Renungan Tentang Tepo Sliro, Empathy dan Kepedulian Sosial Anak Bangsa


“Kekuatan Dunia Benda membuat manusia tidak sadar mana yang benar dan mana yang tidak benar”, sebuah SMS Wisdom yang membuat sepasang suami istri terpana karena ketepatan akan maknanya. Mereka lama merenungkannya dan kemudian mengkaji dengan menyimak petuah Sri Mangku Negara IV dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern,”dan Nasehat dari Kitab Klasik Timur yang telah diolah dalam buku “Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern”, keduanya karya Bapak Anand Krishna, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.

Sang Suami: Krisis bangsa nampak belum usai juga karena rendahnya kesadaran berbangsa dan bernegara, serta lunturnya semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Pengaruh “individualisme, materialisme dan hedonisme” menyebar ke seluruh anak bangsa. Kekuatan dunia benda amatlah nyata. Melihat tayangan di media elektronik tentang penawaran mansion dan apartemen mewah, kenyamanan berlibur ke ujung dunia, kendaraan, perabot dan hiburan supermewah, mestinya sudah tak ada seorang warga negarapun yang kelaparan, yang tak sanggup mendapatkan nasi dalam kesehariannya. Tanpa terasa telah terbentuk “the affluent society”, masyarakat yang sangat berlebihan sifat konsumtifnya. Dana yang seharusnya bisa produktif untuk memutar roda ekonomi dipakai keperluan konsumtif pribadinya.

Sang Isteri: la yang larut dalam dunia akan dikendalikan oleh pikiran, akan diperbudak oleh panca indera, mirip seorang raksasa walaupun berbadan manusia. Penampilan para raksasa masa kini bisa necis, berdasi, berjas, dan naik-turun mobil mewah, tetapi hanya memikirkan kepentingan pribadinya. Jiwa sang raksasa belum tersentuh rasa. Belum memahami “tepo sliro”, suatu istilah para leluhur tentang sebuah “Kaidah Emas” yang berlaku universal, “Perlakukanlah orang lain seperti kita ingin diperlakukan yang demikian kepada kita”. Masih banyak anak bangsa yang berada dlam kesusahan tidak perlu kita memamerkan kemewahan pribadinya.

Sang Suami: Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa “apathy”, “sympathy” dan “empathy”. Seorang yang “apathy”, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Tidak mengakui eksistensi yang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain?…… Seorang yang mempunyai “sympathy”, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Lugasnya, yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa, tetapi saya tidak mengalaminya. Mungkin dia merasa hebat, diselamatkan Tuhan karena tidak terkena bencana……. Seorang yang mempunyai rasa “empathy”, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Seorang ibu merasa stress  kala anaknya tidak tidur mengerjakan tugas dari dosennya yang berada di kota berbeda. Seseorang ikut merasakan kerepotan seorang  ibu tua yang berdesakan dalam bis kota, sehingga memberikan tempat duduknya. Kalau tidak suka tetangga berbuat gaduh di malam hari dengan membunyikan radionya keras-keras, maka dia pun tidak berbuat demikian juga. Dalam empathy atau “tepo saliro” seseorang merasa ada “connectedness” dengan yang lainnya.

Sang Istri: Istilah “Tepo Saliro”  atau tenggang rasa berarti mengenal diri sendiri dan juga mengenal diri orang lainnya. Ini adalah falsafah hidup, suatu sikap hidup yang memandang orang lain sebagai bagian hidup yang perlu dihargainya. Menjadi dasar tindakan seseorang untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadinya di atas kepentingan orang lainnya. Tepo saliro mengandung arti ikut menghargai perasaan sesama manusia. Sikap ini sangat erat hubungannnya dengan hubungan sosial seseorang dengan bangsanya. Sikap ini mampu menjauhkan diri dari falsafah-falsafah modern seperti individualistis, materialistis, hedonistis yang membuat seseorang cuek, apatis dan tidak mau tahu kondisi bangsa. Seseorang yang melakukan bom bunuh diri di tengah masyarakat ramai mungkin tidak puas dengan perilaku individualis, materalis dan hedonis, akan tetapi dia tidak punya rasa empathy terhadap masyarakat yang menderita akibat perbuatannya. Rasa kemanusiaannya sudah membeku, sudah sirna.

Sang Suami: Ada baiknya kita melakukan introspeksi terhadap pendidikan kita. Pengetahuan yang kita peroleh dari sistem pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan manusia. Padahal sejak zaman dahulu Sri Mangku Negara IV dalam Wedhatama telah mengetengahkan bahwa seharusnya pengetahuan tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak manusia. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri manusia. Rasa sinonim dengan batin manusia.  Kembangkan rasa dulu, tidak bersikeras untuk membuat generasi muda menjadi cerdik atau cerdas pikirannya. Kecerdasan pikiran tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita. 

Sang Istri: Para leluhur sangat paham bahwa pikiran seseorang bisa berbeda, akibat masukan informasi, berupa pendidikan, pengalaman dan lingkungan yang berbeda. Karena itu ada “Mind didikan Barat”, ada “Mind hasil dari Timur”, ada “Mind dari berbagai agama” yang membuat beda. Akan tetapi rasa atau hati bersifat universal, semua dapat merasakannya. Dengan melatih rasa maka walaupun “Mind berbeda” tetapi dapat merasakan hal yang sama. Tertawa, gembira, bahagia, suka dan duka bersifat universal semua merasakannya.

Sang Suami: Empati atau tepo sliro adalah hubungan dengan orang lain melalui hatinya. Tapi ini hanya mungkin jika pikiran dalam keadaan tenang, sehingga pintu hati terbuka. Begitu diri dipenuhi dengan berbagai pikiran maka menjadi kepekaan akan sirna. Untuk melatih kepekaan rasa, diperlukan latihan hening, latihan olah rasa, meditasi, cara halus memenggal kepala. Ketika kepala  kosong, maka hati penuh dan menjadi peka. Ketika kepala penuh, hati kosong dan kepekaan sirna. Kepekaan dapat mengendalikan pikiran sehingga tindakan seseorang tidak menyakiti sesama. Sayangnya, umat manusia telah memilih kepala daripada hatinya. Dan hampir di seluruh bumi yang berlaku adalah hukum rimba.

Sang Istri: Seseorang yang ingin memuaskan diri, mau menang sendiri, mempunyai tingkat kesadaran para raksasa. Belum ada pengendalian diri padanya. Masih sepenuhnya menggunakan pikirannya, ingin memuaskan semua panca inderanya. Seseorang berkesadaran manusia kala meningkat rasa kemanusiaannya. Manusia menggunakan rasa, mempunyai tepo sliro menghargai eksistensi orang lainnya. Apa yang tidak suka diperlakukan terhadapnya tidak akan dia lakukan kepada orang lainnya. Sudah mulai ada pengendalian dirinya.

Sang Suami: Tepo sliro menjadi dasar bagi kerjasama.  Memang setiap individu adalah unik, sepasang anak kembar yang dilahirkan oleh satu ibu bisa mirip-mirip, tetapi tidak bisa sama. Bila ingin menjalin kerja sama dengan pihak lain, seseorang tidak bisa egois, tidak bisa mempertahankan “aku”-nya. Dia harus menghormati “aku” mitranya. “Aku”-nya dan “aku” mitra anda harus berubah menjadi “aku mereka”, di mana kedua “aku” tersebut saling menunjang dan mengisinya.

Sang Istri: Seorang penderita penyakit “ketidakpuasan” tidak dapat mengasihi. Zat kasih dan hormon cinta sudah berhenti tidak diproduksi lagi. Dan orang yang tidak memiliki kasih dalam dirinya, yang belum kenal cinta, tidak pernah memberi. Ia akan selalu menerima dan menerima dan bahkan meminta.

Sang Suami: Bila seseorang melakukan tepo seliro tetapi justru menjadi gampang tersinggung, karena mengharapkan orang lain bertindak baik terhadapnya, seperti dia telah melakukannya, maka dia masih menggunakan logika. Masih menggunakan pikirannya. Tepo Seliro pada mungkin awalnya berdasar keadilan juga. Akan tetapi dia sudah berkembang menjadi kasih . Ia yang penuh dengan “kasih” dapat menyelesaikan dengan baik segalanya. la yang “adil” tidak selalu demikian adanya. la akan gusar, apabila seseorang yang dibaikinya tidak membalas dengan tindakan yang sama. Kasih dan Adil merupakan dua sifat yang berbeda. Kasih dapat memuaskan semua pihak. Dengan kasih, seseorang  dapat menyelesaikan semua masalah, tanpa harus memaksakan kehendak.

Sang istri: Tepo seliro juga berarti pengendalian diri. Keinginan untuk memiliki lebih banyak menyebabkan terjadinya kerusuhan, kekacauan di dunia ini. Apa pun latar belakang historis pecahnya perang, tanpa adanya ketamakan, perang tak akan terjadi. Di balik perang, di balik kerusuhan, sebab utamanya selalu ketamakan, keinginan yang tak terkendali.

Sang Suami: Dalam Wedhatama, seseorang dapat disebut satria apabila memenuhi beberapa kriteria. Pertama, ia dapat mengendalikan dirinya pada setiap saat, dalam keadaan apa pun juga. Ia dalam keadaan tenang, walaupun di tengah keramaian dunia. Dalam keadaan kritis, tetapi masih bisa mempertahankan ketenangan diri, seseorang baru bisa disebut seorang satria. Ciri kedua yang tidak kalah penting adalah bahwa ia selalu berupaya mempertahankan kesadarannya. Memang sulit sekali dalam kenyataanya. Begitu diberi wewenang dan kekuasaan, langsung lupa daratan. Ciri ketiga, perilaku dia berlandaskan susila dan anoraga. Susila bisa diartikan sebagai “tindakan yang bijak”. Dan anoraga berarti “kasih”. Sri Mangku Negara IV menekankan lagi, bahwa sebenarnya, orang seperti itulah yang pantas disebut orang yang beragama.

Sang Istri: Belajar dari sebuah sungai, maka mata air yang jernih di hulu akan membuat bagian hilir masih jernih pula. Pucuk pimpinan yang keruh akan membuat masyarakat yang berada di hilir menjadi semakin keruh juga. Dalam pribadi manusia, mata air sumber ucapan dan perbuatan adalah pikirannya. Dengan mengendalikan pikiran sehingga menjadi jernih maka ucapan dan perbuatan menjadi jernih pula………. Dan yang penting orang yang tepo sliro adalah orang yang sadar bukan lemah. Bila keluarga atau negara diganggu, dia pun ber-tepo seliro kepada anggota keluarganya. Dia akan membela dengan sekuat tenaga.

Sang Suami: Kita perlu merenung, kita memang hanya salah satu dari 6 milyar manusia. Bahkan bumi pun hanya setitik debu di alam semesta yang mempunyai jutaan matahari di dalamnya. Akan tetapi kita juga perlu sadar bahwa bumi adalah tempat hidup kita. Kita tidak hidup di planet lainnya. Walaupun ada 6 milyar manusia, diri kita pun adalah pusat dari kehidupan kita. Kita harus berupaya agar setiap orang yang bertemu dengan kita harus bisa merasakan kedamaian dan ketenangan. Di mulai dari keluarga, lingkungan, kota, negeri dan dunia. Bukan mengubah dunia ini, tetapi mengubah dunia kita……. Semoga!

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Renungan Tentang Ngelmu, Knowingness, Gyana dan Kesadaran Berbangsa

Renungan Tentang Tepo Sliro, Empathy dan Kepedulian Sosial Anak Bangsa

  1. Dalam tata pergaulan sekarang memang agak susah mendapati pengajaran tepo sliro,….yang ada adalah kompetisi sampai mati,…tapi sebagai orang yang sadar diri kita harus selalu ngrumangsani..
  2. Sejak kecil kita diajari berlomba sampai nyawa meninggalkan kita. Padahal kita semua unik tidak ada yang sama, untuk apa berlomba? Yang penting kita berbahagia.
  3. Inilah kurangnya pendidikan/pengajaran kesadaran tentang tepo seliro terhadap diri sendiri,orang lain dan makhluk lain, seharusnya sebelum mengajarkan/menerima “ilmu” apapun itu harus didahului dengan kesadaran tepo seliro dulu agar kita bisa melihat orang lain seperti melihat kita sendiri…..orang-orang yang tidak tahu bukan berarti mereka bodoh tapi karena mereka belum paham dengan apa yang disampaikan/diterima kepada mereka.
  4. Para leluhur mementingkan pendidikan rasa lebih dahulu, bukan kecerdasan dahulu. Rasa berada di hati, bukan di kepala. Sehingga para siswa bisa menghormati orang tua, dan teman-teman lainnya. Memahami tepo sliro.
  5. Perlakukan orang lain dengan baik..tanpa perlu mengharapkan timbal-balik.. Sejak kecil sudah diajari tentang kasih, berbuat baik dengan orang lain tanpa meminta imbalan yang sama.
  6. Semoga banyak orang yang tersentuh dengan renungan ini… dan kembali ke akar dan keutamaan hidup.
  7. Rupanya banyak orang memilih kepala daripada hati. Mungkin akan mendapat banyak kenyamanan tetapi bukan kebahagiaan.
  8. Kepedulian terhadap lingkungan harus dibina sejak kecil.
  9. Tatwamasi mengajarkan kita berempati…. tapi kenapa sekarang sifat egoisme yang sering muncul… sedikit-sedikit rusuh….. teruslah saling mengingatkan agar rasa tepo saliro antar anak bangsa semakin tinggi……
  10. Semakin halus atau semakin tinggi kesadaran kita semakin merasa sama sehingga bisa berempati. Seperti batas pagar di bawah semakin ke atas semakin tidak nampak batasnya seperti dilihat dari pesawat. Di fisik berbeda, di pikiran berbeda, di rasa merasa ada kesamaan, di tingkat intelegensia merasa satu, apalagi di tingkat Kesadaran Murni, yang ada cuma Dia, kita hanya proyeksi-Nya.
  11. “Ora ono penak sakliyane ngepenakake liyan.Gawe larane liyan podo karo njiret gulune dewe.” Renungan untuk bagaimana kita bisa “ngrasakne rasane liyan”.
  12. Para leluhur sebenarnya sangat paham hukum menabur benih dan menuai, hukum sebab-akibat, hukum karma. Berbuat baik pada orang lain, akan datang kebaikan pada kita dan berrbuat ketidakbaikan pada orang lain akan datang ketidakbaikan pada kita. Menanam padi menunggu empat bulan, menanam mangga menunggu enam tahun, menanam tindakan tidak ada yang tahu kapan panennya. Walaupun berbuat baik tanpa pamrih, alam tetap akan membalasnya.
  13. Agama tanpa pengorbanan apakah artinya, mungkin itu salah satu makna dari empati. Mungkn ini adalah yang agak sulit dijalani.
  14. Seandainya menjalankan agama dengan “rasa” tentu berani melakukan pengorbanan. Akan tetapi bila menjalankan agama dengan “pikiran” atau bahkan dengan “keinginan mau menang sendiri”, maka akan terjadi kekacauan. Itulah sebabnya para leluhur mendahulukan pendidikan “rasa”. “Rasa” yang universal yang ada dalam setiap agama.
  15. Seseorang yang terbuka, reseptif seperti lembah yang menerima apa pun yang datang, baru diolah demi kebaikan diri. Seorang yang merasa tinggi, seperti bukit yang hanya menerima sedikit dan yang sedikit itu pun kemudian turun ke bawah.
  16. Tak perlu muluk-muluk ingin mengubah dunia, karena bila dunia kecil kita bisa berubah maka akan memancar pada dunia-dunia kecil lainya dan seterusnya.
  17. Tepo sliro, istilah yang sekarang nampaknya sudah jarang terdengar dipakai oleh khalayak umum. Kita, terutama generasi mudanya malahan lebih sering diajarkan teori-teori manajemen yang bersifat persaingan dan cenderung menggunggulkan diri.
  18. Pendidikan/pengajaran kesadaran tentang tepo sliro adalah kesadaran diri yang menyeluruh antara pikiran, perasaan dan jiwa. Belajar kesadaran diri dengan tanggap ing sasmita untuk mewujudkan memayu hayuning bawono dan juga belajar menyelaraskan antara bawono alit dan bawono ageng agar tercipta bawono langgeng.
  19. Lewat “rasa” inilah, seorang nabi memperoleh wahyu. Lewat rasa ini pula, Yang Maha Kuasa bisa membimbing manusia. Rasa mengembangkan nurani, mengembangkan intuisi dalam diri. Sehingga kita terbebaskan oleh naluri hewani.
  20. Ada tiga lapisan dalam diri kita: Pikiran, Rasa, dan Raga. Mesti ada sinergi antara ketiganya. Pikiran, perasaan, dan tindakan mesti sejalan. Bila tidak, hidup kita menjadi melenceng. Kita kehilangan arah. Walau memiliki uang banyak, tabungan banyak, kita tidak bahagia, tidak puas, dan tidak berhasil meraih keberhasilan sejati.
  21. Cinta adalah alam rasa. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu yang suka mengunggul-unggulkan diri. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki Kasih!
  22. Semua agama mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik dengan tetangga.
  23. Tepo seliro.. local wisdom yang dilupakan oleh masyarakat. terkikis oleh individualistis, materialistis, hedonistis. Tepo seliro hanya bisa dilakukan oleh orang yang tersadarkan.. sadar bahwa dia tidak hidup sendirian didunia ini..sadar untuk saling menghormati dan memahami. Orang seperti ini biasanya tidak peduli walaupun dia diperlakukan tidak “adil” karena dilandasi oleh “kasih” sehingga tidak merasa dirugikan. Tapi ada kalanya musti bertindak tegas..agar tepo seliro kita tidak disalahpahami dan dimanfaatkan…
  24. Pendidikan yang benar membimbing seseorang untuk mengenali dirinya sendiri, lingkungan di sekitarnya, bagaimana cara hidup yang benar sesuai dengan corak kepribadiannya sendiri. Hidup bersama itu kenyataan. Tetap memelihara kesadaran dan mengembangkan kasih di tengah macam-macam orang yang hiruk pikuk dengan segala kepentingannya adalah tantangan nyata bagi pencinta Dharma…. Dalam ajaran esoterik Tantra, praktisi yang benar wajib menceburkan dirinya dalam ‘lumpur’ samsara duniawi, berinteraksi dengan orang-orang yang tidak sejalan dengan hatinya, namun tak terpengaruh bahkan makin menyuburkan kasih sejati, bodhicitta yang nyata, peduli dengan penderitaan sesamanya, membawa getaran-getaran kasih dan kebijaksanaan yang mendamaikan semua makhluk di sekitarnya. Bahkan penderitaan bertubi-tubi datang menempa sang praktisi yang bergulat dengan kekotoran batinnya sendiri, justru malah membentuk kualitas batin yang nyata, di tengah pergulatan itu, dia mampu meningkatkan kesadarannya dengan cepat, dan makin dekatnya dia dengan Pencerahan.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: