NYANYIAN ILAHI 1 dan 2


Anand Krishna

http://www.aumkar.org/ind/?p=18

Percakapan 1:

KEGELISAHANMU MEMBUKTIKAN KAU MASIH HIDUP

 

Arjuna:

Mereka memang serakah, tidak sadar,

pikiran mereka pun kacau;

namun kita sadar,

 

kita masih dapat berpikir secara jernih.

Kenapa harus saling membunuh

demi memperebutkan kekuasaan?

 

Percakapan 2:

LAMPAUI KEGELISAHAN DENGAN MENEMUKAN JATIDIRI!

Krishna:

Kau tidak berperang untuk memperebutkan kekuasaan;

kau berperang demi keadilan, untuk menegakkan Kebajikan.

Janganlah kau melemah di saat yang menentukan ini.

Bangkitlah demi bangsa, negeri, dan Ibu Pertiwi.

 

 

Arjuna:

Dan, untuk itu aku harus memerangi keluarga sendiri?

Krishna, aku bingung, tunjukkan jalan kepadaku.

 

Krishna:

Kau berbicara seperti seorang bijak,

namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi.

Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian,

dua-duanya tak langgeng.

 

Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan,

sungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati.

Badan yang mengalami kelahiran dan kematian

ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu

dan menggantinya dengan yang baru.

Perubahan adalah Hukum Alam – tak patut kau tangisi.

 

Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat,

disebabkan oleh panca-inderamu sendiri

ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri.

Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu.

 

Temukan Kebenaran Mutlak

di balik segala pengalaman dan perasaan.

Kebenaran Abadi, Langgeng

dan Tak Termusnahkan.

 

Segala yang lain diluar-Nya

sesungguhnya tak ada – tak perlu kau risaukan.

 

Temukan Kebenaran Abadi Itu,

Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh.

Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati.

Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada.

 

Kau akan menyatu dengan-Nya,

bila kau menemukan-Nya.

Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam

di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan.

 

Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan

dari suka, duka, rasa gelisah dan bersalah.

 

Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta,

tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua.

Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air,

dan tidak menjadi kering karena angin.

 

Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu

muncul dan lenyap secara bergantian.

“Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan”

dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”.

 

Jiwa tak berubah dan tak pernah mati;

hanyalah badan yang terus-menerus

mengalami kelahiran dan kematian.

Apa yang harus kau tangisi?

 

Badanmu lahir dalam keluarga para Satria,

ia memiliki tugas untuk membela negara dan bangsa.

Bila kau melarikan diri dari tanggungjawabmu,

kelak sejarah akan menyebutmu pengecut.

 

Bila kau gugur di medan perang,

kau akan mati syuhda, namamu tercatat sebagai pahlawan.

Dan, bila kau menang, rakyat ikut merayakan

menangnya Kebajikan atas kebatilan

 

Sesungguhnya kau tak perlu memikirkan

kemenangan dan kekalahan.

Lakukan tugasmu dengan baik.

Berkaryalah demi kewajibanmu.

 

Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang,

bulatkan tekadmu, dan dengan

keteguhan hati, tentukan sendiri

jalan apa yang terbaik bagi dirimu.

 

Berkaryalah demi tugas dan kewajiban,

bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia.

Janganlah kau merisaukan hasil akhir,

tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan.

 

Dengan jiwa seimbang,

dan tak terikat pada pengalaman

suka maupun duka,

berkaryalah dengan penuh semangat!

 

Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar;

dari pendapat orang tentang dirimu,

dan apa yang kau lakukan.

Ikuti suara hatimu, nuranimu.

 

Arjuna:

Bagaimana Krishna,

bagaimana mendengarkan suara hati?

 

Krishna:

Bebas dari segala macam keinginan

dan pengaruh pikiran,

kau akan mendengarkan dengan jelas

suara hatimu – itulah Pencerahan!

 

Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi

oleh pengalaman duka,

dan tidak pula mengejar pengalaman suka.

Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.

 

Krishna:

Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang

karena memperoleh sesuatu;

tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya.

Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan.

 

Pengendalian Diri yang sampurna

membuatnya tidak terpengaruh oleh

pemicu-pemicu di luar.

Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.

 

Krishna:

Keterlibatan panca-indera dengan

pemicu-pemicu di luar

menimbulkan kerinduan,

kemudian muncul keinginan.

 

Dan, bila keinginan tak terpenuhi,

timbul rasa kecewa, amarah.

Manusia tak mampu lagi membedakan

tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.

 

Krishna:

Seorang bijak yang tercerahkan

terkendali panca-inderanya,

maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia,

dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri.

 

Demikian dengan keseimbangan diri,

ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi.

Jiwanya damai, dan ia pun

memperoleh Kebahagiaan Kekal Sejati.

 

Krishna:

Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia,

ia menggapai kesempunaan hidup.

Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya,

ia menyatu kembali dengan Yang Maha Kuasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: