Renungan Tentang Keberadaan Hewan di Dalam Diri Manusia


Sepasang suami istri setengah baya baru saja belajar menikmati puisi. Puisi mereka di blog mungkin tidak bernilai seni, bahasa sastra pun tidak mereka kuasai. Akan tetapi puisi tersebut sangat bermanfaat bagi mereka, karena dapat mengingatkan diri mereka sendri. Kali ini mereka merenungkan maknanya dalam hati. Dan kemudian membaca puisi dari arsip tahun 2008 bulan Februari.

Sang Suami: Kubaca pelan buku Tantra Yoga. Tulisan Bapak Anand Krishna, tentang Guru dan Siswa. Kala Sang Tilopa menguji calon muridnya…….. Ceritanya lugas, keras, sinis  namun penuh makna…….. Pada zaman dahulu kala. Di tempat yang sangat dingin, di Gunung Himalaya. Demi efisiensi, sisa tulang dibuat japamala. Mangkuk makanan pun dibuat dari tengkorak manusia. Maka, merasa jijiklah tamunya dari kota.

Sang Istri: Yang Mulia Guru Tilopa berkata. Yang menyangga otakmu tengkorak ini juga. Dalam otakmu ada konsep Tuhan, konsep Agama. Kebajikan, kasih, kebatilan dan kebencian juga ada. Yang suci dan yang tidak suci ada dalam otakmu jua….. Bila tengkorak kepala yang bersih dianggap menjijikkan. Apalagi otak manusia yang penuh pikiran memalukan. Yang sangat sulit dibersihkan. Kekotoran yang dibawa kemana saja selagi hayat masih dikandung badan.

Sang Suami: Seekor anjing bergabung menjilat mangkuk makanan. Rasa mual sang tamu semakin tidak tertahan. Sang Guru Tilopa menggumam pelan. Dirimu pun pernah lahir sebagai anjing, kawan. Dalam dirimu terdapat sifat hewan. Anjing butuh makan, minum, tidur dan persetubuhan. Kulihat dalam dirimu masih terdapat sifat anjing yang bertahan. Tidakkah kau jijik juga dengan dirimu teman?…… Jijik sang tamu dari kota merupakan jijik fisik belaka. Dia belum bisa membaui kebusukan jiwanya. Akhirnya sang tamu urung menjadi murid Sang Tilopa.

Sang istri: Pada waktu itu belum dikenal ilmu tentang genom manusia. Walau pernyataan Sang Guru terbukti nyata. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya. Berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya. Dan juga temuan-temuan yang telah diraihnya. Yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species manusia serta nenek moyang sejak pertama kehidupan di jagad raya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini terdiri dari 23 Bab, tiap Bab memuat beberapa ribu gen isinya….. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku yang 400-an halaman tebalnya.

Sang Suami: Secara alamiah, lewat DNA, sesungguhnya manusia dan makhluk lainnya tidak terpisahkan juga. Pemetaan DNA kita sudah membuktikan adanya benang merah antara manusia dan keluarga besar mamalia. Kemudian, pemetaan DNA juga membuktikan bahwa keluarga besar mamalia pun masih punya hubungan dengan keluarga besar reptilia, amphibia. Dan, seterusnya ke belakang, sehingga binatang bersel tunggal, amoeba. Kesadaran adalah hasil evolusi sebagai pembeda antara hewan dengan manusia. Kita tak bisa menolak bukti pemetaan DNA, menolak semua tanda, tidak menerima ayat-ayat, bukti-bukti kehadiran-Nya yang bertebaran di mana-mana. Pengkotak-kotakan manusia berdasar agama, suku, ras karena ketidaktahuan manusia. Karena ego manusia.

Sang Istri: Sebagai manusia kita harus meneruskan evolusi, bila hanya mengikuti kesenangan badan kesadaran bisa jatuh kembali ke kesadaran hewani. Bila mengabaikan badan terbuanglah peluang berharga menuju Ilahi.  Menjadi manusia berharga sekali, kematian itu datangnya pasti, setiap waktu bisa mendatangi, gunakan waktu segera untuk meniti ke dalam diri. Menemukan jatidiri. Jangan terkena jerat ilusi duniawi. Para leluhur meminta kita mencari “sangkan paraning dumadi”, asal mulanya terjadi. Berawal dari Gusti kembali kepada Gusti. “Manunggaling kawula Gusti”.

Sang Suami: Bhagavad Gita menyebutkan, “Aku” yang berada dalam diri setiap makhluk sesungguhnya satu dan sama. “Aku” tidak membenci ataupun menganggap seseorang lebih penting daripada lainnya. Namun, mereka yang berkarya dalam kasih, akan selalu merasakan kehadiran”Ku”pada setiap tindakannya……. Dalam anjing-anjing yang kelaparan, dalam pohon-pohon yang melayu karena kekeringan ada kehidupan, ada “Aku” di dalam mereka……. Kita ada di depannya, peluang untuk melayani pun terbuka. Namun kita tidak melaksanakannya. Pikiran telah memilah-milah membuat beda. Padahal persembahan kepada mereka adalah persembahan pada-“Nya”.

Sang Istri: Bhagavad Gita juga menyatakan, mereka yang dengan kasih dan bhakti mempersembahkan daun, bunga, buah, atau air “Aku” akan menerimanya. Apa yang kau lakukan, apa yang kau makan, apa yang kau persembahkan, bagaimana patuhnya kau laksanakan lakukan semuanya sebagai persembahan…… Ia yang berkarya tanpa keterikatan duniawi pasti akan mencapai Kesadaran Tertinggi.

Sang Suami: Kita perlu introspeksi, mengetahui tentang sifat-sifat hewani yang ada dalam diri, sifat yang berbeda sangat tipis sehingga kita tidak memahami. Diantara beberapa sifat hewan yang masih dimiliki manusia adalah, pertama, hewan selalu mengikuti nafsu rendahnya. Hewan kalau jalan menundukkan kepala cari-cari kalau ada makanannya di bawah tubuhnya. Orang pun ada yang masih selalu menuruti nafsu rendahnya. Kedua peragu, anjing mencium dulu sebelum makan, juga karena terangsang oleh ciuman. Ada orang yang ragu baju bekas pakai dicium dulu, masih pantas dipakai lagi atau ganti yang baru. Ketiga, hewan takut kepada hal yang baru baginya. Demikian juga orang yang penakut tidak berani melakukan tindakan yang beda dengan kebiasaannya. Keempat, sifat egois nyata pada hewan. Makanan di bawa sendiri, tidak dibagi dengan teman. Banyak orang yang bertindak demikian. Kelima, hewan menjijikkan, keterikatan pada bau badannya. Orang yang tidak merasa bau badannya menyengat, belum bisa merasakan bau pikiran dan bau perasaannya. Keenam, hewan memikirkan keluarganya. Demikian juga manusia. Bagi orang bijak, semua makhluk adalah keluarganya. Ketujuh, hewan terikat dengan kebiasaan. Orang pun banyak yang masih terikat dengan tradisi dan kebiasaan. Kedelapan, hewan menyukai yang sejenis, keterikatan pada jenis. Orang pun ada yang tidak bisa menerima teman yang lintas-jenis, beda agama, beda ras dipandang sinis.

Sang Istri: Suamiku, kondisi masyarakat makin memprihatinkan. Kantin-kantin Kejujuran yang tersebar di sekolah-sekolah mulai berjatuhan. Pada bangkrut karena siswa tak tahan iman. Ambil makanan tidak membayar yang sepadan. Menyontek bukan halangan, tak lagi memalukan. Genetik bawaan dari orang tua tak jujur telah diwariskan. Makanan dan kehidupan mewah pun penuh aura perekayasaan. KKN pun bak cendawan tumbuh di musim penghujan. Beberapa Mahasiswa dan Dosen pun tak malu karya tulisnya berupa jiplakan. Aura kejujuran dan kesucian tenggelam oleh gelora nafsu keduniawian.

Sang Suami: Beda hewan dan manusia bukan hanya wujud fisik dan dimilikinya pikiran. Yang utama adalah manusia mempunyai kesadaran……. Sudah lama bangsa ini terlena. Moralitas dihitung dari seringnya mendatangi tempat ibadahnya. Nilai pendidikan agama di sekolah diperoleh dari hapalan bukan akhlaknya. Semoga kesadaran menyebar ke mana-mana membangkitkan semangat Indonesia Jaya.

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Mei, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: