Renungan: Antara “Head Oriented”, “Heart Oriented” Dan “Neo-Man”


 

Saptu adalah hari libur, dan siang itu sepasang suami istri sedang bercengkerama di beranda rumah di daerah Solo. Di dekat mereka berdiri patung Dewi Sri seukuran manusia yang mereka peroleh di Pasar Triwindu, nama lama dari Pasar Windu Jenar pusat kerajinan antik yang berada di jantung kota Solo. Mereka sedang membicarakan Manusia Baru, yang dibahas dalam buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Pustaka bali Post tahun 2007.

Sang Istri: Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang ‘Head-Oriented’, ada yang ‘Heart-Oriented’. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair, penulis, dan tentu saja para pendidik dan para pemuka agama. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung……. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata.

Sang Suami: Iya, saya baca polemik kebudayaan di tahun 1930-an, saat itu Sutan Takdir Alisyahbana melihat banyak kader bangsa yang mencari kedamaian dengan mengabaikan otak. Sampai sekarang pun masih ada kader bangsa yang nampak sangat egois, hanya mencari kedamaian diri tanpa memperdulikan kekacauan yang terjadi di tengah masyarakat. Kedamaian yang didapat adalah kedamaian semu, kedamaian yang bagi sebagian orang dipandang sebagai pelarian diri dari kenyataan hidup. Sutan Takdir Alisyahbana bersemboyan, hidup harus selalu berjuang, harus bekerja keras. Tanpa itu, orang tidak akan maju, tak akan bisa menjadi manusia modern. Di pihak lain Sanusi Pane lebih mengutamakan ketenangan dan kedamaian. Justru inilah yang oleh Sutan Takdir Alisyahbana dianggap melembekkan. Semboyan tenang dan damai membelenggu orang dan mengakibatkan tidak adanya kemajuan…… Sanusi Pane sebenarnya berusaha melakukan sintesis antara Barat dan Timur, antara otak dan hati. Barat, pada saat tersebut, dipandang mengutamakan jasmani, sehingga lupa adanya jiwa. Akal dipakai untuk menaklukkan alam. Di pihak lain, Timur lebih mementingkan rohani, sehingga lupa akan jasmani. Akal dipakai untuk mencari jalan untuk mempersatukan diri dengan alam.

Sang Istri: Iya suamiku, kesimpang siuran antara otak dan hati membuat sebagian pemimpin nampak lembek, mereka mentolerir tindakan yang membahayakan persatuan bangsa. Ada satu keranjang apel yang baik dan mereka tidak tega membuang beberapa biji di antaranya yang sudah nampak busuk. Penggunaan hati yang berlebihan akan menyebabkan rusaknya satu keranjang apel. Sudah tahu keseluruhan tubuh sehat, dan ada tumor yang ganas, maka dia harus tega mengangkatnya, walau pun daging tersebut adalah saudara, bagian dari tubuh sendiri. Angkatan Bersenjata, Polisi, Jaksa dan hakim harus tegas demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sang Suami: Para pujangga zaman dahulu berpendapat bahwa kita manusia “belum jadi”, masih dalam proses “menjadi” manusia. Kesadaran awal kita berupa insting hewani, “fight or flight”, bila merasa menang kita ajak berkelahi, bila merasa kalah kita ngacir. Mereka yang masih suka menggunakan kekerasan, mereka yang menjadi korban manipulasi otak belum sempurna menjadi manusia. Manusia lahir dengan potensi untuk mengungkapkan kemanusiaannya secara sempurna. Ia lahir bersama benih kemanusiaan. Keberadaan menyediakan seluruh bahan baku, sarana dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengungkapan kemanusiaan itu. Namun, kesadaran awal manusia yang dibutuhkan untuk meracik bahan baku yang telah tersedia dan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mengungkapkan jati-dirinya adalah “kemanusiaan”-nya.

Sang Isteri: Genetik kita diwariskan dari leluhur secara turun temurun. Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit, genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur dan juga genetik pelaku kekerasan Ken Arok dan Arya Penangsang . Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam genetik seseorang terdapat catatan evolusi panjang kehidupannya sampai saat ini. Kita bahkan perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita pada saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Leluhur kita pernah memeluk beberapa agama tersebut dan genetiknya telah terwariskan kepada kita. Apabila kita mengikuti anjuran meninggalkan budaya, berarti kita berusaha memotong akar budaya kita dan mengikuti suatu ajaran yang masih terhitung baru dalam perhitungan masa budaya. Biarlah ajaran baru datang tetapi jangan sampai tidak selaras dengan budaya kita yang jauh lebih tua usianya, yang sudah menjadi bagian dari DNA kita.

Sang Suami: Dalam layang Joyoboyo, Traditional Javanese first edition 1997 by Raden Mas JR. Basuki. Second edition 2004, ada gambaran tentang tingkat-tingkat kesadaran . Berada di lapisan kesadaran terluar adalah “Upaya”, di dalam Upaya ada “Pikiran”. Di dalam Pikiran ada “Rasa”. Di dalam Rasa ada “Intelegensia”. Di dalam Intelegensia ada “Kehidupan” dan di dalam Kehidupan ada sesuatu yang tidak dapat digambarkan yang disebut Gusti, atau “Ingsoen”. Dari gambaran tersebut dapat dipahami bahwa manusia yang “Sadar”, dia sudah melampaui Pikiran dan Rasa, melampaui Otak dan Hati.

Sang Isteri: Benar suamiku, dalam buku Vedaanta, Bapak Anand Krishna menulis: Saya mengakui dan menerima kedua orientasi, “head oriented” dan “heart oriented” tersebut. Dua-duanya penting. Kendati demikian, saya juga memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang “Neo-Man”. Dalam visi saya, Manusia Baru adalah Manusia Sempurna dalam pengertian “The Total Man”. Manusia “Lengkap”. Manusia Baru yang tidak diperbudak oleh hati maupun otak. Ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah “Pembantu” hati atau otak, ia adalah “Majikan” yang mengendalikan keduanya…….. Semoga para pembaca bersedia menjadi “Neo-Man” demi kemajuan bangsa. Semoga………

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: