Berarti kita harus mulai dari kesadaran individu-individu lebih dahulu? Ada benarnya, karena sejarah telah membuktikan kegagalan bangsa-bangsa untuk membina keharmonisan dan kedamaian. Dan kini, terletak di tangan masing-masing individulah untuk melakukannya. Sebelum tercapai keadaan di mana perang dan kelaparan tidak ada lagi dan setiap orang hidup secara harmonis dengan orang lain, terlebih dahulu orang harus mengalami “kesadaran” melalui “transformasi” batin.

Sang Suami: Awalnya dimulai dari kesadaran pribadi agar seseorang tidak mengikatkan diri pada ego pribadi. Dalam buku Voice of Indonesia dari Bapak Anand Krishna menyebutkan bahwa dengan mengikatkan diri pada “ego pribadi” dan rasa kebanggaan diri, kita telah menutup mata terhadap kenyataan bahwa dunia ini, alam semesta ini tidak diatur oleh ego kita dan rasa kebanggaan diri kita  yang semu. Kita lupa bahwa ada sebuah intelegensia yang lebih tinggi yang mengatur semua yang ada di alam ini. Keyakinan kita terhadap intelegensia tinggi semacam inilah yang harus dibangkitkan kembali.

Sang Isteri: Intelegensia yang lebih tinggi? Intelegensia universal? Sudah saatnya kita mencari nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Karena dalam ajaran agama ada nilai-nilai universal dan ada ada isu-isu aktual pada zamannya. Nilai-nilai universal inilah yang harus kita dukung, kita sebarluaskan dan kita yakini sebagai sari pati semua ajaran keagamaan.

Sang Suami: Dari individualistik menuju holistik, inilah perjalanan yang harus kita tempuh bersama. Agama-agama kita pun awalnya mengajak kita untuk melakukan perjalanan yang sama. Al-Qur’an mengajak kita untuk melihat Wajah Allah di mana-mana, dan melayani sesama manusia. Injil menasehati kita untuk mencintai sesama sebagaimana kita mencintai Tuhan. Veda merumuskan bahwa Tuhan meliputi Alam Semesta. Dhammapada, Avesta, Guru Granth, semua kitab suci mengatakan hal yang sama. Mereka yang masih merasa benar sendiri tidak mampu melihat kebenaran secara holistik.

Sang Isteri: Masing-masing orang mempunyai catatan riwayat sejarah pribadi masing-masing. Pengalaman fisik dicatat melalui panca indera dan pengalaman batin dicatat melalui rasa. Selama ini kita menganggap bahwa kumpulan catatan kita adalah diri kita, ego kita. Di sinilah awalnya kita selalu merasakan perbedaan-perbedaan dengan orang lain. Beda catatan yaitu beda orang tua, beda lingkungan, beda pendidikan akan menyebabkan pandangan hidup yang berbeda. Sayangnya dalam perbedaan tersebut selalu saja ada pihak yang memprovokasi, mengkotak-kotakkan manusia dalam golongan-golongan, kelompok-kelompok tertentu. Sudah saatnya kita menyadari hal tersebut.

Sang Suami: Enam milyar penduduk dunia mempunyai wajah yang berbeda. Tidak ada manusia yang wajah dan perilakunya persis sama. Tidak ada dua pohon yang bentuknya persis sama. Segala sesuatu dalam alam ini sangat “unik”. Jika alam ini saja sudah unik, bagaimana dengan Ia yang disebut-sebut sebagai Penguasa Alam Raya. Keunikan dalam alam ini merupakan bagian kecil dari Keunikan Ia Yang Maha Unik Ada-Nya. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. “Goresan” DNA berbeda, tetapi jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Bahan dasar kita sama. Seluruh alam ini terdiri dari kombinasi lima elemen alam. Kadar dari air, api, udara, tanah dan ruang bisa berbeda, akan tetapi elemen dasarnya sama. Bahkan kelima elemen tersebut pada dasarnya adalah energi dengan kerapatan berbeda. Nampak wujudnya berbeda akan tetapi pada hakikatnya semuanya adalah energi. Nampak berbeda, esensinya satu jua. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Kita semuanya hidup di satu bumi, satu langit dan merupakan satu umat manusia. One Earth, One Sky, One Human Kind.

Sang Isteri: Bhinneka Tunggal Ika adalah senjata sakti penemuan para leluhur kita, akan tetapi Bhinneka Tunggal Ika sering dimaknai sebagai “berbeda-beda namun tetap satu jua”. Pengakuan akan adanya perbedaan, apabila tidak ditindak-lanjuti akan membuat keterpisahan. Sebenarnya lebih tepat dimaknai, “nampaknya berbeda, akan tetapi esensinya sama”. Perbedaan hanya pada wujud luarnya akan tetapi esensinya satu. Ada fokus atau tujuan bersatu. Mungkin itulah sebabnya Mpu Tantular menambahkan kalimat Bhinneka Tunggal Ika dengan Tan Hana Dharma Mangrwa. Tidak ada Dharma yang mendua, semuanya satu jua untuk memfokuskan pada rasa persatuan.

Sang Suami: Saya sedih melihat demo-demo dengan atribut-atribut yang tidak mencerminkan jati diri bangsa kita. Sekelompok anak bangsa kita sudah tidak percaya pada keluhuran bangsa sendiri dan memakai atribut yang tidak mencerminkan bangsa sendiri. Semoga bangsa ini cepat sadar dan menghargai budaya luhur bangsa sendiri. Kita harus memilih, cinta bangsa atau cinta disintegrasi. Mass media pun harus memilih, meliput hal yang laku dijual tetapi tidak mencerminkan budaya bangsa atau hanya memuat hal yang mempersatukan bangsa. Semoga anak-anak bangsa menyadari kebersatuannya. Ibarat berada di Padang Kurukshetra, kita harus memilih Pandawa atau Korawa. Kita pun harus memilih Kebersatuan atau Disintegrasi.

Sang Isteri: Seorang tokoh pemersatu bangsa, pembangkit cinta budaya nusantara adalah aset bangsa dan harus kita jaga aset tersebut sebaik-baiknya. Semoga kita tidak salah menentukan pilihan. Semoga Ibu Pertiwi melindungi kita semuanya.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: