Berbagai Tingkatan Cinta Bagian ke 3, Tamat


http://www.facebook.com/?sk=messages#!/notes/vincent-wiryakusuma/berbagai-tingkatan-cinta-bagian-ke-3-tamat/426508427270

oleh Vincent Wiryakusuma pada 29 Agustus 2010 jam 19:03.

Pada Bagian ke 2, telah diuraikan tingkatan cinta dari V sampai ke VII

VIII. Cinta universal yang tidak mementingkan diri sendiri (Universal Selfless Love)

 

 Tingkat berikutnya adalah memperluas perasaan kita akan cinta tanpa syarat dan menerima lebih banyak atau lebih luas lagi lingkungan manusia dan akhirnya menerima seluruh mahluk ciptaan – termasuk hewan, tanaman dan serangga. Cinta pada tingkatan ini, bagaimanapun masih ditujukan kepada bentuk. Kita masih terfokus kepada bentuk-bentuk sementara yang dipakai oleh kehidupan yang ada; jadi kita merasakan suatu kesedihan ketika mereka mengalami penderitaan atau ketidakbahagiaan, atau ketika kita kehilangan mereka.

Kita merasakan mereka sebagai suatu realitas. Kita merasakan cinta dan penerimaan untuk mahluk tersebut, tetapi kita masih hidup didalam ilusi bahwa bentuk itu merupakan realitas.

Kita lupa bahwa dibalik bentuk itu sesungguhnya ada kesadaran yang penuh dengan kedamaian yang tidak pernah mati, yang mana hanya sementara saja memproyeksikan dirinya di planet bumi ini. Kesadaran Universal tidak pernah ada rasa sakit, tidak pernah menderita, tidak pernah merasa tidak bahagia dan tidak pernah dapat mati. Kesadaran semacam ini merupakan realitas yang utama dari seluruh mahluk atau segala kehidupan yang kita cintai.

Orang-orang yang mengalami universal selfless love sering memilih karir atau gaya hidup yang mengijinkan mereka untuk bisa melayani secara menyeluruh dengan cara yang sama. Mereka mungkin bergabung dengan kelompok-kelompok pelayanan seperti Korps Perdamaian atau organisasi pelayanan sukarela. Mereka merasakan sebuah kebutuhan untuk mengekspresikan bahwa cinta melalui tindakanlah yang akan meningkatkan kualitas hidup dari siapapun di sekitar mereka, terutama sekali bagi mereka-mereka yang sedang menderita, kesepian dan tidak berbahagia.

Kepentingan mereka menjangkau diluar batasan-batasan diri mereka dan keluarga terdekat mereka. Mereka mulai menyadari bahwa seluruh mahluk adalah saudara mereka di dalam satu keluarga spiritual dari seluruh umat manusia. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran diri mereka, mereka bahkan merasakan bahwa seluruh hewan, tanaman, dan serangga adalah “keluarga mereka” . Mereka mencari untuk mengekspresikan cinta ini melalui tindakan-tindakan berupa pelayanan dan perhatian.

IX. Cinta universal yang bersifat spiritual (Spiritual Universal Love)

 

Sebuah tingkat akhir dari proses kematangan spiritual kita adalah berkembangnya cinta universal yang bersifat spiritual dimana kearifan atau diskriminasi spiritual telah ditambahkan ke cinta kita. Kita sekarang merasakan seluruh bentuk dari berbagai manifestasi dari Satu yang tidak berubah, selalu penuh kedamaian, kesadaran Ilahi.

Pada keadaan ini, kita mengalami cinta murni yang mana kita tidak lagi bisa membedakan antara yang lain dengan diri kita sendiri. Meskipun, seperti tingkat cinta sebelumnya, kita melanjutkan untuk membantu dan melayani dimanapun kita berada, kita tidak begitu terpengaruh oleh rasa sakit dan penderitaan yang sedang kita hadapi. Kita menyadari bahwa kesadaran spiritual lah yang sesungguhnya yang sedang mengekspresikan dirinya melalui bentuk yang telah dipilihnya untuk melewati dan mengalaminya karena itulah stimulus berikutnya, yang seseorang perlukan untuk proses pertumbuhan spiritualnya.

Kita sekarang sadar bahwa kita semua sedang melewati berbagai pengalaman yang tepat, menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang mana kita perlukan agar supaya kita bangkit dari mimpi kita akan ilusi dari realitas material ini. Walaupun kita tidak terpengaruh oleh penderitaan yang sedang kita lihat, kita bahkan lebih mendedikasikan diri kita secara utuh kepada hal-hal yang menghilangkan penderitaan ini. Jadi, kita mencintai dan menerima seluruh mahluk ciptaan sebagaimana mereka adanya, sementara itu kita mengarahkan energi kita kepada hal-hal yang menfasilitasi proses terbukanya spiritual kita secara saling menguntungkan ini.

Masing-masing dari kita bergerak maju kearah spiritual ini dengan caranya yang unik.Sebelumnya kita telah mencoba untuk menyelesaikan berbagai masalah manusia untuk mereka. Sekarang kita sadar bahwa cara paling efektif yang bisa kita lakukan untuk orang lain  adalah mencintai dan menerima mereka sebagaimana mereka adanya dan menguatkan mereka untuk menemukan kearifan dari dalam diri mereka sendiri dan kekuatan agar supaya mereka bisa mengatasi berbagai problema mereka.

Kita sekarang sadar bahwa solusi utama bagi masalah-masalah ekonomi dunia, politik dan sosial adalah pendidikan. Kita mengalami hal-hal seperti “kearifan cinta” or “cinta yang arif” yang berasal dari guru-guru spiritual kita yang tertinggi. Terkadang sulit untuk memahami cinta dan perhatian dari mereka ini, yang mana seringkali bagi para murid-murid pemula, nampak sebagai keacuhan, terutama sekali ketika kita sedang melewati berbagai ujian-ujian hidup dan kita mengharapkan reaksi simpati atau emosional dari guru-guru spiritual kita. Sulit sekali bagi beberapa orang untuk menyadari bahwa terkadang akan lebih mencintai dengan membiarkan seseorang menderita sedikit lebih banyak agar ia dapat menemukan solusinya sendiri dan tumbuh lebih kuat serta lebih bebas daripada keacuhan/kelalaian. Hanya orang yang telah sadar/tercerahkan yang dapat mengetahui, kapan “untuk tidak membantu” secara eksternal karena ini akan merupakan tindakan yang paling dipenuhi cinta bagi orang tertentu.

Banyak orang tua akan bisa belajar dengan lebih baik untuk mempelajari bentuk kearifan cinta ini. Mereka mungkin akan membantu anak-anak mereka jauh lebih baik lagi jika saja mereka bisa menahan diri mereka dari membantu menyelesaikan problema anak-anak mereka setiap kali anak-anak itu sedang dalam masalah. Bagaimanapun juga, tidak ada seorangpun yang harus, menyalahartikan kalimat tersebut diatas sebagai anggapan bahwa kita tidak boleh menolong orang-orang yang sedang membutuhkannya. Kita harus menolong, tetapi kita juga harus bertanya kepada diri kita sendiri: bantuan apa yang paling tepat untuk setiap situasinya.

Bantuan terbesar dan paling berharga yang bisa kita tawarkan untuk membantu mereka-mereka yang kita cintai, adalah membantu mereka untuk menyentuh kekuatan dan kearifan yang ada di dalam diri mereka sendiri. Ini artinya, pada saat ini, berarti membantu dan, pada saat lainnya, berarti membiarkan mereka berjuang sendiri sementara itu kita berdoa secara mental untuk mereka dan menvisualisasikan mereka dalam lindungan cahaya.

Bagi orang yang telah mencapai kesadaran spiritual, melihat orang-orang yang menangisi peristiwa-peristiwa yang tidak membahagiakan di dalam kehidupan mereka atau adanya ketakutan mereka akan masa mendatang, itu sama seperti kita sedang menyaksikan seorang anak kecil yang sedang menangis meratapi sebuah mainannya yang telah rusak atau ekspresi ketakutannya pada orang-orang besar yang jahat. Kita bersimpati dan memahami perasaan anak itu. Kita mencintainya dan ingin membantunya, tetapi kita tidak dapat benar-benar ikut kuatir. Mereka-mereka yang pada tingkatan cinta seperti ini kadang-kadang tidak menunjukkan ekspresi emosionalnya, yang mana, mungkin bagi orang-orang lain bisa dipakai untuk lebih mengenali tanda-tanda cinta. Seiring dengan pertumbuhan spiritual kita, kita mulai mengerti bahwa cinta yang murni merupakan cinta yang ditujukan kepada jiwa/Roh yang berada di dalam diri manusia lainnya, yang sedang mencari untuk membebaskan dirinya dari keacuhan dan ilusi dari kelemahan dan ketakutan.

Orang yang telah mencapai kesadaran diri atau tercerahkan ini menawarkan bantuan pada tingkatan lain melalui bentuk-bentuk pemikiran yang positif, melalui berbagai doa-doa dan kadang-kadang, langsung berhubungan dengan tingkatan astral, biasanya melalui berbagai mimpi. Dengan cara ini, bantuan diberikan tanpa mengurangi atau menghambat keyakinan diri dari yang dibantu.

X. Mencintai Gelombang atau Samudera (Loving the Wave or the Ocean)

 

 Ketika kita membatasi cinta kita kepada seorang tertentu (kita tidak maksudkan secara seksual, tetapi lebih kearah emosional, mental dan spiritual), akan sangat sulit untuk mengalami cinta dalam ekspresinya yang tertinggi. Kita mencintai orang ini dan bukan lainnya. Kita cenderung mengfokuskan pada orang-orang tertentu, “mencintai” mereka seringkali karena mereka menawarkan rasa aman, rasa senang atau penegasan; atau karena kita menganggap mereka adalah “milik kita”.

Cinta yang murni adalah universal. Ia dapat mengekspresikannya kepada setiap mahluk tertentu, tetapi ia tidak dapat membatasinya pada mahluk itu saja atau kelompok mahluk-mahluk itu saja. Kalau hal itu terjadi, maka itu adalah cinta yang dipadukan dengan pengkondisian. Setiap individu merupakan satu dari gelombang-gelombang yang tak terhitung banyaknya yang merupakan bagian dari samudera kesadaran. Samudera merupakan Kesadaran Universal yang Tunggal, yang untuk sementara waktu sedang mengambil bentuk dari gelombang-gelombang tertentu dan lalu menghilang kembali ke “tanpa bentuk” menyatu dengan samudera lagi sebelum tampil kembali menjadi bermilyar-milyar gelombang lainnya. Seluruh gelombang ini merupakan ekspresi dari satu samudera!.

Ketika kita memilih satu gelombang dari samudera Keberadaan dan membatasi cinta kita hanya pada gelombang itu, kita sesungguhnya, mencintai sebuah ilusi. Gelombang yang kita cintai itu hanyalah manifestasi sementara dari Keberadaan Universal (Universal Being), yang mana bermanifestasi sebagai keberadaan lainnya secara bersamaan. Bentuk yang kita fokuskan adalah sebuah wujud sementara berupa manifestasi fisik, emosional, mental yang akan kembali kedalam samudera itu.

Ketika kita mencintai air yang ada di gelombang tersebut, yaitu esensi spiritualnya, Roh yang berada di dalamnya, maka kita mulai mencintai seluruh gelombang yang ada. Air yang sama yang berada di seluruh gelombang itu. Esensi spiritual yang sama juga ada di setiap kehidupan. Lalu, kita mencintai esensi yang ada dari ciptaan lainnya dan tidak hanya kepada bentuk mereka atau keuntungan-keuntungan tertentu yang kita terima dari mereka. Kita mencintai Roh yang ada di dalamnya. Cinta kita sekarang adalah tanpa syarat dan universal!. Ia tanpa syarat karena ia tidak tergantung pada apa yang lainnya lakukan atau tidak lakukan, dan universal karena kita mulai mencintai lebih banyak orang terlepas dari penampilan mereka, karakter mereka, dan faktor-faktor tipuan/kepalsuan lainnya.  Kita mencintai Roh yang ada di dalam diri mereka. Kita sebagai Roh adalah menyatu dengan Roh, yang berada di dalam diri mereka.

Jadi kita dapat mencintai gelombang itu atau kita dapat mencintai samudera dan seluruh gelombangnya. Inilah pilihan kita.

Cinta seperti biji emas yang ditambang dari dalam bumi; ia dipadukan dengan metal lainnya (segala macam emosi, segala kebutuhan). Tugas kita adalah memurnikan emas tersebut melalui segala macam usaha kita untuk mencintai tanpa syarat di dalam semua persahabatan kita, tidak perduli apakah yang lain mencintai kita atau tidak. Hanya saat itulah kita akan benar-benar berbahagia. Hanya saat itulah kita akan mengalami diri sejati kita.

Ketika aku mencintaimu secara murni

Ketika aku mencintaimu secara murni, Aku berharap kamu selalu berbahagia dan sehat.

Aku menanggapi segala kebutuhan jiwamu tetapi tidak selalu pada hasrat egomu.

Aku dengan sukacita menawarkan waktuku, uang dan energiku untuk mendukung mekarnya bunga jiwamu.

Aku berbahagia atas kesuksesanmu, bahkan ketika itu berarti kurangnya perhatian dan penegasan untukku.

Aku menerima kamu persis sebagaimana adanya kamu.

Ketika aku mencintaimu secara murni, kamu bagaikan sebuah bunga, suatu ekspresi yang unik dari energi Ilahi.

Aku melihat kecantikan dari dalam dirimu bahkan ketika kamu sendiri tidak dapat mengekspresikannya.

Ketika aku mencintaimu secara murni, aku berkomunikasi denganmu secara jujur, mengungkapkan kepadamu segala kebutuhan, perasaan dan pikiranku yang sebenarnya.

Tidak mungkin bagimu melukaiku, karena cinta yang murni tidak mengharapkan apa-apa dan selalu tidak pernah dicatat.

Aku membiarkanmu menemukan kebahagiaanmu dengan siapapun dan dengan cara yang bagaimanapun seperti yang kamu rasakan tuntunan dari dalam dirimu.

Ketika aku mencintaimu secara murni, aku melihatmu bukan sebagai milikku dan tidak memintamu untuk hanya mencintaiku.

Itu akan membatasi jiwamu dan menghalangi jiwamu untuk menumbuhkan cinta universal.

Ketika aku mencintaimu secara murni, aku mengalami ke Ilahi an yang sejati dari dirimu; karena cinta yang murni adalah Ilahi dan merasakan hanya yang Ilahi.

Aku tidak dapat pernah merasa takut ketika kamu sedang melewati segala kesulitan karena aku ingat bahwa kamu selalu memiliki ujian-ujian yang tepat, yang menfasilitasi manifestasi dari keagungan dari dalam dirimu dan kekuatan yang berhubungan dengan mereka.

Ketika aku mencintaimu secara murni, aku menyelamatkanmu di saat-saat yang tepat untuk kamu menemukan sendiri segala solusi dan segala jawaban, bahkan ketika aku merasakan penegasan ketika aku menemukannya untuk mu.

Dari cinta yang ada aku mengijinkanmu untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi di dalam dirimu.

Bagaimanapun juga, agar bisa mencintaimu secara murni, aku perlu menjadi lebih kuat dan berhenti membutuhkan kamu untuk merasa aman dan berharga.

Aku akan perlu mentransendensikan kesepian dan berada bersamamu karena aku mencintaimu dan bukan karena aku memerlukanmu.

Tidaklah mungkin untuk mencintai secara murni apa-apa yang aku butuhkan.

Sesungguhnya hanya dari suatu posisi dari kekuatan dalam diri, kemandirian dan pemenuhan aku dapat mencintaimu secara murni.

Bahkan ketika kamu meninggalkan tubuh fisikmu, kesedihanku tidak akan berasal dari cintaku tetapi dari kebutuhanku akan kehadiranmu secara fisik.

Kamu adalah mahluk yang Ilahi, yang akan terbebaskan dari kendaraan fisikmu.

Air mataku akan siap untukku. Tetapi untukmu aku akan berbahagia.

Majulah kasihku, Kamu bukanlah milikku  Tetapi milik Alam semesta. Karena itulah kamu yang sesungguhnya, Alam Semesta.

Robert Elias Najemy’s recently released book “The Psychology of Happiness” (ISBN 0-9710116-0-5) http://www.HolisticHarmony.com/psychofhappiness.html 

Author’s website: http://www.HolisticHarmony.com

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kadang setiap orang memiliki karakter yang berbeda dan sifat yang berbeda pula. ada yang berani mngungkapkan perasaan cintanya secara langsung, ada yang tidak berani mangungkapkan perasaannya cintanya bahkan hanya dipendam didalam hati…….

    nah terkadang perasaan yang dipendam ini yang menjadi masalah dalam dirir kita, jadi gak enak makan, gak tidur, perasaan serba salah salah karena itu tadi cinta yang belum terungkapkan………

    jadi lebih baik kita mengungkapkan perasaan cinta kita dengan cara apapun yang penting perasaan kita sudah terungkapkan mau itu nantinya diterima atau tidak oleh orang yang kita cintai itu urusan nanti. yang penting hati kita plong karena perasaan sudah diungkapkan hehehehehe

    Bali Villa Bali Villas Bali Property

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: