Kasih Adalah Hukum Kehidupan, Renungan Pertama Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan 15 pandangan hidup dari Swami Vivekananda. Mereka mulai membicarakan tentang pandangan hidup pertama. Sebagai referensi mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna. Mereka yakin spiritualitas itu bersifat universal adanya….

Sang Istri: Pandangan hidup pertama, Kasih adalah Hukum Kehidupan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kasih mengembang, segala sesuatu yang berkaitan dengan keegoisan diri menyempit. Sehingga hanya kasih yang menjadi hukum kehidupan. Dia yang mengasihi hidup, dia yang egois sedang mengalami kematian. Sehingga, kasih hanyalah untuk kasih semata, “love for love’s sake”, karena itu adalah hukum kehidupan, seperti halnya kita bernapas untuk hidup…...* Vivekananda.

Sang Suami: Pandangan hidup pertama membicarakan tentang ego dan kasih dalam kehidupan. Kita masih bersifat egoistis dan dengan cara demikian kita menghadapi banyak permasalahan…….. Dalam  buku “be The Change” disampaikan bahwa kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, bila kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara…… Dengan menghalalkan segala macam cara yang egoistis, kita semakin menghadapi banyak permasalahan akibat hukum sebab-akibat yang menjerat.

Sang Istri: Benar suamiku, dimana tiada kebenaran dan cinta, pasti ada pertengkaran dan ketidakharmonisan. Kepalsuan tidak mengenal kedamaian, egoisme tidak mengenal harmoni. Nilai-nilai palsu dan motif-motif egoistik berada di belakang kerakusan manusia dan segala konflik. Kita tidak mau berbagi dan tidak mampu saling merawat, karena jauh di dalam diri kita merasa lemah. Kita tidak memiliki kekuatan untuk melayani sesama karena kita kelelahan mengurusi problem-problem sepele kita. Kita tidak ada waktu berpikir untuk yang lain karena pikiran itu penuh dengan segala pikiran yang mengganggu dan tidak penting. Demikian disampaikan dalam buku “The Gospel of MJ”…….. Dengan bersikap egois kita tidak mengembang, tetapi menyempit.

Sang Suami: Dalam buku “Kehidupan” disampaikan bahwa ego manusia tetap sama, tetap ada. Ada yang mengatakan bahwa dia mempunyai banyak hal dan kita menyebutnya materialism. Ada yang telah melepaskan keduniawian dan secara tidak langsung memamerkan pelepasannya  dan kita sebut spiritualism. Materi dan Spirit (Roh), dalam hal ini  penyandaran kita terhadapnya membuktikan ego kita, kata ‘aku’ masih ada di sana. Dan di mana ada ego, Tuhan tidak ada. Penerimaan dan Pelepasan keduanya mengikat diri kita, selama ego masih hidup…….. Apabila ego masih ada bisa saja kita berdoa kepada Keberadaan, tetapi Dia hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk mencapai tujuan ego kita saja. Mungkin saja kita nampak mengasihi, tetapi agar kita dipuji, agar masuk koran dan masuk tivi, bukan love for love’s sake.

Sang Istri: Aku ingat SMS Wisdom, Sekarang pun engkau memiliki kasih. Hanya saja pembagiannya tidak rata. Kau masih pilih kasih. Sebarkan kasihmu tanpa memandang bulu……

Sang Suami: Benar istriku, berada pada tingkat kasih, kita sudah tidak bisa menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang lain. kita tidak bisa merugikan orang lain demi keuntungan pribadi. Kasih kita terhadap istri, terhadap kekasih, terhadap anak-anak kita, belum tentu kasih. Kita mengasihi kekasih kita, istri kita, sepanjang mereka patuh terhadap kita. Ego kita puas, kita memiliki mereka. Rasa kepemilikan bukan Kasih. Kita memiliki perabot di rumah kita, begitu pula kita memiliki pasangan kita. Sekarang kebebasan mereka terbatas. Kasih selalu bebas dari syarat. Kasih kita bersyarat. Terhadap anak-anak pun demikian. Kita yang menentukan kepercayaan mereka, sewaktu mereka masih kecil kita sudah mengkondisi mereka. Kita tidak memberikan kebebasan kepada mereka. Demikian uraian dalam buku “Bhagavad Gita”….. Kasih mengembang dan ego menyempit.

Sang Istri: Dalam buku “Otak Pemimpin Kita” disampaikan bahwa manusia yang sudah berkembang kemanusiaannya, yang sudah tidak terkendali oleh insting-insting hewaninya, sudah pasti memikirkan kepentingan luas, bukan lagi kepentingan diri dan kelompok. Inilah kodrat manusia. Sekarang ini kita baru menjalani kodrat hewan. Para pemimpin, pejabat, bahkan yang menganggap diri “rohaniwan”, tapi masih memikirkan dirinya saja atau memikirkan kepentingan kelompoknya saja, sesungguhnya masih terkendali oleh insting hewani. Bila aku memaksa orang lain untuk menerima pendapatku atau melihat kebenaran dari sudut pandangku, maka aku pun masih terkendali oleh insting hewani……. Kasih mengembangkan kemanusiaan, ego mematikan kemanusiaan menghidupkan insting hewan.

Sang Suami: Aku mencatat beberapa SMS Wisdom tentang kasih….. Isilah harimu dengan kasih, maka kau tak akan pernah salah. Kekuatan kasih itu, cahaya cinta itu akan menerangi pikiranmu dan mengarahkan setiap langkahmu……. Awali harimu dengan cinta kasih, isilah harimu dengan cinta kasih, akhirilah harimu dengan cinta kasih, itulah jalan menuju Tuhan……. Kasih tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu sendiri adalah imbalan. Kebahagiaan yang kau peroleh saat mengasihi itulah imbalan kasih……. Kasih adalah hukum kehidupan, seperti halnya kita bernapas untuk hidup.

Sang Istri: Terima kasih suamiku, dalam buku “Narada Bhakti Sutra” disampaikan…. Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan antara “A” dan “B” di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri……. Kembangkan sifat kasih, kikis sifat egois.

Sang Suami: Benar istriku…… Kita membutuhkan banyak orang yang tercerahkan dalam Kesadaran Kasih. Banyak orang yang sadar akan Kemahadayaan Kasih, Kekuatan Cinta. Bila seorang penulis atau penyair tercerahkan, maka biarlah ia berbagi pengalaman lewat tulisannya, lewat syair-syairnya. Bila seorang pengusaha tercerahkan, janganlah memaksanya untuk menulis kisah roman atau bersyair. Biarlah ia menerjemahkan kasih dalam keseharian usahanya. Seperti itu pula dengan para birokrat, wakil rakyat, profesional dan lain sebagainya. Seorang pengusaha yang mengasihi tidak akan merugikan konsumennya hanya untuk memperkaya diri. Seorang birokrasi yang mengasihi akan melayani saudara-saudaranya setanah air. Seorang wakil rakyat yang telah tersentuh jiwanya oleh kasih tidak akan menerima uang saku tambahan untuk melakukan tugas-tugas yang sudah menjadi kewajibannya. Bukankah ia sudah mendapat gaji dan tunjangan-tunjangan hidup lainnya? Begitu pula dengan para industrialis, para profesional di segala bidang, para guru dan mahasiswa. Kuncinya, Bung … adalah Kasih. Bila kau berpikir dengan Kasih, mind-mu menjadi jernih. Dan, kau menemukan Kebenaran. Bila kau merasakan dengan Kasih, hatimu menjadi tenang. Dan, kau mencapai Kedamaian. Bila kau bertindak dengan kasih, kau tak akan berbuat salah. Kebajikan-lah hasilnya. Demikian kudapatkan dari buku “Indonesia Under Attack”…… Kembangkan sifat kasih.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: