Hidup Itu Indah, Renungan Ketiga Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya melanjutkan pembicaraan tentang 15 pandangan hidup dari Swami Vivekananda. Mereka membicarakan tentang pandangan hidup ketiga. Sebagai referensi mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna…….

Sang Istri: Pandangan ketiga……. Hidup itu indah: pertama-tama, yakinlah bahwa di balik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu ada hikmahnya. Kemudian, segala sesuatu yang terdapat dalam dunia ini adalah baik, suci dan indah adanya. Selanjutnya, jika kita melihat kejahatan, berpikirlah bahwa kita tidak memahami sebagaimana mestinya. Lepaskan beban pikiran dari atas diri kita! *Vivekananda.

Sang Suami: Kita belum yakin bahwa di balik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu ada hikmahnya. Ibarat kita masuk kelas dan setiap hari diberi banyak mata pelajaran, tetapi kita tidak menyadarinya, bahkan kita memikirkan sesuatu di luar kelas. Ya kita tidak naik kelas dan selalu diberi mata pelajaran yang hampir sama, sampai kita lulus dari mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Dalam buku “Masnawi Buku Kelima” disampaikan bahwa…… Setiap hari, manusia memperoleh pelajaran baru, tetapi dia tidak memahaminya dan tidak mampu mengambil hikmahnya. Dan hidup terasa tak bermakna, hambar. Kemudian dia mulai mencari makna. Dia mulai berkhayal, berandai-andai, “seandainya aku memiliki harta, hidupku akan bermakna; seandainya aku memiliki keluarga, hidupku akan bermakna; seandainya begini, aku akan begitu, seandainya begitu, aku akan begini.”……. Manusia belum yakin akan adanya hikmah di balik segala sesuatu, belum dapat memperoleh hikmah pelajaran baru setiap harinya, sehingga manusia mencari makna menuruti pikirannya.

Sang Istri: Sudah tidak sadar akan mata pelajaran yang diberikan setiap hari, kita malah memberi makna kehidupan di luar kelas sesuai pikiran kita. Dalam buku “Ah Hridaya Sutra” disampaikan bahwa…….. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong. Pada umumnya, kita semua terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok mereka yang memberi arti dan kelompok mereka yang tidak memberi arti. Lucunya, kedua kelompok ini masih saja gelisah, masih saja cemas, masih saja khawatir. Yang memberi arti gelisah, karena arti yang ia berikan bermuatan keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum terpenuhi. Yang tidak memberi arti juga gelisah, karena hidupnya terasa hambar tawar……. Kita masih mengejar makna hidup, belum yakin di balik segala sesuatu selalu ada maknanya, ada hikmahnya.

Sang Suami: Benar istriku. Ada kelompok ketiga yang sudah tidak mengejar makna kehidupan di luar kelas. Mereka paham bahwa mata pelajaran setiap hari sudah bermakna. Kerajaan Allah dijumpai dalam semua mata pelajaran setiap harinya. Dalam buku “Ah Hridaya Sutra” juga disampaikan bahwa…….. “Masih mengejar” Kerajaan Allah berarti kita belum bisa melihat Kerajaan-Nya di mana-mana, kita masih belum meyakini kehadiran-Nya di mana-mana. Jelas, kita masih berada pada lapisan lahiriah Yang sudah bisa merasakan kehadiran-Nya di mana-mana, yang sudah bisa melihat Kerajaan-Nya di mana-mana, akan berhenti mencari, akan berhenti mengejar. Bukan hanya Allah dan Kerajaan-Nya yang tidak ia kejar lagi, apa pun juga tidak dikejarnya lagi. Tidak ada yang perlu dikejar lagi, karena apa yang sedang ia cari, ternyata ada di mana-mana. Demikian, ia memasuki lapisan batiniah. Nah, mereka yang sudah berhenti mencari ini berada dalam kelompok ketiga……… Kelompok dari mereka yang telah memahami bahwa di balik segala sesuatu di dunia ini selalu ada hikmahnya.

Sang Istri: Dalam pandangan hidup ketiga, Swami Vivekananda juga menyoroti tentang segala sesuatu yang terdapat dalam dunia ini baik, suci dan indah adanya. Hanya bila pikiran kita jernih maka kita dapat memahami bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam dunia adalah baik, suci dan indah……. Dimana keindahan itu? Kita tak bisa kehilangan keindahan. Ia ada di mana-mana, kita tak bisa merasakan kehadirannya karena kita terlalu memikirkan banyak hal. Demikian disampaikan dalam buku “Soul Quest”….. Karena diri kita kotor, kita terlihat kotoran di mana-mana. Sebaliknya, seorang sufi melihat keindahan dimana, mana, karena dirinya indah, karena ada keindahan dalam dirinya. Demikian disampaikan dalam buku “Nirtan”……. Dalam buku “Ah Hridaya Sutra” disampaikan bahwa…… Seorang Master sedang berupaya untuk menyadarkan kita bahwa “kesucian” dan “ketidaksucian” sesuatu disebabkan oleh perasaan, pandangan, pikiran dan nilai yang kita berikan terhadap “sesuatu” itu. Yang suci bagi sekelompok masyarakat, belum tentu suci bagi kelompok masyarakat lain. Orang Hindu menganggap sapi sebagai binatang suci. Orang Islam dan Kristen akan menyembelihnya. Orang Hindu tidak merasa apa-apa jika melihat  seekor babi, orang Islam merasa jijik dan mengharamkannya. Bagi seorang Master, semuanya itu adalah produk pikiran. Permainan pikiran dan perasaan dan pandangan dan lain sebagainya. Begitu pula dengan deskripsi-deskripsi kita tentang Tuhan……… Pola pikiran kita menentukan baik,suci, indah dan tidaknya sesuatu.

Sang Suami: Istriku berbicara tentang Kesucian, dalam buku “Sabda Pencerahan” disampaikan bahwa……… Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Kata “suci” yang digunakan oleh Yesus sangat bermakna. la tidak menggunakan kata “baik”. la juga tidak menggunakan kata “jujur” atau lain sebagainya. Suci berarti melampaui segala kebaikan dan segala keburukan. Suci berarti melampaui segala macam dualitas. Kebenaran dan kesalahan, sorga dan neraka, semuanya dilampaui oleh kesucian. Suci berarti pandangan Anda menjadi begitu jernih, begitu jelas, sehingga di balik segala sesuatu Anda melihat Tangan Allah. Selama kita masih memilah antara baik dan buruk, antara sorga dan neraka, selama itu pula kita belum suci. Ia yang suci hatinya tidak akan memilah. la yang suci hatinya melihat Allah di balik segala sesuatu. Selama ini yang membuat kita tidak dapat menyadari kehadiran-Nya adalah ketidak-sucian hati kita. Hati kita bagaikan cermin yang berdebu-debu ketamakan, debu keangkuhan, debu iri hati. Bersihkan cermin hati Anda, dan Anda akan langsung melihat Allah, menyadari Kebenaran jati-diri Anda……..  Kita tidak memahami segala sesuatu sebagaimana mestinya. Hal tersebut disebabkan hati kita masih diliputi debu ketamakan, keangkuhan dan iri hati.

Sang Istri: Berbicara mengenai keindahan dan kesucian, kita harus ingat bahwa kita masih mempunyai sifat kehewanian dalam diri yang masih terbawa dalam bagian otak kita yang disebut  lymbic. Dalam buku “Otak Pemimpin Kita” disampaikan bahwa…….. Bila kita mempelajari otak manusia: Selain lymbic, ada juga yang dalam bahasa sehari-hari disebut Otak Kanan dan Otak Kiri. Maksudnya Otak Bagian Kanan dan Otak Bagian Kiri. Bagian Kiri berurusan dengan logika, matematika, analisa dan lain sebagainya. Sementara, Bagian Kanan lebih “berperasaan”. Sense of Beauty, Keindahan, Estetika, segala macam arts atau seni, bahkan imajinasi, visi… semuanya diurusi Otak Bagian Kanan. Sementara ini kedua bagian itu menjadi budak Lymbic yang masih sangat hewani. Maka segala apa yang kita lakukan masih diwarnai oleh kehewanian kita. Lymbic menyatakan keinginannya, “Aku butuh ini, butuh itu….” Ia memerintah Otak Kiri, “Hai Otak Kiri, usahakan dengan segala cara dan upaya agar keinginanku terpenuhi. Silakan beranalisa, berlogika, ber-apa saja, asal keinginanku terpenuhi.” Ini yang kita sebut akal. Pendidikan yang kita peroleh juga tidak banyak membantu, karena bertujuan untuk mengasah akal belaka. Kita menjadi sangat intelektual. Akal pun ada kalanya berubah menjadi “akal-akalan”. Namun demikian, kita tetap menjadi budak lymbic. Walau, cara kita barangkali menjadi lebih sopan sedikit, lebih lembut – setidaknya “terasa” demikian. Padahal, sami mawon. Tujuan kita masih sama, yaitu memuaskan hewan di dalam diri. Dan, bukan saja Otak Kiri, Otak Kanan pun diperbudak oleh Lymbic. Otak Kanan pun diperintahnya, “Hai Otak Kanan, kamu kan pandai memoles dan menciptakan keindahan, tolong dong keinginan-keinginanku dipoles supaya terlihat lebih indah, lebih halus.” Dengan cara itu, Otak Kanan pun dibuatnya menjadi sibuk untuk menutupi kehewaniannya. Otak Kanan tanpa pembersihan Lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting yang lebih indah dan mewah. Itu saja. Kita harus selalu mengingatkan din bahwa kebutuhan insting itu seratus persen adalah sifat hewani, sifat kita yang masih primitif. Demikian disampaikan dalam buku “Otak Pemimpin Kita……..

Sang Suami: Benar istriku…… Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Demikian disampaikan dalam buku “Neo Psyhic Awareness”. Kemudian dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” juga disampaikan bahwa……. Untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk menemukan Keindahan dalam diri, anda tidak harus “berpengetahuan” banyak atau “berpendidikan” tinggi. Banyaknya pengetahuan dan tingginya pendidikan malah bisa menjadi penghalang. Pengetahuan berlebihan akan mengaktifkan pikiran. Dan pikiran tidak berkepentingan dengan “Keindahan” dalam diri. Pikiran selalu mencarinya di luar. Dengan pikiran yang super-aktif, anda juga akan semakin jauh dari rasa, dari hati anda. Anda akan semakin jauh dari “Keindahan” yang ada di dalam diri anda……. Setiap kali Anda melihat sesuatu yang indah, tiba-tiba kesadaran anda beralih dari pikiran ke rasa. Sewaktu mendengar lagu atau musik yang indah, sewaktu membaca sesuatu yang indah, sewaktu mencium wewangian yang indah, tiba-tiba anda terlepaskan dari pikiran. Anda memasuki alam rasa. Begitu anda memasuki alam rasa, sesungguhnya anda juga memasuki alam “spiritual”. Keindahan menjadi pemicu untuk mengantar anda ke alam spiritual. Dan alam spiritual, alam “keagamaan” sesungguhnya tidak ada di luar diri anda……..

Sang Istri: Suamiku, bila Swami Vivekananda berbicara tentang Lepaskan beban pikiran dari atas diri kita…….. Itulah “no mind” hidup tanpa beban pikiran. Pikiran memang ada, mind memang eksis, tetapi anda bisa “memilih” hidup tanpa mind, tanpa “beban pikiran”. Itulah meditasi. Dan, meditasi tidak mengenal pengotakan. Yang mengenal pengotakan adalah mind, pikiran. Dan mind pula yang menumbuhkan dan mengembangkan perbedaan. Karena itu, tidak ada meditasi Hindu dan Meditasi Buddhis. Meditasi Islam dan meditasi Kristen. Meditasi adalah meditasi. Gunakan rasa, nurani, conscience untuk menentukan hal itu. Demikian disampaikan dalam buku “Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi”.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: