Renungan Tentang Kepolosan Anak dan Kontroversi Pendidikan Masyarakat

Pembicaraan sepasang suami istri tentang buku “The Gospel Of Michael Jackson”,karya Bapak Anand Krishna, nampak terhenti sejenak.  Mereka melihat layar televisi, dimana seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun, melepaskan pakaiannya di semak-semak. Sang anak kemudian terjun ke air mengikuti sang kakak. Sang kakak dan teman-temannya sedang bermain air di saluran irigasi sambil tertawa terbahak-bahak. Pemandangan indah tersebut membuat mereka terhenyak.

Sang Istri: Suamiku, lihatlah keceriaan wajah sang anak, tak ada satu kerut pun di dahinya, dia tertawa bahagia. Saya kira para pemirsa akan terpengaruh oleh keceriaannya. Bisakah kita polos seperti diri sang anak, demikian pertanyaannya……. Saya pernah mendengar sabda, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. “Anak kecil” di sini mewakili “ketulusan”, “keluguan” dan “kepolosan” manusia. “Seperti anak  kecil” adalah “keadaan no-mind”- di mana ego sirna. Rasa angkuh dan arogansi pun tiada.

Sang Suami: Agar dapat meneladani kepolosan anak kecil, demikian anjuran Gusti Yesus kepada umat manusia. Meditasi Zen pun mengajak manusia kembali ke sumbernya.  Melihat segala sesuatu dengan pandangan jernih yang berarti menjadi polos, tulus dan sederhana. Tidak ada sesuatupun yang harus ditambahkan pada kepribadian manusia. Dia sudah cukup baik, lengkap dan sempurna, sebagaimana adanya……..  Jalalluddin Rumi pun berkata bahwa dia yang telah berserah-diri sepenuhnya kepada Kehendak Ilahi, ialah seorang Muslim sejati. Dialah yang disebut “Insannya Tuhan” oleh Rumi. la menjadi tulus, polos, lugu seperti seorang anak kecil yang menarik hati. Dan kepolosannya itu, keluguannya itu, ketulusan dan kesederhanaannya itu mengundang Rahmat Ilahi. la yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melindungi “Insannya Tuhan” seperti Ibu Sejati……  Telah saya baca yang demikian, di buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 1999. Baca lebih lanjut