Renungan Tentang Dongeng Peningkat Kesadaran, Kebijakan Lama Yang Mulai Terabaikan


Sepasang suami istri setengah baya sedang memperbincangkan masa kecil mereka. Sang suami bercerita bahwa kakeknya suka bercerita tentang kisah Bagus Burham yang setelah besar menjadi Ranggawarsita, Sang Pujangga dari Surakarta. Sedangkan sang istri bercerita bahwa ibunya suka mengumpulkan anak-anak kecil dan mendongeng kepada mereka. Semua anak kecil menyimak dan minta lagi didongengkan keesokan harinya.

Sang Istri: Dongeng bukan hanya sebagai alat pendekatan kepada anak, pengantar tidur maupun pemicu gemar membaca. Terbukti ampuh digunakan sebagai pengisi waktu berharga sebelum seseorang meninggal dunia……….. Seandainya manusia tahu satu minggu lagi tahu dia akan meninggal dunia, dan dia boleh bertindak apa saja, maka dia akan melakukan tindakan apa? Kita semua sebagai manusia bila menghadapi hal yang demikian akan bingung dibuatnya. Sebuah pertanyaan yang memeras otak manusia. Tetapi otak tetap tak dapat memutuskan yang terbaik, karena otak selalu diliputi keraguan, tidak pernah mantap keputusannya. Sebuah jawaban akan disangkal oleh jawaban lainnya. Dalam hal demikian, manusia baru sadar bahwa logika, pikiran dan pengetahuan bukanlah segalanya. Manusia perlu belajar bagaimana Raja Parikesit mengisi waktunya, tujuh hari sebelum datang kematiannya………..

Sang Suami: Benar Isteriku, Raja Parikesit adalah Raja Hastina pengganti Yudistira. Dia adalah putra Abimanyu dan merupakan cucu dari Arjuna. Sang Raja juga merupakan cucu luar dari Sri Krishna, karena Abimanyu mempunyai ibu bernama Subadra adik kandung Sri Krishna. Konon setelah lama memerintah kerajaannya dengan bijaksana, Raja Parikesit diberitahu bahwa satu minggu lagi dia akan meninggal dunia. Raja Parikesit segera menyerahkan tampuk pimpinan kerajaan kepada putranya. Dia pergi ke tepi Sungai Gangga menemui Resi Shuka putra dari Baghawan Abiyasa. Pilihan Sang Raja adalah menghabiskan tujuh hari tersisa untuk mendengarkan cerita Resi Shuka.

Sang Istri: Resi Shuka berkata bahwa tujuh hari sudah cukup untuk membebaskan diri dari “samsara”. Dari lingkaran kelahiran dan kematian tidak berkesudahan, yang tak ada akhirnya. Jangankan tujuh hari, sekejap pun cukup untuk membebaskan dari “samsara”. Bersoraklah dengan gembira, sebut nama “Govinda”, dan saat itu pula kau terbebaskan dari samsara. Yang dimaksud Resi Shuka bukanlah seperti burung beo yang sekadar mengucapkan ulangan kata. Bersorak dengan gembira  dan menyebut nama “Govinda” berarti menumbuh-kembangkan rasa cinta terhadap Ia Yang Maha Kuasa. Tidak takut, tidak pula menyembah-nyembah seperti budak tetapi mencintai-Nya. Resi Shuka melanjutkan……. Aku datang menemui raja untuk menceritakan tentang kemuliaan Tuhan. Ini adalah satu-satunya cerita berharga untuk didengarkan. Kisah suci ini disampaikan oleh Ayahku Bhagawan Abhiyasa dan kepadamu kisah tersebut akan kuceritakan. Aku akan menceritakan cerita Ilahi dan membuat tujuh hari sebagai hari paling agung dalam kehidupan. Cerita ini tidak hanya membantumu, tetapi membantu seluruh umat manusia untuk merasakan kemuliaan Tuhan…….. Dan, akhirnya kisah ini dijadikan buku tebal Kitab Srimad Bhagavatam, Kitab tentang Kemuliaan Tuhan.

Sang Suami: Setelah jiwa Sang Raja bertemu dengan jiwa Sang Resi. Setelah gelombang pikiran Sang Raja menyatu dengan gelombang pikiran Sang Resi dalam tujuh hari. Lompatan kuantum bagi kesadaran Sang Raja terjadi. Sang Raja sudah menjadi Pencinta Ilahi. Cinta tanpa syarat, tak terbatas, menjadi seorang pengasih, kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat diri. Tidak mencintai karena ingin masuk surga atau karena ingin jiwanya diselamatkan,  Sang Raja mencintai karena cinta itu sendiri……. 

Sang Istri: Selama ini seakan-akan dongeng hanya bermafaat bagi seorang anak Balita. Terjalinnya interaksi komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anaknya. Menciptakan hubungan yang akrab, tanpa sekat dan terbuka. Hubungan tersebut akan terbawa sampai Sang Balita menjadi remaja. Perkembangan otak di masa Balita adalah paling besar, usia balita adalah usia paling reseptif, sesuatu yang diajarkan pada masa itu akan mempengaruhi kehidupannya sampai dewasa. Kita melupakan bahwa dalam setiap ajaran spiritual selalu saja diselipi cerita untuk meningkatkan kesadaran para pendengarnya. Mendengarkan cerita tentulah mengasyikkan dan dapat menghilangkan rasa jenuh para pendengarnya.

Sang Suami: Benar istriku, sebuah cerita membuat pendengarnya santai dan pikirannya tidak melakukan penolakan. Lain dengan sewaktu seseorang diberikan definisi atau batasan-batasan. Pikirannya bisa langsung menolak karena apa yang disampaikan berbeda dengan apa yang telah ada dalam pikiran. Karena tak ada benteng penahan, cerita tersebut dapat merasuk ke relung-relung pikiran. Pikiran bawah sadar pun dapat dimasuki secara pelahan. Sebuah cerita memang memakai rasa yang melampaui pikiran.

Sang Istri:  Terima kasih suamiku, sebuah cerita memang tidak logis, melampaui logika. Sebuah cerita menggunakan dan melatih penggunaan rasa. Yang dilatih bukan kepala akan tetapi hati manusia. Dan hati atau rasa bersifat universal, dapat dipahami oleh berbagai penganut keyakinan atau berbagai agama. Konon untuk menjelaskan bahwa logika bukan segalanya tersebutlah cerita tentang Nabi Khidir yang berjalan bersama Nabi Musa. Tindakan Nabi Khidir melobangi perahu nelayan, membunuh anak muda dan memperbaiki rumah yatim piatu tanpa menuntut biaya tidak bisa diterima logika Nabi Musa. Sesaat kemudian, Nabi Khidir menjelaskannya. Sebentar lagi pasukan raja mengambil perahu siapa saja, perahu dilobangi agar tidak dirampas dengan paksa. Sang anak muda tersebut adalah anak durhaka, bila hidup lama dia akan membunuh orang tua dan mengganggu desa. Selanjutnya di dalam rumah anak yatim tersebut tersimpan harta, rumah diperbaiki agar harta terjaga dan dapat diambil sang anak setelah dewasa. Nabi Musa menyadari keterbatasan logikanya dan mulai berusaha meningkatkan kesadaran untuk melampaui pikirannya.

Sang Suami: Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas, seperti itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran kita, pekarangan rumah adalah alam rasa. Dan, Alam Kesadaran Murni adalah alam bebasnya. Antara “pikiran” dan “kesadaran” ada alam rasa…….. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah yang masih berbatas…….. Cinta adalah Alam Rasa. Cinta berada antara “pikiran yang membelenggu” dan “kesadaran yang membebaskannya”. Satu tangga di bawah cinta kita terbelenggu, kita jatuh kepada nafsu. Satu tangga di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu, kita memasuki Kasih.

Sang Istri: Mendengarkan sebuah dongeng adalah latihan membuka diri. Prinsip yang sama ini digunakan oleh para praktisi Zen, para praktisi Tao dan para Sufi. Mereka tidak menggunakan mind, tidak menggunakan konsentrasi. Mereka hanya membuka diri, sehingga menjadi reseptif terhadap Energi Ilahi…….. Bagaikan angin yang dapat menerobos apa saja, dapat menyusup ke mana saja, orang bijak dapat menembus hati siapa saja. Mengatasi kesulitan apa saja, dengan kelembutan jiwanya, sehingga tidak terasa memaksa. Kelembutan adalah kekuatan yang nyata. Cerita sangat lembut dapat menembus hati siapa saja.

Sang Suami: Benar istriku, dengan kekerasan, seseorang dapat ditaklukkan. Tetapi hatinya tetap tak dapat tertembuskan. Untuk itu, dibutuhkan kelembutan. Angin begitu lembut, sehingga tidak dapat dilihat, dan hanya dapat dirasakan. Dan, kelembutannya itu justru menjadi kekuatan……. Angin bisa menembus apa saja, menerobos apa saja. Demikian juga sebuah cerita begitu lembut dan tanpa terasa, hal yang di luar logika pun dapat diterima. Dongeng bisa memperlembut hati manusia.

Sang Istri: Seorang pastor, seorang dai, seorang rabbi memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah reseptivitas para pendengarnya. Daya tanggap dan keterbukaan untuk menerimanya. Para pendengar cerita berlatih menjadi reseptif dan terbuka. Dalam Tao Teh Ching disebutkan bahwa setiap bukit dan ada lembahnya. Bukit nampaknya begitu dekat dengan langit dan lembah nampaknya begitu jauh di bawahnya. Namun, semakin tingginya bukit, semakin gundul nampaknya. Sedangkan lembah-lembah selalu subur pada kenyataannya.

Sang Suami: Bukit adalah contoh makhluk yang arogan. la berdiri tegak dan angkuh merasa lebih awal menerima air hujan……. la memang lebih banyak menerima air dari angkasa. Namun karena arogansinya, air hanya melewatinya. Bukit tetap gundul juga. Sedangkan lembah di bawahnya semakin subur saja. Bukalah diri dan menjadi reseptif seperti seorang wanita. Menerimalah alam ini dan mensyukuri segala pemberian-Nya. Wanita yang membuka diri demikian, kelak akan mengandung dan akan menghasilkan keturunan. Semoga cerita ini membuat kita membuka diri terhadap pemberian Tuhan……

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva……

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Dongeng Peningkat Kesadaran, Kebijakan Lama Yang Mulai Terabaikan

  1. Kesadaran yang diawali oleh penerimaan terhadap jalannya takdir dan kearah mana tujuan hidup itu yang lebih penting. Tetapi sebelum sampai ke sana setiap pribadi akan dimatangkan oleh keseluruhan prosses yang telah dilewatinya,.. dimana kesuluhan proses tersebut adalah kumpulan titik yang akan membentuk garis yang muaranya akan melukis lingkaran secara penuh,…yang sambung menyambung menguatkan meskipun arahnya berlainan.
  2. Semoga hati kita semakin terbuka akan cinta kasih Tuhan yang besar dan tidak mendasarkan pada logika manusia saja.
  3. Semuanya diawali dengan reseptif, menerima dengan terbuka apa pun yang disampaikan kepada kita.
  4. Selama ini kita berada dalam sangkar pikiran yang membatasi diri. Dengan pergi ke pekarangan kita masuk alam rasa yang sudah merupakan bagian dari alam kebebasan.
  5. Membaca cerita-cerita dalam Purana,Ramayana maupun Mahabharata memang sangat mengasyikkan.
  6. Lewat rasa, Yang Maha Kuasa bisa membimbing manusia. Rasa mengembangkan nurani, mengembangkan intuisi dalam diri manusia. Demikian manusia terbebaskan oleh naluri hewani.
  7. Pentingnya daya tanggap dan keterbukaan untuk menerimanya. Para pendengar cerita berlatih menjadi reseptif dan terbuka. Hal yang harus dilatih dan dibiasakan terus menerus.
  8. Dalam diri manusia diperlukan persatuan antara pikiran, ucapan dan tindakan. Dan, untuk mempersatukan ketiga-tiga unsur tersebut dibutuhkan bantuan dari “lembaga”, dari “institusi” yang berada di atas mereka. Yaitu, institusi “kesadaran”, lembaga “rasa”. Selama ucapan dan tindakan masih dikendalikan oleh “pikiran”, jiwa tidak akan pernah utuh. Sering kali tindakan tidak akan “klop” dengan ucapan.
  9. Yang perlu dilakukan hanyalah pasrah…membuka diri.. agar cahaya Ilahi dapat menembus kedalam relung hati.
  10. Semoga generasi mendatang tidak kekurangan dongeng yang menggugah kesadaran dan semoga para orang tua makin kreatif.
  11. Dongeng lama pun dapat disuguhkan dengan selera kemasan baru.
  12. Mendengarkan sebuah cerita yang bermakna pencerahan lebih menarik daripada mendengarkan teori tentangnya. Cerita membawa daya cipta, rasa, dan karsa kita menuju ke awal pemahaman realitas kehidupan. …
  13. Cerita unik mampu menembus ketertutupan kita yang selama ini dididik untuk berpikir dalam kotak, padahal hidup itu sejatinya ada sebelum kotak itu diciptakan dan dijejalkan dalam diri kita oleh praktisi sistem pendidikan nasional yang makin hari makin memperbodoh bangsa kita sendiri. Sungguh sulit bagi orang-orang yang secara resmi telah menjalani pendidikan formal untuk menerima realitas yang selalu berubah-ubah yang ternyata tidak diajarkan dalam sekolahnya. Pikiran mereka bagaikan cangkir teh yang sangat penuh, satu hal yang bisa dilakukan: Hancurkan cangkirnya hingga berkeping-keping! Untuk menyelami Dharma hingga bisa menyatu dengan Alam Semesta, pribadi-pribadi yang egois, egosentrik, dan keras wajib ‘hancur’ dulu. Sifat Alam Semesta tidaklah keras seperti batu karang, walaupun batu karang itu adalah bagian darinya.
  14. Keterbukaan hati bisa dimulai dengan perenungan yang sederhana dan nyata, cerita-cerita yang menarik tanpa rekayasa, dan kasih sejati dari para guru, baik guru-guru yang mengajar kita, dan juga guru yang telah bersemayam di hati kita sendiri.
  15. Dongeng pada saat ini banyak yang menilai sebagai bualan (karangan) saja, melihat bentuk daripada isi….tapi bila kita mampu mencermati apa makna ( hikmah ) yang terkandung di dalam dongeng /kejadian apapun itu sendiri, kita bisa menciptakan olah ” rasa ” yang pastinya baik utk rohani kita…..dulu ketika saya melihat Little Krishna Movie (meski saya berbeda keyakinan dan saya kurang tau apakah ini dongeng, cerita fiksi atau cerita dari Kitab Suci ) di televisi banyak teman-teman sebaya saya mencibir : film anak kecil kok kamu tonton membuang waktu saja – lalu saya berbicara ke dia : apapun di sekitar kamu jika kau memandang dgn pemikiran seperti ” anak kecil ” yang memandang pun juga tak jauh seperti ” anak kecil ” ….memandanglah seperti pandangan orang ” dewasa “.
  16. Dengan demikian para leluhur Nusantara ini begitu luhurnya. Mereka menciptakan karya dalam bentuk dongeng-dongeng dan dunia pakeliran adalah salah satu wujud dari karya luhur para leluhur.
  17. Dongeng,…riwayatmu kini. Semoga masih menjadi salah satu metode pencerahan diri.
  18. Kita perlu bersyukur atas Rahmad / Anugerah Gusti sehingga bisa memahami sesuatu yang berharga, yang tidak dipandang mata oleh dunia.
  19. Saat kematian tiba, kemana pikiran terpusat, ke sanalah kita berjalan. Yang penting di saat kematian, pikiran terakhirlah yang membawa mind kita menuju persinggahan seblm hrs hadir kembali ke bumi ato ke tempat selain bumi.. Dan mulailah perjalanan baru….
  20. Pengalaman akhir” setiap nabi, setiap mesias, setiap buddha dan setiap avatar, adalah apa yang terjadi pada saat kematian mereka. Peradaban yang masih sibuk dengan urusan perut dan politik tidak pernah memperhatikan “pengalaman akhir”. Mereka masih sibuk mempelajari “pengalaman perjalanan” para nabi mereka, para… Lihat Selengkapnya mesias mereka, para avatar mereka, para buddha mereka. Mereka yang sudah selesai dengan urusan perut, yang sudah muak dengan dunia politik, mulai mendalami hal-hal yang lebih penting, lebih essential. The Tibetan Book of the Dead membuktikan hal itu. Dilahirkan oleh masyarakat yang tidak pernah agresif, tidak pernah melakukan invasi, buku ini sungguh indah. (*Kematian halaman 94, AK).
  21. Kita prihatin dengan anak-anak kecil yang sudah diajari bahwa keyakinan yang tidak sama dengan mereka adalah sesat, yang akan terbawa sampai dewasa dan membingungkan batinnya.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: