Renungan Tentang Perjalanan Seorang Musafir, “Mampir Ngombe”, Tantra dan Ketidakterikatan

Sehabis diskusi Buku Karya Bapak Anand Krishna dengan teman-teman mereka, sepasang suami istri bercengkerama membicarakan hal yang gampang dijelaskan, namun sulit dipraktekkan. Tentang perjalanan batin dan “ketidakterikatan”.

Sang Isteri: Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Saya juga selalu ingat SMS Wisdom yang menyampaikan, bahwa manusia ditakdirkan menjadi peziarah, sayang sekali ia menjadi pengelana tak bertujuan. Bagi para sufi yang penting adalah perjalanan. Hidup mereka seakan sebagai seorang musafir yang terus berjalan menuju Tuhan. Nampaknya para leluhur sejalan dengan pandangan para sufi yang menghargai sebuah perjalanan kehidupan.

Sang Suami: Benar istriku, bukan hanya para leluhur dan para sufi, perjalanan batin dikenal oleh seluruh umat manusia. Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan, Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, karya Bapak Anand Krishna, juga disebutkan bahwa ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya.

Sang Istri: Saya juga ingat bahwa hidup dalam “Tao” berarti mengalir bagaikan sungai, demikian disampaikan dalam buku “Menemukan Jati Diri, I CHING Bagi Orang Modern, karya Bapak Anand Krishna. Sungai yang tidak pernah berhenti, terus menerus mengalir saja. Seseorang berhenti mengalir karena terikat pada sesuatu, karena berkeinginan untuk memilikinya. Orang bijak menganggap dirinya pengembara. la melewati hidup ini tanpa membebani siapa pun juga. Demi keuntungan pribadi, jangan sampai menyusahkan sesama. Keuntungan seberapa pun yang diraih, toh akan tertinggal di sini juga. Perlu dihayati hidup sebagai seorang pengembara…… Ada pejabat arogan berkata, siapa yang dapat mencopotnya. Dia tidak beranggapan sebagai pengembara. Dia pikir dia akan selalu berkuasa selamanya. Mungkin pelajaran sejarah telah dilupakannya. Bahwa para Hitler dan Mussolini serta diktator berkuasa lainnya, ternyata akhirnya jatuh juga. Anggaplah diri sebagai seorang pengembara. Keberadaan di sini hanya untuk sesaat, sementara saja. Melakoni hidup dengan penuh kesadaran, tidak cari musuh, tidak membuat masalah dengan selalu waspada. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Tentang “Deprogramming Mind”, Pemrograman Kembali Pikiran, Masalah Universal Umat Manusia

Sepasang suami istri tengah membicarakan uraian tentang “mind” di Buku “Bodhidharma”. “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, judul lengkapnya. Buku karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Sang Istri: “Mind” konon dapat diibaratkan sebagai perangkat lunak “komputer manusia”. Dibutuhkan perangkat keras agar ia bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya……. Kemudian, sudah semestinya selama masih memiliki otak, perangkat lunak atau “mind” itu dapat di-“over write” dan dapat dirancang kembali. Juga dapat diubah total, sehingga sama sekali berbeda dari program asli. Sehingga Isi “mind” bukanlah harga mati. “mind” itu “rewritable”, bisa diubah bisa diganti……… Seorang bayi memiliki karakter bawaan. Diprogram oleh  orang tua, pendidikan dan lingkungan. Kebenaran baginya adalah Kebenaran dalam kerangka program yang diberikan. Lain orang tua, lain pendidikan dan lingkungan, bisa berbeda pandangan tentang Kebenaran. Bukankah itu memungkinkan terjadinya indoktrinasi pandangan? Seseorang merasa beriman dan bertindak benar dengan melakukan kekerasan. Padahal dia hanya melakukannya atas dasar pikiran bawah sadar yang telah diprogram, yang berulang-ulang secara sistematis ditanamkan.

Sang Suami: Benar istriku,  seorang teman Face Book dari Pakistan menuliskan pandangannya. Tentang kondisi kekerasan di Pakistan yang tak ada habis-habisnya….. Seorang anak lelaki kecil diasramakan di madrasah terpencil di perbatasan negara. Dia dijauhkan dari dunia dan dihalangi agar tidak berinteraksi dengan manusia. Dia didoktrin dengan agama versi yang ekstrim dan diyakinkan bahwa dia bukan milik dunia. Dia diajari tentang dunia indah  yang menunggunya di surga.  Dan bahwa dalam rangka mencapai surga dia harus memusnahkan semua hal yang menghalanginya. Termasuk tubuh miliknya…… Pada saat dia remaja, anak ini telah menjadi lebah jantan, pria yang bukan manusia yang siap “menyengat” siapa saja. Para sutradara pemanipulasi “mind” punya banyak remaja segar ala robot yang mudah dikendalikan mereka. Atas pesan SMS para remaja siap meledakkan diri mereka…… Teman tersebut menjelaskan ini adalah eksperimen yang berkembang pesat di Pakistan. Sangat menakutkan. Dan pencucian otak ini setaraf apabila tidak lebih buruk daripada perbaikan keturunan versi Nazi Jerman. Dahulu Nazi berbuat atas nama ilmu pengetahuan. Dan kini di Pakistan, dilakukan atas nama Agama dan Tuhan. Demikian ungkapan seorang teman dari Pakistan.

Sang Istri: Bila demikian, masalah utama umat manusia masa kini adalah masalah “condittioning”, masalah “mind-programming”, pemrograman pikiran. Pembawa ideologi sosialis maupun liberalis saling berebut untuk mempengaruhi pandangan. Saat ini keduanya sudah mengadakan penyesuaian-penyesuaian demi perbaikan. Kemajuan informasi membawa dampak sampingan pengaruh globalisasi “food, fashion and fun” yang kadang mengkhawatirkan….. Untuk itu ada kelompok yang membentengi diri dengan adat dan tradisi lama atas nama agama. Kematian adalah ketakutan manusia yang paling utama. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Untuk itu, ada yang sejak kecil anak sudah diprogram untuk mempercayai keyakinan tertentu. Di luar keyakinan itu neraka menunggu. Mereka menganggap hal tersebut perlu agar tidak terpengaruh keyakinan baru. Baca lebih lanjut

Renungan Tentang Keserakahan: Kebiasaan, Pendidikan dan Warisan Genetika

Siang hari itu sehabis menyelesaikan tugas rumah tangga, sepasang suami istri bercengkerama. Di depan mereka ada beberapa buku karya Bapak Anand Krishna. Pertama, Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern; Kedua, Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan; Dan ketiga, Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa.

Sang Istri: Suamiku, anak-anak kita sudah pada dewasa. Membaca salah satu bab dalam buku Tao Teh Ching saya bersyukur tak berhingga. Nampaknya tak ada keserakahan dalam diri mereka. Diilustrasikan di buku tersebut bahwa sewaktu masih bayi, kita begitu tak berdaya. Hidup-mati kita sangat tergantung pada belas-kasihan orang lain, termasuk orangtua kita. Sekarang, di mana kedua orangtua sibuk bekerja, seorang bayi akan sangat tergantung pada baby-sitter atau pembantunya. Apabila sang bayi lapar, ia hanya dapat menangis kala sang pembantu sibuk ber HP-ria atau sedang nonton Take Him Out atau melihat berita selebritis lainnya. Sang bayi harus tahan lapar dan menangis beberapa lama, sebelum mendapatkan makanannya. Begitu diberi susu, ia akan minum sebanyak-banyaknya. la menjadi rakus tidak terkira. Sejak bayi ia mulai belajar menjadi takut, nanti kalau lapar, akan mendapatkan susu lagi atau tidak ya? Begitu tiba saat diberi susu, la minum sebanyak-banyaknya, sehingga sering kembung perutnya. Rasa takut ini masih terbawa sampai dewasa.

Sang Suami: Benar isteriku, dalam ilmu medis, diketahui bahwa pembentukan paling aktif “sarung saraf ” atau “mielin sheet” terjadi pada usia balita. Bila sejak bayi rasa takut yang menyertainya. Ditambah lagi pendidikan kita yang dipenuhi oleh aura lomba…… Selama menuntut ilmu, kita dipaksa untuk “berlomba”. Kejuaraan menjadi tolok ukur keberhasilan manusia. Selama bertahun-tahun, dari TK sampai Universitas, kita di kondisikan dan diprogram untuk berlomba. Dan program tersebut tidak berakhir dengan gelar sarjana, tetapi berlanjut sampai akhir hayatnya. Apa pun yang dilakukan, di mana pun dia berada, dia sibuk berlomba, sibuk menghimpun harta benda, sibuk berencana menjadi kepala, tak mau menjadi orang kedua. Baca lebih lanjut

Catatan Pribadi: Pointer Kata Pamit Purna Tugas di Kantor Semarang

Senin 24 Mei 2010

Ini satu note katarsis lagi dalam sebuah catatan pribadi.

Ass Wr Wb, Selamat Pagi, Salam Sejahtera,

Yang kami hormati…………………………………..

Pertama sekali kami mohon maaf, mohon waktu sebentar, mau pamitan.

Biasanya setiap bulan dari Kantor Pusat di Semarang ada 4-5 orang yang purna tugas. Kebetulan untuk bulan Juni, hanya kami sendiri yang pensiun. Agar pekerjaan kantor lebih lancar, kami ijin tidak masuk kerja selama satu minggu sampai saat pensiun. Satu minggu sebelum waktunya, agar teman-teman tidak rikuh dalam persiapan membuat konsep-konsep Surat-Surat Keputusan Penggantian kami. Baik sebagai Pejabat Inti Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk APBN dan APBD maupun Surat-surat lainnya sehingga awal Juni sudah berjalan lancar dengan pengganti yang baru.

………………….. masih ada waktu seminggu menata ruang, arsip-arsip lama ditata dan yang pribadi sudah kami ambil, sehingga sewaktu pengganti kami masuk sudah rapi.

Kebetulan hari ini hari Senin kita melakukan upacara bendera, biar ingat pada saat hari terakhir masuk kerja kami melihat pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Bagimu Negri.

Kami mulai kerja pada tahun 1979 di Proyek Irigasi Luwu, Sulawesi Selatan. Kantor proyek berada di Makasar, akan tetapi lokasi proyeknya berada di Kabupaten Luwu, perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, sekitar 9 jam perjalanan dari makasar pada saat itu. Beberapa kali kami dalam perjalanan menginap di Tanah Toraja. Setelah dua tahun kemudian kami pindah ke Bengkulu. Pada tahun 1985 kami mendapat tugas belajar di University of Manitoba, Canada dan pada tahun 1987 sepulang dari Canada kami ditempatkan di Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh pada Proyek Irigasi Baro Raya. Pada tahun 1988 kami diangkat menjadi Pemimpin Proyek Irigasi Aceh Utara, yang berkantor di Banda Aceh. Pada tahun 1999 Kantor Proyek Irigasi Aceh Utara pindah ke Kota Bireuen, Kabupaten Aceh Utara. Pada waktu itu di Aceh termasuk DOM, Daerah Operasi Militer, dengan adanya Gerakan Aceh Merdeka.

Pada hari Saptu tanggal 7 April 1990, yang merupakan bulan puasa, kami sehabis makan sahur bersama beberapa teman melakukan perjalanan dinas ke Banda Aceh. Pengemudi bilang agar kami tidur dan akan dibangunkan setelah waktu subuh, untuk shalat subuh di Mesjid di tepi jalan. Di daerah Kabupaten Pidie tiba-tiba ada suara senjata meletus dan peluru M 16 mengenai mobil dan tiga pecahannya mengenai tubuh kami. Satu pecahan mengenai kulit di pinggang, satu lagi mengenai ujung paru paru yang membuatnya kempes dan satu pecahan peluru lagi mengiris limpa saya, perut saya berdarah-darah. Beberapa kali kami berhenti di Puskesmas di tepi jalan tetapi belum ada yang buka sampai akhirnya kami sampai di Sigli. Kami baru pingsan dan tidak sadar kala mendapat pertolongan pertama di rumah Sakit Sigli dan kemudian dibawa ambulance ke Banda Aceh. Perjalanan darat dari Sigli ke banda Aceh memakan waktu 2 jam lebih dan sampai di Banda Aceh, konon tekanan darah sudah mencapai 60/0 sehingga goyang sedikit nyawa melayang. Baca lebih lanjut

Catatan Pribadi: Pointer Kata Perpisahan Purna Tugas Dengan Teman Teman Kantor di Rumah Solo

21 Mei 2010  

Ass Wr Wb, Selamat Siang, Salam Sejahtera,

Terima kasih atas kesediaannya meluangkan waktu datang ke rumah kami di Solo. Kami merasa berbahagia separuh karyawan kantor naik 2 buah bis berkenan datang ke Solo guna mengadakan acara perpisahan dengan kami.

Pertama sekali, kami mohon agar teman-teman tidak kaget melihat simbol-simbol yang ada di rumah ini. Banyak patung, ada Prabu Kresna, penguasa Kerajaan Dworowati, seperti nama jalan di depan adalah Dworowati. Kemudian ada Ganesha, Dewi Sri, Semar, Maitreya, Gusti Yesus dan Buddha dan di belakang rumah ada beberapa patung yang lebih kecil lainnya. Simbol-simbol berupa gambar atau lukisan dari beberapa keyakinan yang ada di Indonesia juga terpasang di ruang ini. Sekedar mengingatkan nenek moyang kami pernah mempunyai banyak keyakinan dan benih pemikiran mereka masih terwariskan dalam DNA kami. Bagi kami Borobudur bukan peninggalan zaman Buddha, Prambanan bukan peninggalan zaman Hindu, akan tetapi semuanya adalah warisan nenek moyang saya. Baca lebih lanjut

Renungan Tentang Pandangan Hidup Sebuah Genteng Tua

Malam itu sepasang suami istri setengah baya sedang bercengkerama di suatu rumah di daerah Surakarta. Di depan mereka nampak buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”. Sebuah buku karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Siang itu 100 teman-teman kantornya dari Semarang datang ke rumah mereka. Beberapa teman-temannya dari Solo membantu persiapan acara. Bulan depan sang suami sudah memasuki purna tugas, dan teman-temannya mengadakan acara perpisahan sederhana. Kemudian naik bis  bareng ke Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri untuk makan bersama.

Sang Istri: Pensiun kerja adalah latihan, simulasi dari acara pensiun kehidupan. Saya ingat pada waktu seseorang “pensiun dari kehidupan” sebelum dikebumikan atau disempurnakan, seorang wakil keluarga memberikan sambutan. Hadirin sekalian, apabila diantara saudara sekalian masih mempunyai ikatan, pinjaman dengan almarhum atau almarhumah mohon menghubungi kami untuk diselesaikan…… Mungkin wakil keluarga belum sadar juga, iya bila hutangnya hanya uang saja, bila hutangnya berupa perbuatan siapa yang bisa menyelesaikan? Suamiku, setelah perpisahan di rumah, kita makan bersama di tepian waduk Gajah Mungkur pada Rumah Makan “Pak Glinding” di tepian waduk berbatas jalan. Mungkin kita diminta merenung, Wonogiri adalah hutan di gunung tempat hulunya Bengawan. Gajah Mungkur berarti diminta mungkur, membelakangi ego, meninggalkan keserakahan. Gusti memberi simbol kita untuk “ngglinding”, berputar dan berjalan seperti roda kehidupan.

Sang Suami: Benar Istriku, yang selalu saya ingat adalah nasehat Guru, pak Tri tugas mengabdi negara sudah selesai, tetapi tugas mengabdi bangsa tak pernah usai. Isteriku, betapa tepatnya panduan Guru, tugas pengabdian pada Ibu Pertiwi sudah menanti. Tugas memelihara kesadaran agar terus bersemayam dalam diri merupakan tugas tak pernah berhenti. Mengabdi dengan skill dan sisa energi yang masih tersisa yang masih bisa dipunyai. Baca lebih lanjut

Renungan Tentang Kepolosan Anak dan Kontroversi Pendidikan Masyarakat

Pembicaraan sepasang suami istri tentang buku “The Gospel Of Michael Jackson”,karya Bapak Anand Krishna, nampak terhenti sejenak.  Mereka melihat layar televisi, dimana seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun, melepaskan pakaiannya di semak-semak. Sang anak kemudian terjun ke air mengikuti sang kakak. Sang kakak dan teman-temannya sedang bermain air di saluran irigasi sambil tertawa terbahak-bahak. Pemandangan indah tersebut membuat mereka terhenyak.

Sang Istri: Suamiku, lihatlah keceriaan wajah sang anak, tak ada satu kerut pun di dahinya, dia tertawa bahagia. Saya kira para pemirsa akan terpengaruh oleh keceriaannya. Bisakah kita polos seperti diri sang anak, demikian pertanyaannya……. Saya pernah mendengar sabda, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. “Anak kecil” di sini mewakili “ketulusan”, “keluguan” dan “kepolosan” manusia. “Seperti anak  kecil” adalah “keadaan no-mind”- di mana ego sirna. Rasa angkuh dan arogansi pun tiada.

Sang Suami: Agar dapat meneladani kepolosan anak kecil, demikian anjuran Gusti Yesus kepada umat manusia. Meditasi Zen pun mengajak manusia kembali ke sumbernya.  Melihat segala sesuatu dengan pandangan jernih yang berarti menjadi polos, tulus dan sederhana. Tidak ada sesuatupun yang harus ditambahkan pada kepribadian manusia. Dia sudah cukup baik, lengkap dan sempurna, sebagaimana adanya……..  Jalalluddin Rumi pun berkata bahwa dia yang telah berserah-diri sepenuhnya kepada Kehendak Ilahi, ialah seorang Muslim sejati. Dialah yang disebut “Insannya Tuhan” oleh Rumi. la menjadi tulus, polos, lugu seperti seorang anak kecil yang menarik hati. Dan kepolosannya itu, keluguannya itu, ketulusan dan kesederhanaannya itu mengundang Rahmat Ilahi. la yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melindungi “Insannya Tuhan” seperti Ibu Sejati……  Telah saya baca yang demikian, di buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 1999. Baca lebih lanjut