Renungan Kisah Tentang Kera Perkasa dan Pemburu Yang Mengkhianatinya Pada Relief Candi di Borobudur

Sepasang suami istri setengah baya sedang berbincang-bincang ringan di rumahnya. Mereka membicarakan Kisah Kera Perkasa dan seorang pemburu yang mengkhianatinya. Pada Relief Candi Borobudur terpahat kisahnya. Mereka mendiskusikan dengan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna. “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” adalah dua buah buku di antaranya.

Sang Istri: Kala mencari hewan buruan di hutan, seorang pemburu tersesat jalan. Dia beristirahat di bawah pohon dalam keadaan kelaparan, kehausan dan kecapekan. Tiba-tiba dia melihat di depannya ada pohon buah-buahan. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya dia memanjat pohon tersebut berusaha memetik buah-buahan. Di dahan kecil buah-buahan tersebut berada. Saat akan mengambil buah-buahan, dahan tersebut tak kuat menahan tubuhnya. Sang Pemburu jatuh ke dalam lubang yang berada di bawahnya. Sang Pemburu sudah putus asa, rasanya dia akan mati di sana. Beberapa kali dia berteriak, akan tetapi yang menjawab hanya gaung teriakannya saja……. Seekor kera perkasa datang dan bertanya, Sang Pemburu sampai jatuh ke dalam lubang apa sebabnya. Mendengar penjelasan Sang Pemburu, Sang Kera Perkasa tersentuh hatinya. Ditolongnya Sang Pemburu keluar dari lubang dan dibawa keluar hutan dengan cara dipanggulnya. Sang Pemburu berterima kasih telah diselamatkan nyawanya bahkan untuk sampai jalan keluarnya dia pun dipanggul Sang Kera Perkasa. Tinggal sedikit saja keluar hutan, Sang Kera Perkasa kecapekan. Dia ingin tidur sebentar memulihkan kekuatan. Setelah memanggul Sang Pemburu setengah harian……… Sang Pemburu berpikir, tepi hutan sudah di depan mata. Rasa lapar tidak terkira. Pikiran memang maunya menang sendiri saja. Kepentingan pribadi menjadi panglima. Orang lain? Emangnya gua pikirin? Melihat kera perkasa ketiduran, seakan dia melihat sebuah binatang buruan. Mengapa Sang Kera tidak dibunuh saat ketiduran? Bila sudah bangun tak mungkin dia sanggup melawan. Sang Pemburu membawa batu api dan daging kera dapat dipanggang sebagai obat laparnya. Dan sebagian dapat dibawa pulang untuk persediaan makanannya. Diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkannya kepada Sang Kera Perkasa. Entah apa yang terjadi Sang Kera Perkasa memalingkan wajahnya. Sehingga batu besar hanya melukai telinganya. Sang Kera Perkasa terbangun dan segera sadar apa telah yang terjadi. Rasa luka di telinganya dia tidak ambil peduli, tetapi ada rasa sesal mengapa ada orang yang tidak tahu membalas budi. Mengapa Sang Pemburu yang hampir mati dan baru saja ditolongnya sudah menjadi serakah tak terkendali. Dia segera memanggul sang gembala ke luar hutan, meletakkan di jalan dan kemudian masuk kembali ke hutan……. Setahun kemudian, seorang raja berburu ke hutan. Di tengah hutan bertemu manusia yang dalam keadaan sekarat dengan tubuh tidak terawat dalam keadaan sangat mengenaskan. Sang manusia menceritakan kisahnya bahwa dia pernah ditolong kera tetapi kera tersebut hampir saja dibunuhnya. Sang kera selamat hanya terluka telinganya. Sang Kera tetap menolongnya ke luar hutan dan kemudian menghilang dengan segera. Selanjutnya dia bercerita, tak lama kemudian di mendapat sakit kusta dan dia diusir dari masyarakat. Dia menyesal telah berbuat jahat. Kemudian dia hidup terlunta-lunta. Dia diberitahu orang bahwa Sang Kera Perkasa adalah seorang Bodhisattva. Dengan terbata-bata sang penderita kusta memberi nasehat, jangan sampai keserakahan menutupi nurani manusia. Setelah berkata demikian dia menghembuskan nafasnya…….

Sang Suami: Sang Kera Perkasa, tertegun sebentar kemudian melanjutkan tindakan menolong Sang Pemburu keluar hutan. Dia tidak menyesali telah berbuat kebaikan walau dibalas dengan kejahatan…. Dharma atau kebajikan adalah ketepatan bertindak, juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan nista….. Kebaikan adalah sifat sejati Sang Kera Perkasa, dia tidak akan terpengaruh oleh peristiwa apa pun yang terjadi pada dirinya. Apa pun yang terjadi akan dia terima, karena itu adalah akibat tindakan dia di masa lalu juga. Tindakan Sang Pemburu pun tak perlu dibalasnya, akan ada hukum sebab-akibat yang menyelesaikannya. Sang Kera Perkasa paham yang terluka adalah tubuhnya dan yang sakit adalah hatinya. Jatidirinya bukanlah tubuh, bukanlah pikiran, bukanlah perasaan, tetapi adalah Dia yang bersemayam dalam tubuhnya, dalam pikirannya dalam perasaannya. Sang Pemburu merasa bahwa dirinya adalah pikirannya, sehingga di tunduk pada pikirannya dan telah melakukan tindakan tercela yang tidak selaras dengan alam semesta…….. Banyak jalan menuju “Jalan Raya”. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua jalan: Jalan Pengetahuan dan Jalan Pengabdian. Demikian diuraikan dalam buku “Bodhidharma”. Baca lebih lanjut

Iklan