Berbagai Tingkatan Cinta Bagian ke 3, Tamat

http://www.facebook.com/?sk=messages#!/notes/vincent-wiryakusuma/berbagai-tingkatan-cinta-bagian-ke-3-tamat/426508427270

oleh Vincent Wiryakusuma pada 29 Agustus 2010 jam 19:03.

Pada Bagian ke 2, telah diuraikan tingkatan cinta dari V sampai ke VII

VIII. Cinta universal yang tidak mementingkan diri sendiri (Universal Selfless Love)

 

 Tingkat berikutnya adalah memperluas perasaan kita akan cinta tanpa syarat dan menerima lebih banyak atau lebih luas lagi lingkungan manusia dan akhirnya menerima seluruh mahluk ciptaan – termasuk hewan, tanaman dan serangga. Cinta pada tingkatan ini, bagaimanapun masih ditujukan kepada bentuk. Kita masih terfokus kepada bentuk-bentuk sementara yang dipakai oleh kehidupan yang ada; jadi kita merasakan suatu kesedihan ketika mereka mengalami penderitaan atau ketidakbahagiaan, atau ketika kita kehilangan mereka.

Kita merasakan mereka sebagai suatu realitas. Kita merasakan cinta dan penerimaan untuk mahluk tersebut, tetapi kita masih hidup didalam ilusi bahwa bentuk itu merupakan realitas.

Kita lupa bahwa dibalik bentuk itu sesungguhnya ada kesadaran yang penuh dengan kedamaian yang tidak pernah mati, yang mana hanya sementara saja memproyeksikan dirinya di planet bumi ini. Kesadaran Universal tidak pernah ada rasa sakit, tidak pernah menderita, tidak pernah merasa tidak bahagia dan tidak pernah dapat mati. Kesadaran semacam ini merupakan realitas yang utama dari seluruh mahluk atau segala kehidupan yang kita cintai.

Orang-orang yang mengalami universal selfless love sering memilih karir atau gaya hidup yang mengijinkan mereka untuk bisa melayani secara menyeluruh dengan cara yang sama. Mereka mungkin bergabung dengan kelompok-kelompok pelayanan seperti Korps Perdamaian atau organisasi pelayanan sukarela. Mereka merasakan sebuah kebutuhan untuk mengekspresikan bahwa cinta melalui tindakanlah yang akan meningkatkan kualitas hidup dari siapapun di sekitar mereka, terutama sekali bagi mereka-mereka yang sedang menderita, kesepian dan tidak berbahagia.

Kepentingan mereka menjangkau diluar batasan-batasan diri mereka dan keluarga terdekat mereka. Mereka mulai menyadari bahwa seluruh mahluk adalah saudara mereka di dalam satu keluarga spiritual dari seluruh umat manusia. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran diri mereka, mereka bahkan merasakan bahwa seluruh hewan, tanaman, dan serangga adalah “keluarga mereka” . Mereka mencari untuk mengekspresikan cinta ini melalui tindakan-tindakan berupa pelayanan dan perhatian. Baca lebih lanjut

Iklan

Berbagai Tingkatan Cinta Bagian ke 2

http://www.facebook.com/wiryakusuma?ref=ts#!/note.php?note_id=425805517270

oleh Vincent Wiryakusuma pada 29 Agustus 2010 jam 19:08.

Pada Bagian ke 1, telah dijelaskan berbagai Tingkatan Cinta dari I sampai IV.

V. Cinta, Kesenangan atau afirmasi/penegasan?

 

 Membutuhkan orang lain untuk kesenangan

Marilah kita menguji bagimana kebutuhan-kebutuhan kita akan kesenangan dan penegasan dapat membatasi dan mendistorsi pengalaman kita akan cinta.

Kita menciptakan hubungan/persahabatan yang memberikan kita kesenangan dan penegasan, termasuk rasa aman. Kita mungkin bergantung kepada orang lain untuk: uang, pemondokan, seks, melancong/plesiran, pakaian, dorongan, dukungan, pujian, humor, makanan yang enak, sebuah rumah yang bersih, rasa nyaman, atau bahkan kecantikan.

Tetapi, jika ia berhenti memberikan hal-hal seperti diatas kepada kita, atau memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain, apakah kita tetap melanjutkan mencintai orang tersebut ataukah kita merasa terlukai, kecewa, dan mengatasinya dengan rasa tidak adil, rasa marah dan mungkin dendam?

Kondisi semacam ini adalah “Aku mencintaimu selama kamu memberiku kesenangan, kebahagiaan atau kegembiraan. Jika kamu berhenti melakukannya, perasaanku berubah.” Inilah yang disebut cinta dengan syarat.

VI. Memerlukan orang lain untuk penegasan/afirmasi

 

Kita juga bisa bergantung kepada orang lain untuk penegasan. Ini bisa berupa macam-macam bentuk. 

 VI.1. Kita merasa diberikan penegasan ketika orang lain menurut kepada kita. “Kamu dengarkan saya dan lakukan apa yang saya katakan. Saya dapat mengontrol kamu. Itu membuat saya merasa berkuasa dan berharga. Jika, bilamana, kamu berhenti melakukan apapun seperti yang saya katakan, saya akan berhenti mencintaimu maupun menyatu dengan mu.” Ini menjadi sebuah masalah untuk para orang tua ketika anak-anak mereka mulai beranjak ke usia remaja. Ini bisa juga terjadi diantara pasangan hidup. Di banyak negara, seorang istri bisa saja ditekan pada awalnya, sehingga sang suami merasa berkuasa dan mendapatkan penegasan. Jika, ketika si istri mulai berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri, sang suami mulai panik dan dapat menjadi marah serta terkadang menjadi agresif. Peranan ini mungkin bisa terbalik dimana si wanita mengontrol dan merasakan penegasan dari suaminya. Baca lebih lanjut

Berbagai Tingkatan Cinta Bagian ke 1

http://www.facebook.com/wiryakusuma?ref=ts#!/note.php?note_id=425793977270

oleh Vincent Wiryakusuma pada 29 Agustus 2010 jam 19:09.

Artikel ini aslinya dalam Bahasa Inggris dan saya pikir sangat bagus untuk kita pelajari serta renungkan:

 Berbagai Tingkatan Cinta (“The Stages of Love”)

 

oleh: Elias Najemy

 Apakah cinta itu?

 

  • Cinta adalah kebutuhan kita yang terbesar. Apakah itu merupakan keadaan pemenuhan kita yang tertinggi?
  • Apakah kita benar-benar cinta ataukah kita hanya melekat kepadanya, teridentifikasi dengan atau kepada orang yang kita “cintai”?
  • Apakah cinta kita bebas dan tanpa syarat, ataukah itu telah dipadukan dengan berbagai kebutuhan-kebutuhan, pengkondisian dan berbagai tuntutan?
  • Apakah itu cinta tanpa syarat? Mungkinkah itu bagi kita untuk mengolahnya?
  • Apakah bedanya antara cinta dan kemelekatan?
  • Bagaimana kita dapat menentukan apa yang kita rasakan itu cinta atau kemelekatan?
  • Bagaiman kita dapat memurnikan cinta kita dan mengarahkannya kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi?

Ini semua merupakan sebagian dari begitu banyaknya pertanyaan yang perlu kita jawab agar menciptakan kebahagiaan.

Mendefinisikan Cinta

 

Cinta sangatlah sulit untuk didefinisikan, mungkin karena realitas cinta ini mendekati dimensi spiritual, yang mana berada diluar waktu dan ruang, oleh karenanya, juga diluar pemahaman kita.

Cinta mungkin lebih mudah dijelaskan melalui apa-apa saja yang bukan cinta. Cinta bukan merupakan: ketakutan, luka, sakit, kecemburuan, kepahitan, benci, keterpisahan, nafsu, kemelekatan, keagresifan, keterpusatan ego, pengabaian/kelalaian, kepemilikan, penindasan – daftar ini bisa terus bertambah.

Cinta, seperti juga Sang Pencipta YME, kedamaian dan berbagai realitas spiritual lainnya, akan dapat dirasakan lebih mudah melalui berbagai akibat/efek yang ditimbulkannya. Kita tidak dapat melihat angin, tapi kita masih bisa melihat akibat yang ditimbulkan dari angin, seperti daun-daun yang bergerak, ranting dan cabang yang bergoyang-goyang, atau suara dari udara yang berdesir. Kita tahu bahwa angin itu ada dengan memperhatikan berbagai efek yang ditimbulkannya. Kita tahu ada Sang Pencipta karena kita merasakan akibatnya yaitu berupa – ciptaan itu sendiri. Baca lebih lanjut

Membantu Orang Lain, Renungan Ketujuh Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda

Sepasang suami istri setengah baya melanjutkan pembicaraan mereka tentang pandangan ketujuh dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Mereka tetap menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi mereka. Bagi mereka pandangan-pandangan Bapak Anand Krishna tentang kehidupan telah membuat hidup mereka menjadi lebih bermakna.

Sang Istri: Renungan ketujuh…….. Bantulah orang lain: Bila uang membantu seseorang untuk berbuat baik kepada orang lain, uang tersebut berharga. Apabila tidak, uang tersebut hanyalah kumpulan kejahatan, dan semakin cepat disingkirkan semakin baik.

Sang Suami: Istriku, kita telah membicarakan enam pandangan hidup Swami Vivekananda. Pertama, Kasih adalah Hukum Kehidupan. Kedua, adalah sikap mental kita sendiri yang membuat dunia seperti apa bagi kita. Ketiga, di balik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu ada hikmahnya. Keempat, semuanya tergantung pada rasa kita. Rasa yakin adalah kekuatan dan semangat hidup. Kelima, menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap manusia dan setiap makhluk. Keenam, jangan menyalahkan orang, apabila dapat mengulurkan tangan untuk membantu, lakukan…… Nampak jelas bahwa centerpointnya adalah diri. dalam membicarakan renungan ketujuh kita perlu membicarakan sekilas tentang jatidiri dahulu…..

Sang Istri: Benar suamiku, oleh karena itu ada baiknya kita membaca buku “Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern”. Dalam buku tersebut disampaikan bahwa…….. Centerpoint adalah Jatidirimu. Namun, untuk menemukannya, untuk mengenalinya, kau tetap harus berupaya. Upaya sederhana, tidak sulit. Untuk melihat dunia luar kau harus membuka mata fisik. Untuk menemukan sesuatu di dalam diri, kau harus membuka mata batin. Membuka mata batin juga tidak berarti melihat ke dalam melulu dan tidak lagi memperhatikan dunia luar, menutup diri terhadap dunia luar. Tidak bisa, bila mata batinmu terbuka, kau justru tidak dapat menutup diri terhadap dunia luar. Terbukanya mata batin membuatmu melihat dunia dengan persepsi yang berbeda. Kau tetap berkarya, tetap berumah-tangga, tetap menjalankan tugas kewajibanmu, tetapi dengan kesadaran yang berbeda. Kau akan berkarya tanpa pamrih, tanpa keterikatan pada hasil akhir. Kau akan menyerahkan urusan itu kepada Yang Maha Ada dan Maha Tahu. Biarlah Dia yang menentukan hasil, kau juga akan mencintai tanpa mengikat diri; bekerja tanpa menjadi budakpekerjaanmu; menjalani hidup dengan jiwa bebas, merdeka. Hidupmu, kemudian, menjadi sebuah perayaan yang tak pernah berakhir!………

Sang Suami: Istriku, untuk itu kita perlu membicarakan tentang, Kama – Artha – Dharma – Moksha. Dalam buku “Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern” disampaikan bahwa…… Banyak cara, banyak jalan untuk menemukan “pusat” di dalam diri, untuk menemukan Jati Diri. Namun, ada 4 Upaya Utama, setiap upaya mewakili satu sudut, satu sisi kehidupan. Kita menemukan Centerpoint dengan menarik garis silang antara sudut-sudut yang berseberangan, keempat Upaya Utama ini harus dipertemukan. Pertama adalah Kama atau Keinginan – Keinginan Kuat, Tunggal, untuk menemukan Jati Diri. Sementara ini, keinginan kita masih bercabang. Terdorong oleh hawa nafsu, kita dapat menginginkan apa saja. Pelan-pelan, tanpa memaksa, kita harus mengarahkan keinginan ini kepada diri sendiri. Dari sekian banyak keinginan-keinginan, kita menjadikannya satu keinginan, Keinginan untuk Menemukan Jati Diri…….. Kedua adalah Artha, biasa diterjemahkan sebagai Harta. Sesungguhnya Artha juga berarti “Makna” atau “Arti”. Temukan Makna Hidupmu! Adakah uang itu, harta itu yang memberi makna pada hidupmu? Bila ya, maka berhati-hatilah. Karena apa yang kau miliki saat ini tak mungkin kau miliki untuk selamanya. Jangankan uang, anggota keluarga pun pada suatu ketika akan meninggalkanmu, atau kau meninggalkan mereka. Bila kau terlalu percaya pada “kepemilikan”-mu, maka hidupmu bisa menjadi sangat tidak berarti ketika apa yang saat ini masih kau miliki, tidaklagi menjadi milikmu. Berusahalah untuk menemukan makna lain bagi hidupmu. Barangkali “Kebahagiaan”, rasa bahagia yang kau peroleh saat kau berbagi kebahagiaan. Tidak berarti kau tidak boleh mencari uang… Silakan mencari uang, silakan menabung, silakan menjadi kaya-raya, tetapi janganlah kau mempercayai harta kekayaanmu. Kau pasti kecewa. Apa yang kau miliki hari ini, belum tentu masih kau miliki besok pagi…….. Ketiga adalah Dharma, Kebajikan. Dalam bahasa sufi disebut Syariat – Pedoman Perilaku. Pedoman Perilaku berdasarkan kesadaran, itulah Dharma. Jangan berbuat baik hanya karena kau dijanjikan sebuah kapling di surga. Itu bukanlah kebajikan, itu perdagangan belaka. Jual beli. Berbuatlah baik karena kebaikan itu “baik”. Berbuatlah baik karena dirimu baik. Berbuatlah baik karena kau sadar. Seseorang yang berada pada Jalur Dharma tidak perlu dipaksa, tidak perlu diiming-imingi, juga tidak perlu diintimidasi, diteror atau dipaksa untuk berbuat baik. Ia akan selalu berusaha untuk berbuat baik karena sadar! Keempat adalah Moksha, Kebebasan Mutlak. Dan, Kebebasan Mutlak berarti “kebebasan dari”, freedom from sekaligus “kebebasan untuk”, freedom for. Kita bebas dari penjajahan, tetapi tidak bebas untuk berpendapat. Ada rambu-rambu yang perlu ditaati, diperhatikan dan tidak dilanggar. Kenapa ada rambu-rambu? Karena kita belum sadar. Kita belum cukup menggunakan “kebebasan untuk” sadar untuk dengan penuh tanggungjawab. Barangkali memang karena itu, atau barangkali ada pihak-pihak yang merasa akan dirugikan bila kita meraih “Kebebasan Untuk”…….. Baca lebih lanjut

Jangan Lempar Tanggung Jawab, Renungan Keenam Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan pandangan hidup keenam dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi mereka.

Sang Istri: Renungan keenam….. Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang: Apabila dapat mengulurkan tangan untuk membantu, lakukan. Apabila tidak dapat membantu, berilah restu dan biarkan mereka melakukan dengan cara mereka.

Sang Suami: Apabila dapat mengulurkan tangan untuk membantu, lakukan. Pengetahuan dan keahlian harus digunakan demi peningkatan kesadaran diri dan membantu serta melayani orang lain. Dalam buku “I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan bahwa……… Jangan membiarkan pengetahuan dan keahlian anda membusuk. Gunakan demi peningkatan kesadaran diri, juga untuk membantu dan melayani orang lain. Itulah rahasia keberhasilan! Hidup ini bagaikan lahan subur. Orang bijak tak pernah kelaparan, dan tak akan membiarkan orang lain kelaparan. Kau tak kekurangan sesuatu pun. Bahkan kau dapat membantu mereka yang kurang beruntung. Bekerjalah demi kesejahteraan diri dan masyarakat, dan kau  akan berhasil!……. Bagaimana pun dalam kelanjutannya, buku tersebut menyampaikan….. Sebelum membantu orang lain, bantulah diri anda terlebih dahulu. Apabila anda memiliki uang, gunakan uang itu untuk menyejahterakan diri anda, keluarga anda – baru masyarakat sekitar anda. Yang memiliki ilmu, dapat menggunakan ilmunya. Begitu pula dengan ia yang memiliki tenaga, kekuatan otot. la bisa menggunakan kekuatan ototnya…….

Sang Istri: Apabila dapat mengulurkan tangan untuk membantu, lakukan. Apabila tidak dapat membantu, berilah restu dan biarkan mereka melakukan dengan cara mereka……. Adalah tugas, kewajiban serta tanggungjawab kita untuk melayani sesama manusia. Akan tetapi membantu seseorang itu harus secara bijak. Adakalanya kita akan disalahpahami karena perbedaan pandangan yang dimiliki. Apalagi bila kita berupaya membantu menyadarkan seseorang. Dalam buku “Sexual Quotient” disampaikan bahwa……. Manusia selalu menemukan “jenis”-nya untuk berinteraksi, untuk berkumpul. Mereka hanya melakukan apa yang mereka anggap “terbaik”, paling berharga bagi mereka. …  Berbagilah kesadaran dengan mereka. Bila kau menemukan mereka dalam keadaan siap untuk menerima sesuatu yang lebih berharga darimu. Bila kesiapan untuk menerima sesuatu yang berharga itu belum ada, maka salami mereka dan sesegera mungkin tinggalkan mereka. Karena energi mereka juga dapat menyeretmu ke bawah, menyeretmu lagi ke tempat di mana energi seks, nafsu masih membara…….. Baca lebih lanjut

Bebas Dari Keterikatan, Renungan Kelima Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan 15 pandangan hidup dari Swami Vivekananda. Mereka kini membicarakan tentang pandangan hidup kelima. Sebagai referensi mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna. Mereka yakin spiritualitas itu bersifat universal adanya….

Sang Istri: Pandangan hidup kelima……..Bebaskan diri: Saat saya menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap tubuh manusia, saat saya menghormati setiap makhluk dan melihat Tuhan dalam diri mereka – pada saat tersebut saya bebas dari keterikatan, segala sesuatu yang menyebabkan keterikatan lenyap dan saya bebas.

Sang Suami: Swami Vivekananda menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap makhluk……. Tuhan meliputi segala sesuatu. Bukan saja makhluk hidup, tetapi juga bebatuan, pepohonan, lautan dan pegunungan. Segala sesuatu diliputi Dia. Kita semua berada di dalam-Nya. Bila seekor semut pun bisa berada di luar Tuhan, dia akan menjadi tandingan bagi Tuhan. Dia akan berdiri bersama Tuhan. Walau dia kerdil dan Tuhan tampak Jangkung, tetapi perbedaannya ya itu saja. Hal tersebut disampaikan dalam buku “Tantra Yoga”.

Sang Istri: Pandangan Swami Vivekananda sama dengan pandangan leluhur kita yang menghormati alam semesta. Dalam buku “Panca Aksara” disampaikan bahwa…….. Saatnya kita kembali kepada ajaran leluhur, kepada budaya asal Nusantara, kepada kearifan lokal, kebijakan nenek moyang. Saatnya kita menghormati dan menghargai alam, lingkungan. Hubungan dengan alam dan sesama makhluk hidup – bukanlah hubungan horizontal sebagaimana dicekokkan kepada kita selama bertahun-tahun. Pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana. Inilah kearifan lokal kita. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada dimana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita……… Saya menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap tubuh manusia, saya menghormati setiap makhluk dan melihat Tuhan dalam diri mereka.

Sang Suami: Pemahaman adanya hubungan vertikal dan hubungan horizontal serta bahwa hubungan vertikal lebih penting, sering membuat kita merusak lingkungan dan kemudian mohon ampun kepada Tuhan dengan dalih Tuhan Maha Pengampun. Swami Vivekananda yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu, semua makhluk hidup termasuk lingkungan. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra” disampaikan bahwa…….. Selama ini kita memisahkan manusia dari Tuhan. Hubungan antara manusia dan Tuhan disebut hubungan vertikal. Kemudian antar manusia disebut hubungan horizontal. Ya, tidak ketemu. Muncul anggapan yang sungguh tak masuk akal, “horizontal boleh amburadul, asalkan yang vertikal lurus dan berjalan mulus. Bukankah  Tuhan Maha Pengampun adanya? Dia akan mengampuni kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dalam hubungan horizontal?” Sang Master meniadakan garis vertikal dan horizontal. Dia mengajak kita untuk melihat Tuhan di mana-mana, dan melayani Tuhan yang ada di mana-mana. Lihatlah wajah-Nya di barat dan timur dan utara dan selatan. Rasakan kehadiran Tuhan di bumi dan di langit. Temukan kasih-Nya dalam diri manusia dan makhluk-makhluk lainnya dalam kehidupan sekitar Anda….. Dan tiba-tiba semua akan hidup. Jangankan pohon-pohon lebat, sungai dan gunung, tiang listrik yang berdiri tegak buatan manusia pun sedang memuliakan Nama-Nya. Semua sedang bergetar. Semua “hidup”. Energi dan materi bukanlah dua hal yang berbeda…… Saya menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap tubuh manusia, saya menghormati setiap makhluk dan melihat Tuhan dalam diri mereka. Baca lebih lanjut

Keyakinan, Renungan Keempat Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda

Sepasang suami istri setengah baya melanjutkan pembicaraan tentang 15 pandangan hidup dari Swami Vivekananda. Mereka sedang membicarakan tentang pandangan hidup keempat Sang Swami. Buku-buku Bapak Anand Krishna mereka gunakan sebagai referensi…….

Sang Istri: Pandangan hidup keempat………. Adalah tergantung pada rasa kita: Merasa seperti Kristus dan kita akan menjadi seorang Kristus; merasa seperti Buddha dan kita akan menjadi seorang Buddha. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai derajat keilahian. *Vivekananda.

Sang Suami: Istriku, Swami Vivekananda berbicara mengenai keyakinan diri dan aku ingat beberapa SMS Wisdom tentang Niat dan Keyakinan…….. Bila niatmu kuat dan keinginanmu untuk bekerja keras pun ada, maka ketahuilah bahwa tiada sesuatu yang dapat menghalangimu untuk mewujudkan impianmu…….. Jangan berandai-andai. Jangan melamun. Apa yang ada dalam khayalanmu itu bisa menjadi kenyataan. Percaya diri, keahlian dan kesiapsediaan untuk kerja keras. Trisakti itu yang kau butuhkan……… Bangkitkan semangatmu, tak ada yang dapat membangkitkannya untukmu……. Keyakinan adalah kepercayaan terhadap apa yang tak terlihat. Hasilnya melihat apa yang engkau percayai…….

Sang Istri: Kata lain dari yakin adalah percaya diri. Dalam buku “Neo Psychic Awareness” disampaikan bahwa…… Gunakan segala daya dan upaya untuk menumbuhkembangkan rasa percaya diri, “Yes, I can do it… I will do it!” ini jelas tidak sama dengan positive thinking, di mana kita “hanya berpikir” bahwa semuanya pasti beres. Rasa percaya diri bukanlah hasil positive thinking, tetapi hasil positive behavior, perilaku positif. Dan, perilaku menyangkut “laku”, bukan sekadar pikiran. Rasa percaya diri timbul dari “hati yang percaya”. Dan, hati yang percaya adalah hati yang kuat…….. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai tujuan.

Sang Suami: Benar isteriku, aku ingat buku “Mederi MedisMeditasi” yang menyampaikan bahwa…… Belakangan ini saya juga menemukan makna baru bagi “kepercayaan”. Hendaknya kepercayaan tidak dikaitkan dengan masa lalu. Bila saya percayai masa lalu saya, maka saya akan mempercayai penyakit leukemia yang pernah saya derita. Kepercayaan berarti percaya pada kemungkinan-kemungkinan tak terbatas yang dapat terjadi. Bila seorang ilmuwan hanya percaya pada written text, buku-buku teks dan pada penelitian serta kesimpulan yang pernah diambil, ia tak akan berkembang, tak akan memiliki gairah meneliti dan menemukan sesuatu yang baru. Kemudian, ia bukanlah seorang ilmuwan……. Demikian rasa yakin, demikianlah hidup, kekuatan, semangat hidup, dan tanpa yang demikian tidak ada tindakan yang memadai untuk dapat mencapai tujuan. Baca lebih lanjut