Berbagai Tingkatan Cinta Bagian ke 2


http://www.facebook.com/wiryakusuma?ref=ts#!/note.php?note_id=425805517270

oleh Vincent Wiryakusuma pada 29 Agustus 2010 jam 19:08.

Pada Bagian ke 1, telah dijelaskan berbagai Tingkatan Cinta dari I sampai IV.

V. Cinta, Kesenangan atau afirmasi/penegasan?

 

 Membutuhkan orang lain untuk kesenangan

Marilah kita menguji bagimana kebutuhan-kebutuhan kita akan kesenangan dan penegasan dapat membatasi dan mendistorsi pengalaman kita akan cinta.

Kita menciptakan hubungan/persahabatan yang memberikan kita kesenangan dan penegasan, termasuk rasa aman. Kita mungkin bergantung kepada orang lain untuk: uang, pemondokan, seks, melancong/plesiran, pakaian, dorongan, dukungan, pujian, humor, makanan yang enak, sebuah rumah yang bersih, rasa nyaman, atau bahkan kecantikan.

Tetapi, jika ia berhenti memberikan hal-hal seperti diatas kepada kita, atau memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain, apakah kita tetap melanjutkan mencintai orang tersebut ataukah kita merasa terlukai, kecewa, dan mengatasinya dengan rasa tidak adil, rasa marah dan mungkin dendam?

Kondisi semacam ini adalah “Aku mencintaimu selama kamu memberiku kesenangan, kebahagiaan atau kegembiraan. Jika kamu berhenti melakukannya, perasaanku berubah.” Inilah yang disebut cinta dengan syarat.

VI. Memerlukan orang lain untuk penegasan/afirmasi

 

Kita juga bisa bergantung kepada orang lain untuk penegasan. Ini bisa berupa macam-macam bentuk. 

 VI.1. Kita merasa diberikan penegasan ketika orang lain menurut kepada kita. “Kamu dengarkan saya dan lakukan apa yang saya katakan. Saya dapat mengontrol kamu. Itu membuat saya merasa berkuasa dan berharga. Jika, bilamana, kamu berhenti melakukan apapun seperti yang saya katakan, saya akan berhenti mencintaimu maupun menyatu dengan mu.” Ini menjadi sebuah masalah untuk para orang tua ketika anak-anak mereka mulai beranjak ke usia remaja. Ini bisa juga terjadi diantara pasangan hidup. Di banyak negara, seorang istri bisa saja ditekan pada awalnya, sehingga sang suami merasa berkuasa dan mendapatkan penegasan. Jika, ketika si istri mulai berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri, sang suami mulai panik dan dapat menjadi marah serta terkadang menjadi agresif. Peranan ini mungkin bisa terbalik dimana si wanita mengontrol dan merasakan penegasan dari suaminya.

VI.2. Kita juga merasa memperoleh penegasan ketika seseorang memerlukan kita atau bergantung kepada kita. Ini bisa terjadi antara orang tua dengan anak-anak, guru dan murid, sahabat, atau diantara “penderma/penyelamat” dan “yang memerlukan.” Dalam kasus-kasus ini, “penderma/penyelamat” merasa memperoleh penegasan dan mungkin lebih superior dibandingkan “yang memerlukan”. Ini merupakan satu aspek dari rasa saling ketergantungan. Beberapa diantara kita menemukan arti hidup karena seseorang memerlukan kita atau bergantung kepada kita. Jika bagaimapun juga yang lain  tidak mau menjadi anak, murid atau yang memerlukan lagi, apakah kita masih merasakan tertarik atau cinta? Jika tidak, artinya cinta kita masih dipadukan dengan kebutuhan kita untuk “dibutuhkan/diperlukan”. Dalam sebuah kasus, kita perlu memberi, menawarkan, dan berkorban supaya merasa berguna, berharga atau meningkatkan harkat pribadi. Jika ini adalah kasusnya, berarti semua yang kita tawarkan di dalam situasi ini, seluruh pengorbanan kita, sesungguhnya adalah untuk diri kita sendiri dan bukan untuk orang lain!. Biasanya ungkapan ini disampaikan dengan memperhalus kata-kata yang dibungkus, seperti: “Karena aku cinta kamu, maka aku mengalah/melakukannya demi kamu agar/untuk …..”   Nah, “demi kamu” atau “demi aku”?

Kejadian diatas tidaklah mengubah kenyataan bahwa orang lain mungkin memang benar-benar membutuhkan kita, atau bahwa kita secara bersamaan juga mempunyai rasa cinta altruistic (cinta yang lebih mengutamakan pada kepentingan orang lain). Kita sering termotivasi oleh dua atau tiga motivasi secara bersamaan.

VI.3. Aspek ketiga dari ketertarikan akan penegasan ini adalah situasi dimana kita “mencintai” orang-orang “yang menegaskan hak kita atau keberadaan kita”, apakah itu dilakukan secara lisan dengan memberitahu bahwa kita benar, atau hanya karena berada pada tatanan sosial yang sama, sistim politik yang sama, agama atau kelompok spiritual sehingga memeluk sistim kepercayaan yang sama/mirip.

“Saya mencintai kamu karena kamu setuju dengan saya, kamu seperti saya, kamu menegaskan keberadaan saya”. Jika mereka mengubah kepercayaan mereka dan berubah kepada partai politik lainnya, agama lainnya, atau kelompok spiritual lainnya, akankah kita tetap merasakan kedekatan yang sama dan rasa “cinta”?” Mungkin ya, mungkin tidak.

VI.4. Aspek keempat dari prinsip penegasan ini adalah infatuation (tergila-gila) – disebut “Eros” (dalam bahasa Yunani “erotas”) atau “jatuh cinta”. Dalam kasus ini, ada rasa tergila-gila yang saling menguntungkan (terkadang hanya satu pihak saja) pada tingkatan fisik, seksual, emosional dan kadang-kadang tingkatan mental. Ini merupakan ketertarikan yang khusus antara 2 orang yang merasa gembira, memperoleh suka cita dan saling menstimulasi satu sama lainnya secara positif. Stimulasi positif ini sering berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman, kesenangan dan penegasan.

Intensitas perasaan semacam diatas jarang sekali bisa bertahan lama atau bahkan bertahun-tahun. Mengapa? Pasangan semacam ini mempunyai kemungkinan berubah atau mentransformasi “Eros” mereka kedalam suatu bentuk kokoh dari cinta tanpa syarat, atau masing-masing akan berhadapan dengan konflik yang menyedihkan dan atau perpisahan. Cepat atau lambat, kita akan tiba pada saatnya kita berhadap-hadapan dengan berbagai aspek negatif pasangan kita, dan jika kita tidak dapat mencintai mereka apa adanya, maka hubungan itu akan sangat menderita.

Sampai saatnya kita mampu untuk mencintai tanpa syarat, kita akan merasa tidak bahagia, merasa tidak aman dan seringkali berkonflik dengan orang-orang di sekeliling kita. Kita akan mampu melakukan hal ini hanya ketika kita telah cukup matang/dewasa untuk mengalami rasa aman yang timbul dari dalam, rasa puas yang timbul dari dalam, rasa bebas yang timbul dari dalam, dan sebuah rasa yang mantap akan manfaat keberadaan diri.

Dengan kata lain, kita mampu hanya mencintai secara murni kepada mereka-mereka yang tidak kita butuhkan.

Ketika kita membutuhkan orang lain, kita tidak dapat mencintai mereka dengan tanpa syarat. Ini mungkin sulit untuk dipahami pada awalnya, tetapi dengan pemikiran yang mendalam dan observasi terus menerus, maka akan terbutki bahwa ini benar. Mampu mencintai tanpa syarat-syarat merupakan syarat mendasar bagi kehidupan yang membahagiakan sekaligus evolusi spiritual.

VII. Cinta yang tidak mementingkan diri sendiri (Selfless Love)

 

Selfless Love bagi orang yang spesifik  

Tahap penting di dalam evolusi dari cinta adalah kemampuan untuk mencintai orang lain tanpa memperdulikan tingkah laku mereka. Mungkin contoh yang terdekat yang pernah kita alami adalah cinta terhadap anak-anak kita.

Ada sejumlah orang tua yang benar-benar tidak mementingkan dirinya sendiri dalam hal cinta mereka kepada anak-anak mereka. Mereka menjaga cinta mereka yang teguh dan terus menerus kepada “anak-anak mereka” bahkan ketika anak-anak mereka tidak lagi menjalani kehidupan sesuai harapan mereka, bahkan ketika anak-anak mereka menolak dan melecehkan orang tua mereka, dan bahkan ketika anak-anak mereka menjadi tokoh kriminal yang berbahaya.

Cinta semacam ini bukanlah cinta universal, juga tidak tanpa syarat, karena masih ada satu kondisi, yaitu di sisi lain ia adalah “anak ku” dan bukan anak orang lain.

Kita mungkin saja mengalami jenis cinta yang ini (selfless love) yang diberikan kepada orang-orang tertentu/spesifik, ketika ia adalah “muridku” atau dibawah “tanggungjawabku”. Cinta semacam ini berhubungan dengan peranan perlindungan atau merasa bertanggungjawab atas seseorang. Itu membuat kita menerima segala jenis kelakuan dari orang lain dan tetap melanjutkan untuk menerima dan mencintai mereka dengan pengertian dan kasih sayang.

Di dalam sejumlah kasus, kita mungkin juga merasakan cinta semacam ini kepada orang-orang yang berada di kelompok yang sama, misalkan: rasa kebangsaan, seagama atau strata sosial.

Dalam kasus-kasus ini, kita tidak memperoleh hasil yang nyata dari individu-individu ini. Kita tidak memerlukan apa-apa dari mereka. Cinta kita tidak tergantung pada ketaatan mereka akan kelakuan jenis tertentu atau bahkan balasan akan cinta kita kepada mereka. Cinta kita lebih tidak mementingkan diri kita sendiri, tetapi masih spesifik dan tidak universal.

VIII. Cinta universal yang tidak mementingkan diri sendiri (Universal Selfless Love)

 

(Lihat Bagian ke 3)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: