Renungan: Antara Ego dan Kebajikan


Malam telah larut dan sepasang suami istri setengah baya masih bercengkerama membicarakan ego manusia.

Sang Isteri: Saya heran terhadap mereka yang menamakan mantan-mantan pengikut seorang Guru yang nampaknya selalu memunculkan rasa kebencian terhadap bekas Gurunya. Dalam setiap ajaran spiritual hampir selalu terdapat anjuran mengendalikan ego, apakah dengan cara puasa, zakat, nyepi, dana punya, retret, hidup yang semata-mata merupakan ibadah dan persembahan pada Tuhan dan lain-lain. Yang intinya adalah pengikisan ego dan tuntunan untuk melakukan kebajikan. Akan tetapi rupanya ajaran tersebut sudah dilupakan oleh mereka dan para pendukung mereka yang membesarkan ego, memunculkan rasa kebencian.

Sang Suami: Ego memang bersifat membedakan. Setiap orang merasa berbeda karena egonya. Perlu disadari bahwa setiap orang lahir dengan sifat genetik yang diwarisi dari kedua orang tuanya dan kemudian mendapat pengetahuan kebenaran dari orang tua, dari pendidikan, dari lingkungan dan dari pengalaman hidupnya. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan dan beda pengalaman hidup memberikan pemahaman tentang kebenaran yang berbeda. Keunikan kerangka pemikiran atau ego tersebut menyebabkan keunikan setiap orang. Persoalan muncul kala dia merasa benar sendiri, dan ingin memaksakan pendapatnya kepada orang lain.

Sang Isteri: Iya suamiku, ada ego kelompok, ego partai, ego “kepercayaan”, semuanya adalah bentuk pengembangan dari rasa ego pribadi. Begitu suatu pandangan hidup atau ajaran dilembagakan menjadi sebuah institusi, maka institusi tersebut seperti halnya pikiran yang memiliki tubuh maka egonya muncul. Institusi tersebut ingin eksis maka dia mencari pembenaran tentang dirinya……. Sering tidak disadari telah terjadi sebuah paradoks, sebuah ajaran mengajarkan  tentang pengendalian diri, hidup hanya untuk Tuhan yang berarti pengikisan ego, akan tetapi ajaran tersebut juga mengajarkan keyakinan tentang kebenaran institusinya, memunculkan ego institusinya…… Suamiku, kebajikan itu ada kaitannya dengan ego tidak?

Sang Suami: Saya ingat buku Voice of Indonesia karya Bapak Anand Krishna yang membicarakan tentang kebajikan tanpa pamrih. Apa yang dilakukan untuk keluarga kita, tidak dapat dikategorikan sebagai kebajikan, karena sudah merupakan kewajiban. Kebajikan lahir dari rasa belas kasihan terhadap mereka yang bukan merupakan saudara dan kerabat kita, orang yang asing bagi kita, orang yang tidak kita kenal secara pribadi yang membutuhkan pelayanan kita. Kebajikan adalah semacam persembahan cinta yang dilakukan bukan karena kewajiban. Ketika kita tidak berkewajiban untuk melakukan apapun, dan kita tetap melakukannya, maka kita melakukan kebajikan. Sebuah pengorbanan dari kepentingan pribadi atau ego.

Sang Isteri: Saya kira sistem kepercayaan yang membuat kita wajib melakukan sebuah kewajiban, sebenarnya membentuk rasa kewajiban kita. Tetapi sulit sekali melahirkan hati yang dipenuhi rasa kebajikan. Seorang yang penuh rasa kebajikan tidak melakukan tindakan yang menjadi kewajibannya. Dia tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi setelah kematiannya. Dia tidak mempunyai pamrih apapun di dalam dirinya untuk melakukan kebajikan. Seorang dengan hati yang dipenuhi kebajikan, tidak dapat dikurung dalam dinding-dinding rumah keluarganya sendiri. Dia akan selalu berusaha, melampaui kewajiban yang harus dilakukannya, sehingga mereka dapat melakukan kebajikan bagi orang lain.

Sang Suami: Benar isteriku, seorang yang bajik tidak akan melarikan diri dari kewajiban. Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan kewajiban mereka terhadap anggota keluarganya, sehingga mereka mendapat peluang untuk melakukan sesuatu yang lebih mulia.

Sang Isteri: Benar suamiku, matahari bersinar tanpa sebuah pamrih. Bulan bersinar tanpa mengharapkan imbalan apapun. Angin bertiup karena tiupan adalah hal yang alami baginya. Air mengalir dengan kerelaan tanpa diminta oleh siapapun. Dan kita mendapat manfaat dari semua itu, karena mereka hanya mengikuti sifat alamiahnya. Mereka tidak melakukan hal yang lain.

Sang Suami: Demikianlah istriku, dengan menjadi seorang bajik, kita menjadi diri kita sendiri. Dengan menjadi seorang bajik, kita tidak sedang menolong siapapun. Menjadi seorang yang bajik, adalah sebuah harapan demi kebaikan kita sendiri…… Apabila kita memilih untuk melakukan kebajikan, maka kita harus mempersiapkan diri. Kebajikan membutuhkan pengorbanan. Kebajikan dan pengorbanan adalah dua hal yang sinonim. Jumlah energi dan waktu yang kita punyai mungkin tidak cukup. Kita harus pasrah, tidak mengunakan logika lagi. Pasrah pada Yang Maha Memberi, Yang Maha Bajik.

Sang Isteri: Suamiku, tetapi untuk melakukan kebajikan kita harus meningkatkan kualitas diri, kita perlu membersihkan subconscious mind lebih dahulu. Subconscious mind bagaikan rumput liar. Benih kebajikan apa pun yang kita tanam tidak akan tumbuh, karena dihalang-halangi oleh rumput liar. Tidak ada jalan lain, kecuali mencabut rumput liar, membersihkan lahan, dan setelah itu baru menanam benih kebajikan. Kita bisa menyumbang, melakukan bhakti sosial, namun semuanya percuma. Benih kebajikan tidak tumbuh, selama subconscious mind kita masih memainkan peran utama. Kita malah menjadi arogan. Karyawan di kantor kita tindas, untuk memberi makan para pengemis di jalanan. Kita manipulasi keuangan untuk membantu mereka yang sedang menderita. Dan arogan selalu ada kaitannya dengan ego.

Sang Suami: Kita perlu berpegang teguh pada kebajikan itu sendiri. Kebajikan adalah teman setia yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Sementara pendukung dan mereka yang pernah kumpul di sekitar Guru, mereka yang belum sepenuhnya bajik terbukti dapat meninggalkan kapan saja. Bahkan dapat mengkhianati kapan saja. Yang bajik, yang bijak, tidak membutuhkan dukungan siapa pun juga. Yang membutuhkan dukungan adalah mereka yang masih belum yakin akan kebajikan diri, kebaikan diri. Kebaikan diri, kebajikan diri itulah identitas diri.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: