Renungan Tentan “Slametan”, Warisan Spiritual Leluhur Yang Perlu Dilestarikan

Sepasang suami istri sedang membicarakan buku “Mengungkap Misteri Air”, karya Bapak Anand Krishna dan kawan-kawan, terbitan One Earth Media, tahun 2006. Kemudian mereka menghubungkannya dengan tradisi leluhur yang masih dilakukan di tengah masyarakat.

Sang Istri: Doa ramai-ramai tanpa makan disebut doa bersama. Makan ramai-ramai tanpa doa disebut pesta, bancakan bahasa Jawanya. Uang negara pun dapat dipakai bancakan bersama. Karena tanpa berdoa dan lupa ada polisi, jaksa dan KPK. Syarat “slametan” lain pula, harus ada makanan yang dimakan ramai-ramai dan ada harus ada doa bersama pula. Ada doa dan ada makanan tapi tidak dimakan hanya diletakkan disebut sesajen, belum termasuk slametan juga. Slametan adalah tradisi peninggalan leluhur yang penuh makna.

Sang Suami: Para Leluhur kita merasa lebih mantap jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja. Disempurnakan dengan tumpeng, sebagai simbol kemanunggalan tekad bulatnya. Sejumlah orang duduk di atas tikar melingkar bersila. Di tengah lingkaran terletak nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Seorang kyai tua membaca doa diamini oleh semuanya. Setelah selesai doa bersama, dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama. Tetangga yang tak hadir diantar makanan juga…..Tidak ada perbedaan, yang ada rasa kekeluargaan, slametan, mempererat persaudaraan.

Sang Isteri: Mengenai posisi yang berdoa dalam bentuk lingkaran, tampah dan tumpengnya pun berbentuk lingkaran. Bulan, bumi dan juga mataahari beredar dengan pola lingkaran. Semua roda kendaraan berbentuk lingkaran. Demikian juga roda kehidupan.

Sang Suami: Air laut menguap menjadi awan. Berkumpul di atmosfir kena angin menjadi hujan. Air turun ke gunung, berkumpul ke sungai-sungai berkumpul di lautan. Siklus hidrologi berbentuk lingkaran…….. Biji mangga tumbuh menjadi lembaga. Berkembang semakin besar akhirnya menjadi pohon mangga. Berbunga dan akhirnya berbuah juga. Di dalam buah mangga ada bijinya. Nampaknya kecil namun  berpotensi menjadi mangga. Siklus kehidupan mangga berbentuk lingkaran juga. Baca lebih lanjut

Renungan Tentang Shifting Awareness, Hiburan Raga dan Hiburan Jiwa

Agak tidak biasa memang, sepasang suami istri setengah baya menghibur diri mereka dengan berbalas pantun. Tetapi itulah mereka. Kali ini yang dijadikan rujukan pantun adalah buku “Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2008.

Sang Istri: Seseorang mengambil beberapa sajian makanan yang telah disediakan di warung prasmanan. Sederet orang di belakangnya menunggu orang tersebut menyelesaikan pilihan. Nasi dan lauknya menggunung begitu banyak di luar standar kenormalan. Setelah ambil minuman, membayar di kasir sendirian, dan kemudian nampak menikmati santapan. Tidak ada yang salah memang, tidak ada yang dirugikan. Banyak orang tak peduli, tidak menjadi perhatian.

Sang Suami: Pada waktu indera menikmati makanan. Sesaat, terlupakan beban pikiran. Pikiran, yang selalu memikir masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Celah antara dua pikiran memang membahagiakan. Perpindahan kesadaran yang membahagiakan. Disebut “shifting awareness”, demikian buku be Happy menjelaskan. Membuat diri kecanduan. Membuat makan berlebihan

Sang Istri: Benar suamiku, bukan hanya makanan. Minuman keras, oplosan dan narkotika pun membuat kecanduan. Karena melupakan masalah lalu dan tidak mengkhawatirkan masa depan memang mendatangkan kenikmatan….. Bukan hanya yang dilarang, yang halal pun bisa meminta pengulangan.  Mata bisa mengkonsumsi berlebihan. Pikiran pun bisa menikmati internetan, FB-an sampai leher kaku rasa nggak keruan. Hidung dan telinga juga mengkonsumsi melebihi kewajaran. Bacaan, berita, diskusi dimasukkan otak melampaui takaran. Bahkan segala sesuatu dinikmati tanpa aturan. Sering melewati batas kemampuan badan.Tidakkah itu semua wujud dari pelarian? Ataukah semacam “pause”, berhenti sejenak bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran? Baca lebih lanjut

Renungan Tentang Keberadaan Hewan di Dalam Diri Manusia

Sepasang suami istri setengah baya baru saja belajar menikmati puisi. Puisi mereka di blog mungkin tidak bernilai seni, bahasa sastra pun tidak mereka kuasai. Akan tetapi puisi tersebut sangat bermanfaat bagi mereka, karena dapat mengingatkan diri mereka sendri. Kali ini mereka merenungkan maknanya dalam hati. Dan kemudian membaca puisi dari arsip tahun 2008 bulan Februari.

Sang Suami: Kubaca pelan buku Tantra Yoga. Tulisan Bapak Anand Krishna, tentang Guru dan Siswa. Kala Sang Tilopa menguji calon muridnya…….. Ceritanya lugas, keras, sinis  namun penuh makna…….. Pada zaman dahulu kala. Di tempat yang sangat dingin, di Gunung Himalaya. Demi efisiensi, sisa tulang dibuat japamala. Mangkuk makanan pun dibuat dari tengkorak manusia. Maka, merasa jijiklah tamunya dari kota.

Sang Istri: Yang Mulia Guru Tilopa berkata. Yang menyangga otakmu tengkorak ini juga. Dalam otakmu ada konsep Tuhan, konsep Agama. Kebajikan, kasih, kebatilan dan kebencian juga ada. Yang suci dan yang tidak suci ada dalam otakmu jua….. Bila tengkorak kepala yang bersih dianggap menjijikkan. Apalagi otak manusia yang penuh pikiran memalukan. Yang sangat sulit dibersihkan. Kekotoran yang dibawa kemana saja selagi hayat masih dikandung badan.

Sang Suami: Seekor anjing bergabung menjilat mangkuk makanan. Rasa mual sang tamu semakin tidak tertahan. Sang Guru Tilopa menggumam pelan. Dirimu pun pernah lahir sebagai anjing, kawan. Dalam dirimu terdapat sifat hewan. Anjing butuh makan, minum, tidur dan persetubuhan. Kulihat dalam dirimu masih terdapat sifat anjing yang bertahan. Tidakkah kau jijik juga dengan dirimu teman?…… Jijik sang tamu dari kota merupakan jijik fisik belaka. Dia belum bisa membaui kebusukan jiwanya. Akhirnya sang tamu urung menjadi murid Sang Tilopa. Baca lebih lanjut

Ke-“tidakbersandar”-an, Pesan Bermakna Para Leluhur Bangsa

Malam sudah larut, tetapi sepasang suami istri setengah baya masih berdiskusi tentang warisan para leluhur yang sering dilupakan maknanya oleh generasi penerus bangsa.

Sang Istri: Suamiku, manusia zaman ini pada mengejar pengetahuan, kekayaan dan kekuasaan. Orang yang pintar dapat mempengaruhi mereka yang kaya dan yang berkuasa untuk mendukungnya. Orang yang kaya dapat membayar mereka yang pintar dan yang berkuasa untuk menuruti keinginannya.  Orang yang berkuasa dapat memaksa mereka yang pintar dan yang kaya untuk membantunya. Menjadi pintar, kaya dan kuasa adalah dambaan manusia. Dan itu sering diwujudkan dalam bagaimana caranya mendapatkan “kursi” dan mempertahankannya dengan segala cara. Saat berbaring, duduk, berdiri dan berjalan yang dipikirkannya hanya kursi atau tiga sarana tadi. Bahkan demi kursi atau tiga sarana tersebut, Yang Maha Kuasa pun ditangisi, dipuasa Senin-Kamisi, ditahajudti, bahkan satu dua ada yang mengumrohi. Orang Pinter pun didatangi, Yang Sepuh di-“suwun-pengestoni”. Setiap disebut kursi atau tiga sarana tadi bergetarlah hati. Ada pertanyaan mendasar, yang banyak dipikirkan apakah Gusti ataukah kursi atau tiga sarana tadi? Demi Gusti, demi bangsa atau demi ego pribadi? Apakah itu bukan pemuja berhala obsesi? Apakah itu tidak men-dua-kan Gusti? Gusti pun seakan alat untuk memenuhi obsesi diri.

Sang Suami: Benar isteriku, banyak yang lupa, ketiga tujuan tersebut sebetulnya hanyalah “sarana”. Tujuannya adalah “bahagia”. Manusia mati-matian mengejar sarana dan melupakan tujuan hidupnya. Ketiga sarana tersebut adalah urusan di luar, sedangkan kebahagiaan adalah urusan di dalam dirinya. Para leluhur telah memberi nasehat bermakna lewat wujud kursi singgasana seorang raja. “Dhampar kencana”,  adalah tempat duduk raja yang diwujudkan tanpa sandaran untuk tangannya dan tanpa sandaran juga untuk punggungnya. Makna simboliknya adalah bahwa seorang raja, seorang kalifah, bahkan seorang manusia yang memimpin diri pribadinya, agar tidak bersandar kepada siapa pun kecuali terhadap Kebenaran, terhadap Yang Maha Benar, terhadap Yang Maha Kuasa. Baca lebih lanjut

Budak Penilaian Masyarakat, Budak Dogma, Budak Nafsu dan Kebebasan Manusia

Sepasang suami istri setengah baya kembali bercengkerama di depan laptop mereka. Di samping laptop ada 3 buah buku karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia Pustaka Utama, “Mawar Mistik”, “Telaga Pencerahan” “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”. Mereka menggerak-gerakkan “cursor” laptop, membolak-balik blog dan kemudian saling berbalas pantun membaca puisi dari layar monitornya.

Sang Istri: Gusti, baru kusadari, kerangka pemikiranku, “mind”-ku ini dibuat orang lain bukan buatan diriku sendiri. Orang tua, pengajar di sekolah, lembaga agama, dan lain-lainnya memberikan standar tersendiri. Standar pembuat keputusan, mana yang benar, mana yang salah, dan yang harus diikuti. Aku dipolakan untuk mempercayai mereka sejak usiaku masih dini. Nyaris aku mempercayai. Secara repetitif intensif telah merasuk diri. Membentuk pikiran bawah sadar, kerangka pembenar diri.

Sang Suami: Ada yang memuji, aku senang sekali. Ada yang mencaci, aku sedih tak terperi. Ada yang lahir diminta gembira-ria. Ada yang meninggal diminta berduka-cita. Nyaris aku diprogram sempurna…. Naik pangkat harus berbahagia. Kehilangan jabatan harus kecewa. Aku menjadi budak dari kerangka pemikiran yang aku terima.

Sang Istri: Untuk mendapatkan pengakuan masyarakat aku menggadaikan jiwa. Untuk mempertahankan popularitas aku mengabaikan nurani. Terjadi konflik batin sudah hal yang biasa. Haruskah yang begini ini kualami sampai mati? Baca lebih lanjut