Renungan Tentang Keserakahan: Kebiasaan, Pendidikan dan Warisan Genetika


Siang hari itu sehabis menyelesaikan tugas rumah tangga, sepasang suami istri bercengkerama. Di depan mereka ada beberapa buku karya Bapak Anand Krishna. Pertama, Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern; Kedua, Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan; Dan ketiga, Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa.

Sang Istri: Suamiku, anak-anak kita sudah pada dewasa. Membaca salah satu bab dalam buku Tao Teh Ching saya bersyukur tak berhingga. Nampaknya tak ada keserakahan dalam diri mereka. Diilustrasikan di buku tersebut bahwa sewaktu masih bayi, kita begitu tak berdaya. Hidup-mati kita sangat tergantung pada belas-kasihan orang lain, termasuk orangtua kita. Sekarang, di mana kedua orangtua sibuk bekerja, seorang bayi akan sangat tergantung pada baby-sitter atau pembantunya. Apabila sang bayi lapar, ia hanya dapat menangis kala sang pembantu sibuk ber HP-ria atau sedang nonton Take Him Out atau melihat berita selebritis lainnya. Sang bayi harus tahan lapar dan menangis beberapa lama, sebelum mendapatkan makanannya. Begitu diberi susu, ia akan minum sebanyak-banyaknya. la menjadi rakus tidak terkira. Sejak bayi ia mulai belajar menjadi takut, nanti kalau lapar, akan mendapatkan susu lagi atau tidak ya? Begitu tiba saat diberi susu, la minum sebanyak-banyaknya, sehingga sering kembung perutnya. Rasa takut ini masih terbawa sampai dewasa.

Sang Suami: Benar isteriku, dalam ilmu medis, diketahui bahwa pembentukan paling aktif “sarung saraf ” atau “mielin sheet” terjadi pada usia balita. Bila sejak bayi rasa takut yang menyertainya. Ditambah lagi pendidikan kita yang dipenuhi oleh aura lomba…… Selama menuntut ilmu, kita dipaksa untuk “berlomba”. Kejuaraan menjadi tolok ukur keberhasilan manusia. Selama bertahun-tahun, dari TK sampai Universitas, kita di kondisikan dan diprogram untuk berlomba. Dan program tersebut tidak berakhir dengan gelar sarjana, tetapi berlanjut sampai akhir hayatnya. Apa pun yang dilakukan, di mana pun dia berada, dia sibuk berlomba, sibuk menghimpun harta benda, sibuk berencana menjadi kepala, tak mau menjadi orang kedua.

Sang Istri: Keserakahan bermula dari kebiasaan yang diulang terus menerus ditambah sistem pendidikan dan lingkungan yang penuh aura lomba. Akibat lomba dan mau menjadi juara, maka keserakahan merajalela. Keserakahan menyebabkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun harta, tidak dapat diobati dengan mempertinggi tahta. Synap saraf otak sudah hampir permanen, pikiran bawah sadar sudah terpola. Sangat berat untuk mengubahnya. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind, synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang diperolehnya. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Sang Suami: Situasi tersebut kondusif bagi pembangkitan potensi insting dasar hewani yang masih dimiliki. Manusia mewarisi naluri hewani, naluri yang hanya berkepentingan dalam diri sendiri. Naluri yang dapat mendesak manusia berbuat apa saja demi keuntungan pribadi…… Bila sudah terstimuli insting  hewani dalam diri manusia. Insting-insting hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan siapa saja. Untuk melampiaskan nafsu, kita bisa berbuat apa saja. Hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh subconscious mind oleh alam bawah sadar kita.

Sang Istri: Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti keserakahan dalam diri, bagaikan semak berduri. Sekali tertanam, akan tumbuh pesat sekali. Satu kebiasaan akan mengundang kebiasaan lainnya. Sering kali, Si Empunya terluka oleh karenanya, tetapi dia tetap tidak sadar akan posisinya. Dia masih mempertahankan “semak berduri kebiasaan-kebiasaan buruk” seperti keserakahan di dalam dirinya. Karena tidak sadar, dia juga tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Mungkin, tahu pun tidak kalau banyak orang ikut menderita karena keserakahannya.

Sang Suami: Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan apa saja. Keinginan itu tidak selaras dengan alam semesta. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan apa pun juga. Manusia terikat dengan harta benda yang dikumpulkan selama hidupnya. Sementara itu, alam tidak pernah  sedih karena pergantian musimnya. Alam tidak pernah menolak perubahan yang terjadi setiap masa.

Sang Istri: Pendidikan yang salah tidak hanya mencelakakan seorang anak didik saja tetapi akan turun temurun mencelakakan generasi berikutnya. Karena kesalahan itu terekam dalam DNA dan akan diteruskan kepada generasi berikutnya, kecuali jika segera diperbaikinya. Sesungguhnya, kita sendiri sudah menjadi korban kesalahan yang sama. Kita mewarisinya lewat muatan DNA dari orangtua kita. Dan mereka mewarisinya dari orangtua mereka.

Sang Suami: Celakanya, jika suatu kesalahan sudah turun-temurun menjadi rekaman DNA maka kesalahan itu lebih sulit untuk diperbaikinya. Rekaman lama itu ibarat pohon lebat yang sudah kuat sekali cengkeraman akarnya. Tidak berarti pohon rekaman itu tidak dapat ditebang juga. Bisa saja, tetapi membutuhkan upaya yang luar biasa. Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu kita. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya.

Sang Istri: Muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi diri. Tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita nanti. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan beberapa generasi. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya. Bahkan membentuk lingkaran baru dan membuang lingkaran lama.

Sang Suami: Pikiran bawah sadar membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya. Pikiran bawah sadar membuat kita tidak pernah hidup dalam kekinian. Kita akan selalu memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Kemudian kita berkubang dalam keserakahan……… Kita perlu secuil kesadaran. Kesadaran bahwa diri kita dalam keadaan “sakit keserakahan” dan membutuhkan dokter guna penyembuhan. Kita sudah lama menderita, sudah terbiasa hidup dengan rasa sakit, rasa sakit dianggap kewajaran. Begitu sadar bahwa diri sakit, jangan menunggu lama, cepat-cepat carilah seorang “dokter ahli kesadaran”. Semoga kita semua sehat kembali dan hidup berkesadaran. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva.

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Mei, 2010.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. great…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: