Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Harimau Dan Pengorbanan Bodhisattwa

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan masalah pengorbanan. Mereka membicarakan kisah yang tertera pada relief Candi Borobudur tentang harimau kelaparan dan Bodhisattva yang mengorbankan badannya sebagai persembahan. Mereka mengkajinya dengan buku-buku karya Bapak Anand Krishna. Di antaranya “The Gospel of Michael Jackson”, Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” dan buku-buku lainnya.

Sang Istri: Sebagai akibat dari kehidupan masa lalunya, seorang Bodhisattva hidup sejahtera. Dia mempercayai adanya persatuan. Sepertinya ia memilih “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan. Ia menerima kebhinekaan, adanya perbedaan. Namun di balik perbedaan itu, ia juga melihat kesatuan. Bahkan dia melihat persamaan kehidupan yang ada pada manusia maupun hewan. Pada suatu ketika Sang Bodhisattva berjalan-jalan di pegunungan bersama muridnya bernama Agita. Mereka melihat dari atas tebing seekor harimau betina yang sedang resah kebingungan. Sang Harimau betina sedang menderita kelaparan. Bagaimana pun kehidupannya harus dipertahankan. Seekor anaknya nampak sedang menyusu kepadanya. Ada sebuah dilema yang luar biasa sulitnya. Dia harus mempertahankan kehidupan diri. Kehidupan itu pemberian Ilahi. Kalau dia mati, sang anak pun akan mati. Karena dia akan kelaparan, tidak punya induk yang dapat menyusui. Salah satu jalan adalah memakan Sang Anak, si buah hati. Di kemudian hari dia dapat melahirkan anak yang lain sebagai pengganti. Meleleh air matanya, dia menangis melihat anaknya yang sedang menyusui, yang sebentar lagi akan mati sebagai makanan penyelamat diri. Dalam diri harimau ada pertempuran sengit antara pikiran dan hati nurani. Dia hanya bisa menangis tak punya solusi……. Sang Boddhisatwa menyuruh Agita mencari makanan pengganti bagi Sang Harimau, tetapi sudah berjam-jam dia belum kembali. Melihat harimau sekarat karena kelaparan, Sang Bodisattva menggigil karena kasih, seperti menggigilnya Mahameru karena gempa. Nampaknya dia segera akan melihat seekor harimau betina memakan anaknya, melawan hukum kasih alam semesta. Sang Bodhisattva merenung dalam, mengapa saya menyuruh Agita mencari tubuh makhluk lainnya. Tubuh saya cukup untuk mengobati kelaparannya. Ragaku sudah tua, beberapa saat lagi juga sudah tidak berguna. Ragaku sudah tak mudah untuk melakukan dharma. Sang Bodhisattva melihat kesempatan untuk membahagiakan makhluk yang sedang menderita. Nampaknya Sang Harimau akan memilih mati daripada memakan anaknya. Dan, dua kehidupan akan segera meninggalkan dunia fana……… Suara kejatuhan benda di dekatnya membuat Sang Harimau waspada. Dan dia melihat tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Dia menyembah tubuh yang tidak bernyawa sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Dan dia mulai memakannya setelah berdoa. Telah terselamatkan kehidupan dia dan anaknya…… Tidak dapat menemukan hewan buruan di hutan, sang murid Agita kembali menemui Gurunya. Dia melihat jasad gurunya di bawah tebing, dimakan harimau betina. Dia menangis, melihat pengorbanan nyata seorang Bodhisattva. Sang Bodhisattva seperti bumi yang menyerahkan apa pun yang ada pada dirinya demi kehidupan makhluk yang mendiaminya. Semua makhluk, termasuk para gandarwa, dewa, binatang, tanaman menghormati tindakan yang begitu mulia. Sang Mara kecewa dia dikalahkan Sang Bodhisattva. Setelah beberapa kehidupan konon Sang Bodhisattva  lahir sebagai Sang Buddha, yang dihormati semua makhluk di alam semesta. Kisah Dia yang pernah mengorbankan nyawanya kepada harimau betina yang hampir makan anaknya……..

Sang Suami: Sang Harimau Betina berdoa di depan makanan yang akan di santapnya. Karena pengorbanan raga tersebut dia lepas dari perbuatan terkutuk makan anaknya……… Ingat tidak istriku, anak kita pernah bercerita, bahwa sewaktu ikut prgram AFS di Jepang di Provinsi Shizuoka. Keluarga di sana sebelum makan selalu berdoa, mohon maaf kepada hewan yang telah kehilangan nyawa, yang sebentar lagi akan masuk perutnya. Semua makanan kita merupakan persembahan dari Bumi. Sebelum makan, sudahkah sepatah dua patah kata doa keluar sebagai ungkapan syukur kepada kepada Bunda Pertiwi. Banyak nyawa yang telah melayang demi perpanjangan kehidupan kita ini.…. Hazrat Inayat Khan, memahami bahwa kematianpun, tidak alami. Sudah 6.000 ekor ayam masuk dalam perut ini. Sudah 20 ekor sapi yang dikunyah, sudah 30 kg ikan dilewatkan kerongkongan, sudah 4 kg udang mengalir dalam pembuluh arteri. Sudah sewajarnya, virus mereka menyerang tubuh sebagai hukum aksi-reaksi….. Menghilangkan nyawa saja belum meminta maaf, apalagi mengorbankan nyawa sendiri. Pengorbanan Sang Bodhisattva mengusik hati nurani. Manusia tidak mau melakukan pengorbanan karena masih punya banyak keinginan. Diri manusia dipenuhi berbagai keinginan. Tidak seperti Sang Bodhisattva yang hanya berisi kekosongan.…… Pikiran yang jernih, hati yang bersih memang kosong nampaknya. Ia yang bijak nampaknya tidak punya ambisi mengejar apa pun juga. Kelihatannya kosong, tetapi merekalah yang telah berhasil mengubah sejarah manusia. Nampaknya bodoh, nampaknya kosong tetapi merekalah yang memiliki jiwa. Merekalah yang berisi dan kita-kita inilah yang masih kosong jiwanya. Itu sebabnya kita mengejar kedudukan, mengejar ketenaran, mengejar dunia materi, mengejar harta-benda. Karena kita masih kosong, kita masih belum memiliki sesuatu yang bermakna. Seorang Bodhisattva tidak sedang mengejar sesuatu apa. Mereka sudah puas dengan apa yang mereka miliki. Nyawa pun dipakai berbagi. Mereka tidak kosong, mereka berisi. Baca lebih lanjut

Iklan