Menjadi Diri Sendiri, Renungan Kesepuluh Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri kembali membicarakan tentang Renungan Kesepuluh dari Pandangan Hidup Swami Vivekananda. Buku-buku Bapak Anand Krishna tetap menjadi referensi mereka. Karena pandangan-pandangan Bapak Anand Krishna telah mengubah diri mereka dari dalam, sehingga hidup mereka menjadi lebih bermakna. Dan mereka yakin bahwa pandangan para Master itu universal adanya.

Sang Istri: Renungan Kesepuluh…….. Menjadi Diri Sendiri: Keyakinan terbesar adalah menjadi benar sesuai sifat alami diri. Miliki keyakinan dalam diri!

Sang Suami: Swami Vivekananda memberi nasehat tentang pentingnya kekuatan diri sendiri, bukan menyandarkan diri pada kekuatan di luar……… Power adalah kekuatan yang berasal dari dalam diri sendiri. Sifatnya alami. Force adalah kekuatan yang berasal dari luar diri, dibuat-buat, tidak alami, termasuk bila kita percaya pada dukungan dari pihak lain, baik  institusi maupun perorangan……. Buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” menyampaikan bahwa kita mempunyai potensi diri yang masih harus dikembangkan……… Hidup kita terasa hampa, kosong, karena memang tidak ada isinya. Kita tidak pemah mengisinya dengan sesuatu yang indah. Hidup kita tidak memiliki kedalaman. Kalaupun memiliki kedalaman, maka masih kosong. Kehampaan itu, kekosongan itu yang membuat kita gelisah. Kemudian, kita berupaya untuk mengisinya dengan kekayaan, kedudukan dan ketenaran. Semuanya sia-sia, karena kekayaan, kedudukan dan ketenaran akan menguap dalam sekejap. Sesaat kemudian, kita menjadi hampa kembali, kosong lagi. Lalu gelisah lagi! Kita tidak bisa mengisi diri kita dengan bayang-bayang. Kita harus mengisinya dengan sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna. Dan yang lebih berarti, yang lebih bermakna itu sesungguhnya sudah ada dalam diri kita. Sudah ada dalam bentuk “potensi” – potensi diri yang masih belum berkembang, yang masih harus dikembangkan. Kembangkan potensi diri, jadilah diri sendiri. Lalu, apabila I Ching menganjurkan agar kita meniru para bijak, yang dimaksudkan adalah “tirulah semangat mereka”. Meniru seorang Lao Tze atau seorang Buddha atau seorang Muhammad tidak berarti kita menjadi photo-copy mereka. Tirulah kegigihan mereka dalam hal pengembangan diri. Jika itu yang kita lakukan, kita akan selalu jaya, selalu berhasil!……..

Sang Istri: Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan tahapan spiritual yang dimulai dengan menjadi diri sendiri……..  Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Pada tahap awal itu, dualitas masih akan tetap ada. Baik-buruk, surga-neraka, panas-dingin, Adam-Iblis – semuanya masih ada. Begitu pula dengan keangkuhan, kesombongan, arogansi masih tetap ada. Karena itu, setelah berhasil mengusir “kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. Jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan. Terakhir, baru mengatasi “dualitas”…….. Belum mengusir kemunafikan, belum pula mengusir keangkuhan, sudah cepat-cepat ingin melampaui dualitas. Jelas tidak bisa………..

Sang Suami: Benar istriku, bahkan menjadi diri sendiri itu adalah sisi lain dari moksha, kebebasan. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa…….. Jangan menganggap dirimu rendah, jangan menganggap dirimu tinggi. Just be yourself. Jadilah dirimu. Itu saja. Tidak perlu meniru orang. Dan “menjadi diri sendiri” itulah moksha—kebebasan! Kesadaran diri atau “menjadi diri sendiri” merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Yang menyadari dirinya akan menjadi bebas. Yang bebas akan menyadari dirinya. Kesadaran diri merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Shri Shankara sedang berupaya untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya kita bukan budak. Sesungguhnya tidak ada rantai yang membelenggu kita. Bahwasanya kita sedang mengada-ada. Sadarlah!…….

Sang istri: Mengenal diri sendiri berarti mengenal Allah. la tidak berada di suatu tempat di atas, yang selama ini kita namakan sorga. Menyatakan bahwa Allah berada di sorga, dan tidak di neraka, hanya membuktikan betapa sempitnya Kekuasaan Allah. la berada di mana? Sorga dan neraka bukanlah nama suatu tempat. Kehidupan ini bisa menjadi sorga dan bisa juga menjadi neraka bagi kita. Hidup dalam kasih-Nya, hidup dengan kesadaran, itulah sorga. Itu yang membuat hidup Anda bahagia. Hidup dalam kebencian, hidup tanpa kesadaran, itulah neraka. Itu yang membuat hidup Anda sengsara…….. Demikian disampaikan dalam buku ”Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”. Suamiku, bila Allah berada di Timur di Barat dan di mana-mana, semestinya berada dalam diri kita juga. Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan bahwa……. Yesus adalah cerminan diri kita. Ia sedang mengajak kita untuk  “menjadi” Dia; menjadi diri sendiri. Kita tidak mengindahkan ajakan itu, karena memang lebih gampang memuja-Nya; lebih gampang “menyatakan diri” sebagai pengikutnya daripada “menjadi Dia”. Menjadi “Dia” adalah pekerjaan yang sangat berat; kita belum siap untuk itu. Menyatakan diri sebagai umat Kristiani adalah pekerjaan yang mudah. Menjadi Kristus dan memikul sendiri kayu salib adalah pekerjaan berat……..

Sang Suami: Benar istriku…….  Penerapan syariat haruslah dimulai dari “diri sendiri”. Agama haruslah terlebih dahulu diterjemahkan dalam keseharian kita sendiri. Sudahkah kita berdamai dengan diri sendiri? Sudahkah kita menerapkan kasih dalam keseharian kita? “Berdamai” berarti kau menerima kesenangan dan ketaksenangan mereka dengan rasa kasih yang sama. Kau tidak lebih mengasihi mereka yang menyenangimu dibandingkan dengan mereka yang tidak menyenangimu. Semangat inilah yang harus mewarnai syariat. Ketika bicara tentang Mohabbat atau Kasih Sejati, Cinta Ilahi, sebagai “hasil akhir syariat”, janganlah kau mengartikan bahwa penerapan syariat harus menunggu sampai berkembangnya Kasih di dalam dirimu. Penerapan syariat dengan penuh kesadaran, bukan karena paksaan, itu pun pada diri sendiri, kelak akan berkembang menjadi Mohabbat, Kasih. Kemudian, kehadiranmu, keberadaanmu akan menyebarkan syariat, Syariat Mohabbat…….. Demikian disampaikan dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog”……

Sang Istri: Dalam buku “Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran” disampaikan  bahwa Kesadaran Murni dapat dicapai dengan mengenali jatidiri……… Aku meyakini bahwa meskipun sudah sadar, jika dipengaruhi oleh mind, kesadaran manusia bisa merosot lagi. Kemudian, ia mengalami perubahan-perubahan, penderitaan dan kelahiran serta kematian yang  tidak berkesudahan………. Menemukan jatidiri sama dengan menemukan Tuhan. Aku meyakini bahwa Sumber Abadi/Puncak Kenyataan atau Kesadaran Murni dapat dicapai dengan menyadari atau mengenali jatidiri………. Sekarang aku baru tahu, baru yakin bahwa Kesadaran diri harus diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Aku meyakini bahwa kesadaran diri mengantar kita pada tindakan tanpa perbuatan dan akhirnya pada pencerahan………. Sekarang aku baru tahu, yakin bahwa di atas segalanya, seseorang harus mandiri. Aku meyakini kemandirian diri dan harus bertanggungjawab pada suara hati nuraninya sendiri yang merupakan manifestasi dari kesadaran-Nya – dari Kesadaran Murni!………

Sang Suami: Keyakinan terbesar adalah menjadi benar sesuai sifat alami diri.… Swami Vivekananda agar kita sesuai dengan sifat dasar, sifat alami kita. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan bahwa….. Ketahuilah sifat dasarmu. Seperti apakah jiwamu? Jiwa seorang seniman atau seorang saintis? Seorang seniman yang berprofesi sebagai peneliti, dokter, politisi atau prajurit, akan menderita seumur hidup, karena semua pekerjaan itu membutuhkan otak, bukan hati. Ketahuilah sifat dasarmu. Jika kita memiliki jiwa seorang saintis, dan berprofesi sebagai musisi atau penari, kita pun pasti gagal dan menyebabkan penderitaan bagi diri sendiri. Setelah mengetahui sifat dasar, pelajarilah kemampuan diri. Jangan melakukan sesuatu di luar batas kemampuan, kecuali kita ingin meningkatkan kemampuan diri. Dan keinginan itu disertai dengan upaya nyata, dengan kerja keras untuk mencapainya. Dua check points utama adalah : Pertama: Ketahuilah sifat dasarmu. Kedua: Kenalilah kemampuan dirimu……….

Sang Istri: …….Mulai saat ini, cintailah diri Anda sendiri. Cintailah hidup ini. Jadikan kehidupan ini menjadi sesuatu yang dinamis. Beralirlah seperti sungai. Jangan berhenti dalam perjalanan Anda menuju Lautan Illahi. Belajarlah berkata, “Aku mencintai diriku”. Anda selama ini sibuk mempelajari orang lain, mencintai orang lain, memperhatikan orang lain – sehingga lupa mempelajari diri sendiri, mencintai diri sendiri, memperhatikan diri sendiri. Jangan sibuk membuka selubung orang lain, bukalah selubung Anda sendiri…….. Demikian disampaikan dalam buku ”Kehidupan. Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”.

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan” disampaikan bahwa……. Temukan Dirimu dengan upaya sungguh-sungguh. Inilah jihad sesungguhnya. Jihad untuk mempertemukan kita dengan diri sendiri. Inilah yang mendatangkan kebahagiaan, karena jihad yang ini mempertemukan kita dengan Sumber Segala Kebahagiaan di dalam diri kita. Kebahagiaan yang tidak tergantung pada hal-hal luaran; kebahagiaan yang tidak membutuhkan pemicu-pemicu dari luar; kebahagiaan yang kekal, abadi, sekekal diri kita, seabadi jiwa kita. Kebahagiaan itulah jadi diri kita. Itulah sifat dasar kita. Apa yang disebut jati diri sesungguhnya bukanlah jati diri-”mu” atau jdi diri-“ku” tetapi hanya jati diri. Titik. Jati diri adalah esensi kehidupan, inti sari kehidupan; titik awal dan titik akhir kehidupan……..

Sang Istri: Latihan-latihan meditasi hanya dapat mengantar Anda sampai pada tahap “kenal cinta”, kenal “diri sendiri”, kenal Allah. Selanjutnya Anda harus berjalan sendiri. Selanjutnya, Anda harus kerja sendiri. Berserah diri sepenuhnya, penggallah “kepala” ego Anda, dan cinta dalam diri Anda akan semakin matang, semakin dewasa, semakin mendekati “tahap kasih”, di mana Anda merasakan kesatuan, persatuan dengan semesta……. Demikian disampaikan dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi”.

Sang Suami: Bagaimana pun dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri “ disampaikan bahwa…….. Dunia kita terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok yang malas dan mengharapkan perubahan dan kelompok yang rajin dan mengakibatkan terjadinya perubahan. Celakanya, kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tak pernah surut. Banyaknya jumlah pemalas itu telah mempengaruhi seluruh budaya kita. Lebih banyak di antara kita yang “berharap” daripada yang bekerja untuk mewujudkan harapan itu. Mereka belum paham bahwa pembaharuan itu mesti terjadi dari diri sendiri…….. Semoga kita semua melakukan pembaharuan diri sendiri……

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: