Renungan Tentang Bertegur Sapa Dengan Alam Semesta


Seorang Bapak ikut seminar tentang Bhinneka Tunggal Ika di Jakarta, sekalian menengok sang putra yang setelah lulus perguruan tinggi bekerja di Ibukota. Sang Putra, 6 tahun yang lalu pernah ikut program AFS pertukaran siswa di Jepang, di Provinsi Shizuoka, sekitar 2 jam dari Tokyo perjalanan naik kereta. Selama satu tahun sang putra berada di Jepang untuk memahami budaya Jepang dan memperkenalkan Budaya Indonesia.

Sang Putra: Papa, setelah saya renungkan nampaknya adat istiadat di Jepang dan adat istiadat Jawa yang halus ada persamaannya. Di Jepang, sebelum seseorang keluar dari ruangan dia “pamit”, mohon izin kepada  ruangannya. Demikian pula saat masuk ruangan dia memberi salam kepada ruangan yang dimasukinya. Apabila bertemu seseorang di ruangan atau di jalan selalu mengucapkan salam juga.

Sang Ayahanda: Kakekmu, ayahnya ibumu memberi istilah tindakan tersebut “dijawab”. Beliau juga selalu pamit kepada rumah atau ruangan saat ditinggalkannya dan mengucapkan salam saat memasukinya. Bukan masalah animisme akan tetapi tindakan spiritual yang telah dilakukannya……. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air dapat merespon informasi yang diberikan kepadanya. Air yang mendapat persembahan nyanyian indah, ucapan penuh kasih, ataupun doa dari segala bahasa akan membentuk sebuah kristal hexagonal yang indah. Bila air memberikan respon terhadap vibrasi intens terhadapnya, maka sudah semestinya manusia yang mempunyai kandungan 70 % air akan merasakan respon yang diberikan terhadapnya. Itulah sebabnya mengelus-elus seluruh organ tubuh dan berkomunikasi dengan mereka sepenuh rasa mendatangkan suasana yang luar biasa. Rasa kasih muncul di seluruh raga. Semua organ tubuh yang mengandung air memberikan getaran positif atas kasih sayang yang diberikan kepada mereka……. Setelah kesadaran seseorang meluas, maka yang diajak berinteraksi bukan hanya seluruh anggota tubuh tetapi seluruh wakil alam semesta yang berada dekat dengannya, misalnya berkomunikasi dengan ruangan tempat dia berada. Itulah cara bertegur sapa dengan alam semesta. Yang dilakukan bukan hanya dengan kata tetapi dengan penuh rasa.

Sang Putra: Secara logika, bila air yang cair bisa memberikan reaksi apalagi udara yang lebih meluas sifatnya. Bahkan sesungguhnya semua benda itu terdiri dari partikel-partikel atom dimana terdapat elektron yang bergerak mengelilingi intinya. Materi sebenarnya adalah getaran suatu energi juga. Energi itu bisa berwujud sebagai materi, benda yang nampak mata. Ruang, Udara, Api, Air, Tanah adalah energi yang berbeda kerapatannya. Pantaslah seorang sufi melihat wajah-Nya berada di Timur di Barat dan di mana-mana, dia bisa merasakan “kehidupan” di mana-mana. Tauhid berarti “Kesatuan”, Satu Allah, Hyang Tiada Duanya. Bagi Einstein, Hyang Tiada Duanya adalah Medan Energi Terpadu yang mempersatukan kita semua.

Sang Ayahanda: Dalam bahasa Bhagavad Gita, unsur-unsur alam seperti tanah, air, api, udara dan ruang; rasa angkuh, intelek dan khayalan, pikiran serta indera dan segala benda duniawi; keinginan, kebencian, rasa suka dan duka, keteguhan hati – semuanya itu, bersama dengan segala macam variasinya, disebut lapangan, wadah, wajah, Kshetra. Raga ini bagaikan lapangan bermain atau Kshetra dan yang bersemayam padanya disebut Kshetrajna. “Sang Aku” itulah sebenarnya yang disebut Kshetrajna. Yang membuat tanaman, hewan dan manusia hidup adalah Kshetrajna. Yang membuat materi bergetar adalah Kshetrajna. Yang dipamiti dan disalami adalah Kshetrajna, bukan kshetra-nya, atau ruangannya……. Itulah sebabnya kita menghormati orang dengan mengucap “Namaste”, aku menghormati “Sang Aku” yang bersemayam dalam dirimu. Pamit, berinteraksi dengan ruangan di mana dia berada berarti menghormati Dia yang bersemayam dalam setiap wujud benda yang ada dalam ruang itu. Demikian juga, menghormati lingkungan, menghormati pohon berarti menghormati “Kehidupan” yang bersemayam dalam pohon, menghormati “Sang Aku”.

Sang Putra: Orang Jepang selalu sadar akan lingkungannya. Di Shizuoka mereka bangga bisa melihat Gunung Fuji dari rumahnya, mereka juga selalu membuang sampah pada tempatnya. Pada musim panas mereka mengadakan pesta, karena panen akan tiba. Mereka melakukan perayaan, memakai pakaian daerah dan menari dengan bahagianya. Sebelum makan mereka juga selalu berdoa mohon maaf kepada hewan yang akan dikonsumsinya.

Sang Ayahanda: Pada waktu papa masih kecil, kala pulang sekolah lewat jalan di tengah sawah, papa sering mendapat “bancakan” dari para petani yang akan panen padinya. Di Pabrik Gula Colomadu pada saat musim panen dan pabrik mulai menggiling tebu, juga diadakan pasar malam bagi masyarakat sekitarnya. Eyang putri pun setiap “weton” putra-putri dan cucu-cucunya selalu membuat “bancakan” sederhana. Ungkapan rasa syukur terhadap-Nya yang bersemayam dalam setiap kehidupan…….. Para leluhur paham bahwa hewan yang disembelih juga mempunyai rasa ketidaksukaan bahwa nyawanya direnggut dengan paksa. Rasa ketidaksukaan ini merupakan energi negatif, dan energi tidak sirna. Meminta maaf adalah tindakan yang bijaksana. Dalam setiap agama, sebelum dan sesudah makan juga selalu ada ritual berdoa. Bukan hanya saat makan, bahkan dalam bertindak apa saja selalu melakukan afirmasi sepenuh rasa. Dengan menyebut Nama Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang bagi semua makhluk-Nya.

Sang Putra: Walaupun orang tua angkat di Jepang yang pria penganut Shinto dan isterinya penganut Katholik, tetapi mereka secara berkala pergi ke makam mendiang putrinya, membawa bunga dan dupa. Di rumah mereka setiap pesta, sang ibu juga selalu memberikan sepiring kecil makanan yang dipersembahkan di depan foto mendiang putrinya.

Sang Ayahanda: Kita juga membawa bunga ke makam, rasa kasih diungkapkan dalam bentuk doa, dupa dan bunga. Setiap tahun kita juga melakukan acara selamatan doa bersama “haul” bagi mendiang orang tua. Dalam selamatan tersebut juga disiapkan persembahan makanan kecil kesukaan mendiang orang tua…….. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra”, karya Bapak Anand Krishna dijelaskan bahwa Leluhur adalah gumpalan energi, gugusan pikiran atau mind yang “sudah tidak berwujud” dari mereka yang telah mendahului kita. Dan energi tidak pernah mati, hanya berubah bentuk, beralih wujudnya. Mereka sedang menunggu giliran untuk berwujud “kembali” ke dunia. Selama berada di alam transisi, dalam bentuk mind atau gugusan pikiran, mereka pun butuh makanan yang bisa membantu evolusi mereka. “Energi Kasih” adalah makanan utama. Tradisi-tradisi kuno menganjurkan persembahan atau “offering” bagi para leluhurnya. Apa yang dipersembahkan tidak penting, yang penting adalah niatnya. Rasa serta kasih di balik persembahan saat mempersembahkan bubur atau kue kesukaan orang tua yang sudah wafat, timbul energi dari rasa kasih, rasa rindu terhadapnya. Bubur dan kue persembahan tidak penting. Yang penting adalah energi dari rasa kasih yang timbul saat memasak atau mempersembahkannya. Mereka yang “tidak tahu” akan mencap sebagai pemuja leluhur, tidak perlu menanggapi mereka. Untuk apa?…….. Kita mendoakan bukan meminta, kita memberikan persembahan kasih kepada mereka. Kesadaran Kasih mempunyai sifat memberi tidak menerima. Sedang mereka yang dalam kesadaran seks hanya mengerti meminta. Sehingga mereka mencap seseorang sebagai meminta kepada leluhurnya. Kita bisa bersifat kasih terhadap sesama, terhadap hewan, tumbuhan, lingkungan dan bisa juga terhadap leluhur kita.

Sang Putra: Menurut pengalaman saya setahun di Shizuoka, masyarakat Jepang adalah orang yang polos, jujur dan sederhana. Mereka tidak membeda-bedakan kaya atau tidaknya. Yang kantornya dekat mereka naik sepeda, sedang bila jarak dekat dan naik mobil juga. Dan saat berpapasan di jalan mereka saling bertegur sapa.

Sang Ayahanda: Semoga pelajaran yang kau timba di Jepang dapat meningkatkan kesadaran. Tidak perlu takut dikatakan syirik, apa yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Dapat lebih mendekatkan diri pada Keberadaan. Sudah saatnya kita menghormati budaya sendiri, yang selaras dengan DNA dalam diri yang telah leluhur wariskan.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Bertegur Sapa Dengan Alam Semesta

  1. Semoga kita bisa mensyukuri apapun pemberian Tuhan. Bersyukur berarti menerima apa pun pemberian-Nya dengan rasa Terima Kasih.
  2. “Dhyana” dari India, atau “Chan” yang dibawa Bodhidharma ke Cina tumbuh subur di Jepang menjadi “Zen”. Semoga di negeri kita pohon Kesadaran tersebut dapat berbuah lebih subur.
  3. Sebenarnya, Bodhidharma pun sempat mampir di Indonesia. Di Indonesia pada zaman Sanjaya yang menghormati Mataram, Ibu Pertiwi. Dalam perjalanannya kita melupakan jati diri bangsa. Semoga kita bangkit kembali.
  4. Bangsa Jepang bisa melestarikan tradisi meski sudah demikian modern dibanding Indonesia.
  5. Demi melanggengkan kekuasaan ada sekelompok putra bangsa yang berusaha memotong akar-akar budaya. DNA kita akarnya begitu panjang bahkan sampai ke awal kehidupan, amuba. Dan kehidupan nenek moyang kita dipengaruhi oleh lingkungan hutan rimba yang subur dengan bermacam tanaman. Sejak zaman dahulu agama diterima kedatangannya untuk memperkuat spiritualitas. Sayangnya ada yang memaksakan budaya luar yang masih keras yang usianya masih muda. Ketidakselarasan dengan DNA membuat bangsa kita gamang, seakan tercerabut dari akarnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya, bisa dilihat India, China, Jepang, Korea……
  6. Silakan beragama apa saja tetapi jangan melupakan keIndonesiaan kita.
  7. Semoga membawa banyak manfaat dan pencerahan bagi teman-teman yang bersedia membaca dengan perlahan sehingga dapat meresap ke dalam alam bawah sadar kita lalu kita tularkan getaran positif ini kesesama kita dimanapun berada.
  8. Adalah tugas kita semua menyebarkan semangat kembali ke budaya ke jatidiri kita.
  9. Salah seorang teman mengungkapkan: Kami sebagai keturunan Tionghoa juga berlaku sama kepada para leluhur seperti yang telah dibabarkan di atas, dan hampir seperti adat Jawa, kami juga melakukan selamatan wafatnya anggota keluarga mulai dari hari wafatnya: 1 minggu, 49 hari, 100 hari ,1 tahun, 2 tahun ,dan 3 tahun. Namun saya setelah mendapat pengertian Dharma yang benar tetap melakukan persembahan, namun dengan motivasi tulus kepada segala leluhur keluarga, di kehidupan ini dan kehidupan masa-masa lampau, untuk melimpahkan kebajikan dan pahalanya, semoga mereka yang berada di alam-alam penderitaan akibat karma lampau berbahagia, dan medapat terang untuk jalan menuju pencerahan. Doa kami kepada para Guru, yiddam, dakini, dharmapala, dan dewata lain adalah doa aspirasi, doa perlindungan tentu dengan bantuan mereka memancarkan cinta kasih, kebijaksanaan, ketenang-seimbangan, dan bodhicitta baik kepada diri sendiri dan segala makhluk hidup untuk bersama-sama mencapai nirvana. Pemancaran pikiran murni tanpa dilekati keinginan apapun, kebencian, dan segala konsep mutlak dilakukan, terutama dalam melaksanakan segala kebajikan. Nirvana yang dimaksudkan bukanlah suatu ‘surga’, namun lebih merujuk pada kondisi Kepribadian Luhur yang bersatu dengan Kuasa Adikodrati, Buddha Kosmis; disebut Sang Hyang Adi Buddhaya, digambarkan sebagai Vajradhara atau Samantabadhra (dan pasangannya Samantabadhri).
  10. Penghormatan terhadap para leluhur adalah sebagai rasa Terima Kasih, karakter kita sedikit banyak adalah warisan genetik dari mereka. Kita tidak memuja, tetapi bersyukur dengan tulus kepada mereka, dan nantinya anak keturunan kita juga akan melakukan hal yang sama terhadap kita.
  11. Beberapa teman amat rindu atas tradisi para pendahulu. Kira-kira 30 tahun yang lalu, dalam setiap acara pernikahan, sesajen/penghormatan itu masih terjaga. Tetapi virus pergeseran fanatisme beragama lama-lama menutup mata atas keanggunan budaya Nusantara. Smoga saja tradisi pendahulu lekas pulih kembali.
  12. DNA kita membuat kita rindu pada tradisi para leluhur kita. Adalah tugas kita untuk menyebarkan kebenaran menjunjung tinggi budaya kita. Ada sebagian yang gampang dibodoh-bodohi dengan dikatakan seluruh leluhur kita tidak masuk surga. Yang abadi hanya Tuhan, bukan yang lainnya. Kita berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan.
  13. Jepang negara tradisi dengan tehnologi canggih, person nya jujur,tulus,sepenuh hati, semangat.
  14. Sekedar mengingatkan bagaimana kita harus tetap menjaga budaya di tengah kemodernan.
  15. Seorang teman terharu. Jadi ingat kampung halaman waktu kecil, kakek nenek bapak ibu setiap mau panen padi pasti ada bancaan mboyong mbok Sri… Aku juga selalu ikut bancakan disawah. Kebetulan sekarang sedang ada dinegri Jacky Chan.. Ritual-ritual itu selalu diadakan setiap mau mengawali sesuatu, selalu menghormati leluhur mengadakan sembahyangan. Mereka juga setiap pergi dan masuk rumah selalu mengucap salam, ramah-ramah dan sopan. Damai hidup di negeri yang sangat bersih dan disiplin. Semoga di negeri kita juga demikian..Tumbuh kesadaran.. Saling mengasihi Ciptaan-Nya.
  16. Mari kita belajar menghormati budaya kita sebagai jati diri bangsa.
  17. Bapa Angkasa….Ibu Pertiwi. Pada dasarnya kita dilahirkan Ibu Pertiwi, semua elemen diri dan yang memelihara kehidupan diperoleh dari Ibu Pertiwi ditambah cahaya kehidupan dari angkasa. Kita semua mempunyai Ibu Pertiwi yang sama, kita satu saudara. Jangan terpengaruh mereka yang datang mengadu domba. Mari kita berjuang agar Ibu kita bisa tersenyum lagi. Bende Mataram, Sembah sujudku pada Ibu Pertiwi.
  18. Kebijakan hidup yang luar biasa, sarat nilai-nilai penghormatan kepada alam sebagai media hidup. Kisah kehidupan yang sarat makna. Semua yang ada di alam ini merupakan kombinasi dari elemen ruang, angin, api, air dan tanah, ditambah dengan “Kehidupan”. Pada dasarnya kita semua satu dan sama, wujud manifestasi dari dia Yang Maha Menghidupkan. Bhinneka Tunggal Ika.
  19. Menghormati leluhur kita bukan berarti ” menyembah ” mereka, tetapi sebagai rasa terima kasih kita kepada mereka atas semua yg diwariskan leluhur untuk kita….menghormati kepada mereka yang intinya kembali menuju jati diri kita sendiri.
  20. Kepada Dia pun yang menyembah adalah “rasa”-nya, sedangkan tindakannya adalah “melayani”-Nya.Melayani Dia Yang Maha Pengasih.

Terima Kasih

Salam __/\__

Iklan

3 Tanggapan

  1. Terima kasih pak.., Saya tertarik dengan buku “Youth Challenges And Empowerment” , Semoga Bapak berkenan membahas hikmah dari buku tersebut di sini suatu saat nanti..

  2. bagus baget infonya..trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: