Renungan Tentang Keterikatan Dan Kebebasan Dalam Kisah Bubuksah-Gagang Aking Pada Relief Candi Penataran


Kisah Bubuksah dan Gagang Aking adalah salah satu hasil sastra kuno para leluhur kita yang perlu mendapat perhatian. Kisah tersebut telah dilukiskan pada relief Candi Penataran. Kisah tersebut telah diuraikan dengan berbagai makna. Kali ini kisah tersebut dilihat dari sudut berbeda oleh sepasang suami istri setengah baya. Mereka menggunakan referensi dari buku-buku Bapak Anand Krishna. Di antaranya, “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra”, “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” serta “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Sang Istri: Dua orang santri bernama Gagang Aking dan Bubuksah baru saja menyelesaikan pendidikan dari suatu perguruan spiritual dan berniat bertapa di hutan untuk mencapai kesempurnaan. Gagang Aking melaksanakan pelajaran secara konsekuen dan paham bahwa apa saja yang dimakan akan mempengaruhi diri, sehingga dia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Setelah beberapa lama dia menjadi kurus-kering, karena hutan tersebut ternyata kurang tanaman sayuran dan buah-buahan. Dia sangat menyesalkan tindakan Bubuksah yang makan segala yang ada di hadapannya, baik sayuran, buah-buahan maupun binatang buruan. Dia ingin Bubuksah mengikuti dirinya yang patuh terhadap pedoman. Setiap dinasehati Gagang Aking, Bubuksah hanya tertawa dan melanjutkan olah batinnya. Karena tidak pernah kekurangan makanan, Bubuksah menjadi semakin gemuk saja……. Sang Kala terus berjalan, dan pada suatu saat nampak kesehatan Gagang Aking semakin mengkhawatirkan saja. Bathara Guru segera mengutus seorang dewa menyamar sebagai harimau putih untuk menguji kesempurnaan tingkat kesadaran mereka. Sang Harimau Putih mendatangi Gagang Aking dan berkata ingin memangsa dirinya untuk mengobati laparnya. Karena bila hari ini tidak makan Sang Harimau Putih akan binasa. Gagang Aking mengajukan alasan bahwa dirinya hanya sedikit dagingnya karena hanya tinggal tulang belulang saja. Gagang Aking menyarankan agar Sang Harimau Putih mendatangi Bubuksah yang gemuk badannya. Sang Harimau setuju asalkan saja Bubuksah rela menyerahkan tubuhnya. Apabila Bubuksah menolak maka Gagang Aking akan tetap dimangsa olehnya. Oleh Gagang Aking dibawalah Sang Harimau ke tempat Bubuksah bertapa…… Demi mendengar penjelasan Gagang Aking dan Sang Harimau Putih, Bubuksah berkata…… Beberapa hari ini aku sedang menenangkan diri. Mengharapkan datangnya intuisi untuk mendapatkan solusi agar tapa Kakanda Gagang Aking dapat segera diakhiri. Bila diteruskan dalam beberapa hari mungkin Kakanda Gagang Aking akan mencapai batas kelaparan yang membahayakan dirinya. Saat ini telah datang Harimau Putih memberikan jalan keluarnya…. Aku juga telah mengamati bahwa di hutan ini ada siklus antara yang dimakan dan yang memakan. Dan siklus tersebut turut menjaga kelestarian lingkungan….. Dedaunan dimangsa ulat, sedangkan ulat dimangsa oleh ayam hutan. Ayam hutan dimangsa musang, dan musang dimangsa harimau kelaparan. Harimau dibunuh oleh pemburu diambil belangnya dan dagingnya dibiarkan membusuk yang kemudian menyuburkan tanaman. Sebuah contoh siklus yang melestarikan lingkungan hutan. Hanya si pemburu membunuh bukan untuk mempertahankan kehidupan…… Sebagai pemakan dedaunan dan hewan kali ini nampaknya telah tiba saatnya tubuhku bakal dimangsa hewan. Tubuhku akan mati untuk melestarikan hutan, tetapi ruhku akan mengalami evolusi melanjutkan perjalanan. Apalagi dengan tubuhku, Harimau dan Kakanda Gagang Aking bisa terselamatkan. Bila itu memang kehendak Gusti, aku tidak akan menyesali kematian…….. Sang Harimau tertegun dan berkata, …… diriku akan sehat kembali karena keikhlasan orang yang rela kumangsa dirinya. Bubuksah, kau telah sadar bahwa ruh mu abadi dan setiap waktu kau selalu bertindak penuh kasih selaras dengan alam semesta. Kau sudah tidak takut akan datangnya kematian, kau sudah mengalahkan Sang Kala. Kau telah mengalahkan waktu, kau bertindak selaras dengan alam semesta sepanjang waktu. Aku adalah Dewa Kalawijaya utusan Bathara Guru.  Wahai Bubuksah naiklah ke punggungku, dan kau Gagang Aking peganglah ekorku. Dan nampaklah suatu pemandangan yang indah di angkasa. Bubuksah diatas punggung Harimau Putih yang terbang ke langit sedangkan Gagang Aking bergelantungan memegang ekornya…….

Sang Suami: Gagang Aking paham bahwa sifat kehidupan berasal dari makanan yang masuk ke dalam dirinya…… Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri. Demikian uraian dalam buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra”…….. Gagang Aking sering tidak makan karena tidak mendapatkan makanan sesuai keinginannya yang hanya makan sayuran dan buah-buahan. Secara tidak sadar Gagang Aking memiliki keterikatan dengan pola pikirannya. Sedangkan Bubuksah sudah melepaskan diri dari pola pikiran lamanya. Bubuksah menghormati kesehatannya, apa pun yang disediakan alam di depannya dimakannya. Bagi Bubuksah makan diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Akan tetapi hidup bukan hanya untuk menikmati makanan. Menurut Bubuksah yang perlu dijaga bukan hanya apa yang masuk dimasukkan lewat mulutnya tetapi juga apa yang keluar dari mulutnya. Ada hal yang telah dilupakan oleh Gagang Aking yaitu keceriaan dalam menjalani kehidupan. Karena terikat dengan pola pikirannya tentang makanan yang baik, tanpa terasa dia menyukai keadaan ketika di dekatnya banyak sayuran dan buah-buahan. Dan dia merasa tidak suka kala tidak ada makanan yang diharapkan. Lain dengan Bubuksah yang menerima makanan apa saja yang ada di depannya dengan penuh keceriaan……. dalam buku “Five Steps” dijelaskan…. Terimalah setiap pasangan pengalaman yang tampak bertentangan ; panas-dingin dan lain sebagainya. Demikianlah keadaan kita. Kita mencari salah satu dari setiap pasangan pengalaman; salah satu yang kita sukai. Mahaguru Shankara mengajak kita untuk menerima setiap pengalaman seutuhnya. Suka tanpa duka tidak utuh. Panas tanpa dingin tidak utuh. Hitam tanpa putih tidak utuh. Penerimaan semacam itu membebaskan kita dari rasa kecewa, karena suka tidak bisa eksis tanpa duka. Tumpukan duka yang makin tinggi itulah yang kemudian runtuh dan menciptakan kelegaan, atau suka. Kemudian, bila suka pun menumpuk terus, kita menjadi jenuh dan mengalami duka. Bila kita menyukai setiap pasangan pengalaman, tak ada lagi ketakpuasan dan kekecewaan. Tidak ada pula kegelisahan atau amarah. Kita suka panas, tapi suka dingin juga. Kita suka asin, tapi suka tawar juga. Kita suka manis, tapi suka pedas juga. Dengan demikian, gugurlah suka dan duka… yang tersisa hanyalah Kebahagiaan! Mahaguru Shankara sedang menuntun kita di jalan menuju Kebahagiaan Abadi, Kebahagiaan Sejati, maka terminal kenikmatan dan kelezatan sesaat harus ditinggalkan. Terimalah hidup ini seutuhnya. Terimalah setiap pengalaman hidup sepenuhnya dan tanpa kecuali……..

Sang Istri: Gagang Aking masih terikat dengan pedoman, Gagang Aking terikat untuk tidak memakan hewan, dia tidak senang melihat Bubuksah melanggar pedoman. Gagang Aking masih terikat pada sesuatu hal di luar dirinya. Karena hanya makan sayuran dan buah-buahan Gagang Aking sering lupa berterima kasih atas jasa makanan yang telah memelihara kehidupannya. Di lain pihak Bubuksah sudah tidak terikat dengan luar dirinya. Dia mencintai tubuhnya. Kesehatan tubuhnya harus dijaga. Dia selalu berdoa sebelum makan karena merasa telah menghilangkan nyawa untuk memperpanjang hidupnya……..  Dalam buku “Fear Management” diuraikan makna keterikatan. Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri: dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dan sumber di luar diri: dari pujian dan pengakuan. Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan.

Sang Suami: Evolusi batin antara Bubuksah dan Gagang Aking tidak terjadi secara bersamaan…… Barangkali adalah kekeliruan besar jika kita mengharapkan evolusi batin terjadi bersamaan bagi seluruh umat manusia. Dalam satu kelompok saja, pun dibawah bimbingan seorang guru yang sama, setiap orang mengalami evolusi sesuai dengan daya dan upayanya sendiri. Seorang Guru boleh membanting tulangnya, boleh jungkir-balik, tapi hasilnya tetap sesuai dengan jerih payah masing-masing muridnya. Pengetahuan dari seorang Guru adalah input atau masukan saja. Jerih payah adalah proses yang harus dijalani, sedangkan pencerahan adalah output atau hasilnya.  Demikian penjelasan dalam buku “Life Workbook”.

Sang Istri: Gagang Aking masih terus menggunakan pikirannya, sedangkan Bubuksah sudah melampauinya……. Tidak berarti bahwa otak tidak perlu diasah. Tidak berarti bahwa ilmu tak berguna. Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka bagi saya semua pintu ilmu.  Demikian uraian dalam buku “Neo Psyhic Awareness”……..

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus, 2010.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Keterikatan Dan Kebebasan Dalam Kisah Bubuksah-Gagang Aking Pada Relief Candi Penataran

  1. Selama ini dengan menggunakan pikiran, kita hanya menghormati hal yang menyenangkan dan tidak suka kepada hal yang tidak menyenangkan. Padahal suka dan tidak suka adalah anak-anak dari pikiran. Ketidak sukaan akan muncul minta perhatian juga. Lebih baik keduanya diterima dengan penuh syukur. Apa pun yang diberikan Tuhan pasti adalah kebaikan bagi kita.
  2. Konon lampu merah kuning hijau bermanfaat di perempatan jalan di permukaan bumi. Semakin meningkat lokasinya misalnya pesawat di angkasa, esensinya masih ada tetapi syariatnya disesuaikan. Semakin tinggi yang penting esensinya…….
  3. Candi penataran terletak di Blitar, dari Makam Bung Karno berjarak sekitar 10 km. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kediri dan dipergunakan sampai dengan Kerajaan Majapahit, mungkin sebagai tempat penataran punggawa kerajaan.
  4. Kalau belum dapat air bersih air kotorpun tidak masalah, nanti begitu dapat air bersih air kotor akan dilepaskan. Adaptasi.. . . Inayat Khan pernah berkata bahwa ji…kalau sang Rasul hidup dibelahan bumi lain, maka Beliau pasti akan melarang mengkomsumsi daging, namun karena tinggal di Gurun, mau makan apa, dagingpun menjadi pilihan. Para prajurit harus memakan daging dalam posi yang pas, untuk menjaga semangatnya, begitu juga orang yang loyo dan males-malesan harus di beri makan daging dalam jumlah yang pas.
  5. “…adalah kekeliruan besar jika kita mengharapkan evolusi batin terjadi bersamaan bagi seluruh umat manusia…” Setuju dengan pernyataan tersebut. Dan saya menyayangkan orang-orang yang merasa lebih tinggi evolusi batinnya, lalu ‘mengejek…’ atau ‘menghujat’ orang yang masih rendah evolusi batinnya. Bukankah ‘mengejek’ atau ‘menghujat’ itu pertanda evolusi batinnya “masih rendah”?
  6. Dalam buku Shambala ada setidaknya 3 macam tanggapan terhadap mereka yang dianggap lebih rendah kesadarannya daripada Kaum Arya. Pertama Resi Agastya merasa angkuh dan tidak mau bergaul agar kesadarannya tidak turun. Kedua Resi Vasista langsung diam tak banyak bicara. Ketiga Resi Baradwaja berusaha meningkatkan kesadaran mereka. Resi Agastya akhirnya sadar dan memperbaiki sikapnya….. Benar Mas Rony, menghujat dan menghina orang lain pertanda kesadarannya masih rendah.
  7. Hanya mencintai suka nya saja tanpa menerima duka dengan lapang dada, maka rasa suka itu hanya hal biasa tanpa rasa. Ibarat setelah terpanggang matahari dan turunlah hujan maka kesejukan baru akan terasa.
  8. Ada juga karena dia lagi puasa, marah pun ditahan-tahan hingga magrib tiba. Pada saat beduk tiba dia pun lupa. Malam hari dia baru ngeh, eh, si istri lagi tidur pake dibangunin terus dimarahi. Rupanya bukan cuma makanan yang ditahan-tahan, marah pun juga.
  9. Puasa adalah mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar lebih baik…..
  10. Pelajaran spiritual memang harus dibenturkan dengan keadaan,sehingga permainan sukaduka panas dingin masih akan mewarnai,atau terlampaui dengan keceriaan dimasa kini.
  11. Pernah membaca atau mendengar kisah foklor yang sangat menarik ini, tapi lupa buku apa atau kapan…. Apa yang menarik, bahwa ternyata nenek moyang kita cukup piawai dalam menyajikan kisah-kisah hikmah yang sederhana… tapi mendalam. Foklor seperti ini merupakan salah satu kekayaan dan ‘kecerdasan kultural’ tradisi bangsa kita, yang hampir-hampir hilang atau tidak lagi dikenal dalam masyarakat kita.
  12. Dharma ini adalah makanan yang bergizi bagi hati nurani. Makanan bergizi, karena tidak sekedar memuaskan pengetahuan, namun membuat kesadaran berkembang dengan baik, hati semakin peka, reseptif, dan tiada batas. Gagang Aking sangat kentara dalam pelaksanaan kehidupan manusia yang menjurus pada masa Kaliyuga, masa kemerosotan Dharma. Gagang Aking memegang teguh pedoman ajaran tanpa melihat situasi dan kondisi yang selalu berubah, padahal pasti dirinya sendiri sebenarnya sangat lelah dan menjerit karena yang dilakukannya sama sekali tidak membawa damai sejahtera, selalu dibayangi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Kebenaran yang dianut Gagang Aking mungkin hanya sepotong, tanpa melihat keseluruhannya. Pemahaman yang tidak matang, namun dengan demikian Aking sudah menganggap dirinya unggul, mungkin suci, ternyata sama saja dengan ilalang, makin tinggi makin kosong dirinya, apa yang diyakininya sungguh sia-sia. Akumulasi tindakan Gagang Aking akan membunuh dirinya sendiri, bagaikan tragedi matinya tikus di tengah lumbung padi. Dan fenomena inilah yang terjadi pada bangsa kita yang sebagian besar pelan-pelan mematikan nuraninya, menutupinya dengan implan konsep-konsep asing, dengan racun reaksi duniawi yang haus nafsu dan sensasi, dengan jerat-jerat moralitas, norma agama, norma hukum rimba yang pasti buyar jika gajah penguasa lewat. Apakah itu yang diinginkan leluhur kita, di tanah surga nusantara, kita memancarkan pikiran penuh gejolak alam neraka, dan selalu berputar-putar dalam kesengsaraan? Tanyalah nurani kita yang terdalam, jika kita masih waras, untuk apa semua ritual, laku, keyakinan, dan lain-lain, jika damai sejahtera hanya ilusi. Semoga kesadaran murni timbul pada semua makhluk dalam perjalanannya menuju kesempurnaan jati diri.
  13. Pada akhirnya Gagang Aking di ekor, Bubuksah di punggung sang Harimau. Berbeda tingkat kesadaran, berbeda tempat seat yang didapatkan, Gagang Aking kelas economy, Bubuksah kelas VIP.
  14. Yang penting adalah “laku”, pengimplementasian teori dalam praktek sehari-hari bukan hanya di khasanah teori.
  15. Banyak pemuda yang menggebu-gebu memperbaiki bangsa, akan tetapi setelah berhasil mendapatkan kekuasaan mereka lupa pada cita-cita perjuangan sebelumnya. Perlu menjaga kesadaran agar kita tidak lupa tujuan semula….. Banyak pelaku spiritual yang demi mencapai kesadaran dirinya melupakan ketidakadilan yang terjadi di sekelilingnya, mereka tertuju pada puncak gunung kesadaran dan acuh terhadap kejadian di seklilingnya. Mereka yang naik gunung adalah resi telah yang mengetahui hukum-hukum alam. Sedangkan Bhagawan adalah seseorang yang telah mencapai puncak kesadaran dan turun gunung, sehingga melihat ketidakbenaran dengan jelas. Para Bhagawan, memperhatikan tetangga, mereka yang yatim piatu, dan kerukunan bangsa. Semoga kita diberkati mendapatkan pemandu yang tepat…..
  16. Terima kasih. Semoga tidak jenuh, seperti air yang sudah jutaan tahun membersihkan kekotoran dan tidak pernah jenuh karena sadar akan swadharmanya. Setiap masalah adalah ujian untuk kenaikan evolusi…. Kalau kita belum lulus dia akan datang lagi suatu kali untuk menguji lagi dalam bentuk berbeda. Mengapa tidak menghadapi ujian saat ini saja? Seseorang mahasiswa yang belum lulus mata kuliah matematika harus tetap diuji sampai lulus mata pelajaran matematika. Demikian pula mata pelajaran kehidupan….
  17. Dalam kehidupan ini kita selalu harus belajar dan belajar, pelajaran kehidupan dan universitas kehidupan merupakan pengalaman yang sangat berharga yang kita bisa rumuskan dan belajar dari pengalaman itu.
  18. Pemahaman atas terjadinya dualitas perlu bila kita ingin berada dlm kesadaran diri yang lebih tepat lagi. Note ini memberikan gambaran yang sangat jernih atas keadaan dualitas yang terjadi. Menerima segala sesuatunya sebagaimana adanya sangat membantu kita menjadi sadar, berbahagia dan mensyukurinya; sehingga sudah tidak diperlukan syariat lagi, namun haruslah tetap eling lan waspodo.
  19. Kekuatan pikiran seseorang juga tidak terlepas dari lingkungan sekitar dan juga tergantung kualitas pribadi sendiri,,,teringat pepatah orang tua,,,bagaimanapun pisau kalau terus di asah pasti akan tajam, dan sebuah pisau akan berguna baik jika yang memakainya juga baik dan akan berakibat merugikan apabiala ditangan yang berwatak jahat….demikian juga dengan hasil dari sebuah pemikiran sangatlah tergantung dari kualitas manusia itu sendiri….

Terima Kasih.

Salam __/\__

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: