Renungan Air Selokan Tentang Jatidiri

Sepasang suami istri sedang berbincang-bincang tentang air, mereka membayangkan seandainya saja air seperti halnya manusia yang mempunyai pikiran dan rasa. Sebagai acuan mereka menggunakan buku “Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan, Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, karya Bapak Anand Krishna.

Sang istri: Pada suatu hari, sebuah truk bermuatan puluhan galon Air Kemasan berhenti parkir di sebelah selokan kotor di pinggir jalan. Salah satu galon Air Kemasan “say hello” pada Air Selokan. Saudaraku Air Comberan, mengapa tinggal di tempat kumuh ini masih krasan?………. Lihatlah sampah busuk yang mengelilingimu. Pengemudi Truk inipun parkir di sini hanya untuk menguras air seni sambil menutup hidung agar tidak mencium bau busukmu. Kalau tidak terpaksa, dia tidak akan parkir di dekatmu. Sadarlah saudaraku, hanya cacing, nyamuk dan lalat yang senang menemanimu. ……… Saudaraku, bicara tentangku, memang dari sananya aku mendapatkan anugerah kenyamanan. Aku lahir di mata air yang jernih, lalu diproses pabrik canggih dan ke dalam galon yang bersih aku dimasukkan. Aku begitu terkenal, di televisi menemani artis cantik seksi bernyanyi sudah menjadi kebiasaan. Fotoku juga dipajang sebagai baliho di jalan-jalan protokol dengan penuh kemegahan. Dibawa box, ke mal-mal besar aku diantarkan. Di supermarket aku dipajang pada ruangan yang sejuk, bersih dan nyaman. Suatu saat, aku akan dinaikkan kereta dorong digabung dengan banyak belanjaan. Aku dinaikkan sedan mewah masuk perumahan. Kemudian aku dibawa ke ruang makan. Sesekali artis cantik minum diriku lewat mulutnya yang menawan. Kau belum merasakannya kawan, enak juga jadi air gedongan…… Baca lebih lanjut