Belajar Setiap Hari, Renungan Ketigabelas Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan renungan ketigabelas dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi mereka. Nampak pandangan para Master ada benang merah kesamaannya.

Sang Istri: Renungan ketigabelas…….. Belajar Setiap Hari: Tujuan manusia adalah kesadaran…. kesadaran melekat pada manusia. Tak ada kesadaran datang dari luar, semuanya ada di dalam. Apa yang kita katakan tentang mengetahui, dalam bahasa psikologi adalah menemukan atau menyadari. Apa yang dipelajari manusia sejatinya adalah menemukan dengan cara membuka selubung jiwanya, di mana terdapat sumber kesadaran tanpa batas.

Sang Suami: …….Banyak penerjemah, termasuk para swami, para guru besar, menerjemahkan “gyaana” sebagai knowledge atau pengetahuan. Lebih tepat jika gyaana diterjemahkan sebagai knowingness. Bagaimana menerjemahkan knowingness dalam bahasa Indonesia? Saya tidak tahu, maka terpaksa saya menerjemahkannya sebagai “kesadaran”. Sungguh tidak masuk akal, jika gyaana diterjemahkan sebagai pengetahuan. “Latihan Pengetahuan” apa yang dimaksudkan oleh Shankara? Jika pengetahuan bisa membersihkan diri manusia, para ahli kitab tidak akan menolak Yesus. Buddha dan Muhammad pun akan mereka terima. Ternyata tidak demikian. Yang menolak para avatar, para nabi dan para mesias selalu orang-orang yang berpengetahuan……. Demikian disampaikan dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”……

Sang Istri: untuk membahas kesadaran, kita perlu memahami dulu kata Atman. Salam Buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia” disampaikan…….. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap “rasa” atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, “Cinta”, “Rasa” adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat “materi”. Bagi dia “kesadaran” itu sendiri merupakan “kekuatan” – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat “materi”. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati……..

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Banyak orang khususnya para “pakar” menyalahpahami “Aku” sebagai ego. Ego adalah mind. “Aku” adalah Kesadaran Murni. Ego akan membuat Anda angkuh, sombong, arogan. “Aku” adalah jati diri Anda sendiri. Kesadaran Murni justru melembutkan jiwa. “Aku” adalah Kesadaran murni yang melembabkan jiwa. Kemudian dengan jiwa berlembab itu, Anda mengenal Kasih, dan mengasihi setiap orang sebagaimana mengasihi diri sendiri……..

Sang Istri: Kesadaran seorang sufi sudah bukan produk ego. Dalam buku “Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan” disampaikan……. Setiap orang hidup dalam dunia “ciptaan”nya, dalam alam raya “buatan”-nya. Dan, dunia “buatan” kita, alam “ciptaan” kita sungguh sempit, kecil, serba terbatas. Itu sebabnya, kita tidak merasa apa-apa bila tetangga kita tidur dengan perut kosong. Dalam “dunia kita” perut tetangga tidak sama dengan perut kita. Dunia kita, alam kita terbagi dalam sekian banyak kotak. Dan setiap kotak masih bersekat lagi. Ada kotak bangsa, negara. Adat sekat agama, suku, ras dan sebagainya. Kita bagaikan kawanan katak yang hidup dalam sumur. Seorang sufi keluar dari sumur itu. Pencerahan dia, kesadaran dia membebaskan jiwanya dari pengotakan dan penyekatan. Kemudian, ia menjadi “anak dunia”, putra alam raya. Kegerahan alam menggerahkan dirinya. Dan, kegelisahan dia menggelisahkan alam. Kesadaran seorang sufi semacam ini bukanlah produk ego yang serta terbatas, tetapi hasil dari pelepasan ego………

Sang Suami: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa…….. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke”aku”an. Kesadaran dan ke”aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke”aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke”aku”an, keangkuhan…….. Dalam buku “Be Happy! Jadilah Bahagia Dan Berkah Bagi Dunia” disampaikan bahwa……. Kebahagiaan karena kepuasan dan ketenangan batin atau contentment dan inner peace muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas, bila tak terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan sadar kita membatasi keinginan kita. Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita dapat membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Ketenangan batin dan kepuasan itulah yang sesungguhnya membahagiakan manusia……

Sang Istri: …..Kedamaian yang langgeng terwujud apabila terjadi peningkatan kesadaran dalam diri. Seseorang harus “mengalami”-nya sendiri. Membaca buku, mengumpulkan informasi tidak berguna. Bahkan bisa menjadi hambatan, rintangan dalam perjalanan spiritual kita. Itu sebabnya, saya tidak pernah bicara tentang “pengalaman-pengalaman” dalam alam meditasi. Apabila saya menceritakan, Anda akan berhalusinasi. Anda akan mencari pengalaman-pengalaman seperti itu, padahal pengalaman setiap individu berbeda. Anda mencari pengalaman yang sama. Lantas Anda berpikir bahwa Anda sudah sampai, padahal berjalan pun belum……… Demikian disampaikan dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik”……

Sang Suami: Apa yang dipelajari manusia sejatinya adalah menemukan dengan cara membuka selubung jiwanya, di mana terdapat sumber kesadaran tanpa batas. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan……. Manas + isha = manushya = manusia. Tambahkan manas atau mind, pikiran pada Isha atau keilahian, maka “terjadilah” manushya atau manusia. Manushya atau manusia dikurangi manas atau mind, pikiran tinggal ishya, keilahian. Pikiran menjauhkan kita dari Allah. Pikiran itulah hijab, maya, ilusi yang sebenarnya juga merupakan ciptaan-Nya. la menciptakan pikiran terlebih dahulu, supaya manusia tercipta. Peleburan pikiran mempertemukan diri kita dengan Sang Maha Cipta, bukan Pencipta, tetapi Cipta. Ia bukanlah “sosok” pencipta. Ciptaan terjadi karena Keberadaan-Nya, Kehadiran-Nya……..

Sang Istri: Sri Mangkunegara IV menyampaikan beberapa tahapan dalam membuka selubung jiwa…….. Sembah raga merupakan persiapan, sedangkan Sembah Cipta ini sudah mulai memasuki esensi agama. Hasil akhir Sembah Cipta adalah Kesadaran. Yang harus dibersihkan adalah jiwa. Jiwa yang ditutupi oleh awan ketidaksadaran, kabut kebodohan……… Sembah Jiwa berarti menyadari sepenuhnya bahwa Sukma dan Hyang Sukma hanya terlihat berbeda, dan pada hakikatnya tidak berbeda. Kesimpulannya, dalam persembahan ini, Anda masih harus berusaha. Penglihatan Anda masih sempit dan datar harus ditingkatkan. Anda harus melihat ke atas untuk melihat sumber cahaya. Kesadaran Anda harus ditingkatkan…….. Sembah Rasa merupakan hasil akhir perjalanan spiritual kita. Sembah Rasa sudah bukan merupakan proses lagi, tetapi hasil suatu proses. Kesadaran raga dapat dilewati oleh kesadaran cipta. Kesadaran cipta dapat dilampaui oleh kesadaran jiwa. Tetapi dalam kesadaran jiwa itu, rasa masih ada. Ketenangan, ketenteraman, kesentosaan, kedamaian, semuanya ini merupakan rasa. Pada tingkat Sembah Rasa, rasa pun terlampaui. Bedanya proses ini terjadi sendiri…… Demikian disampaikan dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”.

Sang Suami: Benar isteriku, pintu jiwa yang terkunci harus dibuka. Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan” disampaikan…… Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, sesungguhnya Aku dekat…….  Anda tidak harus mencari-Nya. Anda tidak perlu mencari-Nya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran Anda. Sadar akan Kehadiran-Nya, di sini, saat ini. la tidak pernah ke mana-mana. la Maha-Ada. Apabila kita tidak menyadari Kehadiran-Nya, kitalah yang salah. Mungkin mata hati kita tertutup; mungkin pintu jiwa kita terkunci; mungkin batin kita masih tertidur, sehingga Kehadiran-Nya tidak terasa……. 

Sang Istri: Kita harus membangunkan kesadaran putra-putri bangsa. Dalam buku “Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia” disampaikan…… Untuk membangun Indonesia Baru, manusianya harus dibangun terlebih dahulu. Bukan sistem, manusia belum bangun mau buat sistem macam apa? Manusia yang tak sadar hanya akan menciptakan sistem-sistem tanpa kesadaran, sistem-sistem yang tak berguna…….  Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” disampaikan……. Mpu Tantular, Sang Bhagavan yang melahirkan Sutasoma, yang melahirkan moto bangsa kita: Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Walaupun kepercayaan kita, agama kita, kewajiban serta tugas-tugas kita berbeda, di balik perbedaan pada permukaan ini, ada persatuan, ada kesatuan. Latar belakang budaya yang besar inilah yang bisa melahirkan karya-karya sastra besar, yang bisa memberikan Sutasoma dan candi Sukuh. Kita menghormati semua agama. Di sini kita terlibat dalam suatu eksperimen yang dapat meningkatkan kesadaran kita berbangsa, yang dapat meningkatkan kesadaran sosial, moral dan spiritual bangsa Indonesia. Dan yang bisa mempersatukan Indonesia  hanyalah peningkatan kesadaran manusia Indonesia. Sekali lagi, saya tidak mencampur-adukkan agama. Hanya mereka yang belum sadar akan apa yang sedang terjadi disini yang mengkritik kita. Saya tidak akan pernah menyarankan Anda pindah agama. Siapa saya ini? Saya bukan tokoh agama. Saya ingin bicara dengan roh Anda, dengan jiwa Anda, bukan dengan badan Anda saja, bukan dengan atribut-atribut yang Anda peroleh karena kelahiran Anda. Apa agama yang Anda anut tidak menjadi masalah bagi saya.  Agama Anda adalah atribut yang Anda peroleh karena kelahiran Anda. Saya ingin berdialog dengan jiwa Anda. Saya ingin menggugah kesadaran Anda…….

Sang Suami: Dalam buku tersebut disampaikan bahwa…….. Mpu Tantular dengan Sutasoma-nya, ajaran-ajaran Tantra dengan Candi Sukuh-nya pernah berkembang di atas bumi Indonesia yang sama ini, pada suatu zaman keemasan di mana manusia Indonesia lebih bertanggungjawab, lebih sadar; Tidak pernah berperang atas nama agama; tidak terlibat dalam aksi pembakaran tempat-tempat ibadah. Tetapi, apa gunanya bernostalgia tentang masa lalu? Masa depan bangsa bisa menjadi lebih cemerlang, asal kita cepat-cepat menjadi sadar-sadar akan persatuan antar umat beragama, antara mereka yang beragama dan yang memilih untuk percaya pada Tuhan Yang Maha Esa tanpa menggunakan jubah salah satu agama. Sadar dan bertanggung jawab, itulah impian saya tentang manusia Indonesia mendatang…….. Semoga……..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: