Renungan: Manusia Baru Menyerasikan Otak Dengan Hati


Malam itu sepasang suami istri sedang bercengkerama di ruangan dalam sebuah rumah di Solo. Di dinding ruangan tersebut terdapat lukisan Dewi Saraswati yang mereka peroleh saat berlibur ke Bali. Mereka sedang membicarakan komentar-komentar para sahabat mereka tentang “Head Oriented”,“Heart Oriented” dan “Neo-Man”.

Sang Istri: Ada manusia yang berorientasi kepada otak dan ada yang berorientasi kepada hati, serta ada yang memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang “Neo-Man”. Manusia Baru adalah Manusia Sempurna dalam pengertian “The Total Man”. Manusia “Lengkap”. Manusia Baru yang tidak diperbudak oleh hati maupun otak. Ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah “Pembantu” hati atau otak, ia adalah “Majikan” yang mengendalikan keduanya. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair, penulis, dan tentu saja para pendidik dan para pemuka agama. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung……. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata….. Suamiku, komentar para sahabat kita sangat bermakna, dan mereka mendiskusikan penyerasian antara otak dan hati, antara pikiran dan rasa.

Sang Suami: Isteriku, agar nampak jelas perbedaannya, mereka yang mengoptimalkan rasa dimasukkan dalam kelompok seniman, sedangkan mereka memaksimalkan pikiran dimasukkan dalam kelompok cendekiawan. Seni bersifat lembut, feminin sedangkan kecendekiaan bersifat maskulin. Baik mereka yang lahir berwujud wanita atau pria apabila hanya menggunakan otak dan logika cenderung keras, kaku dan alot. Mereka cenderung arogan,  tidak mau menjadi bagian dari masyarakat umum. Mereka sering berorganisasi secara eksklusif, menjadi  pengurus elite dan menganggap diri mereka lebih superior…….. Isteriku, lihatlah lukisan di atas, Dewi Saraswati, sampai saat ini masih banyak orang tua yang memberikan nama putrinya dengan nama Saraswati. Para leluhur kita telah memberikan gambaran tentang seseorang yang berpengetahuan tetapi penuh kelembutan dan rasa welas asih. Dewi Saraswati adalah gambaran ideal seseorang yang berpengetahuan yang memiliki sifat feminin.

Sang Isteri: Pada lukisan ini Dewi Saraswati nampak membawa gitar, sedangkan di internet digambarkan memegang sitar. Pada lukisan ini Sang Dewi memegang sekuntum bunga, sedangkan di internet kita melihat Sang Dewi memegang japamala. Kemudian Sang Dewi nampak memegang lontar dan sedang menari sedangkan di internet nampak sedang memainkan sitar. Mungkin suamiku pernah membaca buku bagaimana makna dari gambaran Dewi Saraswati tersebut. Tolong dijelaskan!

Sang Suami: Kebetulan saya baru saja membuka kembali buku Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Pustaka bali Post tahun 2007. Di buku tersebut ada beberapa penjelasan tentang Dewi Saraswati. Gitar atau Sitar mewakili seni, mewakili keindahan. Seni dalam melakoni hidup. Perhatikan pemandangan alam sebagai latar belakang lukisan, lingkungan yang asri dan bukan tumpukan buku di perpustakaan. Kemudian bunga atau japamala, atau tasbih atau rosario berupa satu untaian permata yang diikat dalam persatuan. Ini bermakna kemuliaan, kebijakan, bahasa lukisan dari Bhinneka Tunggal Ika. “Nuwun sewu”, para pemuka agama yang merasa paling unggul, yang memisahkan diri dengan yang lain belum menjadi seorang yang bijak. Mereka masih termasuk kelompok cendekiawan yang memaksimalkan pemakaian otak , karena mereka merasa benar sendiri, yang merupakan sifat utama dari pikiran. Seorang yang mulia, yang bijak yakin bahwa hanya Dia Yang Maha Benar, tidak ada Kebenaran yang lain, dia bersifat rendah hati dan tidak menuhankan pandangannya sebagai Kebenaran, serta tidak menganggap sesat pandangan orang lain. Selanjutnya, lontar bermakna sumber Kebenaran dari segala macam pengetahuan. Menari atau menyanyi berarti melakukan segala segala sesuatu dengan irama.

Sang Isteri: Terima kasih suamiku, Keindahan, Kemuliaan dan Kebenaran. Berarti Sang Dewi adalah cerminan diri dari manusia yang sempurna, “Neo-Man”, Manusia baru.  Gambaran Sang Dewi merupakan undangan bagi manusia untuk menggapai kesempurnaan diri. Dewi Saraswati merupakan pertemuan dari sifat maskulin dengan sifat feminin.

Sang Suami: Benar isteriku, sekarang kita menginjak makna Guru. Guru, bukanlah pengajar atau pendidik saja, akan tetapi dia telah melakoni apa yang beliau ajarkan. Ia seorang Master yang telah berhasil mengendalikan dirinya, mengendalikan nafsunya. Kita biasa menilai seseorang dari wujud, penampilan, nama dan kedudukannya. Sedangkan seorang Master menerima setiap orang sebagai manifestasi dari kasih Ilahi. Kita memiliki pengetahuan dan kesadaran seperti yang dicapai pada saat ini tentu merupakan hasil pendidikan dari banyak Guru. Buktinya seorang anak bayi yang hidup bersama hewan, dia tak akan meningkat pengetahuan dan kesadarannya.

Sang Isteri: Saraswati Puja atau melakukan penghormatan kepada Saraswati berarti mengingatkan diri kita akan adanya benih keindahan, kemuliaan dan kebenaran dalam diri. Dan kita mendapatkan kesadaran tentang keindahan, kemuliaan dan kebenaran dari Guru. Guru Purnima atau penghormatan kepada Guru berarti menghormati Keberadaan yang telah memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada kita lewat para Guru. Bukankah kita sendiri mengalami perubahan besar sejak  bertemu dengan Guru?

Sang Suami: Benar isteriku, ada kaitan antara otak, hati, Dewi Saraswati dan Guru. Guru adalah masa depan seorang murid dan murid adalah masa lalu seorang Guru. Perhatikan kehidupan Sri Krishna, Sang Buddha, Gusti Yesus dan Baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah Idola Manusia Baru, mereka telah menggunakan pikiran dan rasanya sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran manusia. Perhatikan kecerdasan sekaligus kelembutan mereka. Mereka adalah contoh dari Manusia Baru yang telah mencapai  keindahan, kemuliaan dan kebenaran dalam diri mereka.

Sang Isteri: Zaman Baru mestinya sudah dimulai saat para Para Idola Manusia Baru tersebut memberikan ajaran, dan bila hal tersebut belum terjadi itu karena manusia belum siap. Kini kemajuan dalam bidang teknologi telah menghasilkan fenomena baru. Dunia kita sudah tidak dapat dipisahkan oleh jarak dan waktu. Kejadian di Benua Amerika langsung dapat dirasakan pada saat yang sama oleh mereka yang hidup di Solo. Teologi yang diciptakan untuk mengurung para Idola Manusia Baru dalam lingkungannya  sudah mulai runtuh. Monopoli atas pemaknaan kitab-kitab suci sulit dipertahankan lagi, karena begitu banyaknya pendapat di dunia maya. Fenomena ini mestinya mempercepat lahirnya para Manusia Baru. Zaman Baru nampaknya tak dapat dicegah lagi. Semoga para pembaca bersedia mempersiapkan diri menjadi Manusia Baru demi kemajuan bangsa, kemajuan kemanusiaan. Semoga………

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Percakapan yang bijak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: