Renungan Kisah Tentang Kesabaran Kerbau Perkasa Pada Relief Candi Borobudur

“Ishq Allah, Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi & Lahirnya Cinta Ilahi”, karya Bapak Anand Krishna sangat mempengaruhi pandangan hidup sepasang suami istri setengah baya. Mereka kini sedang membicarakan Kisah Kesabaran Kerbau Perkasa dan Keusilan Monyet pada cerita Jataka. Pada relief dinding candi Borobudur terpahat kisahnya. Sebagai referensi pembicaraan, mereka menggunakan buku “Ishq Allah” dan buku-buku Bapak Anand Krishna lainnya.

Sang Istri: Konon Bodhisattva pernah hidup sebagai seekor kerbau perkasa yang sangat lembut hatinya. Sangat terkenal kesabaran dan kebijaksanaannya. Sang Kerbau sering diganggu seekor monyet usil yang suka mempermainkan dirinya. Memperhatikan kesabaran Sang Kerbau, Sang Monyet selalu menggoda dan mempermainkan tanpa takut mendapat resiko akibat perbuatannya. Kadang-kadang Sang Monyet sengaja duduk didepan Sang Kerbau yang sedang memakan rumput, sehingga Sang Kerbau menghentikan kegiatan makannya. Kadang-kadang Sang Monyet menaiki kepala Sang Kerbau dan menarik-narik tanduknya. Kadang Sang Monyet menutup kedua mata Sang Kerbau dan kadang ekornya dipakai sebagai ayunan. Sang Kerbau hanya mengingatkan Sang Kera dengan penuh kesabaran….. Pada suatu hari seorang penghuni hutan mempertanyakan. Wahai Kerbau Perkasa, mengapa kau mendiamkan saja tindakan Sang Monyet yang keterlaluan. Dengan salah satu kakimu atau dengan kedua tandukmu, monyet usil tersebut dengan mudah dapat kau lemparkan. Sang Kerbau menjawab, baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Mungkin agak sulit memahamiku. Wahai Monyet tolong perhatikan juga perkataanku. Kelembutan dan tidak suka kekerasan adalah sifatku. Bahwa monyet menggodaku itu adalah akibat dari perbuatanku di masa lalu. Aku menerima dengan penuh kesadaran apapun yang menimpa hidupku…… Mungkin kalian menganggap tindakan sabarku sudah  keterlaluan. Tetapi aku menjunjung tinggi suara Kebenaran. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku yakin tindakanku benar, bukan hanya semata dalih pikiran. Setiap saat, diriku melakukan pembersihan. Setiap kekotoran yang terbuang diganti oleh sifat keilahian. Maka petunjuk Ilahi lah yang selalu mendatangi, bukan solusi yang berasal dari pikiran….. Setiap makhluk mempunyai “jalan”. Walau hanya ada satu tujuan yaitu Kebenaran. Jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Di mana kita bisa bergandengan dengan siapa saja. Jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran merupakan jalan pribadi. Jalan menuju kebenaran begitu sempit, sehingga harus melewatinya seorang diri. Setiap orang berbeda jalannya. Karena pengalaman hidupnya juga tidak sama…… Wahai Monyet, saat ini sudah waktunya kau memperbaiki tingkah lakumu. Cobalah merenung, apakah kau senang tindakan demikian diperlakukan kepadamu? Seandainya kau dipermainkan, sedangkan kau mempunyai kekuatan untuk melawan, apakah kau akan membiarkan diganggu? Bila tidak senang diperlakukan dengan cara demikian, maka jangan melakukan hal yang demikian. Kalau tindakan suka mempermainkan sudah menjadi kebiasaan. Suatu saat kepada hewan yang temperamen kau akan mempermainkan. Dan kau akan babak belur dijadikan bulan-bulanan. Wahai Monyet engkau tahu tempat tinggalku, kalau tidak di hutan aku berada di pemukiman. Apabila kau merasa membutuhkanku, dan mau menemuiku silakan….. Sang penghuni hutan berterima kasih mendengar penjelasan Sang Kerbau, dia telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Sang Monyet turun dari punggung Sang Kerbau, minta maaf atas perbuatannya dan berjanji tak akan mengulanginya. Kata-kata Sang Kerbau yang bijaksana telah menyadarkannya….. Akan tetapi hukum sebab akibat tak akan selesai dengan pemintaan maaf saja. Setelah beberapa bulan, Sang Monyet lupa janjinya dan hasratnya menggelora ingin mengulang kebiasaannya. Seekor kerbau liar datang dan berdiri di tempat yang sama. Sang Monyet digerakkan kebiasaan lama yang masih selalu menggoda. Dia ketagihan untuk mempermainkan Sang Kerbau seperti kebiasaan lamanya. Sang Kerbau Liar marah dan segera melemparkannya, dan menanduk bagian perutnya. Sang monyet lari dalam keadaan luka-luka. Dia sekarang mencari Sang Kerbau Perkasa kemana-mana. Dia ingin Sang Kerbau Perkasa menjadi pemandu kehidupannya.

Sang Suami: Sang Kerbau Perkasa menjadikan sabar sebagai salah satu sifatnya……. Sabar bukanlah “one time shot”, sabar adalah “a life time affair”, demikian petikan dari buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia”. Bila kepala tasbih dianggap mewakili sifat Allah, Yang Maha Kuasa. Sifat Utama Maha Pengasih adalah butir pertama. Sedangkan Maha Sabar adalah butir terakhirnya. Berawal dari-Nya, berakhir pada-Nya. Kasih mengantar kita ke dunia. Sabar mengajak kita balik pada-Nya. Sesungguhnya Sabar itulah Tuhan. Bila ingin Berketuhanan, janganlah membalas kekerasan dengan kekerasan. Kita perlu bersabar, karena kesabaran adalah kunci kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesabaran dan kebijaksanaan. Baca lebih lanjut

Iklan