Renungan Tentang Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe Dari “Passion” Menuju “Compassion”


Sepasang suami istri setengah baya sedang bercengkerama membicarakan buku “Bhagavad Gita, Menyelami Misteri Kehidupan”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Mereka membacanya di http://www.aumkar.org/ind/?p=19 petikan percakapan antara Arjuna dengan Sri Krishna.

Sang Istri: Salah satu semboyan luhur yang tertanam dalam tradisi masyarakat sejak zaman Majapahit adalah “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe”, Tanpa Pamrih, Sibuk Bekerja. Pamrih itu berupa sesuatu yang menjadi motivasi terhadap sesuatu yang berada di luar dirinya. Imbalan jabatan, uang, penghargaan ataupun kehidupan akhirat adalah motivasi yang bergantung pada sumber dari luar dirinya.

Sang Suami: Motivasi memang diperlukan bagi seseorang yang kebahagiaannya bergantung di luar dirinya. Ini juga merupakan dasar bagi “Management by Objective”, manajemen berdasar sasaran, yang menurut Sun Tzu yang penting hasil akhirnya. Tanpa kesiapan diri untuk mencintai pekerjaan maka motivasi sulit dicapai, apalagi bila terjadi konflik antara keinginan dan perasaan, antara pikiran dan hatinya. Kesuksesan akibat motivasi bagaimanapun tergantung dari dalam diri juga. Apalagi apabila seseorang telah sadar bahwa kebahagiaan di luar itu hanya berupa fatamorgana. Karena keinginan di luar tidak pernah dapat dipuaskannya. Dan, tidak puas identik dengan tidak bahagia.

Sang Istri: Leluhur kita mengetengahkan Ajaran Budi Pekerti. Kata Pekerti berasal dari kata Prakrti, alam, bersifat alami. Budi, adalah pikiran yang sudah terkelola dengan baik, pikiran yang jernih sekali. Pikiran jernih yang mengandung rasa keyakinan diri, percaya diri, tidak dipaksakan dan bersifat alami. Bertindak baik yang berasal dari dalam diri.

Sang Suami: Apabila  di dalam sudah mantap, tidak terombang-ambing, maka keluarnya akan mantap pula. Diri yang mantap memungkinkan bekerja tanpa pamrih apa pun juga. Bukan berarti malas, tetapi bekerja dengan fokus penuh pada pekerjaannya. Bukan pada hasil akhirnya. Dikerjakan dengan penuh kesadaran dirinya. Setiap proses dijalankan dengan kecermatan. Inilah dasar dari “Management by Process”, setiap tahapan dilakukan dengan penuh kesadaran dan dilengkapi semacam cheklist sebagai acuan. Hasil hanya merupakan akibat dari serangkaian proses kegiatan.

Sang Istri: Guru menyampaikan ada beberapa tingkatan kesadaran, pertama kesadaran seks yang hanya ingin memuaskan diri sendiri. Kedua kesadaran cinta selain menerima juga memberi, agar kondisinya bertahan lama, karena sama-sama menyukai. Ketiga kesadaran Kasih, yang lebih banyak bersifat memberi. Kesadaran tingakt seks dan cinta masih mempertimbangkan rugi laba, memakai logika, sedangkan kasih melampaui logika memakai hati nurani. Nampaknya Keberadaan memberi anugerah pikiran dan juga rasa kesadaran, hati nurani.

Sang Suami: Lao Tze mengatakan bahwa suara hati nurani kita berasal dari sumber sama yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu dalam alam ini. Kebijaksanaan yang tidak dapat ditandingi, itulah suara nurani. Tetapi, suara hati nurani ini tidak akan terdengar oleh para cendekiawan yang tinggi hati. Mereka yang membanggakan dirinya sebagai cendekiawan akan menjadi tajam, menjadi teknokrat, birokrat, pejabat tinggi. Mereka bisa menjadi apa saja tetapi mereka kehilangan kontak dengan sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan materi, kesadaran, suara hati. Sebaliknya, mereka yang sadar begitu percaya pada diri sendiri, sehingga tidak akan terikat pada palsunya identitas-identitas diri. Mereka tidak akan menyombongkan diri. Mereka akan semakin rendah hati. Untuk meraih sesuatu, mereka tidak akan bersikeras sedemikian rupa sampai-sampai tindakannya membuat orang lain rugi.

Sang Istri: Pamrih adalah keinginan egoistis yang merupakan motif yang melandasi setiap pemikiran, ucapan dan tindakan manusia sehari-hari. Manusia membangun rumah kehidupan berlandaskan pamrih pribadi. Boleh jadi seseorang nampak melakukan sesuatu bagi orang banyak bukan demi imbalan tertentu, namun kalau semua itu dilakukan demi membentuk citra-diri di mata masyarakat, agar dianggap sebagai orang yang baik-hati, maka manusia tersebut tetap mempunyai pamrih pribadi. Dan pamrih tetap saja dijiwai dengan perdagangan, beriktikad jual-beli.

Sang Suami: Tanaman dan hewan memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya. Bahkan menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkannya, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang manusia. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya.

Sang Istri: Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam yang bersifat kasih, compassion. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri, berada pada tingkatan kesadaran seks dan “cinta yang berdasar logika” termasuk dalam ego, passion. Altruisme diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain bukan dirinya. Dari kata Latin alter, artinya orang lain bukan kita. Altruisme merupakan ajaran universal semua agama.

Sang Suami: Mari kita hayati percakapan antara Sri Krishna dan Arjuna dalam Bhagavad Gita yang ada http://www.aumkar.org/ind/?p=19. Sri Krishna berkata: Bila kau puas dengan diri sendiri, dan tidak lagi mencari kepuasaan dari sesuatu di luar diri, maka kau akan berkarya tanpa pamrih.

Sesungguhnya seorang Pekerja tanpa Pamrih, sudah tak terbelenggu oleh dunia. Jiwanya bebas, namun ia tetap bekerja, supaya orang lain dapat mencontohinya.

Sesungguhnya tak ada sesuatu yang harus “Ku”-lakukan. Namun, “Aku” tetap bekerja demi Keselarasan Alam. Bila “Aku” berhenti bekerja, banyak yang akan mencontohi tindakan-“Ku”, dan “Aku” akan menjadi sebab bagi kacaunya tatanan masyarakat.

Ketahuilah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya. Tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan, kau akan didorong untuk menunaikan kewajibanmu. Maka, janganlah berkeras kepala – bekerjalah!

Terpicu oleh hal-hal di luar, panca-indera pun bekerja sesuai dengan kodrat mereka. Janganlah kau terlibat dalam permainan itu. Jadilah saksi, kau bukan panca-indera.

Berkat pengendalian diri bila inderamu, tak terpicu lagi oleh hal-hal luaran, hendaknya kau tidak membingungkan mereka, yang belum dapat melakukan hal itu.

Berkayalah demi “Aku” dengan kesadaranmu terpusatkan pada-”Ku”, bebas dari harapan dan ketamakan, itulah Persembahan, Pengabdian.

Para bijak berkarya sesuai dengan sifat mereka, kodrat serta kemampuan mereka. Demikian mereka terbebaskan dari rasa gelisah, dan mencapai kesempurnaan hidup.

Berkaryalah sesuai dengan kemampuan serta kewajibanmu. Janganlah engkau sekadar ikut-ikutan memilih suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan sifat dasarmu, tidak sesuai dengan kemampuanmu.

Sang Istri: Arjuna bertanya: Aku memahami semua itu, namun kadang tetap saja terpicu, untuk melakukan sesuatu yang tidak tepat. Bagaimana mengatasi hal itu?

Sang Suami: Sri Krishna berkata: Ketahuilah terlebih dahulu penyebabnya, yaitu “keinginan”, “ketamakan” dan sifat dasar manusia yang membuatnya bekerja. Manusia tak dapat berhenti bekerja.

Bila ia tidak bekerja tanpa pamrih, Ia akan bekerja untuk memenuhi keinginannya. Ketamakan melenyapkan kesadaran manusia, akhirnya ia binasa terbakar oleh api nafsunya sendiri

Kunci keberhasilan manusia terletak pada pengedalian diri. Bila terkendali oleh pancaindera kau pasti binasa. Ketahuilah bahwa panca indera mengendalikan raga, namun pikiran menguasai pancaindera.

Di atas pikiran adalah intelegensia, kemampuanmu untuk membedakan tindakan, yang tepat dari yang tidak tepat – itulah Kesadaran. Bertindakalah sesuai dengan kesadaranmu.

Dengan pengendalian diri dan bekerja sesuai dengan kesadaran, segala keinginan dan ketamakan dapat kau lampaui. Kemudian setiap pekerjaan menjadi persembahan, pada “Sang Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe Dari “Passion” Menuju “Compassion”

  1. Setiap orang perlu tulus ikhlas, kata lain dari sepi ing pamrih  dalam menjalankan swadharma.
  2. Setiap orang adalah unik dan mempunyai swadharma masing-masing, walau dapat dikelompokkan dalam beberapa fungsi tertentu.
  3. Swadharma berkaitan dengan dharma khusus yang harus dijalani untuk mendapatkan pengendalian diri dan menemukan jati diri. Semoga kita semua dapat melakoninya dengan penuh kesadaran.
  4. Lebih dari 150 macam bakteri yang hidup di tubuh kita melebihi macam binatang di taman safari. Begitu tubuh kita bersifat asam mereka segera mendaur-ulang menyempurnakan, demi kebaikan secara keseluruhan.  Banyak lagi fungsi dari macam-macam bakteri.
  5. Bakteri pun turut bekerja demi sistem metabolisme dlm tubuh. Hidup hukumnya wajib bekerja.
  6. Berkaryalah sesuai kodratmu. Berarti, berkarya sesuai kemampuan, potensi dirimu. Dan, kemapuan serta potensi diri itu dapat dikembangakan, dapat diperbaiki, dapat ditingkatkan, dipertajam. berkaryalah.
  7. Dari bekerja dengan passion, keinginan ego menuju compassion, bekerja demi kasih, persembahan kepada Keberadaan.
  8. Wacana yang mencerahkan namun begitu sulit untuk di lakoni, semoga kita terberkati untuk selalu bisa mengingat-ingatkan diri, bahwa sejatinya fitrah kita adalah melepaskan ego dengan berbuat tanpa pamrih “IKHLAS”.
  9. Perlu perjuangan keras untuk mengubah hidup kita dari pola lama.

Terima kasih __/\__

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: