Dengarkan Suara Jiwa, Renungan Kesembilan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Renungan Kesembilan dari Lima Belas Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensinya.

Sang Istri: Renungan Kesembilan……. Dengarkan suara jiwa kita: kita harus berkembang dari dalam diri. Tidak ada yang bisa mengajar, tidak ada yang membuat kita spiritual. Tidak ada pengajar kecuali jiwa kita sendiri.

Sang Suami: Kata lain dari suara jiwa adalah suara hati nurani. Dalam buku “Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan bahwa…… Suara lembut hati nurani anda, adalah suara “wong cilik” dalam diri anda. Dengarkan suara hati anda. Biarkan diri anda dituntun olehnya. Jangan tergoda oleh suara keras mind yang selalu membingungkan. Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”. Dan penemuan “jati diri” tidak bisa disebut keuntungan ataupun kerugian. Bahkan tidak bisa disebut “penemuan”. Anda tidak pernah kehilangan jati diri. Selama ini, anda hanya tidak menyadarinya. Dengarkan suara nurani anda. Dan anda akan selalu berjaya, berhasil!…….

Sang Istri: Swami Vivekananda minta kita mendengarkan suara hati nurani. Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern” disampaikan bahwa…….. Lao Tze mengatakan bahwa suara hati nurani kita berasal dari sumber sama yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu dalam alam ini. Kebijaksanaan yang tidak dapat ditandingi, itulah suara nurani kita. Tetapi, suara hati nurani ini tidak akan terdengar oleh para cendekiawan. Mereka yang membanggakan dirinya sebagai cendekiawan akan menjadi tajam, menjadi teknokrat, birokrat. Mereka bisa menjadi apa saja. Mereka dapat menduduki jabatan-jabatan tinggi. Tetapi mereka kehilangan kontak dengan sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan materi, suara hati mereka, kesadaran mereka. Sebaliknya, mereka yang sadar begitu percaya pada diri sendiri, sehingga tidak akan terikat pada identitas-identitas diri yang palsu. Mereka tidak akan menyombongkan diri mereka sebagai cendekiawan. Mereka akan semakin rendah hati. Pandangan mereka semakin lembut, tidak terfokuskan pada sesuatu. Mereka melihat dunia ini seutuhnya. Untuk meraih sesuatu, mereka tidak akan besikeras sedemikian rupa sampai-sampai tindakannya merugikan orang lain.

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut disampaikan bahwa……. Lao Tze akan sangat membingungkan mereka yang hanya bekerja dengan fakta. Lao Tze melihat di balik fakta. Selama ini anda diharapkan menjadi tajam, pintar, cerdik. Lao Tze melihat bahwa kecerdikan kita selalu melahirkan konflik dan pertikaian. Ketajaman kita selalu menyakiti orang lain. Jadilah seperti pisau yang tumpul, maka Anda tidak akan menyakiti siapa pun. Semakin cerdik Anda, semakin jauh Anda dari suara hati nurani. Kecerdikan apa yang dimiliki oleh Muhammad? Pendidikan apa yang pernah diraihNya? Dalam kesederhanaan itulah, wahyu dapat diturunkan……..

Sang Istri: Iya suamiku, Swami Vivekananda minta kita mendengarkan suara jiwa bukan suara pikiran. Pikiran adalah kumpulan informasi, informasi dari luar diperoleh lewat panca indera. Informasi tersebut kontak dengan tubuh maka muncullah emosi. Oleh karena itu pikiran hanya menerima hal yang menyenangkan dirinya, menjauhi hal yang tidak menyenangkan dirinya dan acuh terhadap hal yang tidak berkaitan dengan dirinya. Karena dia selektif kadang kita mengabaikan hal yang penting bagi perkembangan jiwa kita. Dalam buku “Ishq Ibadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah” disampaikan bahwa…… Hasil ketajaman atau kecerdasannya yang membuat dia makin kritis. Karena menganggap kurang logis dan tidak masuk akal, otak kita bisa menolak apa saja, termasuk apa yang sesungguhnya amat sangat penting bagi perkembangan jiwa kita, bagi evolusi batin kita……..

Sang Suami: Mendengarkan suara jiwa juga berarti membuka jiwa kita, bukan membuka otak……. Dalam buku “Ishq Ibadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah” juga disampaikan bahwa……. Membuka diri tidak berarti membuka otak. Tanpa dibuka pun sesungguhnya otak kita sudah terbuka. Keterbukaan otak terhadap apa saja tidak menjamin penerimaan. Otak bisa terbuka, dan bisa tidak menerima. Membuka diri berarti membuka jiwa kita. Bila jiwa terbuka, otak, hati, semuanya serentak ikut terbuka. Tidak perlu membuka satu persatu. Kita bisa membuka jiwa cukup dengan niat: Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati……… Dengan hanya mengulangi niat untuk membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran saja, sesungguhnya kita sudah melangkah ke dalam keterbukaan diri! Setiap kali melihat sesuatu yang baru, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Bukalah dirimu, jiwamu, batinmu, ucapkan niatmu,maka jiwamu akan terbuka semakin lebar………

Sang Istri: Bukalah hatiku sehingga terdengar suara-Mu yang berasal dari dalam diriku juga. Selama ini yang terbuka hanyalah pikiran kita. Itu pun baru terbuka sedikit saja……… Kemudian, undang-undang, kitab suci semua akan kita gunakan demi kepentingan diri, demi keuntungan pribadi. Padahal yang dibutuhkan adalah keterbukaan hati. Undang-undang  bukan tak bisa salah. Penafsiran serta pemahaman kita bisa keliru, tetapi hati nurani tidak pernah salah. Suara hati tidak pernah keliru……. Demikian disampaikan dalam buku “Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi”……..

Sang Suami: Swami Vivekananda minta kita mendengarkan suara hati, bukan suara pikiran dan perasaan. Dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan Memacu Evolusi Diri” disampaikan bahwa…….. Kita perlu waspada, jangan-jangan apa yang kita anggap “suara hati” selama ini sesungguhnya bukanlah suara hati. Itu baru tuntutan pikiran dan perasaan. Mereka bergabung untuk menciptakan kebisingan  di dalam diri. Kemudian, kebisingan di dalam diri itu  membuat kita menjadi “berisik”. Dan, selama kita masih berisik, suara hati tidak terdengar. Karena itu, tenang dulu… dalam keadaan tenang itulah, suara hati baru terdengar. Bagaimana menenangkan diri, supaya suara hati terdengar jelas? Pertanyaan ini selalu muncul karena ketololan kita dalam memahami “mekanisme” badan. Kita bisa mulai dengan memperhatikan badan. Perhatikan napas, detak jantung, denyutan otak kita. Dalam keadaan tenang, napas kita teratur; detak jantung harmonis, berirama; dan denyutan otak menjadi sangat pelan. Sebaliknya, dalam keadaan tidak tenang, napas kita tidak teratur. Detak jantung tidak harmonis. Iramanya kacau. Denyutan otak menjadi liar. Untuk menenangkan diri, aturlah napas. Tarik  napas dan buang napas 10 menit saja, maka kita menjadi tenang……….

Sang Istri: Yang berjiwa scientist akan mengejar pembuktian. Ia bisa menjadi seorang ilmuwan, seorang cendekiawan. Ia akan menghafal teks-teks agama. Ia bisa berceramah. Ia bisa memikat masa dengan dalil-dalilnya. Bahkan bisa menjadi seorang pakar agama. Ia masih belum spiritual. Jiwa dia masih seorang saintis. Ia adalah manusia berotak “pincang”, karena yang berkembang hanyalah otak kirinya. Otak kanan yang berhubungan dengan keindahan, dengan rasa, dengan seni, belum berkembang. Kelompok yang berjiwa spiritual telah mengalami perkembangan otak kiri dan sekarang tengah mengalami perkembangan otak sebelah kanan. Ialah seorang “Insan Kamil”—manusia sempurna. Yang masih mengejar mukjizat, yang masih mencaripembuktian, yang masih mengharapkan “yang aneh-aneh” adalah orang-orang yang berjiwa pincang. Ia butuh waktu, dan  butuh waktu cukup lama untuk melampaui otak kiri dan mengembangkan otak kanannya…….. Demikian disampaikan dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha”.

Sang Suami: Kebenaran dihasilkan oleh intuisi, dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. Saat dalam kebingungan, duduklah diam bersama diri Anda. Rileks, berhenti sejenak, tenang dan Anda akan mulai mendengar suara halus intuisi Anda, intuisi yang sinonim dengan Kebenaran. Hanya apabila Anda berada dalam keadaan hening, intuisi mulai berfungsi. Tak peduli betapa populernya suatu kepercayaan, apabila suara halus intuisi Anda tidak mendukungnya, itu bukan diperuntukkan bagi Anda. Ikuti intuisi Anda sendiri. Sebutlah itu nurani Anda, atau mungkin intuisi Anda-apa pun yang Anda suka, itu adalah rahim yang mengandung Kebenaran. Inilah definisi saya tentang Kebenaran dan saya percaya bahwa Kebenaran ini sendiri saja yang dapat membuat Anda jaya, menang…… Demikian disampaikan dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”……….

Sang Istri: Suara hati nurani akan membawa kita kepada penemuan jatidiri. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa……… Cinta berasal dari hati nurani. Dan cinta tidak pernah takut. Demi cinta, seseorang bisa melakukan apa saja. Bisa membunuh dan bisa terbunuh. Seorang penguasa bisa meninggalkan kekuasaannya. Seorang raja bisa melepaskan kerajaannya. Itu baru cinta. Apalagi Kasih! Kasih yang berasal dari lapisan nurani yang terdalam, terbawah, lebih berani lagi. Jika Anda sudah mulai kontak dengan suara hati nurani bila Anda mulai mendengarkan suara hati nurani, penemuan jati diri tinggal tunggu hari saja. Bisikannya saja sudah cukup untuk membebaskan Anda dari rasa takut. Sebaliknya, tidak adanya kontak dengan hati nurani membuat Anda tidak mengenali diri sendiri……..

Sang Suami: Istriku aku ingat pada petikan dari buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern”…….  Dengarkan sekali lagi hadits yang indah ini “Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang lemah lembut dan tenang yang dapat memuat-Ku”. Keyakinan, kelembutan dan ketenangan, tiga hal ini yang anda butuhkan. Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam kalbu anda, dalam hati anda, itu saja yang anda butuhkan. Selama anda masih mencari-Nya di luar, sesungguhnya anda belum berkeyakinan, anda belum cukup lemah lembut dan jelas belum tenang…….. Semoga kita semua menjadi hamba yang beriman yang lemah lembut dan tenang…………

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: