Budak Penilaian Masyarakat, Budak Dogma, Budak Nafsu dan Kebebasan Manusia

Sepasang suami istri setengah baya kembali bercengkerama di depan laptop mereka. Di samping laptop ada 3 buah buku karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia Pustaka Utama, “Mawar Mistik”, “Telaga Pencerahan” “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”. Mereka menggerak-gerakkan “cursor” laptop, membolak-balik blog dan kemudian saling berbalas pantun membaca puisi dari layar monitornya.

Sang Istri: Gusti, baru kusadari, kerangka pemikiranku, “mind”-ku ini dibuat orang lain bukan buatan diriku sendiri. Orang tua, pengajar di sekolah, lembaga agama, dan lain-lainnya memberikan standar tersendiri. Standar pembuat keputusan, mana yang benar, mana yang salah, dan yang harus diikuti. Aku dipolakan untuk mempercayai mereka sejak usiaku masih dini. Nyaris aku mempercayai. Secara repetitif intensif telah merasuk diri. Membentuk pikiran bawah sadar, kerangka pembenar diri.

Sang Suami: Ada yang memuji, aku senang sekali. Ada yang mencaci, aku sedih tak terperi. Ada yang lahir diminta gembira-ria. Ada yang meninggal diminta berduka-cita. Nyaris aku diprogram sempurna…. Naik pangkat harus berbahagia. Kehilangan jabatan harus kecewa. Aku menjadi budak dari kerangka pemikiran yang aku terima.

Sang Istri: Untuk mendapatkan pengakuan masyarakat aku menggadaikan jiwa. Untuk mempertahankan popularitas aku mengabaikan nurani. Terjadi konflik batin sudah hal yang biasa. Haruskah yang begini ini kualami sampai mati? Baca lebih lanjut