Renungan Tentang Kisah Bathari Durga, Konflik Pikiran Dan Kembalinya Kesadaran


Sepasang suami istri setengah baya baru saja mengenang perjalanan dengan Guru dan sahabat-sahabatnya ke Candi Sukuh beberapa tahun yang lalu. Candi Sukuh terletak pada  ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut di Lereng Gunung lawu. Candi tersebut terletak di desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah kurang lebih 34 kilometer dari kota Surakarta. Sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang penuh dengan makna.

Sang Istri: Di salah satu relief dinding batu Candi Sukuh digambarkan adanya sebuah kisah. Dewi Uma sedang bingung karena suaminya Bathara Guru, mengalami sakit parah. Dewi Uma diberitahu bahwa hanya air susu lembu hitam yang bisa mengobati penyakit suaminya. Karena cintanya terhadap sang suami, Dewi Uma berupaya mencari dimana-mana, tetapi air susu lembu hitam itu belum ketemu juga. Dalam keputusasaannya Dewi Uma akhirnya bertemu dengan lembu hitam yang dijaga seorang penggembala. Dengan mengemis-ngemis, Dewi Uma mohon sang penggembala untuk memberikan air susu lembu hitam tersebut sebagai obat suaminya. Tetapi sang penggembala ngotot tidak akan mau menyerahkan air susu lembu hitamnya, kecuali Sang Dewi menyerahkan tubuhnya. Dewi Uma berada dalam dilema, tidak mau melayani, sang suami tercinta akan meninggal dunia. Tetapi bila ingin sang suami hidup, dirinya akan ternoda. Perang pikiran yang terjadi dalam batinnya demikian hebatnya. Kegelisahan yang mencekam mencengkeram dirinya. Dia tak dapat berpikir jernih lagi dan akhirnya dengan pengorbanan diri, air susu lembu hitam dapat diperolehnya. Denganair susu lembu hitam, Bathara Guru sembuh dari penyakitnya. Setelah sembuh, Bathara Guru menyampaikan bahwa yang membuat sakit adalah Bathara Guru pribadi. Yang menjadi penggembala pun Bathara Guru sendiri. Dikisahkan bahwa Dewi Uma yang telah memutuskan terjadinya perselingkuhan perlu melakukan introspeksi. Dia menjadi penunggu Hutan Krendhawahana bernama Bathari Durga. Wujudnya menjadi raksasa tinggi besar dan sangat menyeramkan bagi manusia. Bhatari Durga boleh memangsa manusia yang tersesat masuk ke dalam wilayah hutannya. Setelah dua belas tahun Bathari Durga hidup di rimba belantara, dia diruwat oleh Raden Sadewa, saudara bungsu dari Pandawa. Raden Sadewa diajari Bathara Guru bagaimana cara meruwat Bathari Durga. Akhirnya Dewi Uma wajahnya kembali menjadi cantik seperti sedia kala. Raden Sadewa diberi gelar Ki Sudamala, “Penyembuh Luka”. Kisahnya pun disebut Ruwatan Sudamala.

Sang Suami: Sebuah dongeng lembut yang bercerita tentang ketidakmampuan pikiran mengambil keputusan. Setiap pikiran akan mengambil suatu keputusan, dia selalu direcoki oleh adanya alternatif pikiran yang berlawanan. Akhirnya, pikiran selalu berada dalam keraguan. Pikiran menjadi cemas, gelisah dan penuh ketakutan. Pertama-tama mari kita perhatikan tentang “kegelisahan”…… Gelisah itu sangat manusiawi, Arjuna menghadapi hal serupa di tengah pasukan yang akan berlaga dalam perang bharatayudha. Dalam Bhagavad Gita Sri Krishnalah pembimbing Arjuna. Bukan hanya Arjuna, kita semua pernah mengalaminya. Semuanya mempunyai pengalaman tersendiri dengan solusi unik yang dianggap paling bijaksana….. Para leluhur selalu membayangkan perang bharatayudha terjadi di dalam diri. Arjuna dan Sri Krishna pun berada dalam diri. Menghadapi masalah yang sulit dipecahkan pikiran, maka Sang Arjuna bertanya kepada Sri Krishna, pikiran jernih atau kesadaran atau Gusti atau apa pun istilahnya, yang bersemayam di dalam diri. Bila ragu, bila bimbang, bila gelisah tanyalah kepada Sri Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati. Setelah berpikir dengan jernih mencari solusi, serahkan semuanya kepada Gusti. Apa pun yang akan terjadi, semuanya pasti demi kebaikan diri. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan tak ada kebimbangan lagi.

Sang Istri: Dalam keadaan bergejolak akibat konflik dari pikiran, Dewi Uma kehilangan pandangan jernihnya. Dia kemudian bertindak menuruti salah satu pikirannya, lalu dia membenarkan semua tindakannya dan mempersiapkan berbagai alasan yang masuk logika.

Sang Suami: Pikiran mempunyai arsip ingatan yang sangat kaya. Sebelum bertindak, pikiran senantiasa lebih dulu memeriksa arsipnya. Pikiran selalu membanding-bandingkan antara keputusan yang satu dengan lainnya. Pikiran selalu membingungkan dan menciptakan keraguan dalam diri manusia…….. Pikiran bersifat pemilih, ingin mengulangi yang disukai, menghindari yang tidak disukai dan cuek terhadap sesuatu yang tidak ada kaitan dengan dirinya. Pikiran tidak netral dalam menghadapi suka dan duka. Dibawah kendali pikiran, seseorang seseorang hanya memilih yang disukainya. Padahal yang disukainya tidak abadi adanya. Dia akan mengalami suka duka sepanjang masa…….. Pikiran selalu siaga dengan adanya penolakan. Bertahun-tahun akal pikiran menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Mungkin dia berhasil membuat seseorang cerdas tetapi tidak berhasil untuk membuat tentram damai dan penuh kebahagiaan.

Sang Istri: Dewi Uma diminta hidup di Hutan Krendawahana, dia diminta menjalani hidup di dunia yang berlaku hukum rimba. Di dalam rimba tersebut, siapa yang kuat akan menang dan menjadi penguasa. Dia beralih wujud menjadi Batahari Durga yang boleh makan  manusia yang tersesat masuk rimba. Manusia yang tersesat dalam rimba, adalah manusia yang menjadikan pikirannya sebagai penguasa dirinya. Saat seseorang dapat mengendalikan pikirannya dan menaikkan kesadaran sebagai penguasa dirinya, maka dia telah melepaskan diri dari jerat Hutan Pikiran Krendhawahana. Pikirannya digunakan sebagai alat kesadaran untuk berkarya dengan kasih terhadap sesama.

Sang Suami: Sadewa me-“ruwat” artinya mengembalikan diri seseorang menjadi bersih seperti semula. Sadewa dipandu Bathara Guru, Sang Guru yang bersemayam dalam hati manusia. Sadewa setiap saat hanya melakukan persembahan kepada Yang Maha Kuasa. Dikisahkan dia pun rela mempersembahkan nyawanya. Agar Bathari Durga kembali menjadi Dewi Uma dan bersatu dengan Bathara Guru, suaminya. Persembahan adalah salah satu cara, cara pertama melampaui pikiran menuju penyatuan yang dikenal sebagai Bhakti Yoga. Tubuh boleh tua dan akhirnya mati sesuai kodratnya, tetapi pikiran, ucapan dan tindakan penuh kasih dapat dilakukan setiap saat sepanjang masa. Semboyan yang hampir sama, adalah bahwa hidup adalah ibadah sepanjang masa. Dalam fungsi melampaui pikiran, menuju penyatuan maka dikenal beberapa cara. Cara kedua adalah bekerja terus tanpa pamrih apa pun juga, yang dikenal sebagai Karma Yoga. Terus berkarya demi sesama dan demi alam semesta tanpa mengharapkan imbalan apa pun juga. Cara ketiga melalui permenungan yang dalam, yang akhirnya paham pikiran itu bukan jatidirinya. Pikiran sesaat datang sesaat pergi, sedangkan jatidiri selalu ada, caranya disebut Jnana Yoga. Cara keempat dikenal sebagai Raja Yoga. Pikiran selalu berpikir tentang sesuatu di luar dirinya. Meniti ke dalam diri membingungkannya. Kemudian pada saat tidur pulas atau “deep sleep”, segalanya kosong tak ada apa-apa. Pada saat itu pikiran terlampauilah pikirannya. Begitu bangun tidur pikiran datang lagi dan diri menjadi ada. Dengan mengatur napas, pikiran menjadi tenang dan bisa dikendalikannya. Konon para yogi dapat begitu tenangnya, sehingga mereka mengalami “deep sleep” dalam keadaan terjaga.

Sang Istri: Semuanya diawali dengan pikiran. Pikiran itulah yang menimbulkan Keinginan. Kemudian, Keinginan mendorong adanya Perbuatan atau Tindakan. Dan, Perbuatan atau Tindakan itulah yang mementukan Pengalaman. Kumpulan dari pengalaman adalah Kehidupan.

Sang Suami: Pikiran tidak perlu diupayakan. Kita lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payah di masa lalu kita. Yang membentuk lapisan-lapisan alam pikiran bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upaya kita. Pikiran telah membentuk kita. Kesadaran dapat mengubahnya. Pikiran adalah program yang sudah ter-“install” dalam diri kita. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, dan ada impian pula. Program ini sudah baku, sehingga seluas-luasnya program kita tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kita dari segala macam program. Pikiran memperbudak diri kita. Kesadaran membebaskannya.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Dewa!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Kisah Bathari Durga, Konflik Pikiran Dan Kembalinya Kesadaran

  1. Semoga Kesadaran selalu membimbing kita,menerangi dan menjernihkan pikiran kita, sahingga tidak salah langkah dan jatuh bangun selamanya.
  2. Semoga kesadaran membimbing, menerangi dan menjernihkan pikiran.
  3. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran, sehingga tidak salah jalan setiap mengambil keputusan.
  4. Memang pikiran selalu terbatas, dia hanya bisa berpikir sesuai apa yang telah diketahuinya, sementara itu utk memahami semuanya ini, diperlukan kesadaran diri, yang benar-benar bisa melampaui pikiran, sekaligus melepaskan diri dari dualitas.
  5. Semuanya diawali dengan pikiran. Agar pikiran jernih, dia harus dibawah kendali kesadaran.
  6. Pikiran tak pernah reseptif, dia selalu memilih yang mendatangkan rasa suka. Sehingga pikiran kurang kreatif dan selalu masuk ke dalam dualitas. Kesadaran bersifat reseptif, terbuka.
  7. Cerita tentang Dewi Uma menjadi Dewi Durga menjadi salah satu contoh bahwa manusia selalu bimbang dengan segala keputusan yang akan diambil, bimbang menghasilkan kecemasan, sedangkan cemas akan membuat hidup tidak nyaman, tidak bahagia, tidak seimbang.
  8. “Pengetahuan yang diperoleh dari Guru pun menghasilkan ampas pikiran dan perasaan lama yang harus dibuang jauh-jauh. Pikiran dan perasaan itu adalah bagian dari masa lalu yang harus keluar dari sistem kita. Satu virus yang bersarang di dalam komputer kita merusak seluruh data yang ada di dalamnya. Satu pikiran lama cukup untuk merusak seluruh program baru yang diterima dari guru.” (life workbook).
  9. Setiap proses selalu ada “by product”-nya, seperti proses pencernaan kita. Katarsis, pembersihan harus dilakukan setiap saat.
  10. Dampak pikiran memang luar biasa. Kadang berbuah manis, kdang pula berbuah pahit, dan ada pula yang tidak berbuah apa-apa. Hasil pikiran memang tak bisa menjadi patokan utama.
  11. Harus terus belajar untuk menunggangi pikiran dengan kesadaran……menjadi kusir (kesadaran) dengan keadaan yang selalu “terjaga” agar bisa mengendalikan kuda (pikiran) biar tidak terlalu liar…hehehe…..belajar untuk selalu sadar dan terjaga.
  12. Bagaimana cara melepaskan diri dari kekotoran batin dengan menyadari bahwa kita sedang berkutat dalam lumpur kekotoran batin itu, atau seperti Bathari Durga dalam hutan itu. Namun bukan berarti kita menunggu Sang Guru atau para master lainnya datang menyucikan kita, melainkan kita sendiri yang juga jadi Guru atau Lama diri sendiri, setelah menerima bimbingan dari Guru Akar, berusaha dengan gigih keluar dari kubangan lumpur itu, dan membersihkan diri dari sisa-sisa nodanya, dan kembali melanjutkan perjalanan kehidupan.
  13. Bagaimana apabila seseorang tidak bertemu dengen seorang Guru? Kebetulan Naropa mendapatkan master seperti Tilopa. Dia sangat beruntung. Ada hukum alam dan hukum alam ini bekerja rapi sekali. Tidak pernah salah. Tidak pernah gagal. Sesungguhnya, dunia ini penuh dengan para master.
  14. Hanya saja ada master yang berperan sebagai Vyaktinath – individual master. Mereka mengajar kepada individu-individu tertentu. Mereka tidak tidak menjadi populer. Mereka tidak dikenal oleh banyak orang. Kemudian, ada para master yang bisa disebut Lokanath – World Master. Atau lebih tepatnya Popular Master. Sesungguhnya Vyaktinath pun sama cerahnya seperti Lokanath. Hanya saja tugas mereka berbeda. Yang pertama mengajar individu, yang kedua mengajar dunia. Tilopa, misalnya, bukanlah seorang Lokanath. Dia seorang Vyaktinath. Jumlah muridnya terbatas. Hanya satu, yaitu Naropa yang menonjol. Kemudian, Naropa sendiri masih juga Vyaktinath, masih mengurusi beberapa individu saja. Murid dia, Marpa, bisa disebut Lokanath. Dan karena Marpa pula, Tilopa dan Naropa menjadi populer. Kita sungguh beruntung. Perkembangan teknologi informasi berhasil mendekatkan kita dengan para Tilopa dan Naropa. Kelemahan para Guru Lokanath hanya satu: Mereka bicara dengan segala lapisan masyarakat. Itu sebabnya bahasa mereka sangat umum. Mereka tidak bisa memasuki hal-hal yang bersifat teknis. *Tantra Yoga, AK.
  15. Ini adalah catatan pangruwating diyu. Pikiran adalah salah satu wujud diyu (butho). dari pikiran yang memperbudak dan langgeng–kemudian bagaimana pikiran dapat menjatuhkan kesadaran masusia, yang kemudian menjadi seorang sukerto–sampai dengan bagaimana Ki Sudamala meruwat pikiran-pikiran yang menjatuhkan kesadaran. Bethara Guru dan Bethari Durga adalah langgeng adanya.dan Ki Sudamala sebagai pelaku diwilayah kemanusiaan adalah sangat dibutuhkan keberadaannya.Ki Sudamala adalah para Nabi; para Avatar;dan para Guru.
  16. Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan apa saja. Sebaliknya, jika mengalir ke atas, energi itu akan membuat anda menjadi lebih kreatif dan konstruktif. Anda akan menjadi unik, orisinil dan karena itu anda akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar anda. *Medis dan Meditasi, AK
  17. Menurut filsafat Yoga, seperti yang dijabarkan oleh Patanjali dan lainnya, ada tujuh lapis kesadaran, digambarkan sebagai chakra atau roda. Tiga chakra pertama adalah kebutuhan dasar, makan/minum, seks, dan tidur. Ini adalah kebutuhan yang dilakukan oleh hewan juga. Cakra keempat adalah cinta yang membedakan kita dari dunia hewan. Tiga lapisan terakhir adalah lapisan pemurnian, perluasan pandangan, dan pencerahan. Lapisan-lapisan ini membawa kita menuju Yang Maha Kuasa, menuju Keilahian. Jadi, menurut yoga, kita semua menuju ke arah yang sama, Tuhan. *the Fool, AK……Perubahan dari sifat raksasa ke manusia adalah perpindahan dari kesadaran seks yang hanya ingin menerima menjadi kasih yang lebih banyak memberi dan melayani.

Terima Kasih

Salam __/\__

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: