Daya Kekuatan Dalam Diri, Renungan Keduabelas Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya mengagumi Swami Vivekananda. Swami Vivekananda adalah Master, Pemandu rohani yang memiliki semangat bergelora. Bung Karno, Presiden Pertama Indonesia menjadikan Swami Vivekananda sebagai idolanya. Nampaknya, Bung Karno dan mereka yang berjuang bagi Ibu Pertiwi tak pernah lepas dari penjara yang direkayasa para musuhnya. Tetapi mereka tak pernah menyerah putus asa, karena meyakini Kebenaran mereka. Kali ini sepasang suami istri membicarakan renungan keduabelas dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Buku-buku Bapak Anand Krishna menjadi referensi mereka…..

Sang Istri: Renungan Keduabelas…….. Kita memiliki Daya Kekuatan: Semua potensi daya kekuatan di alam sudah ada dalam diri. Adalah kita sendiri yang meletakkan tangan sebelum mata kita berteriak hari mulai gelap. (Adalah kita sendiri yang menyerah selagi kesempatan berjuang masih ada).

Sang Suami: Leluhur kita, Dharmakirti Svarnadvippi, seorang “Guru” dari Sumatera di Zaman Sriwijaya mengajarkan bahwa kita memiliki potensi yang luar biasa. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan………Hampir seribu tahun yang lalu, bangsa kita pernah melahirkan seorang pujangga yang namanya pun tidak tercatat dalam sejarah kita. Orang itu adalah Dharmakirti. Intisari ajaran Dharmakirti pun demikian: pelajarilah dirimu, urusi dirimu. Dengan mempelajari diri, sesungguhnya Anda sudah mempelajari Keberadaan. Dengan menyelami diri, Anda sudah menyelami Tuhan. Dengan mengenal diri, Anda mengenal Allah. Segala sesuatu dalam alam ini ada dalam dirimu. Dan apa yang ada dalam dirimu juga ada dalam alam ini. Tidak ada perpisahan antara kamu dan sesuatu yang dekat dengan kamu. Tidak ada pula perpisahan antara kamu dan sesuatu yang sangat jauh darimu. Dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, semuanya ada dalam dirimu…..

Sang Istri: Yang bermakna itu sesungguhnya sudah ada dalam diri kita. Sudah ada dalam bentuk “potensi” diri yang masih belum berkembang, yang masih harus dikembangkan. Seorang Master memahami potensi manusia, oleh karena itu dia mendorong para muridnya untuk mengembangkan potensi dirinya……… Seperti seorang anak nelayan yang baru pertama kali berenang di laut, kemahiran berenang sudah ada di dalam “gen” dia. Sang anak telah mewarisinya dari kedua orang tuanya, namun kemahiran itu masih berupa potensi yang terpendam; seperti benih yang masih berupa biji, belum ditanam. Ia masih harus menanamnya, dan menanamnya sendiri. Sang ayah bangga melihat anaknya terjun ke dalam laut tanpa bantuan. Ia meneriaki anaknya dari jauh saat menghadapi ombak besar, bagaimana ia harus merenggangkan otot-ototnya, and just let go! Ia tidak ikut terjun, karena ia yakin akan kemampuan anaknya. Anak itu adalah perluasan dari jiwanya; jiwa seorang nelayan. Ia membiarkan anaknya terombang-ambing, karena ia yakin bahwa anaknya tidak akan tenggelam. Ia juga mempercayai kemampuannya sendiri, dengan instingnya sebagai nelayan. Bila anak itu sudah mulai tenggelam dan tidak mampu membantu dirinya, sang ayah akan mengetahuinya dan akan langsung terjun ke laut untuk menyelamatkannya. Seperti sang nelayan itulah Sadguru, Guru Sejati, Master, Murshid! Demikian disampaikan dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo”.

Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan…….. Manusia lahir dengan potensi untuk mengungkapkan kemanusiaannya secara sempurna. la lahir bersama benih kemanusiaan. Pun Keberadaan menyediakan seluruh bahan baku, sarana dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengungkapan kemanusiaan itu. Namun, adalah kesadaran awal manusia yang dibutuhkan untuk meracik bahan baku yang telah tersedia dan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mengungkapkan jati-dirinya – kemanusiaannya. Kesadaran awal manusia membebaskan dirinya dari arogansi, dari keangkuhan, dari kesombongan……… Dalam buku ”Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan…… Kesadaran awal adalah bahwa kita belum sadar. Atisha menganjurkan agar kita “meneliti sifat kesadaran yang belum lahir dalam diri kita”. Atisha menganjurkan agar kita menyadari bahwa “kesadaran belum tumbuh dalam diri kita”. Kesadaran masih merupakan potensi yang terpendam. Kita berpotensi menjadi Buddha, mencapai kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapai. Dan kita harus menyadari hal itu…… Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan…….. Setidaknya kita semua sudah memiliki potensi untuk itu. Selanjutnya, tinggal dikembangkan. Namun, ada juga yang tidak mengembangkannya, sehingga potensi itu mulai berkarat. Pada akhirnya, potensi itu tidak dapat digunakannya, seperti biji yang tidak ditanam dan di sia-siakan. Akhirnya, ia mati. Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan. Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya;  seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah “kenyaman” yang mematikan potensi kita……..

Sang istri: Sayangnya, sistem pendidikan dan norma-norma sosial kita tidak dapat memberikan apa yang sang anak perlukan….. . Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……. Kebutuhan fisik, mental, intelektual dan emosional kita terpenuhi. Tetapi kebutuhan spiritual tidak. Anak di dalam diri kita tetap saja kurang gizi dan tak berkembang. Atas nama spiritualitas, anak sering dicekoki dogma dan doktrin agama. Hadiah dan hukuman, surga dan neraka, Tuhan dan setan, semuanya ini matematika belaka. Makanan ini bagus buat pikiran, intelek dan emosi, tetapi tidak bagi sang jiwa. Sang anak di dalam diri, percikan spiritual di dalam diri tiap orang dari kita, perlu berjalan terus melewati seluruh dualitas dan kemudian menyatu dengan sang sumber, sumbernya di dalam Jiwa. Diri kecil kita kangen, rindu menyatu dengan Diri yang Lebih Tinggi. Sang anak, sang bayi di dalam diri kita mencari kebahagiaan sejati. Dia tidak peduli akan kenyamanan fisik dan kenikmatan sensual …….. Tetapi masyarakat dan norma-norma sosial menentang kegelisahan macam ini. Sesungguhnya mereka malah tidak mau mengakui keberadaannya. Masyarakat dan sistem sosial bersama-sama memutuskan pendidikan macam apa yang bakal diberikan pada anak-anak. Keputusan mereka mencerminkan kebutuhan mereka, bukannya kebutuhan, kesenangan, ketidaksenangan, dan potensi sang anak. Anak yang memenuhi kebutuhan mereka bakalan diberikan hadiah dan penghargaan……..

Sang Suami: Swami Vivekananda memberi nasehat perlunya kita gigih berjuang…….. Sebelum penerimaan wahyu, seorang nabi pun menjalani suatu proses yang cukup panjang. Adalah kekeliruan manusia jika proses itu tidak diperhatikan. Adalah kemalasan manusia jika proses itu diabaikan. Adalah kelicikan manusia bila ia tidak mau tahu tentang proses itu. Kenapa? karena, dengan cara itu ia dapat membenarkan kemalasannya, “Mereka kan nabi; sementara aku hanya orang biasa!” Kita mau berubah, tetapi tidak mau bekerja. Malas. Lalu, kemalasan kita dimanfaatkan oleh mereka yang sedikit kurang malas dari kita. Mereka menawarkan pembangkitan kundalini, pencerahan instant, bahkan ke avataran, ke buddhaan dan kerasulan bersertifikat. Wueee hebat ! Jaman dulu, para avatar, rasul dan Buddha tidak memiliki sertifikat dari Tuhan Allah. Perubahan tidak terjadi begitu saja. Kita harus berupaya tidak bermalas-malasan untuk itu. Demikian disampaikan dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”……….

Sang Istri: Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru” disampaikan….. Ada yang, bersifat malas, ada pula yang menjadi malas karena kelemahan fisik. Namun, keduanya, menurut Niti Sastra, sulit mencapai kesempurnaan hidup. Pertanyaan yang barangkali timbul, sifat malas dapat dipahami, tetapi bagaimana dengan mereka yang menjadi malas karena lemah fisik? Ada kalanya, kelemahan fisik pun karena kemalasan kita mengurusi badan; kemalasan kita memperbaiki diri; kemalasan kita melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk. Seorang penjudi pun sesungguhnya pemalas. la ingin mencari uang dengan cara gampang. Begitu pula dengan para penipu dan pembohong. Mereka mau untung, tapi tidak mau membanting tulang. Para pezinah juga malas. Mereka menginginkan pelampiasan nafsu tanpa tanggung jawab. Seorang pemalas sungguh tidaksadar. Bagaimana pula ia dapat menggapai kesempurnaan dalam hidupnya? Bagaimana pula ia dapat memperoleh pencerahan?

Sang Suami: Benar istriku…… Ciri khas Kebahagiaan Sejati adalah aktivitas, kerja nyata, kerja keras, ketekunan, semangat. Ia yang bahagia tidak pernah bemalas-malasan. Mereka yang bermalas-malasan sesungguhnya belum bahagia. Mereka sekedar menikmati buah perbuatan mereka, hasil pekerjaan mereka dimasa lalu. Kenikmatan mereka bersifat sementara. Pikirannya lumpuh, kehendaknya lemah…… Demikian disampaikan dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan“. Kemudian buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” menyampaikan……. Seorang pejuang berkata bahwa Orang yang benar-benar percaya bahwa Tuhan itu bersifat Adil, Pengasih dan Penyayang harus menjadi pejuang yang militan, supaya keadilan, kasih dan sayang itu dapat mengalir sebagai sungai yang jernih, yang dengan airnya menghidupkan bumi…… Menjadi pejuang militan tidak berarti menjadi perusak. Menjadi militan berarti menjadi dinamis. Dinamika murni dan bertanggungjawab yang harus menjadi motor penggerak National Integration Movement. Bergeraklah, jangan duduk diam……. Orang yang menyebut nama Tuhan, tetapi tidak berjuang supaya bumi menjadi tempat yang aman dan damai, bebas dari haus dan lapar, sengketa dan benci, tindasan dan peperangan, kapitalisme dan imperialisme, tidak lebih dari badut di panggung sandiwara dunia…….

Sang Istri: Kehendak yang Kuat dan Semangat untuk Berjuang, ibarat dua sisi kepingan uang logam, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Celakanya, kita hidup di tengah masyarakat di mana “semangat untuk berjuang” bukanlah sesuatu yang diminati oleh para tokoh. Kita telah menjadi bagian dari sistem, di mana para pembuatnya adalah politisi, petinggi, pakar, dan mereka yang menganggap diri mereka super dan melebihi orang lain. Mereka takut kehilangan kedudukan dalam masyarakat. Mereka sangat takut terhadap para pejuang karena para pejuang adalah para pemberontak yang dapat mengakhiri sistem buatan mereka. Karena itu, seluruh sistem pendidikan kita pun disesuaikan sehingga tidak lagi menciptakan generasi yang kritis. Menjadi kritis berarti menggunakan pikiran dan hati. Menjadi kritis berarti memutar otak dan merasakan apa yang tidak terasakan oleh banyak orang….. Demikian disampaikan dalam buku “Youth Challenges And Empowerment. Dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog” disampaikan……. Krisis yang dialami negeri kita sungguh multi-dimensional, sekian banyak sisinya – ada sisi ekonomi, sisi politik, bahkan sisi agama. Di atas segalanya, Krisis segala Krisis yang tengah kita alami saat ini sesungguhnya Krisis, jati Diri. Kita lupa jati diri kita siapa. Kita lupa potensi diri kita, kemampuan kita. Kita menjadi bangsa pengemis…… Semoga kita semua sadar…..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: