Ke-“tidakbersandar”-an, Pesan Bermakna Para Leluhur Bangsa

Malam sudah larut, tetapi sepasang suami istri setengah baya masih berdiskusi tentang warisan para leluhur yang sering dilupakan maknanya oleh generasi penerus bangsa.

Sang Istri: Suamiku, manusia zaman ini pada mengejar pengetahuan, kekayaan dan kekuasaan. Orang yang pintar dapat mempengaruhi mereka yang kaya dan yang berkuasa untuk mendukungnya. Orang yang kaya dapat membayar mereka yang pintar dan yang berkuasa untuk menuruti keinginannya.  Orang yang berkuasa dapat memaksa mereka yang pintar dan yang kaya untuk membantunya. Menjadi pintar, kaya dan kuasa adalah dambaan manusia. Dan itu sering diwujudkan dalam bagaimana caranya mendapatkan “kursi” dan mempertahankannya dengan segala cara. Saat berbaring, duduk, berdiri dan berjalan yang dipikirkannya hanya kursi atau tiga sarana tadi. Bahkan demi kursi atau tiga sarana tersebut, Yang Maha Kuasa pun ditangisi, dipuasa Senin-Kamisi, ditahajudti, bahkan satu dua ada yang mengumrohi. Orang Pinter pun didatangi, Yang Sepuh di-“suwun-pengestoni”. Setiap disebut kursi atau tiga sarana tadi bergetarlah hati. Ada pertanyaan mendasar, yang banyak dipikirkan apakah Gusti ataukah kursi atau tiga sarana tadi? Demi Gusti, demi bangsa atau demi ego pribadi? Apakah itu bukan pemuja berhala obsesi? Apakah itu tidak men-dua-kan Gusti? Gusti pun seakan alat untuk memenuhi obsesi diri.

Sang Suami: Benar isteriku, banyak yang lupa, ketiga tujuan tersebut sebetulnya hanyalah “sarana”. Tujuannya adalah “bahagia”. Manusia mati-matian mengejar sarana dan melupakan tujuan hidupnya. Ketiga sarana tersebut adalah urusan di luar, sedangkan kebahagiaan adalah urusan di dalam dirinya. Para leluhur telah memberi nasehat bermakna lewat wujud kursi singgasana seorang raja. “Dhampar kencana”,  adalah tempat duduk raja yang diwujudkan tanpa sandaran untuk tangannya dan tanpa sandaran juga untuk punggungnya. Makna simboliknya adalah bahwa seorang raja, seorang kalifah, bahkan seorang manusia yang memimpin diri pribadinya, agar tidak bersandar kepada siapa pun kecuali terhadap Kebenaran, terhadap Yang Maha Benar, terhadap Yang Maha Kuasa. Baca lebih lanjut