Renungan Tentang Ngelmu, Knowingness, Gyana dan Kesadaran Berbangsa


Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Sang Suami: Saya ingat petikan serat Wedhatama berbentuk tembang Pocung karya K.G.A.A. Mangku Negara IV, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara”, “Ngelmu” itu hanya dapat dicapai dengan laku, action, tindakan. Diawali dengan niat yang teguh, yang membuat kesentosaan. Keyakinan yang tangguh untuk mengatasi hasrat keangkaramurkaan. Bagi Sri Mangku Negara IV, “Ngelmu” yang nyata itu adalah ilmu yang diterapkan dalam kehidupan. Ngelmu yang nyata berarti perilaku, tindakan, perbuatan dari seseorang yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Sang Istri: Mari kita tengok keadaan di negara kita. Anak kecil dilatih pemahaman Tentang Tuhan Yang Maha Esa. Diajari juga dengan teori-teori lainnya. Kemudian diminta menghapalkan hukum dan peraturan agama. Waktu tiba evaluasi, ditest dan lulus mendapat nilai A. Yang mendapat nilai B hanya yang malas saja. Pelajaran diberikan dari SD bahkan TK sampai Mahasiswa. Bagaimanakah setelah praktek di kehidupan nyata? Negara kita dibelit korupsi yang menggurita. Skandal seks artis menjadi ledakan berita. Mengalihkan perhatian massa. Kita telah melupakan pesan leluhur bahwa “ngelmu” itu harus dipraktekkan secara nyata.

Sang Suami: Seandainya Selebriti Top dalam bidang hipnotis Si Kuya di media televisi melakukan wawancara mungkin dibuat bingung juga. Setiap orang ditanya mengenai Tuhan, Surga dan Neraka. Jawabannya pasti meyakinkan seperti tersimpan dalam pikiran bawah sadarnya. Akan tetapi melihat tindakannya dalam keseharian. Jelas sekali hampir setiap insan tidak takut hari pembalasan. Mengikuti gelora keinginan melalaikan Tuhan. Surga pun nampaknya tidak terpikirkan. Menjadi munafik, lain di kata lain di perbuatan. Demikian parahkah metode pendidikan. Sekedar pemahaman tanpa dipraktekkan……….. Pemahaman harus dipraktekkan. Diulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Akhirnya menjadi karakter baru yang meyakinkan. Bukan sekedar hapalan tanpa praktek yang membuat kemunafikan. National Character Building wajib disebarluaskan.

Sang Istri: Ada perbedaan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Untuk mengetahui bahwa api bisa membakar kita tidak harus lebih dahulu mengalaminya. Untuk mengetahui hukum gravitasi temuan Newton atau hukum relativitas  temuan Einstein, kita tidak perlu mengulangi proses penemuan kembali hukum-hukumnya. Cukup dengan mempelajarinya. Tidak demikian dengan spiritualitas. Setiap orang harus mengalaminya sendiri. Pengalaman seseorang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi. Tetapi harus mengalaminya sendiri. Itulah sebabnya disebut Seni Memberdaya Diri.

Sang Suami: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan, bahwa “Gyaana” bukan pengetahuan melainkan kesadaran. Banyak penerjemah, termasuk para guru besar, menerjemahkan “Gyaana” sebagai knowledge atau pengetahuan. Lebih tepat jika “Gyaana” diterjemahkan sebagai “knowingness” yang terpaksa diterjemahkan sebagai “kesadaran”……… Jika pengetahuan bisa membersihkan diri manusia, para ahli kitab tidak akan menolak Gusti Yesus, Kanjeng Nabi, Buddha dan para suci lainnya…… Ternyata tidak demikian. Yang menolak para avatar, para nabi dan para mesias, para pembawa kebenaran selalu orang-orang yang berpengetahuan.

Sang Istri: Seorang Doktor S3 mengajar anak-anak TK. Maka dia harus menurunkan tingkat pengetahuannya agar dapat dipahami mereka. Si anak-anak TK mungkin merasa sudah paham pelajaran dari Sang Doktor, seyakin-yakinnya. Bila ada pelajaran lain yang tidak seperti diajarkan Sang Doktor sudah pasti sesat pelajarannya. Demikian pemahaman mereka.

Sang suami: Avatar berarti “Ia yang turun”, Ia menurunkan kesadarannya agar dapat berinteraksi.  Avatar berarti “Ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog, berkomunikasi. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Gusti Yesus, Kanjeng Nabi seorang Avatar juga. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada umat manusia. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Gusti Yesus lain. Bahasa Kanjeng Nabi lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, berinteraksi dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda.

Sang istri: Konon Kanjeng Nabi melatih kesadaran umatnya pada waktu itu secara bertahap sesuai tingkat kesadaran umatnya. Disampaikan kepada mereka yang sudah terbiasa “minum”, bahwa dalam minuman keras ada manfaat dan ada mudharatnya, ada kebaikan dan ada kejelekannya. Setelah beberapa lama ditambahkan pula, akan tetapi lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Dan setelah beberapa lama, “tidak boleh masuk masjid dalam keadaan mabok” demikian disampaikan kepada umatnya. Bagi para sufi yang lebih lembut, selama mabok hal-hal duniawi tidak pantas mendekati-Nya. Konon ikatan kekeluargaan diantara suku pada saat itu sangatlah kuatnya. Maka Nabi mengatakan apabila dipukul balaslah yang setimpal juga. Akan tetapi setelah rasa kasih mulai tumbuh pada umatnya, maka disempurnakan juga, balaslah dengan yang setimpal akan tetapi sesungguhnya memaafkan itu lebih mulia.

Sang Suami: Selama pancaindra dikuasai pikiran, dikuasai oleh “conditioning”, maka Kebenaran akan tampak terbagi-bagi, terpecah-belah, tampak banyak, padahal satu adanya. Conditioning  berarti “program” yang sudah berubah menjadi kebiasaan manusia. Dari kecil manusia diprogram untuk mempercayai berbagai hal oleh orang tua, masyarakat dan sistem pendidikannya. Beranjak dewasa, mulai kritis, nampak banyak hal tidak masuk akal, tetapi sudah terlanjur diprogram untuk mempercayainya. Karena itu terjadilah konflik di dalam dirinya. Menjadi bingung sendiri, mana dan apa yang harus dipercayaai, pemahaman saat ini atau kepercayaan yang sudah ditanam oleh orang tua, masyarakat, dan sistem pendidikannya?

Sang Istri: Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan. Tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka ingin menyeragamkan segala sesuatu, bila perlu dengan kekerasan. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi yang nyata. Perbedaan antara mind dan budhi cukup jelas, mind selalu melihat dualitas, melihat perbedaan. Sedangkan intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan di balik perbedaan. Budhi melihat isi sedangkan mind melihat kulit luaran.

Sang Suami: Orang bijak selalu sadar akan apa yang masuk ke dan yang keluar dari mulutnya. Tidak gegabah dalam tindakannya. Tidak hanya fisik manusia yang membutuhkan makanan, pikiran membutuhkan makanan juga. Buku, surat-kabar dan pendidikan formal maupun non-formal adalah bahan baku makanan bagi pikiran manusia. Mind, pikiran dibentuk oleh informasi yang diperoleh dari luar dirinya. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind, pikiran pribadinya. Itulah sebab adanya Mind-Islam, Mind-Kristen, Mind-Hindu, Mind-Buddhis dan Mind-Atheis dan Mind-Kepercayaan lainnya. Kemudian, perbedaan antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiap mind itu berbeda.

Sang Istri: Untuk menghindari konflik, para cendekiawan dan pakar agama selalu menganjurkan “dialog” lintas agama. Mereka berharap bisa meminimalkan konflik, tetapi tidak pernah terpenuhi juga. Eksperimen dilakukan oleh kelompok-kelompok liberal dalam setiap agama. Setidaknya, sejak seribu tahun yang lalu mereka sudah mulai melakukan dialog dan masih tidak memuaskan juga hasilnya. Paling banter, mereka menjadi toleran terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Toleransi semu yang sangat terbatas, sehingga setiap kali masih saja terjadi konflik antar-agama, antar-suku dan lain sebagainya. Tidak ada jalan lain, kecuali kita mesti melampaui mind yang sudah terkondisi dan diprogram oleh masyarakat, ketika kita masih balita. Kemudian, setelah mind tersebut terlampaui, demi keberlangsungan hidup, kita perlu membentuk mind yang baru dengan menggunakan bahan baku prima sesuai dengan kesadaran kita.

Sang Suami: Ia yang cerah telah melampaui mind yang lama, yang dibuat oleh masyarakat, pendidikan dan lingkungan. la telah berhasil menciptakan mind baru yang terciptakan oleh kesadaran. Ia tidak pemah fanatik, karena ia sadar bahwa di balik segala sesuatu yang terlihat berbeda ini ada kesatuan.

Sang Istri: Orang bijak melihat kesatuan di balik perbedaan. Tidak mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tetapi memperhatikan hal-hal yang bisa mempersatukan. Keberadaan memang tidak mengenal pengulangan. Karena Tuhan Maha Esa Ada-Nya, karena Allah Maha Kuasa Ada-Nya, setiap makhluk dalam alam ini adalah khas, unik, tidak ada yang sama. Perbedaan yang terlihat, justru membuktikan Kekuasaan-Nya, Keesaan-Nya. Perbedaan tidak bisa dihindari, yang harus kita hindari adalah pertentangan. Pertentangan yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran.

Sang Suami: Pertentangan yang muncul karena kita mempermasalahkan kulit sapi dan tidak memperhatikan susu sapinya. Selama masih sibuk “membahas” Allah, “mendiskusikan” agama, “memperdebatkan” spiritualitas, kita tidak akan pemah bisa melihat kesatuan dan persatuan di balik hal-hal yang berbeda. Kita harus berwawasan cukup luas, sehingga dapat menerima pandangan-pandangan yang berbeda. Pada saat yang sama, kita juga harus memiliki kesadaran yang cukup tinggi, sehingga bisa melihat keikaan di balik kebhinekaan. Mari kita tingkatkan kesadaran, melihat kesatuan dan persatuan di balik perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Ngelmu, Knowingness, Gyana dan Kesadaran Berbangsa

  1. Dengan sedikit saja membuka diri pasti sang Jiwa Agung tercahayai. Dibalik perbedaan, ada kesatuan. Dibalik aneka warna, ada warna dasar putih.
  2. Setiap pembaca dan penulis akan memvibrasikan kesadaran ke alam semesta. Semoga vibrasi ini dapat diterima oleh mereka yang sedang berjalan di Kebenaran….
  3. Dikisahkan sekelompok kera di suatu pulau di Jepang diajari mencuci ubi sebelum memakannya. Setelah perjuangan yang cukup lama akhirnya, seluruh kera di pulau tersebut mencuci ubi sebelum makan. Dan tiba-tiba sekelompok kera di pulau lainnya yang berbatasan laut tiba-tiba mencuci ubi sebelum makan. Vibrasi kesadaran akan cepat menyebar. Yang penting keterbukaan dan reseptivitas.
  4. Semoga alam semesta mengamini keinginan kita semua untuk kedamaian di bumi…
  5. Mari kita tingkatkan kesadaran, melihat kesatuan dan persatuan di balik perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika.
  6. Di balik perbedaan ada kesatuan. Semakin tinggi kesadaran semakin nampak kesatuan. Di bawah nampak sungai kecil sebagai batas, semakin ke atas perbedaan semakin tidak nampak. Dari luar angkasa hanya nampak satu bumi.
  7. Mari kita semua memvibrasikan kedamaian dan kesatuan bangsa ke alam semesta.
  8. Semua Guru meminta laku/tirakat dari bawah dan harus dilakoni sendiri.
  9. Ada dua kelompok pendapat dari para Master. Pertama, untuk apa menulis sesuatu yang belum dipahami. Menulislah setelah mengalami pencerahan. Akan tetapi sampai mati pun kita belum tentu cerah….. Kedua, apa pun yang kau punya bagikanlah dengan penuh kasih. Mungkin sekedar katarsis, namun jalan itu harus dilewati. Sang Guru bisa menggabungkan keduanya. Ikuti Guru dan sambil belajar pada Guru, membagikan kemanisan madu yang diperoleh.
  10. Semoga kesadaran menjadi panglima di negeri kita.
  11. Mari bersama kita tingkatkan kesadaran bangsa. Sehingga bangsa kita bisa menerima perbedaan.
  12. Lagu Pocung tersebut, Ngelmu iku dst………… selaras dengan pengalaman para Resi. Icha Shakti, Power of the Will, Kemauan yang kuat. Gyana Shakti, Power of Knowingness, Pengetahuan Kesadaran.Kriya Shakti, Power of Action, Laku, Perbuatan Nyata.
  13. Menurut Guru yang penting adalah niat untuk meniti ke dalam diri. Kemudian Alam semesta akan membimbing, asal kita terbuka reseptif terhadap bimbingan alam semesta.
  14. Perlu dikaji sistem pendidikan yang hanya berupa pemahaman tanpa praktek nyata. Seorang anak yang pelajaran agamanya baik, tidak menjamin akhlaknya baik.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Iklan

2 Tanggapan

  1. mau share ke akun sy g bs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: