Pusat Rehabilitasi Dunia dan Mempercepat Evolusi Selagi Hayat Masih Dikandung Badan

Malam sudah begitu larut, tetapi sepasang suami istri setengah baya masih berbicara mengenai evolusi manusia. Di depan mereka terdapat laptop dan 2 buah buku karya Bapak Anand Krishna bersama Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf, terbitan Gramedia Pustaka Utama: “Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan” dan “Medis dan Meditasi”. Di balik laptop masih ada buku lain karya Bapak Anand Krishna, “5 Steps to Awareness, 40 Kebiasaan Orang yang Tercerahkan”.

Sang Istri: Ulat yang berubah menjadi kupu-kupu tidak membutuhkan waktu yang panjang. Namun, ada pula bentuk-bentuk kehidupan yang membutuhkan waktu yang sangat panjang hingga jutaan tahun. Inilah yang disebut evolusi. Perubahan dari manusia purba yang hanya mampu membuat kapak dari batu hingga manusia modern yang dapat membuat bom atom juga membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Sang Suami: Walau kita tidak dapat memahami Kesadaran, Kecerdasan atau Inteligensia di balik evolusi, kita dapat mengamati ada 3 sifat dari evolusi, Kedinamisan, perubahan yang terus terjadi dan tidak pernah berhenti; Kesinambungan, setiap perubahan yang terjadi merupakan kelanjutan dari perubahan sebelumnya; Keserasian, Keselarasan, atau Keharmonisan. Kesinambungan yang terjadi bukanlah kesinambungan yang kacau, tetapi saling melengkapi dan menunjang. Semuanya terkoordinasi, terintegrasi, dan merupakan bagian dari satu kesatuan. Kemajuan dan peningkatan itulah evolusi dan itu pula tujuannya.

Sang Istri: Disebutkan bahwa setelah kematian tubuh, “subconscious mind” yang berupa energi tidak ikut mati dan akan lahir kembali setelah mengalami proses “pengolahan”. Baca lebih lanjut

Menjadi Bunga Teratai Di Tengah Lumpur Kehidupan Berbangsa

Di depan rak buku perpustakaan yang berisi lebih dari 150 buku pemandu kehidupan karya Bapak Anand Krishna, sepasang suami istri bercengkerama. Mereka membicarakan mutiara-mutiara dari buku-buku tersebut.

Sang Istri: Suamiku, di medan perang Kurukshetra, Sri Krishna menyadarkan Arjuna bahwa dia harus memilih antara Kurawa dan Pandawa. Pada saat itu rupanya Arjuna masih sungkan berperang melawan saudara-saudara dan handai-tolannya. Setelah memahami penjelasan Bhagavad Gita dari Sri Krishna dia baru maju berperang melawan adharma….. Siddhartha harus memilih antara kerajaan dan keluarga dengan kesadaran, dan dia melepaskan kerajaan dan keluarganya mengejar kesadaran. Pada saat itu, juga belum ada kepastian apakah pencerahan akan diperolehnya. Pilihannya akhirnya membuat dia menjadi Buddha dan mengurusi keluarga besar umat manusia. Gusti Yesus pun harus memilih, membiarkan para pedagang berdagang di pelataran Bait Allah atau mengusir mereka….. Dan, Kanjeng Nabi Muhammad pun demikian juga. Ketika ditawari jabatan oleh petinggi Quraish – dia pun harus memilih kata hati, suara nurani dan menolak kekuasaan…. Di balik setiap pilihan itu ada unsur penghakiman yang tidak bisa dihindari…… Pada saat ini korupsi, rekayasa, dan kekerasan tengah merajalela di tengah bangsa kita. Dari Jajak Pendapat Kompas pada tanggal 12 April 2010, terdeteksi bahwa kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara sangat rendah. 90% responden menilai aparat berbagai instansi tidak bebas dari korupsi. Bagaimana membuat pilihan yang benar di tengah rimba belantara ketidaksadaran? Bagaimana menjadi bunga teratai yang mekar di tengah lumpur kehidupan berbangsa? Baca lebih lanjut

Tayangan Televisi, Pengaruh Terhadap Mind dan Genetika Sebuah Bangsa

Sepasang suami istri setengah baya sedang membolak-balik sebuah blog lewat laptop yang terhubungkan dengan dunia maya. Sampailah mereka pada artikel puisi yang ditulis sang suami pada bulan Januari 2009. Kemudian mereka membacanya bak muda-mudi berbalas pantun.

Sang Istri: Ada ajaran yang paling cepat berkembang di dunia. Kitabnya menjelaskan seluruh kegiatan manusia. Ibadah tak dibatasi, sehari bisa berapa saja. Ajaran baru berkembang pesat di semua bangsa. Kuil ibadah begitu banyak, sampai di pelosok-pelosok desa. Milyaran pengikut dicerahkan dengan berbagai macam ilmu. Sabda diulang-ulang, tetapi pengikut tak pernah jemu. Repetitif intensif di setiap waktu. Seluruh pengikut setia melakukan tanpa ragu. Para pengikut khusuk menyimak. Keceriaan dan kepuasan selalu nampak. Mendengar sabda yang membuat terhenyak. Berjam-jam berlalu tanpa beranjak. Sabda Guru begitu memukaunya. Bahkan semua peralatan rumah tangga. Bahkan nasehat tentang peralatan pribadi manusia. Tawaran pisau cukur sampai shampo pun dipatuhinya. Baca lebih lanjut

Semak Belukar Ego Keserakahan di Tengah Kekumuhan Bangsa

Sepasang istri setengah baya sedang berada di depan sebuah laptop, dan memperbincangkan Opini Kompas Rabu, 21 April 2010, “Bubarkan KPK!”, oleh Ahmad Syafii Maarif yang dapat dibaca secara on-line. Putusan kontroversial hakim praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta yang memenangkan Anggodo Widjojo telah membangkitkan rasa frustrasi masyarakat atas masa depan pemberantasan korupsi dan pemberantasan mafia peradilan.

Sang Suami: Isteriku, lihat Buya Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah sangat geram atas putusan kontroversial hakim praperadilan tersebut sehingga menulis: “Inilah sesungguhnya yang sangat diharapkan oleh warga negara busuk yang memang tidak rela melihat negeri ini menjadi baik sehingga para koruptor tetap bebas gentayangan untuk membobol pematang sawah Republik yang sudah bernapas Senin-Kamis ini”.

Sang Isteri: Iya suamiku, demi aturan teks legal formal hukum, rasa keadilan masyarakat dan “sabda” Presiden pun diabaikan. Masyarakat masih ingat bagaimana Anggodo bisa leluasa mengatur jalannya perkara yang sedang ditangani KPK. Rekaman perekayasaan perkara telah diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi. Rekaman percakapan itulah yang memberikan indikasi adanya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Presiden membentuk Tim Delapan untuk mencari fakta atas dugaan kriminalisasi tersebut. Presiden atas rekomendasi Tim Delapan berpendapat Polri dan Kejaksaan Agung tidak perlu membawa kasus Bibit dan Chandra ke pengadilan. Kejaksaan pun kemudian menerbitkan surat keputusan penghentian penuntutan. Tetapi sekarang kasus tersebut akan dibawa ke pengadilan. Ada apa? Masing-masing pejabat merasa pandangannya benar, mereka punya dasar pemikiran tersendiri, tetapi apakah mereka telah menggunakan nuraninya? Ego atau pikiran memang selalu serakah dalam mencari benarnya pandangan sendiri. Semakin banyak pandangan yang saling belit di negeri kita seakan semak belukar ego keserakahan yang menambah keruwetan di tengah kekumuhan bangsa. Hanya kesadaran yang dapat mengendalikan ego, yang dapat mengendalikan keserakahan. Baca lebih lanjut

Genetika Seorang “Profesor” di Bawah Pengaruh Para “Tukang Sayur”

Sepasang suami istri setengah baya sedang berada di depan laptop, membaca artikel kiriman teman Face Book mereka yang berjudul “Ketika Para Koki Digusur Tukang Sayur: Menumbuhkan Sikap Kritis dalam Beragama”. Di samping laptop tersebut terdapat 2 buah buku karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia,  “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” dan “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi”.

Sang Istri: Kemarin ada temanmu di blog yang berkomentar bahwa pada Zaman Sriwijaya, bangsa kita sudah maju peradabannya, sedangkan bangsa yang berada di belahan Eropa pada waktu itu masih tertinggal? Megapa mereka cepat maju, sedangkan kita mengalami kemunduran? Mestinya mereka juga punya warisan genetik suka kekerasan juga sebelumnya. Jangan hanya menyalahkan warisan genetika saja.

Sang Suami: Isteriku, dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri…… “Kesadaran” untuk memperbaiki perilaku itu menjadi modal utama. Potensi kekerasan boleh jadi masih ada dalam genetik suatu bangsa, akan tetapi kita mempunyai pilihan untuk  mengembangkan potensi kekerasan tersebut atau tidak mengembangkannya. Nampaknya kesadaran kolektif bangsa kita belum meningkat. Insting hewani tersisa dalam DNA, seperti mau menang sendiri, memuaskan keserakahan pribadi tanpa kerja keras, seperti terwujud dalam berbagai kasus mafia rekayasa, penggunaan kekerasan, politik uang dalam pemilihan pejabat, rezim keluarga dalam pilkada dan sebagainya masih terjadi seluruh negeri.

Sang Isteri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience” disampaikan bahwa synap-synap saraf manusia mengantar muatan informasi dari satu sel ke sel lainnya.  Informasi yang melemahkan manusia diinformasikan dari sel ke sel bahkan diwariskan kepada anak keturunannya.

Sang Suami: Benar isteriku, bila kita sadar dan membombardir diri dengan informasi yang baik, yang memberdayakan jiwa, kita mempunyai kesempatan untuk memperbaiki genetik. Perbaikan karakter bangsa dimulai dari diri sendiri, dan diturunkan kepada anak keturunannya. Kemudian seorang yang sadar, mulai menyebarkan “virus kesadaran”- nya agar orang lain yang kontak dengannya dapat tumbuh kesadaran dari dalam dirinya. Seorang Guru yang telah sadar membangkitkan benih kesadaran dalam setiap murid dan sahabat-sahabatnya lewat buku-buku karyanya, lewat  jejaring masyarakat maupun jejaring di dunia maya. Benih kesadaran dan kejayaan tersebut sudah ada dalam diri kita. Mengapa iklan di televisi berhasil mempengaruhi masyarakat? Karena iklan tersebut membombardir dengan informasi yang repetitif-intensif! Baca lebih lanjut

Kejahatan Dan Keberingasan Massa Serta Ketidakpedulian Masyarakat Terhadap Permasalahan Bangsa

Di atas sebuah meja kecil terletak buku “The Gospel Of Obama”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Koperasi Global Anand Krishna Bekerjasama dengaYayasan Anand Ashram, tahun 2009. Di samping meja tersebut, nampak sepasang suami istri setengah baya yang sedang gundah, karena setiap memindah channel televisi selalu saja menemui kekerasan, keberingasan atau kejahatan.

Sang Isteri: Sejak kita masih remaja, kita sudah diberi pelajaran tentang 3 syarat terjadinya kejahatan. Syarat pertama: adanya kesempatan, syarat kedua: adanya kemampuan pelaku kejahatan,  dan syarat ketiga: adanya kemauan atau niat dari pelaku kejahatan. Ketiga syarat tersebut mutlak diperlukan dalam sebuah tindak kejahatan. Hanya nampaknya, masyarakat kurang peduli terhadap ketiga faktor tersebut.

Sang Suami: Syarat pertama, seseorang dapat melakukan kejahatan karena mendapatkan kesempatan. Dari manakah kesempatan itu muncul? Dari keamanan yang lemah. Berbagai peraturan dibuat para penyelenggara negara, akan tetapi peraturan tersebut belum dilakukan secara konsekuen? Kita melihat beberapa aparat penegak hukum malah ikut bermain dalam penerapan pelaksanaannya. Berapa banyak sumber daya, dana, waktu, dan sumber daya manusia yang telah digunakan bagi pembuatan peraturan-peraturan yang selalu disempurnakan, tetapi tanpa penerapan yang efektif. Dan karena ketersediaan anggaran, masih saja berbagai peraturan baru dirancang. Perlu peningkatan “public awareness”, sehingga masyarakat merasa ikut terlibat dalam kegiatan bernegara.

Sang Isteri: Iya suamiku, saya ingin menyoroti tentang kemampuan melakukan kejahatan sebagai syarat kedua. Meskipun ada kesempatan namun bila tidak mempunyai kemampuan, maka tidak mungkin terjadi kejahatan. Tayangan adegan kekerasan, baik dalam bentuk pemberitaan kasus kriminalitas, Patroli, Buser, Sergap, dan Fakta maupun film, bahkan film kartun untuk anak-anak pun bisa membangkitkan potensi kehewanan dalam diri. Penjelasan yang rinci dari tindakan kejahatan menambah wawasan pikiran yang pada akhirnya menambah kemampuan calon pelaku kejahatan. Selanjutnya, juga fasilitas untuk melakukan kejahatan yang mudah diperoleh. Peledakan bom terjadi karena ada kemampuan merakit bom dengan daya ledak yang besar. Apalagi kalau ada sutradara teror yang sengaja memberi pelajaran bagaimana melakukan teror yang berhasil di masyarakat. Kembali masyarakat yang tahu “duduk manis” dan “diam” sehingga keadaan bertambah parah. Baca lebih lanjut

Pelembutan Jiwa Manusia Kala Perilaku Kekerasan Masih Mengancam Bangsa

Sepasang suami istri sedang bercengkerama di ruang keluarga. Di atas meja nampak buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran, karya Bapak Anand Krishna, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama,tahun  2002. Mereka sedang memperhatikan tayangan televisi tentang bentrokan antara aparat dan warga di Priok. Dua orang petugas Satpol PP tewas dan sekitar 130 orang mengalami luka-luka. Tampak di tayangan seseorang dikeroyok sekelompok orang beramai-ramai tanpa ada pengendalian diri lagi. Rasa kemanusiaan para pelaku kekerasan seakan-akan sudah lenyap, aura insting hewani meliputi mereka.

Sang Isteri: Kita semua tahu bahwa kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Kita semua menyadari bahwa cinta kasih adalah satu-satunya solusi. Tetapi kita tidak berani berubah. Karena kita hidup di tengah-tengah kekerasan. Mulai dari rumah tangga hingga jalanan, antar mahasiswa, antar kampung, antar bonek suporter sepak bola, kekerasan ada di mana-mana. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, kekerasan tetap dapat memasuki rumah kita lewat televisi dan tayangan internet. Bahkan bagi anak-anak, film kartun yang mempertontonkan adegan kekerasan, dan kini tayangan lawak pun mengetengahkan adegan kekerasan, walau kita tahu bahan yang digunakan untuk memukul bukan bahan yang berbahaya. Kita tidak sadar pengaruh tayangan televisi terhadap pikiran manusia.

Sang Suami: Anak-anak dan remaja suka meniru, apalagi kalau idolanya melakukan hal tersebut di layar televisi. Masuk akal terdapat kaitan antara tayangan kekerasan di televisi dan peningkatan perilaku agresif pada pemirsanya. Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak-anak menonton televisi sampai 28 jam setiap minggunya. Akibatnya, saat mereka berusia remaja, sekitar 18 tahun, mereka telah menyaksikan sekitar 16.000 adegan pembunuhan dan 200.000 tindakan kekerasan. Menurut penelitian, anak-anak dari keluarga yang kurang sejahtera, sangat rawan terhadap pengaruh yang ditimbulkan oleh siaran buruk televisi….. Bukan hanya itu,  ketika ada pemotongan korban hewan, anak-anak kecil yang masih dibawah umur pun boleh mengerumuni. Pendidikan macam apa yang sedang kita berikan kepada anak-cucu kita? Mereka akan menjadi keras, kasar, alot karena sejak kecil sudah terbiasa melihat adegan-adegan kekerasan. Baca lebih lanjut