Berbagai Tingkatan Cinta Bagian ke 1


http://www.facebook.com/wiryakusuma?ref=ts#!/note.php?note_id=425793977270

oleh Vincent Wiryakusuma pada 29 Agustus 2010 jam 19:09.

Artikel ini aslinya dalam Bahasa Inggris dan saya pikir sangat bagus untuk kita pelajari serta renungkan:

 Berbagai Tingkatan Cinta (“The Stages of Love”)

 

oleh: Elias Najemy

 Apakah cinta itu?

 

  • Cinta adalah kebutuhan kita yang terbesar. Apakah itu merupakan keadaan pemenuhan kita yang tertinggi?
  • Apakah kita benar-benar cinta ataukah kita hanya melekat kepadanya, teridentifikasi dengan atau kepada orang yang kita “cintai”?
  • Apakah cinta kita bebas dan tanpa syarat, ataukah itu telah dipadukan dengan berbagai kebutuhan-kebutuhan, pengkondisian dan berbagai tuntutan?
  • Apakah itu cinta tanpa syarat? Mungkinkah itu bagi kita untuk mengolahnya?
  • Apakah bedanya antara cinta dan kemelekatan?
  • Bagaimana kita dapat menentukan apa yang kita rasakan itu cinta atau kemelekatan?
  • Bagaiman kita dapat memurnikan cinta kita dan mengarahkannya kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi?

Ini semua merupakan sebagian dari begitu banyaknya pertanyaan yang perlu kita jawab agar menciptakan kebahagiaan.

Mendefinisikan Cinta

 

Cinta sangatlah sulit untuk didefinisikan, mungkin karena realitas cinta ini mendekati dimensi spiritual, yang mana berada diluar waktu dan ruang, oleh karenanya, juga diluar pemahaman kita.

Cinta mungkin lebih mudah dijelaskan melalui apa-apa saja yang bukan cinta. Cinta bukan merupakan: ketakutan, luka, sakit, kecemburuan, kepahitan, benci, keterpisahan, nafsu, kemelekatan, keagresifan, keterpusatan ego, pengabaian/kelalaian, kepemilikan, penindasan – daftar ini bisa terus bertambah.

Cinta, seperti juga Sang Pencipta YME, kedamaian dan berbagai realitas spiritual lainnya, akan dapat dirasakan lebih mudah melalui berbagai akibat/efek yang ditimbulkannya. Kita tidak dapat melihat angin, tapi kita masih bisa melihat akibat yang ditimbulkan dari angin, seperti daun-daun yang bergerak, ranting dan cabang yang bergoyang-goyang, atau suara dari udara yang berdesir. Kita tahu bahwa angin itu ada dengan memperhatikan berbagai efek yang ditimbulkannya. Kita tahu ada Sang Pencipta karena kita merasakan akibatnya yaitu berupa – ciptaan itu sendiri.

Lalu apakah yang diciptakan oleh cinta? Cinta menciptakan perasaan akan kesatuan. Kita merasa tertarik kepada yang lain saat kita merasa tertarik kepada diri kita sendiri. Kita sama tertariknya pada kesejahteraan dari orang lain, kebahagiaan orang lain, kesuksesan orang lain, kesehatan orang lain, dan pertumbuhan spiritual orang lain seperti juga kepada diri kita sendiri.

Mencintai orang lain berarti menginginkan mereka untuk berbahagia di dalam berbagai cara yang mereka rasakan sesuai tuntunan dari dalam diri mereka sendiri untuk mencapai kebahagiaan mereka. Hal itu melahirkan pengertian, rasa kasih sayang, pemberian maaf, kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian, kesukacitaan, kepuasan dan sebuah hasrat untuk bisa membantu dengan segala cara yang bisa kita lakukan.

Cinta merupakan perluasan dari keterbatasan ego kita. Ia menunjukkan kemampuan kita untuk mengidentifikasi orang lain, melepaskan kepentingan diri kita sendiri dari kebutuhan-kebutuhan pribadi serta cukup untuk benar-benar mendengarkan dan memahami berbagai kebutuhan maupun kepentingan-kepentingan orang lain. Itu berarti cukup peduli untuk mengorbankan, bilamana perlu, segala kesenangan dan hasrat kita ketika jelas-jelas kebutuhan orang lain jauh lebih penting.

Cinta merupakan kekuatan yang membawa kesatuan dan harmonisasi. Ia merupakan “perekat” dari seluruh alam semesta. Ia juga membantu orang-orang dengan ego yang berbeda, hasrat yang berbeda, rencana dan kebutuhan yang berbeda untuk mengatasi segala potensi kekuatan yang bersifat menolak dan menyatukan.

Cinta tidak perlu dipelajari atau dilatih, tetapi lebih mudah dilepaskan atau ditimbulkan dari dalam diri kita ke permukaan. Mengapa? Karena kita adalah cinta. Kodrat alamiah kita adalah cinta. Tetapi bagaimanapun, keacuhan kita, kelalaian kita, ketakutan dan kemelekatan kita telah menguburkan cinta itu begitu dalam di diri kita sehingga terkadang sangatlah sulit untuk membangkitkannya atau memeliharanya. Mencintai orang lain secara tetap, terus-menerus, terlepas dari sikap dan kelakuan mereka, bukanlah hal yang mudah.

I. Cinta versus Kebutuhan

 

 Kekuatan daya tarik yang kita sebut cinta diekspresikan pada berbagai tingkatan dan dengan berbagai cara yang tak terbatas. Tingkatan yang paling mendasar adalah Kebutuhan. Kita sering  menggunakan kata cinta sementara yang kita maksudkan sesungguhnya adalah “kebutuhan”.

Kita mengatakan, “Aku mencintai kamu.” Tetapi, jika kita menganalisa diri kita secara mendalam, kita akan tersadar akan maksud kita yang sesungguhnya adalah, “Aku butuh kamu.” Inilah pesan mendasar dari hampir kebanyakan lagu-lagu yang bertemakan cinta. Mereka meratapi kesedihan, rasa sakit, kenyerian dan menangis “Kamu meninggalkanku, aku tidak dapat hidup tanpa kamu. Aku memerlukanmu.”

Ini bukanlah bentuk tertinggi dari cinta. Ini merupakan cinta yang dipadukan dengan kebutuhan, kemelekatan dan kecanduan/ketagihan. Jika itu benar-benar cinta yang murni dan pihak lainnya menjadi jauh lebih berbahagia dengan meninggalkan kita atau bahkan lebih bahagia dengan orang lain, maka kita akan berbahagia pula untuknya, bukannya dipenuhi dengan kesedihan untuk diri kita sendiri. Mencintai orang lain berarti menginginkan mereka bahagia, sehat, dan sukses dengan cara-cara yang mereka rasakan berdasarkan tuntunan dari dalam diri mereka sendiri.

Cinta tidak menciptakan rasa sakit yang kita rasakan ketika seseorang meninggalkan kita atau menolak kita. Rasa sakit itu timbul karena ketergantungan kita pada orang tersebut untuk alasan-alasan keamanan kita sendiri, kesenangan atau afirmasi/penegasan kita. Kebutuhan dan kemelekatan menciptakan rasa takut, rasa sakit, dan penderitaan.

Cinta menciptakan rasa bahagia, pemenuhan dan pengalaman akan Diri kita yang sejati.

II. Cinta ataukah Kebutuhan akan keamanan?

 

 Cinta kita masih dipadukan dengan sejumlah kebutuhan. Cinta merupakan hasrat untuk memberi. Sementara Kebutuhan itu merupakan hasrat untuk mengambil. Terkadang apa yang kita sedang cari untuk diambil itu begitu halusnya, dan memerlukan pengkajian dari dalam diri dengan sungguh-sungguh.

Bilamana kita merasa sakit, takut atau marah di dalam persahabatan/hubungan kita, itu disebabkan karena kita percaya bahwa kebutuhan kita berada dalam posisi “bahaya” dan tidak terlampiaskan/terpuaskan. Ketika ini terjadi, “cinta” kita berubah menjadi luka, rasa kecewa, rasa takut, kesendirian, rendah diri, atau rasa pahit, dan kadang-kadang, rasa marah, benci, murka dan hasrat untuk membalas dendam.

Bagaimana mungkin cinta menjadi semua emosi negatif ini? Ini sesungguhnya tidak bisa. Kenyataan yang sederhana adalah bahwa emosi kita tidak pernah dimulai dengan cinta yang murni. Itu lebih merupakan “ketertarikan” yang pada tingkatan tertentu juga dilandasi oleh kebutuhan.

Ini bukan berarti bahwa kita harus menolak diri kita sendiri karena kita jarang sungguh-sungguh mencintai seseorang secara murni. Mengapa? Karena kita masih belum tercerahkan, lalu bagaimana kita melakukannya dengan tepat? Itu sama artinya kita menolak diri kita sendiri karena kita belum memiliki ijazah universitas saat kita masih berada di kelas 1 SD, karenanya kita masih merupakan kuncup bunga, yang belum mekar. Merupakan hal yang alamiah bahwa kita masih belum dapat mencintai secara tanpa syarat. Ini merupakan tahapan evolusi kita.

III. Membebaskan cinta kita dari Kebutuhan

 

Langkah pertama dari membuka hati kita terhadap cinta yang murni adalah: menerima dan mencintai diri kita seperti apa adanya dengan segala kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan kita. Hanya setelah itu kita bisa melangkah lebih lanjut secara efektif.

Langkah kedua adalah dengan mulai mengobservasi segala macam rasa yang timbul di segala lini kepribadian kita. Melalui observasi diri yang obyektif, kita dapat menentukan di situasi yang bagaimanakah kita mencintai secara tanpa syarat dan di dalam situasi yang bagaimanakah kita sedang merasakan “cinta” dengan pengkondisian spesifik/tertentu. Contoh-contoh berikut akan sangat membantu.

IV. Memerlukan orang-orang yang membuat kita merasa aman

 

Kita mencari orang lain untuk keamanan. Kita mungkin mencari rasa keamanan ini dari orang tua kita, pasangan hidup kita, saudara, anak-anak, majikan, teman-teman, alim ulama, guru-guru spiritual atau yang lainnya.

Kita benar-benar cinta terhadap orang-orang ini, tetapi seringkali cinta tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa mereka menawarkan kita rasa keamanan. Jika mereka mulai bertingkah laku sedemikian rupa yang bisa menghalangi perasaan kita akan rasa aman atau bilamana mereka memutuskan untuk  meninggalkan kita atau mengabaikan kita, apakah kita masih akan mencintai mereka?

Bila majikan kita memecat kita, masihkah kita akan mencintainya? Bila orang tua kita mengusir kita dari rumah, akankah kita masih mencintai mereka? Atau apakah cinta kita terajut erat-erat dengan kebutuhan akan rasa aman?

Bila sebagai orang tua, kita bermimpi atau bercita-cita bahwa anak-anak kita kelak akan menjadi sukses secara ekonomi dan diterima oleh masyarakat, akankah kita masih sama mencintai anak-anak kita ketika mereka menjadi artis jalanan, pengemis, atau anarkis? Beberapa orang tua akan mampu melakukannya, yang lain belum tentu.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah perasaan kita akan cinta tetap kokoh dan konsisten, tanpa memperdulikan segala perubahan-perubahan sikap dari orang-orang yang kita “cintai” itu?. Dalam setiap kasus dimana kita merasakan hati kita tertutup, kita perlu menemukan apa saja yang kita takutkan pada situasi atau kondisi itu. Apakah yang kita percayai sedang dalam bahaya? Yang sering terjadi adalah kita kehilangan cinta kita ketika kita takut bahwa rasa keamanan kita, harga diri kita, kebebasan kita atau kesenangan kita dalam bahaya.

Hanya ketika kita telah menyadari rasa aman dari dalam diri secara menyeluruh, yang mungkin dilandasi dari kebangkitan spiritual dari dalam diri atau keyakinan kita kepada Yang Ilahi, maka kita akan mampu untuk mencintai seseorang tanpa kemelekatan/ikatan keamanan. Hanya ketika kita tahu bahwa kita dapat hidup tanpa orang-orang tersebut, maka kita dapat benar-benar mencintai mereka secara terus menerus.

Lingkungan masyarakat telah menyebabkan kita menjadi sungguh-sungguh bingung akan masalah ini. Kita dibuat percaya bahwa jika kita mencintai orang lain, maka kita harus secara total tergantung kepada mereka dan harus mempunyai rasa takut bahwa dunia kita akan hancur jika sesuatu menimpa mereka. Ini sesungguhnya adalah rasa tidak aman.

Ini adalah karena kurangnya kesadaran akan potensi alamiah spiritual dari dalam diri kita dan kemampuan kita untuk bergelut dengan kehidupan ini sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengan cinta.

V. Cinta, Kesenangan atau afirmasi/penegasan?

 

 (Lihat di Bagian ke 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: