Renungan Tentang Jatidiri Dalam Kisah Sang Setyawan Pada Relief Candi Penataran

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Kisah pada Relief Candi Penataran. Salah satu kisah menceritakan tentang Sang Setyawan. Mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku  pengetahuan tentang kesadaran karya Bapak Anand Krishna. Diantaranya buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Sang Suami: Ada penduduk Kahyangan bernama Sang Setyawan. Setyawan berarti orang sangat setia. Dia sangat patuh dan setia dengan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Bagi dia tidak ada pekerjaan yang dipandang hina….. Tersebutlah suatu kerajaan yang bernama Puspa tan Alum dengan seorang raja yang bernama Jayati yang tinggal di istana Kerta Nirmala. Puspa tan Alum berarti tempat bunga yang tidak pernah layu selamanya. Jayati berarti selalu menang dan Kerta Nirmala berarti Kota tanpa penyakit, tanpa kejahatan. Demikianlah kerajaan tersebut tanpa kejahatan, selalu memberikan kesejahteraan dan kebenaran selau dimenangkan. Pada suatu ketika Sang Setyawan datang di kerajaan yang mulia tersebut dan sang raja sangat berkenan. Setelah beberapa lama, sang raja menjodohkan Sang Srtyawan dengan Suwistri, putrinya. Suwistri berarti istri yang baik, pasangan yang baik tingkah lakunya……  Setelah hidup bersama beberapa lama dalam keadaan bahagia, Sang Setyawan meninggalkan istrinya untuk pergi bertapa. Suwistri bersama pelayan setianya bernama Sucita mencari suaminya ke hutan belantara. Sucita berarti pikiran yang baik tanpa cela. Melihat istrinya datang dari kejauhan, maka Sang Setyawan mengubah wujudnya sebagai ular dan harimau untuk menakut-nakutinya. Tetapi Suwistri bersama Sucita tidak takut dan tetap melanjutkan perjalanannya. Kemudian beberapa pertapa muda yang sedang bekerja menggodanya dan bahkan berkelahi sesamanya, akan tetapi tidak mengubah niat Suwistri bersama Sucita untuk meneruskan perjalanannya. Sang Setyawan kemudian menciptakan sebuah pertapaan yang indah sekali. Sang Styawan mengganti nama dan wujudnya menjadi Cilimurti. Cilimurti berarti Yang Berkuasa. Suwistri kemudian diterima sebagai seorang pertapa dan diberi pengetahuan tentang kebiaraan. Akhirnya Suwustri selesai mengikuti pelajaran tentang kebiaraan. Suwistri akhirnya menjadi satu dengan Cilimurti yang ternyata adalah Sang Hyang Wenang. Dia Yang Memiliki Kewenangan Kehidupan……. Tersebutlah orang tua Suwistri, Raja Jayati bersama istrinya Dewayani pergi mencari jejak putrinya yang sedang berupaya menemukan keberadaan suaminya. Dewayani berarti seorang manusia wanita yang suci tabiatnya. Mereka kemudian mengetahui bahwa putrinya telah bersatu dengan Sang Hyang Wenang. Mereka kemudian  mengikuti jejak putrinya menjadi pertapa. Atas perintah Sang Hyang Wenang mereka diperintahkan untuk menuju Gunung Meru, Raja Jayati berada di bagian Timur sedangkan Dewayani di bagian Barat.

Sang Istri: Para leluhur mempunyai ungkapan” jagat gumelar” dan “jagat gumulung” yang penuh makna. Jagat gumelar adalah dunia yang digelar yang berkembang. Jagat gumelar tidak pernah statis tetapi selalu berubah sesuai perkembangan zaman sesuai dengan perubahan waktu dan ruang. Sedangkan jagat gumulung berarti segala sesuatu yang tergelar tersebut digulung dikecilkan sehingga semuanya menjadi berada diri kita. Sesungguhnya jagat gumelar dan jagat gumulung adalah jagat yang sama. Seseorang yang telah memahami jagat gumulung akan memahami jagat gumelar juga. Seseorang yang memahami pola-pola yang berlaku bagi jagat yang gumelar akan memahami pusat aturan yang berada di dalam dirinya. Kisah Sang Setyawan dapat direnungkan sebagai kisah yang berada dalam diri kita. Kerajaan yang dimaksud adalah diri manusia. Dalam diri yang selalu berbuat kebaikan, akan datang sinar keilahian yang membimbing menuju Ilahi. Kembali pulang, Manunggaling Kawula Gusti. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Tentang Kisah Altruisme Seekor Gajah Pada Relief Candi Borobudur

Pada relief Candi Borobudur terdapat kisah Altruisme Seekor Gajah Perkasa. Sepasang suami istri setengah baya sedang memperbincangkan kisahnya. Mereka menggunakan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna. Di antaranya buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular”. Sudah cukup lama mereka membicarakan beberapa kisah pada relief Candi Sukuh dan Candi Borobudur. Mereka ingin segera membicarakan kisah-kisah di relief candi lainnya…..

Sang Istri: Seekor gajah perkasa tinggal di hutan dengan lingkungan sesuai dengan kehidupannya. Dia hidup dari makan rumput dan tanaman teratai di sebuah telaga. Untuk mencapai hutan tersebut harus melintasi padang gurun yang luas, sehingga tempat tersebut tidak pernah dilewati manusia. Sang gajah perkasa hidup sendirian layaknya seorang pertapa…….. Pada suatu hari sang gajah mendengar teriakan banyak orang di tepi hutan. Nampaknya seperti suara segerombolan orang yang pada putus harapan. Sang gajah mendekati mereka yang nampak kelaparan, kehausan dan diliputi kesedihan. Melihat sebuah gajah besar mendekat mereka ketakutan dan ada yang berteriak, kali ini habislah kita semua. Sang gajah rupanya mengerti bahasa manusia dan berkata. Kalian tenanglah, jangan takut kepada saya, apa yang terjadi pada kalian semua. Semua orang tertegun melihat gajah putih yang indah yang dapat berkata-kata layaknya manusia dan nampak sebagai makhluk yang bijaksana. Mereka berkata, sebuah kemarahan raja meledak dan kami diusir dari kerajaan, tak satu pun dari keluarga kami yang memberikan pertolongannya. Sang gajah bertanya, ada berapa jumlah kalian semua. Mereka menjawab sebetulnya kami ada seribu orang, akan tetapi dalam perjalanan banyak yang mati karena kesedihan, kehausan dan kelaparan. Saat kami mencapai hutan ini jumlah kami tinggal tujuh ratusan. Wahai Gajah Perkasa, tolonglah kami semua, tunjukkanlah kami di mana ada air dan makanan. Kami sangat kelaparan dan kehausan……. Sang Gajah merenung dalam-dalam, tersentuh hatinya melihat makhluk yang nampak sedang putus asa. Sang Gajah menimbang-nimbang makanan apa yang bisa mengenyangkan tujuh ratus manusia. Dia tahu hutan tersebut hanya cocok bagi kehidupan gajah, tak ada makanan yang cocok bagi manusia. Haruskah tujuh ratus nyawa mengalami kematian sia-sia. Harapan mereka hanya pada dia. Yang mengetahui seluk beluk hutan di wilayahnya. Masalah air tak mengapa, ada sebuah telaga kecil yang airnya cukup menghilangkan haus mereka. Akan tetapi berapa lama mereka bisa mempertahankan hidup mereka. Mereka adalah tamu saya. Mereka datang ke wilayah kedaulatan saya. Haruskah saya membiarkan mereka mati kelaparan di sini? Tubuh saya ini tidak abadi. Sudah ratusan penyakit datang dan pergi. Beberapa tahun lagi saya juga akan mati. Di antara tujuh ratus manusia sebagian besar masih muda usia. Kehidupan mereka sangat berguna bagi dunia. Bila mereka selamat, mereka akan berkesempatan menurunkan generasi berikutnya. Demikian terjadi seterusnya. Apakah nilai satu tubuh hewannya yang sudah tua dibandingkan mereka dan keturunannya?….. Sang Gajah kemudian berkata. Saya akan menunjukkan jalan keluar, tetapi tolong direnungkan lebih dahulu……. Manusia bebas untuk melakukan apa saja, menciptakan apa saja namun tidak bebas dari konsekuensi tindakannya. Bertindak dan berpikirlah selaras dengan alam semesta…… Baiklah sekarang usahakan menempuh arah yang saya tunjukkan. Dari tempat ini ada jalan menurun dan di kaki bukit sebuah telaga akan kalian temukan. Beristirahatlah di sana dan hilangkan haus kalian dengan air telaga. Setelah itu teruskan perjalanan sesuai arah yang kutunjukkan. Bangkai gajah yang terjatuh dari tebing akan kalian temukan. Makanlah daging gajah tersebut untuk  menghilangkan lapar kalian. Simpanlah beberapa dagingnya untuk bekal di jalan. Kemudian untuk menyimpan air kulitnya dapat kau gunakan. Dan teruslah berjalan seperti arah yang kutunjukkan. Kalian akan melewati gurun kecil dan akan sampai di daerah pertanian. Ada beberapa orang di sana yang hidup sederhana. Mereka akan suka menerima kalian tinggal di sana. Semoga kalian semua selamat tidak kurang suatu apa……. Setelah rombongan pergi Sang Gajah Perkasa mengambil rute berbeda dan berlari cepat sekali…… Bersuka-citalah rombongan mendapatkan telaga. Mereka minum sepuas-puasnya dan mandi memulihkan tenaga. Tiba-tiba terdengar suara jatuhnya barang besar, dan tanah yang diinjak terasa bergetar.  Mereka berlarian seakan-akan telah terjadi gempa. Setelah kondisi tenang, mereka melanjutkan perjalanan dengan segera. Mereka bertemu bangkai gajah seperti yang disebutkan Sang Gajah Perkasa. Mereka mengira bangkai gajah ini pasti saudara Sang Gajah Perkasa. Tiba-tiba ada yang berteriak, lihat kakinya yang kuning keemasan dan lihat pula gadingnya yang lengkungannya persis sama dengan Sang Gajah Perkasa. Dia telah mengorbankan hidupnya demi kita semua. Lihat tebing di atas sana, suara benda jatuh dan gempa tadi nampaknya disebabkan dia menjatuhkan dirinya…… Tujuh ratus orang tersebut menangis sedih dan menjatuhkan dirinya. Mereka berdoa bersama. Kami semua sedang menghadapi kematian dan seekor Gajah Perkasa menolong kami dengan mengorbankan nyawanya. Kami semua sepakat menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga. Sang Gajah Perkasa adalah Guru Kehidupan kami semua. Mulai saat ini kami akan berusaha sekuat tenaga, tidak akan melakukan kejahatan apa saja. Akan kami sebarkan peristiwa ini agar manusia bisa meneladani Sang Gajah Perkasa. Setelah beberapa lama, di antara mereka ada yang mendengar dari beberapa orang bijak yang berkata, bahwa Sang Gajah Perkasa adalah seorang Bodhisattva.

Sang Suami: Tindakan altruistis selaras dengan alam semesta. Sang Gajah Perkasa selalu ingin memberi dan berbagi kepada makhluk lainnya. Dia tidak menunggu orang datang padanya, dan minta pertolongannya. Dia keluar untuk bertemu orang-orang yang memerlukan bantuannya. Mereka memberi tanpa diminta. Bahkan Sang Bodhisattva rela mengorbankan nyawanya. Dalam buku Bodhidharma dijelaskan bahwa para bijak sudah berada dalam Dharmachakra, sedangkan kita masih berada dalam Kalachakra…… Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra, Waktu, Roda Sang Kala. Keberadaan kita tergantung pada waktu dan ruang, merekalah pengendali hidup kita. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala. Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan. Penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang saja. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu, Kalachakra tak dapat menyentuh mereka. Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Bayangkan, apa yang terjadi pada ia mulai berpikir, “Umat manusia sudah keterlaluan, brengsek bener mereka. Untuk apa berputar bagi mereka? Berhenti sejenak ah’ aku sudah celaka biar mereka pun ikut celaka, tahu rasa!” Tapi tidak, ia tak pernah “berpikir” demikian, ia tetap bertindak sesuai dengan  Dharma. Ia tidak pernah lalai sesaat pun juga. Kita merampoknya, mencemarinya, tetapi ia tetap memaafkan dan tetap memberi tanpa henti….. Baca lebih lanjut

Renungan Kisah Tentang Kera Perkasa dan Pemburu Yang Mengkhianatinya Pada Relief Candi di Borobudur

Sepasang suami istri setengah baya sedang berbincang-bincang ringan di rumahnya. Mereka membicarakan Kisah Kera Perkasa dan seorang pemburu yang mengkhianatinya. Pada Relief Candi Borobudur terpahat kisahnya. Mereka mendiskusikan dengan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna. “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” adalah dua buah buku di antaranya.

Sang Istri: Kala mencari hewan buruan di hutan, seorang pemburu tersesat jalan. Dia beristirahat di bawah pohon dalam keadaan kelaparan, kehausan dan kecapekan. Tiba-tiba dia melihat di depannya ada pohon buah-buahan. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya dia memanjat pohon tersebut berusaha memetik buah-buahan. Di dahan kecil buah-buahan tersebut berada. Saat akan mengambil buah-buahan, dahan tersebut tak kuat menahan tubuhnya. Sang Pemburu jatuh ke dalam lubang yang berada di bawahnya. Sang Pemburu sudah putus asa, rasanya dia akan mati di sana. Beberapa kali dia berteriak, akan tetapi yang menjawab hanya gaung teriakannya saja……. Seekor kera perkasa datang dan bertanya, Sang Pemburu sampai jatuh ke dalam lubang apa sebabnya. Mendengar penjelasan Sang Pemburu, Sang Kera Perkasa tersentuh hatinya. Ditolongnya Sang Pemburu keluar dari lubang dan dibawa keluar hutan dengan cara dipanggulnya. Sang Pemburu berterima kasih telah diselamatkan nyawanya bahkan untuk sampai jalan keluarnya dia pun dipanggul Sang Kera Perkasa. Tinggal sedikit saja keluar hutan, Sang Kera Perkasa kecapekan. Dia ingin tidur sebentar memulihkan kekuatan. Setelah memanggul Sang Pemburu setengah harian……… Sang Pemburu berpikir, tepi hutan sudah di depan mata. Rasa lapar tidak terkira. Pikiran memang maunya menang sendiri saja. Kepentingan pribadi menjadi panglima. Orang lain? Emangnya gua pikirin? Melihat kera perkasa ketiduran, seakan dia melihat sebuah binatang buruan. Mengapa Sang Kera tidak dibunuh saat ketiduran? Bila sudah bangun tak mungkin dia sanggup melawan. Sang Pemburu membawa batu api dan daging kera dapat dipanggang sebagai obat laparnya. Dan sebagian dapat dibawa pulang untuk persediaan makanannya. Diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkannya kepada Sang Kera Perkasa. Entah apa yang terjadi Sang Kera Perkasa memalingkan wajahnya. Sehingga batu besar hanya melukai telinganya. Sang Kera Perkasa terbangun dan segera sadar apa telah yang terjadi. Rasa luka di telinganya dia tidak ambil peduli, tetapi ada rasa sesal mengapa ada orang yang tidak tahu membalas budi. Mengapa Sang Pemburu yang hampir mati dan baru saja ditolongnya sudah menjadi serakah tak terkendali. Dia segera memanggul sang gembala ke luar hutan, meletakkan di jalan dan kemudian masuk kembali ke hutan……. Setahun kemudian, seorang raja berburu ke hutan. Di tengah hutan bertemu manusia yang dalam keadaan sekarat dengan tubuh tidak terawat dalam keadaan sangat mengenaskan. Sang manusia menceritakan kisahnya bahwa dia pernah ditolong kera tetapi kera tersebut hampir saja dibunuhnya. Sang kera selamat hanya terluka telinganya. Sang Kera tetap menolongnya ke luar hutan dan kemudian menghilang dengan segera. Selanjutnya dia bercerita, tak lama kemudian di mendapat sakit kusta dan dia diusir dari masyarakat. Dia menyesal telah berbuat jahat. Kemudian dia hidup terlunta-lunta. Dia diberitahu orang bahwa Sang Kera Perkasa adalah seorang Bodhisattva. Dengan terbata-bata sang penderita kusta memberi nasehat, jangan sampai keserakahan menutupi nurani manusia. Setelah berkata demikian dia menghembuskan nafasnya…….

Sang Suami: Sang Kera Perkasa, tertegun sebentar kemudian melanjutkan tindakan menolong Sang Pemburu keluar hutan. Dia tidak menyesali telah berbuat kebaikan walau dibalas dengan kejahatan…. Dharma atau kebajikan adalah ketepatan bertindak, juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan nista….. Kebaikan adalah sifat sejati Sang Kera Perkasa, dia tidak akan terpengaruh oleh peristiwa apa pun yang terjadi pada dirinya. Apa pun yang terjadi akan dia terima, karena itu adalah akibat tindakan dia di masa lalu juga. Tindakan Sang Pemburu pun tak perlu dibalasnya, akan ada hukum sebab-akibat yang menyelesaikannya. Sang Kera Perkasa paham yang terluka adalah tubuhnya dan yang sakit adalah hatinya. Jatidirinya bukanlah tubuh, bukanlah pikiran, bukanlah perasaan, tetapi adalah Dia yang bersemayam dalam tubuhnya, dalam pikirannya dalam perasaannya. Sang Pemburu merasa bahwa dirinya adalah pikirannya, sehingga di tunduk pada pikirannya dan telah melakukan tindakan tercela yang tidak selaras dengan alam semesta…….. Banyak jalan menuju “Jalan Raya”. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua jalan: Jalan Pengetahuan dan Jalan Pengabdian. Demikian diuraikan dalam buku “Bodhidharma”. Baca lebih lanjut

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana

Sepasang suami istri ingat akan salah satu cerita pada relief Candi Borobudur tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana. Mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna. Di antaranya “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia” dan “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”.

Sang Istri: Tersebutlah tentang ratusan angsa yang tinggal di atas telaga yang berada di gunung yang sulit didatangi manusia. Angsa-angsa tersebut putih bersih bulunya dengan kuning keemasan warna kakinya. Kala mereka terbang bersama, seperti kapas yang sedang terbawa angin saja nampaknya. Kelompok angsa tersebut dipimpin oleh raja angsa yang dibantu wakilnya. Kedua pemimpin angsa tersebut luar biasa indah penampilannya. Mereka mempunyai bulu emas bercahaya di seluruh tubuhnya. Mereka bisa berkomunikasi dengan berbagai bahasa hewan, sehingga di mana pun mereka berada semua hewan menunjukkan penghormatannya. Hanya beberapa orang yang tersesat jalan kebetulan menemukan telaga dan berkesempatan melihat keindahan kedua pemimpin angsa…… Bagaimana pun berita tentang keindahan dan kebijaksanaan kedua angsa menyebar ke seluruh pelosok negeri dan terdengar sampai di istana. Sang Raja berhasrat menangkapnya dengan segala cara. Perjuangan Sang Raja sangatlah luar biasa, dia sengaja membangun sebuah telaga besar yang sangat indah di pinggir kota. Berbagai ikan dikembang-biakkan di sana. Berbagai macam bunga teratai menambah kecantikan telaga. Pada malam hari telaga tersebut nampak bagai cermin raksasa, tempat memandang bulan dan bintang pada permukaan airnya. Para hewan mulai berdatangan ke  telaga baru bikinan Sang Raja. Beberapa gajah sering datang untuk mandi dan bermain air di sana. Sedangkan para rusa sering merumput di dekatnya. Sebuah telaga baru yang keindahannya sulit diungkapkan kata-kata……. Pada suatu hari, sekelompok angsa terbang di atas telaga dan melihat telaga baru yang mempesona. Mereka turun, bermain air dan bersantai melepaskan lelahnya. Kemudian mereka kembali ke atas gunung dan menceritakan kepada teman-temannya tentang telaga baru di pinggir kota. Masyarakat angsa mohon kepada Sang Raja Angsa dan wakilnya untuk bersama-sama pindah ke telaga baru di pinggir kota. Konon telaga baru tersebut lebih hangat dan lebih nyaman daripada tempat tinggal mereka…… Kedua pemimpin angsa menolak permintaan untuk tinggal di dekat pemukiman manusia. Burung-burung dan hewan mempunyai kebiasaan  hidup bebas dan bisa mengekpresikan perasaannya selaras dengan alam semesta. Tetapi manusia ingin memelihara burung dalam sangkar demi kesenangan mereka. Manusia merasa burung berbahagia dalam kurungan yang indah asal telah dicukupi makan dan minumnya. Manusia belum halus rasanya, belum pernah merasakan kebebasan dari pola pikiran lama yang telah membelenggunya. Hal tersebut membuat manusia tidak peka akan belenggu sangkar yang membuat burung kehilangan kebebasannya. Manusia sendiri tidak suka dikekang dalam rumah indah mereka. Dia sering keluar bepergian juga, namun mereka memelihara burung dalam sangkar di rumah mereka. Betapa tidak pekanya manusia…… Bagaimana pun para angsa tetap memohon, sehingga Sang Raja Angsa dan wakilnya akhirnya mengabulkan. Sang Raja berpesan agar selama berada di telaga baru di pinggir kota tetap menjaga kewaspadaan…… Mendengar kedatangan kedua angsa emas di telaga, Sang raja meminta seorang pemburu ulung untuk memasang jebakan. Saat Sang Raja Angsa sadar bahwa dia baru saja terperangkap dalam jebakan, Sang Raja Angsa berteriak kepada seluruh angsa, agar telaga baru segera ditinggalkan. Seluruh angsa segera mematuhinya dan meninggalkan telaga yang dipenuhi jebakan. Akan tetapi Sang Wakil Raja Angsa yang tidak terperangkap, tetap tinggal di sana menemani Sang Raja. Sang Raja memerintahkan wakilnya untuk segera pergi, menemani para angsa untuk terbang menjauhinya. Tetapi Sang Wakil Raja Angsa tidak mematuhinya, dia tetap setia menemaninya. Kala Sang Pemburu Ulung datang, Sang Wakil Raja Angsa berkata bahwa para manusia sulit membedakan antara Sang Raja Angsa dengan dia. Sang Wakil mohon agar Sang Raja Angsa dibebaskan dan dia ditangkap sebagai penggantinya. Sang Pemburu terkesima mendengar pernyataan Sang Wakil Raja Angsa. Dia mendapatkan pelajaran berharga, bahwa ada karakter angsa yang patut diteladani manusia karena kesetiaannya. Sang Pemburu Ulung lama merenung, dia belum pernah menemukan manusia yang kesetiaannya seperti Sang Wakil Raja Angsa. Kemudian, Sang Pemburu bahkan melepas Sang Raja Angsa menghormati kebijakan mereka. Akan tetapi kedua angsa tidak mau pergi juga, mereka tahu Sang Pemburu akan dihukum berat oleh Sang Raja karena telah melepaskan angsa buruan Sang Raja. Mereka segera hinggap di kedua pundaknya dan menemani Sang Pemburu menghadap Sang Raja….. Mendengar laporan Sang Pemburu, Sang Raja membungkukkan kepala kepada kedua angsa yang bijaksana. Belum ada satu pun penasehat raja yang membabarkan dharma kebenaran begitu jelasnya. Kemudian Sang Raja Angsa diminta menyampaikan dharma tentang kesetiaan, tanggung jawab dan kebebasan. Setelah selesai bila ingin pergi dipersilakan. Sang Raja tidak lagi akan memasang jebakan hewan. Bila ada waktu diharap Sang Raja Angsa datang ke istana dan menyampaikan dharma kebenaran…… Konon setelah beberapa kali kehidupan, Sang Raja Angsa lahir sebagai Sang Buddha dan Sang Wakil Raja Angsa lahir sebagai murid Sang Buddha yang bernama Ananda.

Sang Suami: Para angsa masih terikat dengan kenyamanan dan melupakan kebebasan kehidupan di telaga lama. Sang Raja Angsa telah mengingatkan bahwa banyak manusia yang belum memahami kebebasan…… Kebanyakan manusia terikat dengan rasa kepemilikan, keangkuhan, keserakahan, kebodohan, ketaksadaran, kebencian. Mereka belum terbebaskan dari perbudakan pada panca indera. Manusia belum bisa membebaskan diri dari keinginan akan kenyamanan dan kenikmatan jasmaninya. Sebetulnya keterikatan telah menjatuhkan derajat manusia, menjadi budak dunia. Manusia suka memelihara burung dalam sangkar karena dia belum peka. Manusia merasa lebih tinggi derajatnya daripada hewan, bahkan mereka pun tidak merasa setara dengan sesama manusia….. Jiwa-jiwa yang beribadah kepada Yang Maha Tinggi, akan seketika menyadari kerendahannya dan kesetaraanya dengan jiwa-jiwa lain, dengan sesama manusia! Bila kita menganggap diri beragama dan rajin beribadah, namun tidak merasakan kesetaraan macam itu, maka masih dangkal ibadah kita. Bila kita masih menciptakan “class” antar manusia, maka jiwa kita belum beribadah, belum beragama. “Class” atau derajat rendah-tinggi, ketidaksetaraan itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Raksasa karena kepala mereka masih tegak, mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa. Sekali bersujud di hadapan-Nya, diri kita menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah atau tidak setara dari diri kita. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhan kita tidak ikut menunduk juga? Baca lebih lanjut

Renungan Kisah Tentang Kesabaran Kerbau Perkasa Pada Relief Candi Borobudur

“Ishq Allah, Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi & Lahirnya Cinta Ilahi”, karya Bapak Anand Krishna sangat mempengaruhi pandangan hidup sepasang suami istri setengah baya. Mereka kini sedang membicarakan Kisah Kesabaran Kerbau Perkasa dan Keusilan Monyet pada cerita Jataka. Pada relief dinding candi Borobudur terpahat kisahnya. Sebagai referensi pembicaraan, mereka menggunakan buku “Ishq Allah” dan buku-buku Bapak Anand Krishna lainnya.

Sang Istri: Konon Bodhisattva pernah hidup sebagai seekor kerbau perkasa yang sangat lembut hatinya. Sangat terkenal kesabaran dan kebijaksanaannya. Sang Kerbau sering diganggu seekor monyet usil yang suka mempermainkan dirinya. Memperhatikan kesabaran Sang Kerbau, Sang Monyet selalu menggoda dan mempermainkan tanpa takut mendapat resiko akibat perbuatannya. Kadang-kadang Sang Monyet sengaja duduk didepan Sang Kerbau yang sedang memakan rumput, sehingga Sang Kerbau menghentikan kegiatan makannya. Kadang-kadang Sang Monyet menaiki kepala Sang Kerbau dan menarik-narik tanduknya. Kadang Sang Monyet menutup kedua mata Sang Kerbau dan kadang ekornya dipakai sebagai ayunan. Sang Kerbau hanya mengingatkan Sang Kera dengan penuh kesabaran….. Pada suatu hari seorang penghuni hutan mempertanyakan. Wahai Kerbau Perkasa, mengapa kau mendiamkan saja tindakan Sang Monyet yang keterlaluan. Dengan salah satu kakimu atau dengan kedua tandukmu, monyet usil tersebut dengan mudah dapat kau lemparkan. Sang Kerbau menjawab, baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Mungkin agak sulit memahamiku. Wahai Monyet tolong perhatikan juga perkataanku. Kelembutan dan tidak suka kekerasan adalah sifatku. Bahwa monyet menggodaku itu adalah akibat dari perbuatanku di masa lalu. Aku menerima dengan penuh kesadaran apapun yang menimpa hidupku…… Mungkin kalian menganggap tindakan sabarku sudah  keterlaluan. Tetapi aku menjunjung tinggi suara Kebenaran. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku yakin tindakanku benar, bukan hanya semata dalih pikiran. Setiap saat, diriku melakukan pembersihan. Setiap kekotoran yang terbuang diganti oleh sifat keilahian. Maka petunjuk Ilahi lah yang selalu mendatangi, bukan solusi yang berasal dari pikiran….. Setiap makhluk mempunyai “jalan”. Walau hanya ada satu tujuan yaitu Kebenaran. Jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Di mana kita bisa bergandengan dengan siapa saja. Jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran merupakan jalan pribadi. Jalan menuju kebenaran begitu sempit, sehingga harus melewatinya seorang diri. Setiap orang berbeda jalannya. Karena pengalaman hidupnya juga tidak sama…… Wahai Monyet, saat ini sudah waktunya kau memperbaiki tingkah lakumu. Cobalah merenung, apakah kau senang tindakan demikian diperlakukan kepadamu? Seandainya kau dipermainkan, sedangkan kau mempunyai kekuatan untuk melawan, apakah kau akan membiarkan diganggu? Bila tidak senang diperlakukan dengan cara demikian, maka jangan melakukan hal yang demikian. Kalau tindakan suka mempermainkan sudah menjadi kebiasaan. Suatu saat kepada hewan yang temperamen kau akan mempermainkan. Dan kau akan babak belur dijadikan bulan-bulanan. Wahai Monyet engkau tahu tempat tinggalku, kalau tidak di hutan aku berada di pemukiman. Apabila kau merasa membutuhkanku, dan mau menemuiku silakan….. Sang penghuni hutan berterima kasih mendengar penjelasan Sang Kerbau, dia telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Sang Monyet turun dari punggung Sang Kerbau, minta maaf atas perbuatannya dan berjanji tak akan mengulanginya. Kata-kata Sang Kerbau yang bijaksana telah menyadarkannya….. Akan tetapi hukum sebab akibat tak akan selesai dengan pemintaan maaf saja. Setelah beberapa bulan, Sang Monyet lupa janjinya dan hasratnya menggelora ingin mengulang kebiasaannya. Seekor kerbau liar datang dan berdiri di tempat yang sama. Sang Monyet digerakkan kebiasaan lama yang masih selalu menggoda. Dia ketagihan untuk mempermainkan Sang Kerbau seperti kebiasaan lamanya. Sang Kerbau Liar marah dan segera melemparkannya, dan menanduk bagian perutnya. Sang monyet lari dalam keadaan luka-luka. Dia sekarang mencari Sang Kerbau Perkasa kemana-mana. Dia ingin Sang Kerbau Perkasa menjadi pemandu kehidupannya.

Sang Suami: Sang Kerbau Perkasa menjadikan sabar sebagai salah satu sifatnya……. Sabar bukanlah “one time shot”, sabar adalah “a life time affair”, demikian petikan dari buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia”. Bila kepala tasbih dianggap mewakili sifat Allah, Yang Maha Kuasa. Sifat Utama Maha Pengasih adalah butir pertama. Sedangkan Maha Sabar adalah butir terakhirnya. Berawal dari-Nya, berakhir pada-Nya. Kasih mengantar kita ke dunia. Sabar mengajak kita balik pada-Nya. Sesungguhnya Sabar itulah Tuhan. Bila ingin Berketuhanan, janganlah membalas kekerasan dengan kekerasan. Kita perlu bersabar, karena kesabaran adalah kunci kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesabaran dan kebijaksanaan. Baca lebih lanjut

Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

Sepasang suami istri sedang membicarakan buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”. Buku karya Bapak Anand Krishna ini bagi mereka sangat berarti. Kemudian mereka bicara tentang kisah pengabdian Raja Kera. Seekor kera yang mengorbankan raganya demi keselamatan para kera. Pada relief batu di Candi Borobudur terpahat kisahnya. Dengan referensi buku “Kehidupan” mereka mengkajinya.

Sang Istri: Adalah sebuah pohon mangga raksasa yang sangat rimbun daunnya. Dari kejauhan pohon tersebut seperti sebuah bukit hijau saja nampaknya. Dekat tebing sebuah gunung, pohon tersebut berada, dan sebuah sungai melintas di bawah salah satu dahannya. Pohon tersebut mempunyai ribuan buah mangga yang rasanya luar biasa enaknya. Baunya harum dan tahan tidak membusuk dalam waktu yang lama. Mangga yang penuh khasiat, sehingga membuat sehat siapa pun yang memakannya. Ratusan kera hidup di pohon tersebut dibawah pimpinan seekor kera yang paling besar dan paling bijaksana. Pemimpin kera tersebut layak disebut Sang Raja Kera. Komunitas kera tersebut hidup sejahtera berkat pohon mangga raksasa yang berbuah sepanjang tahun tanpa ada habisnya….. Sang Raja Kera berpesan agar seluruh buah yang ada di dahan yang berada di atas sungai harus dihabiskan. Bila ada satu buah saja yang jatuh ke sungai maka kenyamanan hidup mereka bisa berantakan. Konon ada satu buah mangga di atas dahan tersebut, yang luput dari perhatian. Buah tersebut jatuh ke sungai dan dibawa aliran. Seorang raja dan pasukannya kebetulan sedang menyeberang. Mendapatkan buah mangga istimewa tersebut sang raja sangatlah riang. Pasukannya diajak menyusuri sungai ke hulu mencari pohon asalnya. Sampailah mereka ke pohon mangga raksasa dan pasukannya melihat pohon tersebut dihuni ratusan kera. Mereka berteriak-teriak mengusir para kera dengan batu dan sebagian mulai membidikkan anak panahnya. Kera-kera pada ketakutan karena mulai terancam nyawa mereka. Sang Raja Kera naik ke puncak pohon dan meloncat ke tebing gunung di dekatnya. Dia merangkak ke atas gunung mendapatkan pohon rotan dan mengikatnya pada kakinya. Kemudian dia meloncat kembali ke pohon, tetapi hanya tangannya yang dapat menggapai salah satu dahannya. Sang Raja Kera bermaksud membuat jembatan dari rotan dari pohon ke tebing gunung di dekatnya. Akan tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya. Jembatan telah tersedia, tetapi terbuat dari tubuh Sang Raja Kera dengan rotan yang diikat di kakinya yang terhubung dengan tebing gunung di seberangnya. Sang Raja Kera memerintahkan para kera segera meniti jembatan yang telah tersedia. Ratusan kera tersebut melewati jembatan yang terbuat dari raga Sang Raja Kera. Betapa sakitnya Sang Raja Kera, tubuhnya dibebani para kera yang lewat di atas tubuhnya. Tangannya yang memegang dahan berdarah-darah dan masih mencengkeram walaupun dia sangat kelelahan. Kakinya sudah merah, mungkin tulangnya retak karena terikat erat dengan rotan. Dia masih bertahan, sampai kera terakhir diselamatkan. Sang Raja Kera telah mengorbankan dirinya sebagai jembatan agar pengikutnya mendapatkan kebebasan ……. Sang Raja dan pasukannya terkesima melihat pengorbanan Sang Raja Kera. Trenyuh hati mereka melihat penderitaan Sang Raja Kera.  Mereka melihat Sang Raja Kera luka parah, tetapi tetap bertahan demi seluruh kera komunitasnya. Tanpa terasa mata Sang Raja dan pasukannya berkaca-kaca. Sang Raja memerintahkan pasukannya mempersiapkan jaring-jaring di bawah tubuh Sang Raja Kera. Pasukannya diminta memanah secara bersama, dahan pegangan Sang Raja Kera dan rotan yang mengikat kakinya. Sang Raja Kera jatuh ke jaring-jaring dalam keadaan pingsan. Pasukan raja berusaha sebisa-bisanya memberikan pertolongan. Tiba-tiba Sang Raja Kera siuman. Dia berterima kasih bahwa jiwanya telah diusahakan untuk diselamatkan. Melihat kera besar yang dapat berbicara seperti manusia, Sang Raja keheranan. Di wajah Sang Raja Kera tidak menunjukkan tanda bahwa dia menyesalkan tindakan raja dan pasukannya yang telah mengakibatkan keadaannya menjadi demikian….. Sang Raja mohon maaf telah mengganggu kehidupan para kera dan menyebabkan peristiwa tragis yang terjadi. Sang Raja Kera berkata, raga ini bisa luka tetapi pikiran jernih masih ada di dalam diri. Kasihku kepada para kera tak akan terpengaruh oleh keadaan ragaku ini. Ragaku ini sebentar lagi akan kutinggalkan, tetapi rasa kasih dalam diri ini tetap abadi. Sejak kecil sampai dewasa dan sampai meninggal sesaat lagi….. Diriku telah mengalami berbagai pengalaman, akan tetapi rasa kasih ini selalu ada setiap saat, karena telah mengisi seluruh diri….. dan kemudian, Sang Raja Kera tidak bernapas lagi…. Sang Raja bersabda, bukan suatu kebetulan dia menyaksikan peristiwa luar biasa. Sang Raja Kera telah memberi pelajaran bagaimana cara melayani dengan penuh kasih sepanjang hayatnya. Setelah kejadian itu Sang Raja mulai memimpin kerajaan dengan lebih bijaksana. Sang Raja bersikap penuh kasih melayani rakyatnya…..Konon setelah beberapa kehidupan Sang Raja Kera lahir kembali menjadi Sang Buddha……

Sang Suami: Sang Raja Kera hanya bertindak menyelamatkan kehidupan para kera, tak setitik pun rasa membenci raja dan pasukannya yang telah menjarah kediaman mereka….. Sang Raja Kera mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan terhadapnya. Ketidakadilan yang menimpa diterima sebagai akibat tindakannya di masa masa lalu kehidupannya. Dia berterima kasih bahwa Keberadaan telah memberikan kesempatan untuk menghembuskan nafasnya sebagai pahlawan para kera. Sang Raja mendapat mutiara pelajaran yang sangat berharga. Sang Raja merasa selalu melakukan upacara ritual bagi keselamatan rakyatnya. Tetapi Sang Raja Kera telah berada jauh di depannya. Dia tak hanya mendoakan tetapi mengabdi dan melayani rakyatnya. Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri manusia. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri manusia. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam dirinya, dia akan mulai melihat Gusti di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang dia lakukan akan menjadi persembahan semata. Dia tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang dia lakukan, dilakukan demi cinta….. Baca lebih lanjut

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Rusa Ruru

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan buku-buku karya Bapak Anand Krishna. Buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World” dan buku-buku lainnya menjadi bahan pembicaraan mereka. Mereka juga teringat relief batu di Candi Borobudur, yang bercerita tentang Kisah Rusa Ruru. Kemudian mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku itu.

Sang Istri: Konon Bodhisattwa pernah lahir sebagai seekor rusa. Rusa Ruru namanya. Tanduknya seperti dilapisi oleh emas murni, kuning mengkilat bercahaya. Bulu-bulu kulitnya sangat indah seakan-akan terdiri dari batu-batu permata beraneka warna. Matanya biru penuh kelembutan dan bercahaya, permata safir pun kalah dengan keindahannya. Seekor rusa yang tak ada taranya dan dia pun pandai berbicara seperti manusia. Sang Rusa Ruru paham bahwa dirinya akan menjadi buruan para manusia. Sehingga tak pernah keluar dari hutan kediamannya. Sebuah hutan yang tak pernah terjamah oleh manusia, berbatasan dengan sebuah kali yang deras alirannya……. Pada suatu hari, saat Sang Rusa Ruru duduk mengagungi keindahan alam semesta, dia mendengar teriakan yang menyayat hati. Seseorang berteriak minta tolong karena sudah tak berdaya lagi. Setelah didatangi ternyata ada seseorang yang hanyut di kali. Kematian segera mendatangi, bila tidak ada makhluk yang peduli……. Sang Rusa terjun ke kali dan minta orang tersebut berpegangan pada tanduknya. Dengan susah payah dibantunya orang tersebut naik ke atas punggungnya. Dibawanya orang tersebut berenang ke tepian untuk menyelamatkan nyawanya. Orang tersebut sangat bersyukur, ada rusa indah yang rela bertarung nyawa menyelamatkan dirinya. Dan Sang Rusa ternyata dapat berbicara seperti manusia. Orang tersebut berkata, tak ada manusia walaupun saudara yang bertindak seperti Sang Rusa. Kemudian dia menyerahkan hidupnya kepada Sang Rusa. Apa yang diminta Sang Rusa akan dikabulkannya. Termasuk bila diminta menjadi pelayan rusa seumur hidupnya. Sang Rusa menjawab pelan, bahwa keserakahan memenuhi dunia. Akan banyak orang yang memburu dirinya bila tahu tempat tinggalnya. Sang Rusa hanya berpesan agar orang tersebut tidak usah menceritakan pertemuan dengan dirinya. Kemudian orang tersebut ditunjukkan jalan keluar dari tempat tersebut menuju desa……. Tersebutlah seorang permaisuri raja yang mimpinya selalu menjadi nyata. Pada suatu hari dia bermimpi tentang seekor rusa yang indah sekali. Tubuhnya dipenuhi oleh batu-batu permata beraneka warna. Tanduknya seperti mahkota yang terbuat dari emas murni. Matanya begitu indah dan meluluhkan siapa saja. Sang Rusa nampak sedang berdiri, berbicara dikelilingi raja dan para menteri….. Sang permaisuri menceritakan mimpinya kepada Sang Raja. Dan minta Sang Raja mencari kebenaran tentang keberadaan Sang Rusa. Sang Raja pun tertarik dengan berbagai permata yang ada di tubuh Sang Rusa. Sang Raja membuat pengumuman bahwa barangsiapa dapat menunjukkan tempat Sang Rusa akan diberi imbalan sebuah desa……. Tersebutlah orang yang pernah ditolong Sang Rusa. Dia pernah berjanji pada Sang Rusa untuk tidak akan memberitahukan tempat tinggalnya. Akan tetapi dia sekarang sangat miskin, hidup penuh derita. Setelah perang batin yang lama, nafsu keserakahannya mengalahkan hati nuraninya. Akhirnya dia memberitahu raja bahwa dia tahu tempat tinggal Sang Rusa. Sang Raja kemudian membawa pasukan lengkap untuk menangkap Sang Rusa. Tersebutlah mereka sampai di sungai tempat orang tersebut pernah diselamatkan oleh Sang Rusa. Dia menunjuk seberang kali dan nampak Sang Rusa berada di sana. Tiba-tiba tangan orang tersebut lumpuh setelah menunjukkan tempat Sang Rusa. Para pengawal raja segera membidik Sang Rusa. Sang Rusa paham tak ada gunanya melarikan dirinya. Dia bertanya, wahai raja siapa yang menunjukkan tempat tinggal hamba. Ada seseorang yang hampir mati tenggelam terseret arus kali yang kemudian kuselamatkan nyawanya. Dia telah berjanji tak akan menunjukkan tempat tinggal hamba. Sang raja bertanya kepada orang yang menunjukkan tempat Sang Rusa. Apakah dia pernah mengalami apa yang diceritakan Sang Rusa. Orang tersebut mengangguk dan raja mengarahkan panah kepadanya. Sang Raja berkata, tak ada gunanya hidup lebih lama bagi orang yang membalas budi dengan air tuba. Kemudian Sang Rusa berkata, orang tersebut terpaksa mengingkari janji karena kemiskinannya. Tolong dia jangan dihukum dan agar diberi hadiah sesuai janji Sang Raja. Sang Raja sadar telah bertemu rusa yang bijaksana. Sang Raja berkata, demi rusa yang bijaksana kau kuampuni dan kuberikan hadiah sesuai janji seorang raja. Kemudian sang raja melanjutkan, wahai rusa yang bijaksana, aku sudah membuat keputusan, kau tidak akan diganggu seluruh masyarakat di kerajaanku. Sekarang mari ke istana naik keretaku. Sang Raja mengajak Sang Rusa Ruru ke istana dan bertemu permaisuri dan para menterinya. Sang Rusa Ruru diangkat menjadi penasehat Sang Raja. Raja menjadi lebih bijaksana dan rakyatnya makmur sejahtera. Konon setelah beberapa kelahiran, Sang Rusa Ruru lahir kembali menjadi Sang Buddha. Baca lebih lanjut