Renungan Tentang Altar Kura-Kura di Candi Sukuh, Kisah Kurma Avatara Sang Penyeimbang Dunia


Sepasang suami istri sedang membicarakan  3 buah altar berbentuk kura-kura di Candi Sukuh yang mengungkapkan kisah fentang Kurma Avatara. Mereka menggunakan buku “The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO” dan “Wedhatama Bagi Orang Modern”, karya Bapak Anand Krishna sebagai referensi pembicaraan mereka.

Sang Suami: Dalam Adiparwa,  bagian pertama kisah Mahabharata, terdapat Kisah tentang Kurma Avatara. kitab Adiparwa ini semula dituliskan dalam bahasa Sansekerta. Pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa (991-1016) kitab ini telah disalin ke dalam Bahasa Jawa Kuna. Dikisahkan bahwa peperangan antara Dewa dan Asura, antara kebaikan dan kejahatan sudah terjadi sejak awal mula kehidupan. Tidak ada hal baru di alam ini, hampir semuanya merupakan pengulangan. Tentu saja berbeda setting dan berbeda kualitas pertarungan. Lebih sulit lagi kini, kebaikan dan kejahatan sudah bercampur dalam diri manusia. Yang bahkan tidak sadar telah diprogram oleh para sutradara. Walau berperang, kedua pihak merasa berada di jalan yang benar, tidak sadar bahwa mereka mengikuti dogma, yang telah terbentuk menjadi pikiran bawah sadarnya.

Sang Istri: Para Dewa mohon petunjuk Sri Wisnu yang berkuasa sebagai pemelihara alam semesta. Bagaimana caranya agar mereka dapat terus hidup dalam melawan ketidakbenaran yang tak ada habisnya. Sri Wisnu memberi petunjuk kepada para Dewa, agar mereka mengadakan  gencatan senjata dahulu dengan para Asura.  Mereka perlu mendapatkan obat yang melindungi diri dari kematian yang bernama Amerta. Untuk itu mereka harus mengaduk samudera. Gunung Mandalagiri dapat di jadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikatnya. Para Dewa harus bekerja sama dengan para Asura, tidak dapat hanya satu pihak saja.

Sang Suami: Para Asura setuju mengadakan gencatan senjata dan bekerjasama demi mendapatkan Amerta. Para Dewa ingin mendapatkan Amerta bagi keabadian dalam menegakkan dharma. Para Asura ingin mendapatkan keabadian dalam kenikmatan pikiran dan indera. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok, mereka telah menyiapkan berbagai “alternative plan” untuk merebut Amerta dari tangan saingannya. Para Asura minta mereka yang memegang kepala ular raksasa. Merasa rendah memegang ekornya. Para Dewa menuruti kemauan para Asura. Kendati demikian gunung tersebut tenggelam di samudera karena beratnya. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga dibawah gunungnya. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa, semuanya bekerjasama, bergotong-royong dan bersemangat sekali.

Sang Istri: Setelah beberapa lama, Ular Vasuki ngos-ngosan dan keluar asap dari mulutnya. Para Asura yang memegang kepala tidak kuat menahan asapnya. Sri Wisnu datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi dan membawa asap dengan segera. Semua makhluk merasa ditolong Tuhan. Memang demikian. Bukan hanya dia yang berbuat baik yang ditolong Tuhan. Dia tidak membeda-bedakan….. Samudera di aduk terus, bagai susu kental kelihatannya. Muncul racun Kalakuta dan semua Asura berlarian, para Dewa pun pada tidak tahan juga. Para Dewa mohon pertolongan Siwa, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka dengan kasihnya.  Menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

Sang Suami: Semuanya kembali mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhanu, Sapi Suci. Selanjutnya Ucchaisrawa, Kuda Sakti yang diminta Bali. Kemudian Gajah Airavata bagi Indra. Dan Sri Wisnu mendapat Permata Kastubha. Pohon Parijata dan para Apsara kembali diambil Indra. Setelah itu keluar Dewi Laksmi dan semua yang datang menginginkannya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri saja. Para Resi pun, belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk bila tak berkenan di hatinya. Guru Sukra bijak tapi ketidak-terikatan belum dipahaminya. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsunya. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginannya.  Hanya Sri Wisnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Dewi Laksmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Sri Wisnu saja.

Sang Istri: Pada akhirnya keluar Dhanvantari membawa mangkuk Amerta. Para Asura dengan cepat melemparkan Vasuki dan merenggut bejana berisi Amerta. Tiba-tiba terjadilah perebutan diantara para Asura, berebut siapa duluan mencicipinya. Berlomba dengan teman sendiri, berebut paling unggul di antara sahabat adalah sifat Asura…. Suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang sangat jelita.  Para Asura dan para Dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para Asura ternganga dan langsung menyerahkan bejana berisi Amerta. Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu saja……. Sang bidadari berjalan ditengan antara barisan Dewa dan Asura. Para Asura ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok Amerta untuk para dewa disisi lainnya. Lupa diri membuat raksasa lalai, alpa. Asura berpikir, para Dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang tak ada tandingannya. Hanya Asura Rahu yang waspada, paham keadaan dan segera menyamar sebagai Dewa dan duduk antara Surya dan Candra.  Rahu juga mendapatkan Amerta. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotongnya. Kejadian tersebut menyadarkan para Asura, dan Mohini, sang wanita jelita kembali mewujud sebagai Wisnu dan menghilang begitu saja. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar juga. Kala Surya, Candra dan Bumi berada pada satu garis terjadilah peristiwa gerhana. Sinar Surya atau Candra tertutup kegelapan, walau hanya memakan waktu sebentar saja.

Sang Suami: Bagi para Dewa, Amerta dapat mengakibatkan keabadian dari Kebenaran. Para Dewa takut bila Kebenaran dalam diri mereka bisa mengalami kematian. Sedangkan para Asura ingin keserakahannya bisa abadi. Beruntunglah para Asura tidak mendapatkan Amerta, sehingga rasa keserakahan dapat mati. Yaitu di kala kesadaran memenuhi diri……. Pada saat ini sifat Dewa dan sifat Asura berada dalam diri. Sang Avatara pun selalu bersemayam dalam hati nurani. Pertarungan antara Kebenaran dan Ketidakbenaran selalu terjadi di alam ini, dan juga selalu terjadi di dalam diri.

Sang Istri: Pertama, Sri Wisnu telah memberi pelajaran kepada para Dewa dan para Asura bahwa untuk mencapai tujuan mereka perlu bergotong-royong, bekerjasama. Pelajaran tersebut perlu dihayati oleh bangsa Indonesia. Walaupun para satria berupaya sekuat tenaga demi kemajuan bangsa. Para Asura berupaya sekuat tenaga demi kepentingan diri dan kelompoknya. Bahkan setelah mendapatkan barang berharga para Asura memperebutkannya di antara mereka. Tetap diperlukan satu kerjasama. Kedua, Sri Wisnu memberi pelajaran bahwa Yang Maha Kuasa tidak memberikan “buah matang instan” seperti yang didambakan makhluknya. Dia akan memberikan benih dan petunjuk-Nya. Makhluk harus berdaya-upaya untuk menumbuh-kembangkan biji anugerah-Nya menjadi buah matang yang diinginkannya. Kesadaran pun hanya diberikan benihnya, diri sendirilah yang harus berupaya, memupuk, memelihara dan mengembangkannya.

Sang Suami: Asura yang sering disebut Raksasa mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga. Dengan konsep dasar itu mereka menyusun Seni Perang, untuk memberi kemenangan pada dirinya. Bagi para Raksasa, bertindak dengan segala cara adalah sebuah tindakan wajar yang penuh perhitungan. Akan tetapi tidak demikian. Leluhur kita mempunyai istilah semua akan menuai hasil akibat dari benih tanaman tindakan. Semua proses tindakan pun merupakan benih-benih tanaman yang akan mendatangkan hasil kemudian. Proses yang penuh tipu muslihat mungkin dalam waktu singkat mendatangkan keberhasilan. Akan tetapi, tindakan penuh tipu muslihat akan mendatangkan akibat tidak baik di masa depan.

Sang Istri: Raksasa adalah metafora untuk “manusia yang masih berinsting hewan”, manusia yang sibuk mengurusi urusan perut dan kenyamanan. Manusia yang tidak memikirkan pengembangan diri karena sudah merasa puas ketika badannya mengalami kenikmatan. Dalam perbandingan yang lebih rumit, sifat Dewa adalah sifat yang menganggap hati nurani sebagai penguasa. Sedang sifat Raksasa adalah yang menjadikan pikiran sebagai pengendali kehidupannya. Para leluhur kita berpesan “hati-hati” dan bukan “pikir-pikir”, yang lebih memilih hati nurani daripada pikiran. Melihat kejahatan, para leluhur mengelus dada, sedangkan para Raksasa memikirkan nikmatnya hasil kejahatan. Pikiran selalu memilih yang menguntungkan. Sedangkan hati nurani lebih memilih kebenaran. Betapa sulitnya peperangan di dalam diri, hanya sang avatara dalam diri yang dapat memandu ke jalan kebenaran.

Sang Suami: Raksasa pikiran tersinggung memegang ekor ular raksasa, selalu menginginkan berada di daerah kepala. Para Raksasa pikiran berebut mendapatkan ranking pertama dalam mencicipi Amerta. Sampai berebut paksa dengan teman-teman seperjuangannya. Raksasa pikiran terlena pesona Mohini Bidadari Jelita, melepaskan Amerta yang sebetulnya sangat berharga melebihi kejelitaan wanita…… Para Dewa sadar akan keterbatasan kemampuan pikirannya, mencari perlindungan pada sang pemelihara alam bagaimana menghadapi ketidakbenaran yang tak pernah ada habisnya. Kemudian minta pertolongan sang Mahadewa kala Racun Dunia melanda Dewa dan Asura. Mencari perlindungan melenyapkan ego kita. Dan ego manusia, atau Raksasa pikiran tidak menyukainya.

Sang Istri: Asura berarti tidak “sura”, tidak harmoni dengan kehidupan, tidak sinkron dengan keberadaan alam semesta. Asura bukan hanya makhluk masa silam, dalam setiap zaman selalu ada kelompok Asura. Mereka yang tindakannya menakutkan, mengintimidasi masyarakat agar ketakutan, dan membiarkan tindakan kelompok mereka. Para ekstremis, radikal, dan teroris mempunyai kualitas para Asura. Mereka yang tidak selaras dengan masyarakat pada umumnya. Pada zaman awal manusia, mereka nampak jelas, seperti Hiranyaksa, Hiranyakasipu dan Rahwana. Semakin maju, bentuk Asura sudah tidak terlalu nampak jelas, misalnya para Korawa sudah berbaur dengan orang baik seperti Bhisma dan Widura. Kondisi saat ini, sudah lebih sulit lagi membedakan masyarakat awam dengan mereka.

Sang Suami: Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” ulasan Bapak Anand Krishna, disebutkan bahwa Raksasa adalah makhluk sejenis Manusia. Hanya belum berkembang rasa mereka. Mereka seperti  “bhuta”, seperti “makhluk yang tidak berbadan”. Seperti kayu gelondongan. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini belum menjalani proses “finishing” dan “polishing”, belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang sempurna. Suara nurani masih merupakan potensi yang terpendam yang perlu diungkapkan dan dikembangkan.

Terima Kasih Guru.

Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juni, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Patung Kura-Kura di Candi Sukuh, Kisah Kurma Avatara Sang Penyeimbang Dunia

  1. Dalam diri kita senantiasa berperang antara kebaikan dan kejahatan. Semoga kita semakin menyadari kelemahan diri dan memohon belaskasih pada-Nya lah untuk dapat menjadi manusia berjiwa ksatria. Semoga kita semakin dekat dengan kebenaran.
  2. Mudah-mudahan kesadaran yang harmoni dengan kehidupan menyebar ke sluruh Nusantara. Dan kita pun bisa berkembang, tak melulu hanya menjadi asura terus.
  3. Seperti batu yang keras, karakter asura jaman sekarang. Kerasnya batu tidak langgeng, batu akan mengalami penghancuran cepat atau lambat. Perenungan sifat keras dan lapuknya batu dalam meditasi membuat kita mampu memahami karakter asura dalam diri. Hancurnya batu, hancurnya karakter asura dalam diri kita membuat halangan mental / mental block musnah, dengan demikian energi kasih dapat memancar menerangi diri kita sendiri dan sesama makhluk hidup.
  4. Sayangnya, masih ada sebagian praktisi meditasi yang salah latihan, latihan pemusatan pada pernafasan atau anapanasati, mengumpulkan energi dalam kondisi labil, sehingga dalam hidup sehari-hari mereka justru menjadi asura yang sebenarnya, melupakan sifat Alam Semesta yang kekal dengan perubahannya, mereka tak ingin berubah, sifat mereka keras bagaikan batu, yang mudah dilemparkan orang sesuka hatinya. Menjadi asura sebenarnya merugikan dan sungguh bodoh. Tiada yang diuntungkan dengan sifat demikian, kecuali pihak-pihak yang berkepentingan demi keuntungan semu mengail di air keruh, mengadu domba sesamanya, melacurkan dirinya, jabatannya, bahkan negaranya, hanya demi kenikmatan duniawi, bukan hanya secara biologis, namun juga termasuk ketenaran, nama baik, kehormatan, kedudukan, gengsi, sanjungan dan pujian, jaminan finansial dan jaminan kekuasaan, dan sederet fasilitas elit yang bisa dinikmati. Semoga bangsaku menyadari kaarakter asuranya. Semoga kita semua bisa menghancurkan asura dalam diri kita dengan bijaksana.
  5. Semoga kesadaran meliputi diri kita sehingga pikiran bisa dikendalikan dan dimanfaatkan bagi Kebenaran.
  6. Sadar kelemahan diri adalah awal dari peningkatan kesadaran. Semoga kesadaran melanda ke seluruh Nusantara.
  7. Semoga kita tpdak seperti asura terus, belajar untuk menjadi manusia, yang tidak mementingkan diri sendiri, bisa membangun kebenaran, dan meninggalkan pikiran/perbuatan jahat, saling mengasihi, agar kita juga selalu ada dalam Kasih-Nya..
  8. Asura yang ada di dalam diri kita jauh lebih berbahaya dari pada asura-asura diluar……. Mari meningkatkan kesadaran utk mengendalikan asura yang ada di dalam diri ini.
  9. Selama kita hanya mementingkan makan, minum, tidur atau kenyamanan dan seks, hewan dan para asurapun melakukan hal yang sama. Ketika kita melakukan dengan semangat kasih, semanagt memberi dan melayani maka kita menjadi manusiawi.
  10. Semuanya berpusat pada diri kita sendiri. Yang melihat tindakan Asura di luar adalah Asura yang berada di dalam diri. Dikisahkan Aththar an Nisapur, salah seorang sufi bercerita sebagai berikut. Ketika Gusti Yesus pada suatu hari berjalan melintasi kota, beberapa orang Israel mencaci-makiNya. Merespon hal tersebut, Gusti Yesus menjawab dengan mengulang doa atas nama mereka. Seseorang berkomentar : ”Engkau berdoa untuk orang-orang ini, tidakkah Engkau merasa marah kepada mereka?” Gusti Yesus menanggapi : “Aku hanya dapat membelanjakan apa yang ada dalam dompetku.” Seseorang yang hatinya penuh kasih, yang dipikir dan yang diungkapkan pun hanya kasih, karena di dalam hatinya hanya ada kasih. Semoga kita semua dapat mengendalikan Asura dalam diri kita.
  11. Konon Wibhisana memberitahu Rama bahwa pusar Rahwana yang harus dibidiknya. Di sanalah letak sumber kekuatan sang raksasa. Pusar selalu dikaitkan dengan chakra ketiga, lapisan kesadaran ketiga. Tiga lapisan awal mengurusi makan, minum, tidur, seks, dan sebagainya. Selangkah lagi ke atas maka dia mencapai Chakra Kasih dan dia menjadi Manusiawi.
  12. Akan menjadi renungan dan cermin dalam menapaki kehidupan di dunia ini ke jalan yang lebih baik,
  13. Aum.Ya maraja, jarama ya. Ya marani, nirama ya. Ya silapa, palasi ya. Ya miduru, rudumi ya. Ya dayudi, diyuda ya. Ya sihama, mahasi ya. Ya siyaca, cayasi ya. Ya midosa, sadomi ya. Mantra Rajah Kalacakra Pangruwating Diu. Asura,…semingkira sira.
  14. Terima Kasih atas mantra nya semoga menyingkirkan Asura dalam diri kita.
  15. Konflik didalam diri senantiasa terjadi sepanjang hidup, sepanjang jiwa berada dalam tubuh fisik, lengah sedikit saja sifat asura dengan berbagai manifestasinya akan sering menjebak, dan menyerang dalam berbagai bentuk dalam berbagai wujud secara nyata maupun samar.
  16. Bagaimana pun sifat asura yang penuh semangat ini perlu ditrasformasi. Dari Passion ke Compassion. Pikiran Asura yang ingin mengulangi hal yang disukai, menghindari hal yang tidak disukai dan cuek terhadap hal yang tak ada hubungan dengan diri ditransformasi menjadi menyukai Kesadaran, Tidak menyukai ketidaksadaran dan cuek terhadap mereka yang mencemoohkan.
  17. Kita perlu waspada pada waktu gerhana. Gaya tarik matahari dan bulan berada pada satu garis lurus, sehingga permukaan air laut naik. Bagi yang peka darah dalam tubuh pun naik. Dan pikiran bisa menjadi tidak jernih. Pada zaman dulu anak-anak memukul kentongan dan lesung sewaktu gerhana, suara kentongan berirama membuat diri terlepas dari stress.
  18. Kami mencoba menyusun kata bahwa Dewa atau nurani atau rasa yang sadar keterbatasannya mohon pertolongan Yang Maha Kuasa, apakah sebagai kekuatan pemelihara alam, Wisnu ataupun pendaur ulang, Siwa. Mohon pertolongan kepada Yang Maha Kuasa itu termasuk salah satu cara melenyapkan ego. Dalam hal demikian ego manusia atau raksasa yang selalu menggunakan pikiran tidak suka ego dilepaskan. Dia suka ego menjadi penguasa, dan tidak suka mohon pertolongan pada Yang Maha Kuasa.

Terima Kasih

Salam __/\__

Iklan

2 Tanggapan

  1. Terima kasih atas ulasan filsafat kuno yang indah ini, pak..

    Saya punya pertanyaan yang ingin saya sampaikan sejak lama : Apakah seseorang yang berkecimpung di bidang pekerjaan yang menuntut penggunaan “pikiran” dengan optimal, masih mungkin mendapatkan “pencerahan ?”..

    • @ Mbak Yunita, Terima Kasih, menurut kami apa pun pekerjaan kita tidak menjadi masalah. Kami cuplikkan dari Nyanyian Ilahi 3, Dalam Bhagavad Gita tersebutlah Arjuna bertanya: Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Aku sungguh tambah bingung.
      Sri Krishna menjawab: Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya. Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu.
      Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu. Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari perkerjaan. Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja. Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya. Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri? Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali. Bekerjalah tanpa pamrih! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.
      Salam __/\__

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: