Jagalah Kebenaran, Renungan Keempatbelas Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya membicarakan renungan keempatbelas dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Kembali mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi mereka.

Sang Istri: Renungan keempatbelas…….. Jagalah Kebenaran: Segala sesuatu dapat dikorbankan demi Kebenaran, tetapi Kebenaran tidak layak dikorbankan demi apa pun juga.

Sang Suami: Pandangan Swami Vivekananda tentang Kebenaran sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku “Total Success, Meraih Keberhasilan Sejati”…….. Truth Alone Triumphs: Pada akhirnya, hanya kebenaran yang selalu jaya. Jangan percaya pada kepalsuan. Jangan mempercayai mereka yang tidak jujur, karena ketakjujuran mereka itu sudah membuktikan bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu secara jujur. One who Protects Righteousness shall be Protected by Righteousness: la yang berpihak pada kebajikan akan dilindungi oleh kebajikan. Kebaikan menghasilkan kebaikan, dan kejahatan menghasilkan kejahatan. Ini adalah Hukum Alam…….. Kemudian dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” juga disampaikan bahwa……. Kebenaran pasti jaya. Demikianlah ungkapan dalam bahasa kuno. Inilah kepercayaan para leluhur kita. Kepalsuan tidak pernah bertahan lama. Kepalsuan tidak dapat bertahan lama. Karena itu, pastikan bahwa ide-ide, opini serta gagasan kita bersumber pada Kebenaran. Apa yang kita ungkapkan itu berasal dari pengalaman hidup kita sendiri? Kebenaran memang memiliki banyak sisi, namun sisi yang terdekat dengan kita adalah pengalaman hidup kita. Berkiblatlah pada sisi itu. Itulah Kebenaran bagi diri kita……. Bahkan dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan bahwa…… Keterpurukan negeri kita ini dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para pejabat kita, terjadi karena kiblat kita yang salah. Kita sudah tidak berkiblat pada Kebenaran, pada Allah Yang Maha Benar dan Maha Baik adanya…….

Sang Istri: Benar suamiku, akan tetapi Kebenaran itu bagi masing-masing orang mungkin berbeda. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…… Apa yang menurut kita Kebenaran, belum tentu demikian untuk yang lain. Kita berjuang untuk kemerdekaan; ini Kebenaran untuk kita, tetapi bagi yang memerintah kita, perbudakan kita adalah Kebenaran. Kita tidak dapat menyenangkan setiap orang. Bahkan kita pun tidak dapat selalu menyenangkan diri kita. Ikuti Kebenaran kita sendiri. Jika ini terlalu berat buat kita, biarkan saya ringankan sedikit. Biarkan saya bicara tentang tanggung jawab sosial, tanggung jawab sosial kita dan peran Kebenaran di dalamnya. Kita tetap sepenuhnya hidup di dunia ini. Kita tidak sendirian. Bicaralah tentang suatu Kebenaran yang enak didengar. Singkirkan sisi tidak enak dari Kebenaran. Bagilah dengan yang lain hanya hal-hal yang kita syukuri, hanya hal baik dari hidup kita……… Ada juga orang yang dengan mudah tidak dapat menyadari Kebenaran. Mereka secara mental buta, mungkin secara emosional dan intelektual juga buta. Mereka tidak dapat melakukannya. Mereka tidak dapat menatap langsung Kebenaran. Kecemerlangannya terlalu kuat bagi mereka. Terimalah Kebenaran dengan semua variasinya. Hormati perbedaan dalam beropini, dalam cara pandang. Tetapi, jangan meniru yang lain, jangan ikuti mereka secara membuta……

Sang Suami: Benar sekali istriku, Kebenaran bagi setiap orang berbeda karena setiap orang mendapat programming yang berbeda. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan……. Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia.  Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan…….. Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”……..

Sang Istri: Terima kasih suamiku, saya ingat bahwa dalam buku tersebut juga disampaikan…….. Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja. Kebiasaan dia melihat Kebenaran dari satu sisi ini yang berbahaya.  Dan, karena kebiasaan ini ditanamkan lewat conditioning agama, solusinya harus lewat agama pula. Seseorang yang bisa menerima setiap agama sebagai jalan sah menuju Tuhan telah terbebaskan dari conditioning. Sekarang, ia bisa menerima Kebenaran seutuhnya. Pandangan dia sudah mengalami perluasan. Telah terjadi revolusi dalam dirinya. Membebaskan diri dari conditioning agama juga tidak berarti bahwa kita melepaskan agama. Kenapa dilepaskan kalau agama itu memang merupakan jalan menuju Tuhan? Kenapa pula mempertahankannya  kalau sudah sampai tujuan? Tiba-tiba kita akan memiliki wawasan baru tentang jalan dan tujuan, tentang agama dan Tuhan. Orang-orang yang berwawasan baru inilah yang kita butuhkan. Sekali lagi deconditioning agama hanyalah sarana. Tujuannya adalah revolusi diri, kelahiran manusia baru. Dan manusia baru yang didambakan itu tidak akan lahir dari universitas yang berkiblat pada salah satu agama. Ia tidak akan menjadi alumni salah satu universitas. Ia akan  berkiblat pada universe – pada semesta! la akan menjadi alumni universe – alumni semesta! Biarkan terjadi revolusi dalam diri kita. Biarkan kepercayaan kita berkembang. Biarkan kesadaran kita meningkat……

Sang Suami: ….. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan dalam diri kita. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita…… Demikian disampaikan dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern”. Dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog” disampaikan bahwa……. Kebiasaan menerima “kebenaran siap-saji” dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat “disetel”, dapat “diprogram”, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya……. Ini yang dilakukan oleh “para otak teroris”. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka”. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap “satu-satunya kebenaran”.

Sang Istri: Oleh sebab itulah diperlukan perjuangan berat untuk mengungkapkan Kebenaran. Ada masyarakat yang belum sadar dan ada oknum yang ingin supaya masyarakat lebih baik tidak sadar saja. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan…… Kebenaran tidak pernah memecah-belah. Kebenaran selalu mempersatukan. Tetapi, kata Kahlil Gibran: Seorang pencari Kebenaran akan selalu menderita. Upayanya untuk mengungkapkan Kebenaran itu kepada masyarakat luas akan mengundang penderitaan. Saya tahu persis hal ini, karena itu pula yang terjadi terhadap diri saya. Kendati demikian, saya tidak mundur selangkah pun…….. Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern” disampaikan…… Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab Kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Mereka yang menganiaya Yesus, mereka yang meracuni Buddha, mereka yang membunuh Gandhi, di mana mereka semua? Nama-nama mereka dikenal, hanya karena mereka menganiaya orang-orang yang berada pada jalan benar. Apabila tidak demikian, nama-nama mereka akan hilang. Nama mereka tidak akan disebut dalam sejarah. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu…….. Dalam buku “Bagimu Ibu Pertiwi, Realisasi Nilai-Nilai Luhur Bhagavad Gita Demi Kebangkitan Jiwa Indonesia” disampaikan……. Pengorbanan adalah mahkota para satria. Tidak perlu aku kaitkan pengorbananmu dengan agama, dengan surga dan dengan para bidadari. Berkorban demi negara adalah Dharmamu, kewajibanmu, tugasmu……..

Sang Suami: Isteriku, kita diingatkan dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” tentang perlunya mata pelajaran Budi Pekerti di sekolah…….. Nilai-nilai luhur budaya, nilai-nilai universal keagamaanlah yang mesti diajarkan di sekolah. Inilah pelajaran Budi Pekerti yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Tidak perlu memisahkan anak-anak kita karena agama. Cerita-cerita dari semua agama yang bersifat mendidik dan universal patut diceritakan kepada semua anak. Mereka harus mengenal nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Mereka harus menghormati para tokoh dari semua agama, setiap agama. Kasih Sayang, Kebenaran, Kejujuran, Kesetiakawanan, Kebersamaan, Kedamaian, Kebajikan, dan nilai-nilai lain yang bersifat universal ada dalam setiap agama. Nilai-nilai ini yang mesti ditonjolkan supaya kita bisa menumbuhkembangkan kesetiakawanan sosial di dalam diri generasi penerus. “Bumi Pertiwi Indonesia adalah Ibuku – Dunia adalah rumahku,” inilah slogan yang dapat menjamin kejayaan negeri kita tercinta…….. Bukankah esensi agama, inti kitab-kitab suci, perlu dihayati dan dilakoni, dan bukan hanya dihafalkan ayat-ayat¬nya dalambahasa asing? Silakan fasih berbahasa Arab, Cina, dan terutama Inggris bila ingin bersaing dalam era globalisasi ini, tetapi janganlah hal itu dikaitkan dengan agama dan kitab suci tertentu. Apa jadinya bila setiap daerah memberlakukan peraturan seperti itu berdasarkan agama mayoritas yang ada di daerah masing-masing? Papua menjadikan bahasa Latin sebagai bahasa wajib, Bali bahasa Sanskerta, sebagian Sumatra dan/atau Kalimantan bahasa Mandarin, dan bahasa Arab di tempat-tempat lain. Lalu, apa jadinya dengan sumpah kita??

Semoga kesadaran dalam diri kita semua bangkit, Jayalah Ibu Pertiwi…….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: