Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana


Sepasang suami istri ingat akan salah satu cerita pada relief Candi Borobudur tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana. Mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna. Di antaranya “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia” dan “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”.

Sang Istri: Tersebutlah tentang ratusan angsa yang tinggal di atas telaga yang berada di gunung yang sulit didatangi manusia. Angsa-angsa tersebut putih bersih bulunya dengan kuning keemasan warna kakinya. Kala mereka terbang bersama, seperti kapas yang sedang terbawa angin saja nampaknya. Kelompok angsa tersebut dipimpin oleh raja angsa yang dibantu wakilnya. Kedua pemimpin angsa tersebut luar biasa indah penampilannya. Mereka mempunyai bulu emas bercahaya di seluruh tubuhnya. Mereka bisa berkomunikasi dengan berbagai bahasa hewan, sehingga di mana pun mereka berada semua hewan menunjukkan penghormatannya. Hanya beberapa orang yang tersesat jalan kebetulan menemukan telaga dan berkesempatan melihat keindahan kedua pemimpin angsa…… Bagaimana pun berita tentang keindahan dan kebijaksanaan kedua angsa menyebar ke seluruh pelosok negeri dan terdengar sampai di istana. Sang Raja berhasrat menangkapnya dengan segala cara. Perjuangan Sang Raja sangatlah luar biasa, dia sengaja membangun sebuah telaga besar yang sangat indah di pinggir kota. Berbagai ikan dikembang-biakkan di sana. Berbagai macam bunga teratai menambah kecantikan telaga. Pada malam hari telaga tersebut nampak bagai cermin raksasa, tempat memandang bulan dan bintang pada permukaan airnya. Para hewan mulai berdatangan ke  telaga baru bikinan Sang Raja. Beberapa gajah sering datang untuk mandi dan bermain air di sana. Sedangkan para rusa sering merumput di dekatnya. Sebuah telaga baru yang keindahannya sulit diungkapkan kata-kata……. Pada suatu hari, sekelompok angsa terbang di atas telaga dan melihat telaga baru yang mempesona. Mereka turun, bermain air dan bersantai melepaskan lelahnya. Kemudian mereka kembali ke atas gunung dan menceritakan kepada teman-temannya tentang telaga baru di pinggir kota. Masyarakat angsa mohon kepada Sang Raja Angsa dan wakilnya untuk bersama-sama pindah ke telaga baru di pinggir kota. Konon telaga baru tersebut lebih hangat dan lebih nyaman daripada tempat tinggal mereka…… Kedua pemimpin angsa menolak permintaan untuk tinggal di dekat pemukiman manusia. Burung-burung dan hewan mempunyai kebiasaan  hidup bebas dan bisa mengekpresikan perasaannya selaras dengan alam semesta. Tetapi manusia ingin memelihara burung dalam sangkar demi kesenangan mereka. Manusia merasa burung berbahagia dalam kurungan yang indah asal telah dicukupi makan dan minumnya. Manusia belum halus rasanya, belum pernah merasakan kebebasan dari pola pikiran lama yang telah membelenggunya. Hal tersebut membuat manusia tidak peka akan belenggu sangkar yang membuat burung kehilangan kebebasannya. Manusia sendiri tidak suka dikekang dalam rumah indah mereka. Dia sering keluar bepergian juga, namun mereka memelihara burung dalam sangkar di rumah mereka. Betapa tidak pekanya manusia…… Bagaimana pun para angsa tetap memohon, sehingga Sang Raja Angsa dan wakilnya akhirnya mengabulkan. Sang Raja berpesan agar selama berada di telaga baru di pinggir kota tetap menjaga kewaspadaan…… Mendengar kedatangan kedua angsa emas di telaga, Sang raja meminta seorang pemburu ulung untuk memasang jebakan. Saat Sang Raja Angsa sadar bahwa dia baru saja terperangkap dalam jebakan, Sang Raja Angsa berteriak kepada seluruh angsa, agar telaga baru segera ditinggalkan. Seluruh angsa segera mematuhinya dan meninggalkan telaga yang dipenuhi jebakan. Akan tetapi Sang Wakil Raja Angsa yang tidak terperangkap, tetap tinggal di sana menemani Sang Raja. Sang Raja memerintahkan wakilnya untuk segera pergi, menemani para angsa untuk terbang menjauhinya. Tetapi Sang Wakil Raja Angsa tidak mematuhinya, dia tetap setia menemaninya. Kala Sang Pemburu Ulung datang, Sang Wakil Raja Angsa berkata bahwa para manusia sulit membedakan antara Sang Raja Angsa dengan dia. Sang Wakil mohon agar Sang Raja Angsa dibebaskan dan dia ditangkap sebagai penggantinya. Sang Pemburu terkesima mendengar pernyataan Sang Wakil Raja Angsa. Dia mendapatkan pelajaran berharga, bahwa ada karakter angsa yang patut diteladani manusia karena kesetiaannya. Sang Pemburu Ulung lama merenung, dia belum pernah menemukan manusia yang kesetiaannya seperti Sang Wakil Raja Angsa. Kemudian, Sang Pemburu bahkan melepas Sang Raja Angsa menghormati kebijakan mereka. Akan tetapi kedua angsa tidak mau pergi juga, mereka tahu Sang Pemburu akan dihukum berat oleh Sang Raja karena telah melepaskan angsa buruan Sang Raja. Mereka segera hinggap di kedua pundaknya dan menemani Sang Pemburu menghadap Sang Raja….. Mendengar laporan Sang Pemburu, Sang Raja membungkukkan kepala kepada kedua angsa yang bijaksana. Belum ada satu pun penasehat raja yang membabarkan dharma kebenaran begitu jelasnya. Kemudian Sang Raja Angsa diminta menyampaikan dharma tentang kesetiaan, tanggung jawab dan kebebasan. Setelah selesai bila ingin pergi dipersilakan. Sang Raja tidak lagi akan memasang jebakan hewan. Bila ada waktu diharap Sang Raja Angsa datang ke istana dan menyampaikan dharma kebenaran…… Konon setelah beberapa kali kehidupan, Sang Raja Angsa lahir sebagai Sang Buddha dan Sang Wakil Raja Angsa lahir sebagai murid Sang Buddha yang bernama Ananda.

Sang Suami: Para angsa masih terikat dengan kenyamanan dan melupakan kebebasan kehidupan di telaga lama. Sang Raja Angsa telah mengingatkan bahwa banyak manusia yang belum memahami kebebasan…… Kebanyakan manusia terikat dengan rasa kepemilikan, keangkuhan, keserakahan, kebodohan, ketaksadaran, kebencian. Mereka belum terbebaskan dari perbudakan pada panca indera. Manusia belum bisa membebaskan diri dari keinginan akan kenyamanan dan kenikmatan jasmaninya. Sebetulnya keterikatan telah menjatuhkan derajat manusia, menjadi budak dunia. Manusia suka memelihara burung dalam sangkar karena dia belum peka. Manusia merasa lebih tinggi derajatnya daripada hewan, bahkan mereka pun tidak merasa setara dengan sesama manusia….. Jiwa-jiwa yang beribadah kepada Yang Maha Tinggi, akan seketika menyadari kerendahannya dan kesetaraanya dengan jiwa-jiwa lain, dengan sesama manusia! Bila kita menganggap diri beragama dan rajin beribadah, namun tidak merasakan kesetaraan macam itu, maka masih dangkal ibadah kita. Bila kita masih menciptakan “class” antar manusia, maka jiwa kita belum beribadah, belum beragama. “Class” atau derajat rendah-tinggi, ketidaksetaraan itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Raksasa karena kepala mereka masih tegak, mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa. Sekali bersujud di hadapan-Nya, diri kita menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah atau tidak setara dari diri kita. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhan kita tidak ikut menunduk juga? Kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa  Bali “Banjar” tidak dapat dipaksa. Kesetaraan lahir dari kesadaran, kesadaran kita sendiri, kesadaran manusia, kesadaran akan kemanusiaan kita. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang kita warisi bersama. Kemanusiaan yang saleh, beradab, yang menerima makhluk-makhluk lain sebagai saudaranya yang setara. Termasuk bebatuan dan pepohonan, sungai-sungai dan lingkungan dan lainnya. Sehingga kita tidak akan menggunakan kekerasan terhadap siapa pun jua. Demikian petikan dari buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”.

Sang Isteri: Kedua angsa berani dan tidak takut menghadapi resiko masuk istana menghadap seorang raja dunia…… Gusti Yesus, Kanjeng Nabi Musa, Baginda Nabi dan lain-lainnya tidak membutuhkan massa. Mereka berdiri sendiri di tengah keramaian, berani tampil berbeda. Beranikah kita  menemani Mereka?……… Dalam buku “Maranatha” disebutkan bahwa untuk menemani seorang (Gusti) Yesus, syaratnya hanya satu – Keberanian. Ironisnya, keberanian tidak dapat dibeli, bahkan tidak dapat diupayakan. Yang “berupaya” untuk menjadi berani justru tidak pernah berhasil, yang dapat kita upayakan hanyalah “pembersihan”. Pembersihan cawan diri. Bersih luar diri dan dalam diri. Lalu cawan diri yang bersih itu “menjadi” berani! Sesungguhnya “keberanian” adalah sifat dasar kita yang sejati. Sifat dasar yang tertutup oleh kotoran pikiran, perasaan, macam-macam keinginan serta ingatan. Kita perlu membersihkan diri dari kotoran dan saat itu juga muncul kembali keberanian……….

Sang Suami: Sang Raja mendengarkan dengan cermat laporan Sang Pemburu dan tidak ada sedikit pun rasa keangkuhan dalam dirinya, bahwa dia lebih bijak daripada Sang Pemburu bawahannya. Sang Raja juga ingin dekat dengan Sang Raja Angsa untuk belajar kepadanya…… Bersahabatlah dengan Para Bijak, kalimat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang “sedang menjalani” pelatihan rohani, bukan bagi mereka yang merasa “sudah selesai menjalani”nya. Bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan nasehat para bijak bagi dirinya. Kalimat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang mau belajar dan siap menundukkan kepala. Kita akan terpengaruh oleh orang-orang yang berinteraksi dalam pergaulan kita. Karena itu mudah dimengerti: Bergaullah dengan para bijak, bersahabatlah dengan mereka, supaya kita sendiri nanti bisa menjadi bijak juga. Berbahagialah bila bertemu dengan seorang bijak yang sudi memberi nasehat, janganlah kita membantahnya. Bagaimana kita tahu bahwa dia seorang bijak?, tanya seorang teman. Gampang. Pertama : Nasihatnya selalu membebaskan, meluaskan, tidak membelenggu, tidak menyempitkan. Kedua : dia selalu bertindak tanpa pamrih, tanpa “memikirkan” keuntungan bagi diri pribadinya. Seorang bijak tidak pernah membuat peraturan untuk membatasi gerak-gerak kita. Ia berupaya untuk menyadarkan diri kita supaya kita membatasi sendiri gerak-gerik kita, bahkan meninggalkan segala kebebasan yang tidak menunjang kesadaran kita. Demikian diuraikan dalam buku “Five Steps to Awareness 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Juli, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana

  1. Renungan yang indah di pagi hari. Sebenarnya kebebasan adalah keinginan setiap manusia,dan mungkin setiap makhluk.
  2. Fearless—> tanpa rasa takut mungkin lebih tepat ketimbang keberanian. Tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran demi kebaikan orang yang diajak bicara lebih bernilai ketimbang melakukan hal yang belum pernah dialami.
  3. Seorang Master yang sudah mengalami akan dengan penuh kasih dan empati menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka yang belum mengalami. Sayang kebanyakan orang menutup telinga karena sudah mendengar yang lain yang lebih mudah dilakoni dan jelas jaminannya. Pada hal yang berkata bahwa ada jaminan juga belum pernah mengalami. Sama saja, si buta menasehati si buta.
  4. Semoga kita selalu mewaspadai jalan yang sedang kita tempuh.
  5. Setiap manusia dilahirkan sederajat hanya orang yang punya sifat detya, asura atau raksasa yang merasa derajatnya lebih tinggi.
  6. Bagaimana menyikapi orang yang selalu berkata-kata bijaksana,dan kesempatan yang lain perilakunya sangat tidak bermoral. Cendurung menyalahkan orang lain dan orang itu pintar mengatur isi hati, dan pintar mengatur perilakunya sehari-hari.
  7. Bergaul dengan para bijak akan sangat membantu kita untuk peningkatan kesadaran diri kita sendiri, sekaligus membuat kita lebih mudah utk meniti ke dalam diri sambil terus menerus membuka diri untuk siap menerima informasi apapun dari mereka tanpa menilai maupun menghakimi; selain itu, selalulah menjadi pengamat yang tulus, jujur dan bersungguh-sungguh.
  8. Bergaul dan belajarlah dengan orang bijak, agar kita bisa menimba ilmu dan belajar menjdi bijak.
  9. Menurut yang saya pahami, raja angsa dari danau di puncak bukit(kesadaran yang tinggi).. turun pada danau buatan di bawah gunung(kesadaran rendah).  Orang bijak(raja angsa) akan bicara sesuai dgn kesadaran orang, nya dalam hal ini menurunkan kesadarannya. sehingga muridnya bisa naik kelas, begitu pula sang raja dan pemburu jadi meningkat kesadarannya dengan perjumpaan ini.
  10. Selama orang berada pada lapisan kesadaran Fisik, maka dia merasa berbeda. Dia masih asura, masih keras dan kasar. Lapisan kesadaran semakin halus, lapisan kesadaran energi, mental-emosional, intelegensia sampai akhirnya lapisan kesadaran murni di mana semuanya sama.
  11. Mereka yang munafik, yang lain di kata lain di perbuatan, tetap akan menerima hukum sebab-akibat. Semua baik yang berupa pikiran, ucapan dan tindakan adalah merupakan benih yang telah ditanam, yang akan tumbuh dan akan panen pada suatu saat. Mereka yang paham hukum alam akan selalu sadar perbuatannya.
  12. Pilah dan pilih, mungkin itulah yang banyak kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini.
  13. Bijaksana… Salah satu untaian asmaul husna.
  14. Bagi kami pribadi, kami hanya ingin mendamaikan diri pribadi, ternyata panduan buku-buku dan program Bapak Anand Krishna membuat hidup terasa bermakna. Orang lain bisa berbeda selera. Kemudian kami hanya mencoba share apa yang kami terima. Urusan di luar tidak mengganggu hidup kami yang mulai bermakna. Kami sangat prihatin akan kondisi bangsa. Semoga semakain banyak anak bangsa yang sadar.
  15. Untuk menciptakan kerukunan antar agama dan antara agama-agama – adalah suatu kemestian bahwa semuanya haruslah berbasis budaya, berlandaskan budaya. Agama yang menolak budaya, pemeluknya yang menghujat budaya – menjadi racun bagi kerukunan bangsa. Jauh sebelum Bung Karno, Mpu Tantular memahami hal ini. Lewat … Lihat Selengkapnyamahakaryanya berjudul Sutasoma, la menasihati kita untuk tetap konsisten pada nilai dasar “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”….. Walau Nampak Berbeda, Kebenaran Satu Ada-Nya. Tiada Dualitas dalam Kebajikan. Apa yang diberikan oleh Sang Mpu bukanlah sekedar slogan – tetapi sebuah pedoman hidup. Pedoman untuk bernegara dan berbangsa. Pedoman untuk menjaga kerukunan antar agama, dan antara agama-agama. Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Cerita pada relief Borobudur dapat menampung kepercayaan apa saja.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Iklan

2 Tanggapan

  1. Terima kasih, sy sgt gemar dgn kisah2 yg berbau edukasi termsk crta pd relief borobudur temple. Ini semua saling melengkapi semua penganut agama, pemimpin dan manusia ut. Mengarah pd hokmah/hikmat yg perfect ut. Tiba pd kesadaran diri yg sesungguhx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: