Renungan Tentang Pikiran Dan Kesadaran Dalam Kisah Sri Tanjung Pada Relief Candi Penataran


Sepasang suami istri setengah baya sedang mendiskusikan buku-buku karya Bapak Anand Krishna. Saat membaca Kisah Sri Tanjung yang terdapat pada relief Candi Penataran mereka mencoba memandang dengan kacamata berbeda. Buku-buku, “Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi”, “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern” dan “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” karya Bapak Anand Krishna dijadikan kacamata bagi mereka.

Sang Istri: Adalah seorang keturunan Pandawa yang bernama Pangeran Sidapaksa. Dia mengabdi kepada seorang raja bernama Prabu Sulakarma di Kerajaan Sindureja. Sang Prabu minta Pangeran Sidapaksa mencari obat kepada seorang Bhagawan yang tinggal di Desa Prangalas bernama Bhagawan Tambapetra. Obat tersebut ternyata berupa pengetahuan yang harus didapatkan sendiri oleh setiap manusia. Dalam perkembangannya, Sang Pangeran jatuh cinta kepada Sri Tanjung putri Sang Bhagawan yang cantik jelita. Akhirnya Pangeran Sidapaksa berhasil mempersuntingnya…….. Kecantikan Sri Tanjung didengar oleh Prabu Sulakarma dan Sang Prabu pun ingin memilikinya. Sang Prabu mencari akal untuk memisahkan Sri Tanjung dengan Pangeran Sidapaksa. Sang Prabu kemudian mengutus Pangeran Sidapaksa ke kahyangan menemui para dewa. Pangeran Sidakpaksa ke kahyangan mengantar surat Sang Prabu, yang isinya agar si pembawa surat ini dibunuh karena pernah menghina para dewa. Sang Pangeran yang tidak tahu apa-apa telah difitnah dan dihajar para dewa. Sang Pangeran melawan untuk mempertahankan nyawanya. Pada waktu Sang Pangeran kelelahan dan dia sudah putus harapan, tanpa sengaja dia mengucapkan kata Pandawa. Seolah sang Pangeran telah mengucapkan mantra yang berpengaruh dan para dewa menghentikan penyerangan serta bertanya apa hubungan Sang Pangeran dengan Pandawa. Mendengar dia mempunyai garis keturunan dengan Pandawa, maka para dewa tidak jadi membunuhnya, bahkan mengobati luka-lukanya…….. Saat Pangeran Sidapaksa pergi ke kahyangan, Prabu Sulakarma menggunakan segala cara untuk memiliki Sri Tanjung. Akan tetapi Sang Prabu gagal total dan pulang dalam keadaan bingung. Prabu Sulakarma membuat muslihat lagi dengan memberitahu Pangeran Sidapaksa yang kembali dari kahyangan bahwa istrinya telah berbuat selingkuh. Fitnah Sang Prabu ternyata cukup ampuh. Pangeran Sidapaksa kalap dan dalam puncak kemarahannya Sri Tanjung dibunuh. Sang Pangeran sangat berduka saat di akhir kehidupannya Sri Tanjung bersumpah bahwa dia tidak bersalah. Justru Sang Prabulah yang telah membuat ulah. Termasuk Sang Pangeran berusaha dibunuh para dewa di kahyangan, karena Sang Prabu telah menyebar fitnah…… Ruh Sri Tanjung menghadap Bathari Durga, Sang Penguasa Kejahatan dan oleh Sang Bathari dia dihidupkan lagi dan kembali ke Desa Prangalas……. Pangeran Sidapaksa menderita sakit syaraf dan hampir saja malakukan bunuh diri. Sang Pangeran ingat nasehat para leluhur agar jangan sampai bunuh diri. Sengaja menghilangkan nyawa sendiri tanpa kesadaran akan membuat lahir lagi sebagai orang yang hilang ingatan diri. Dalam kesedihannya Sang Pangeran bertapa dan akhirnya ditemui Bathari Durga. Sang Bathari menyuruhnya ke Desa Prangalas karena Sri Tanjung masih hidup di sana. Sri Tanjung rela kembali menjadi istri Sang Pangeran bila Sang Pangeran dapat memenggal kepala Prabu Sulakarma. Permintaan tersebut dapat dipenuhi bahkan kepala Sang Prabu dijadikan “keset”, pembersih kaki Sri Tanjung, Sang Istri. Akhirnya hidup berbahagialah mereka sebagai sepasang suami istri….. Para leluhur menasehati agar semua yang terjadi dalam kisah dianggap terjadi di dalam diri. Sehingga sebuah kisah, bukan hanya menjadi hiburan, akan tetapi dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran pribadi……

Sang Suami: Prabu Sulakarma mewakili “mind”, Sang Pikiran yang menyukai “kenyamanan” dan sudah “old-crack”, sudah berpengalaman sebagai pemimpin diri manusia. Sang Pangeran mewakili manusia yang merasa gelisah dan mencari Bhagawan di Desa Prangalas, mencari pengetahuan di lubuk hati terdalam yang sulit dicapai manusia. Sang Pangeran mulai meniti ke dalam diri dan menemukan Sri Tanjung, kesadaran yang menjunjung tinggi “kemuliaan”. Sang Pangeran yang telah mempunyai benih kesadaran dapat membahayakan kekuasaan Sang Pikiran. Sang Pikiran yang sudah berpengalaman membuat tipu muslihat agar Sang Pangeran meninggalkan kesadaran dan berperang melawan para dewa atau kebaikan. Walaupun Sang Pangeran babak belur, dengan mantranya dia tetap bertahan dalam kesadaran. Prabu Sulakarma berusaha menguasai Sri Tanjung, Sang Pikiran mencoba menguasai Sang Kesadaran, akan tetapi Sang Kesadaran tak bisa ditaklukkan. Maka jadilah Sang Pikiran sebagai pembisik yang selalu menggoda manusia agar ragu terhadap kesadaran dirinya. Diyakinkan oleh pikiran bahwa hati nurani atau kesadaran telah membuatnya sesat dan dihujat dalam kehidupan dunia. Terlena bisikan pikiran yang menggoda, Sang Pangeran mengikuti bisikan kelicikan dari pikiran dan hati nuraninya pun dibunuhnya. Bagaimana pun Sang Hati Nurani tetap bersuara bahwa dia adalah suara kebenaran. Hidup tanpa nurani membuat Sang Pangeran semakin gelisah dan dalam keadaan depresi berat dia hampir bunuh diri karena putus harapan……. Bathari Durga, Sang Penguasa Kejahatan selalu ditakuti oleh mereka yang telah berbuat kejahatan. Mereka yang telah berbuat kejahatan selalu merasa dihantui raksasa wanita yang mengerikan. Sebetulnya semua penjahat takut pada Sang Bathari yang melambangkan Kuasa Kesucian. Sri Tanjung atau Sang Kesadaran dihidupkan Sang Bathari dan diminta tinggal di Desa Prangalas, di lubuk hati terdalam dan Sang Pangeran diminta menemuinya di sana. Setelah bertemu kembali dengan Sang Kesadaran, diri Sang Pangeran menjadi terbuka. Tidak mungkin manusia menunggangi dua kuda yang mempunyai kemauan berbeda. Tidak mungkin panah kehidupannya terarah bila dia memegang dua gendewa dalam waktu yang sama. Sang Pangeran akhirnya berhasil memenggal kepala, atau ego Sang Pikiran dan dijadilan “keset”, pembersih kaki Sang Kesadaran. Sang Pangeran hidup dengan pimpinan kesadaran dan pikirannya menjadi alat yang bermanfaat bagi kebenaran. Sang Pangeran mengalami hidup baru, kelahiran baru, hidup berkesadaran. Pola-pola pikiran lama setiap saat selalu dibersihkan. Dan setiap sampah pikiran lama yang terbuang akan tergantikan oleh keilahian……

Sang Istri: Catatan sebab akibat masa lalu, akan muncul dari memori kenangan sebelum di-“delete” komputer diri. Karena pikiran hanya suka yang menyenangkan dirinya, memori duka yang tidak menyenangkan yang pernah ditekan ke bawah sadar akan muncul minta perhatian. Masalah yang bersifat suka maupun duka harus diterima secara terbuka….. Aku mengasihi Gusti. Memori dalam kehidupan lalu telah muncul kembali. Aku menyesal pernah salah menanggapi. Aku mohon maaf atas kesalahan yang pernah kelakukan. Gusti, terima kasih aku ucapkan….. Pembersihan diri harus selalu dilakukan. Kesalahan bertindak masa lalu harus diterima dengan lapang dada. Suka dan duka adalah anak-anak pikiran. Kita hanya menyenangi anak kesukaan. Dan anak kedukaan pun selalu muncul minta perhatian. Memori yang muncul tersebut harus dibersihkan, di-“delete” dan digantikan oleh keilahian. Akhirnya pengambilan keputusan tidak dilakukan pikiran dengan cara membongkar gudang pengalaman. Pengambilan keputusan diambil berdasarkan intuisi keilahian.

Sang Suami: Dalam satu kejadian terdapat jutaan bytes memori dan hanya 15-20 bytes yang tersimpan dalam pikiran. Dalam satu hari ada sekitar 60.000 “thoughts”, satuan pikiran, tetapi yang menjadi “mind” hanya sebagian. Memori pengalaman pikiran itu tidak lengkap, dan saat digunakan sebagai solusi pengambilan keputusan menjadi kurang sempurna. Intuisi atau inspirasi sebagai sumber jawaban alternatif perlu dilatih manusia.

Sang Istri: Dalam buku “Bhaja Govindam” diuraikan bahwa pikiran tidak perlu diupayakan. Kau lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payahmu di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upayamu saat ini. Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam dirimu. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program. Pikiran memperbudak dirimu. Kesadaran membebaskan dirimu.

Sang Suami: Pikiran adalah sekadar alat yang kita perlukan untuk kegiatan sehari-hari di alam fisik ini dan buku “Sabda Pencerahan” menguraikan…. Segala sesuatu dalam dunia ini, mulainya dari pikiran. Tindakan terjadi setelah beberapa saat kemudian. Apabila kita selalu mengawasi pikiran kita, maka tidak akan terjadi penyelewengan pada tingkat itu. Demikian, tindakan tercela pun dapat dihindari. Jadi bukan tindakan yang harus diawasi, tetapi pikiran. Apabila kita selalu mengawasi tindakan saja, kita tidak dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Kenapa? Karena, pikiran kita sudah terlanjur tercemar. Bisa saja, pada suatu kesempatan, kita dapat mengendalikan tindakan kita. Tetapi; tidak untuk selamanya. Karena itu, pikiran yang harus diolah. Ujung-ujungnya kita kembali ke kata kunci kita: Kesadaran. Ia yang sadar, pikirannya pun tidak akan macam-macam. Pikiran hanya dapat dikendalikan oleh kesadaran.

Sang Istri: “Keramaian dunia” adalah proyeksi dari pikiran kita. Pikiran kita kacau dan kita melihat kekacauan dimana-mana. Bebas dari keramaian dunia, berarti bebas dari keramaian pikiran. Dan, untuk itu kita tidak perlu meninggalkan sesuatu. Bebas dari keramaian dunia, berarti bebas dari keramaian pikiran. Tanpa meninggalkan dunia, kita bisa terbebaskan dari keramaian dunia. Tidak perlu ke hutan. Di tengah keramaian mal pun kita bisa menyadari kehadiran-Nya….. Demikian uraian dalam buku “Fikr”.

Sang Suami: Dalam buku “Soul Quest” dijelaskan bahwa….. Pikiran-pikiran tak akan pernah berhenti. Kau tak mungkin bisa selalu mengontrolnya. Lampaui pikiran-pikiran itu, dan biarkan mereka berlalu. Pisahkan dirimu dari pikiran-pikiranmu. Bukan membuang, tapi melampauinya. Dengan memisahkan dirimu dari pikiran-pikiranmu. Lihatlah mereka datang dan pergi tanpa secara emosional terlibat di dalamnya. Apa yang harus saya lakukan bila emosi saya terlibat? Amati saja.. seperti ombak, mereka akan menyatu kembali dengan laut.

Sang Istri: ……. Itulah “no mind” hidup tanpa “beban pikiran”. Pikiran memang ada, mind memang eksis, tetapi anda bisa “memilih” hidup tanpa mind, tanpa “beban pikiran”. Itulah meditasi. Dan, meditasi tidak mengenal pengotakan. Yang mengenal pengotakan adalah mind, pikiran. Dan pula yang menumbuhkan dan mengembangkan perbedaan. Karena itu, tidak ada meditasi Hindu dan Meditasi Buddhis, Meditasi Islam dan meditasi Kristen. Meditasi adalah meditasi. Gunakan rasa, nurani, “conscience” untuk menentukan hal itu. Jangan menggunakan mind. Dia akan menyesatkan, membohongi, menipu, karena diapun tahu persis bahwa memasuki alam meditasi berarti melakukan hara-hiri, bunuh diri, padahal pikiran masih ingin hidup….. Demikian kutipan dari buku “Fiqr”.

Sang Suami: Bagaimana pun kita telah diingatkan bahwa sebuah pemahaman bukanlah kebenaran mutlak. Begitu suatu kebenaran telah dianggap mutlak, maka kita akan menjadi tertutup, dan tertutup berarti kemandegan. Bagaimana pun dunia selalu mengalami perkembangan. Sepanjang zaman…..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Pikiran Dan Kesadaran Dalam Kisah Sri Tanjung Pada Relief Candi Penataran

  1. Pikiran yang tidak bisa dikendalikan oleh kesadaran akan mengakibatkan kesengsaraan.
  2. Kebetulan sekali saya pernah menonton dramatari berjudul Sri Tanjung yang dibawakan oleh sebuah grup tari ternama di Denpasar. Kisahnya hampir sama dengan yang dijelaskan di sini, cuma saja mengalami sedikit ‘editing’. Menarik sekali, saya menjadi makin memahami makna dari kisah dramatari yang menurut saya sangat menarik dan apik tersebut.
  3. Memang benar kita mesti menjaga kesadaran senantiasa. Puji Tuhan…..
  4. Memang benar kita perlu mengasah sumber refrensi alternatif yaitu intuisi, suara hati atau apapun namanya. Karena selama ini ketika terjadi sesuatu persoalan, kita selalu bertanya kepada apa yang ada diluar, kepada teman, kepada orang sekitar, dari sekian banyak orang yang kita mintai pendapat memiliki pikirannya sendiri-sendiri, wal hasil pusinglah kita, kita semakin ragu-ragu. Satu-satunya jalan adalah kembali kepada diri kita sendiri, kepada intusi kita, dan untuk itu kita perlu latihan untuk menenangkan pikiran agar tidak terlalu bising, sehingga intuisi itu dapat terdengar.
  5. Mengingatkan diri kita untuk selalu menjadi pengamat pikiran.
  6. Dalam setiap kesadaran pikiran sel neuron atau syaraf pasti bekerja dan tidak pernah berhenti… Semoga semakin banyak orng indonesia yang memiliki kesadaran pikiran dan kesadaran ini dapat diterapkan di masyarakat…
  7. Tulisan kali ini menjadi menarik karena mendudukkan Cinta sebagai tema intinya. Setidaknya kita tahu, Cinta adalah salah satu pelajaran manusia perihal rasa. “Love is blind” demikian sering dikatakan orang. Pikirlah yang buta dari moment Cinta, karena domain Cinta adalah hati. Bahkan, Osho mengatakan orang yang tidak pernah jatuh Cinta akan sangat sulit belajar meditasi. Karena dalam momen Cinta setiap jiwa–melalui keberadaan yang lain (the other)–diajak memasuki kedalaman relung-relung jiwanya. Dalam Cinta ada suatu totalitas diri; yang mengintegrasikan pikiran dalam ‘ketidaktahuannya’ yang ‘tahu’. Tidak tahu mengapa ia bisa jatuh Cinta, selalu ada misteri yang tak sepenuhnya terungkap secara rasional atau logis, tapi ‘tahu’ akan arah proses diri.
  8. Selama pikiran dijadikan penguasa diri, dia mempunyai dua anak suka dan duka dan itulah yang akan kita alami. Seseorang yang sadar bahwa pikiran mempunyai efek suka dan duka akan melampauinya. Misalnya dengan selalu mengasihi atau mensyukuri apa pun yang diterima. Atau melakukan segala sesuatu sebagai persembahan….
  9. Suatu kisah yang sama akan dilihat sedikit berbeda dengan penggunaan kacamata yang berbeda. misalnya Bharatayudha ada yang menonjolkan Sri Krishna, ada yang menonjolkan ketokohan Arjuna bahkan ada yang menonjolkan ketokohan Semar yang di Bhagavad Gita tidak disebutkan.
  10. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam diri. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya program tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan dari segala macam program. Pikiran memperbudak diri. Kesadaran membebaskan diri.
  11. Ada hukum “law of attraction” seseorang yang punya masalah akan bertanya kepada seseorang yang bermasalah juga, sehingga menjadi gosip dan tidak keluar solusinya. Islam is the last word harus diterjemahkan sebagai Pasrah adalah kata terakhir. Setelah kita “menerima” suatu peristiwa dan pasrah kepada Ilahi maka kita sudah tak perlu kaya-kata dari lainnya. Hanya tinggal mendengarkan intuisi, suara hati….
  12. Usia spiritualitas tidak sama dengan umur kita di dunia dan berapa lama sudah mempelajarinya. Bersyukurlah sudah mulai sadar ketika usia muda, kami mulai belajar setelah masuk paruh baya. Semoga kesadaran menjadi dasar dari semua pikiran, ucapan dan tindakan kita.
  13. Kita bukan pikiran kita tetapi pengamat pikiran kita. Semoga pemahaman tersebut dapat kita lakoni dalam keseharian.
  14. Salah satu kuncinya adalah relaks, santai. Begitu kita memperhatikan napas, antara pikiran satu dan pikiran lainnya mulai ada jaraknya. Gejolak pikiran mereda dan intuisi bisa muncul.
  15. Belajar adalah tugas semua manusia. Dunia berkembang dan orang yang berhenti belajar akan mandeg. Kita perlu berkembang, karena berkembang adalah selaras dengan alam.
  16. Sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta menjadi buta, melupakan pikiran, kecuali keyakinan untuk hidup bersama dan menghadapi bersama masalah apa pun yang a…kan menimpa. Cinta melampaui pikiran. Cinta seorang ibu kepada anaknya juga demikian. Para suci yang mencintai “Sang Kekasih” nampak di luar kewarasan pikiran. Hanya cinta tidak dapat dipelajari, tetapi harus dilakoni, dirasakan.
  17. Pemahaman memang tidaklah kebenarannya mutlak,tapi kadang pemahaman menggiring manusia ke dalam kehancuran bagi semua…..!!!!!!!apalagi orang-orang yang terjerumus dengan dogma-dogma pemahaman itu sendiri.
  18. Meditasi bisa dilakukan dalam segala aktivitas kita setiap saat, yang kita kenal berupa menjalani kehidupan secara meditatif; yaitu: melakukan segala sesuatunya dengan sepenuh hati, pikiran, raga, panca indera dan fokus hanya pd aktivitas yang sedang berlangsung, bukan pada hasil!. Sehingga mind yang ada adalah saat ini-disini hadirnya.
  19. Cinta tidak bisa kita pelajari. Cinta yang menentukan arah hidup kita, dan kita tidak bisa menentukan arah Cinta. Dalam derajat yang lebih mendalam, Cinta ini bersumber dari dalam entitas Kesadaran. Berpijak dari sini, sebenarnya Kesadaran juga bukanlah sesuatu yang bisa kita latih. Karena Kesadaran justru yang menyangga segala apapun, termasuk menyangga apa yang kita persepsi sebagai proses sadar kita yang tengah melatih kesadaran
  20. Tentang mantra, mantra adalah kunci kita mencapai pengembangan kesadaran. Mantra adalah sabda suci para guru yang filosofis sekaligus berdaya getar yang dahsyat dalam batin kita, yang diturunkan lewat inisiasi khusus. Mantra dilagukan selaras dengan hati kita, dengan kerelaan atau keikhlasan kita, menerima lapang dada situasi terkini, yang mungkin berada dalam kondisi terberat, dapat menghancurkan halangan dan menetralisir kekacauan dalam hati. Mantra adalah salah satu software tantrayana, selain visualisasi atau pembayangan yang contohnya telah dibabarkan dalam cerita di atas.Tantrayana adalah metode unik dan rahasia, tiap orang tentu tidak sama dalam pelaksanaannya dalam olah kesadaran yang mengendalikan pikiran. Adalah suatu metode kreatif dan realistis, bahwa pikiran kita yang sehari-harinya kacau, liar, bergelombang, beracun, dan membusuk ternyata bisa dirubah menjadi pikiran para guru yang suci, bebas, tenang, dinamis, dan tiada batas. Dengan pengendalian pikiran yang benar, merasakan nyatanya sakit di badan, mengamati, menyimak, dan merasakan tubuh ini, alam di sekitarnya, tanpa ada usaha apapun untuk fokus, dan pelan-pelan menguncarkan mantra suci dengan restu sang guru pelindung adalah langkah awal untuk membina diri, tentu disesuaikan dengan jam kerja kita sehari-hari. Yang penting adalah kualitas batin kita yang tidak mengeras seperti batu, melainkan lumer, bergerak dinamis bagaikan aliran air sungai dan hembusan angin. Kesadaran akan tumbuh pelan-pelan, tanpa paksaan, yang penting detik demi detik kita berpikir tentang ketenangan dan kebahagiaan diri sendiri yang meluas ke keluarga, teman, tetangga, dan ke semua makhluk hidup. Dengan bimbingan sang guru yang telah menanam benih kesadaran lewat inisiasi mantra, yiddam, dan bimbingan rahasia roh suci, kita sebaiknya mengendalikan diri dalam kehidupan. Nikmati apa yang bisa dinikmati, tidak mengganggu atau menyakiti diri sendiri dan makhluk lain, berikan yang positif dan baik kepada siapapun tanpa harapan imbalan, selalu menyimak suara hati dan mengamati arus pikiran tanpa ikut terkendali oleh kacaunya pikiran.
  21. “Keramaian dunia” adalah proyeksi dari pikiran kita. Pikiran menika isi Karep. Mula….., Keramaian dunia ini adalah proyeksi dari isi Karepe-e manungsa sakjagad. Pikiran ingkang isi karep menika mboten saged diilangi.sagede namung dipun sumerapi. Meditasi adalah salah satu metode bagaimana kita “nyumerepi” karep kita masing-masing. Dan dengan demikian kita akan mampu melampauinya.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Iklan

Satu Tanggapan

  1. artikel yang sangat menarik….

    tampilkan artikel menjadi profitable di http://www.imcrew.com/?r=359671

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: