Berani Berbeda, Renungan Terakhir Kelimabelas Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda


Sepasang suami istri setengah baya membicarakan renungan terakhir dari lima belas pandangan hidup Swami Vivekananda. Untuk membahas renungan tersebut, sepasang suami istri tersebut menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna. Diperlukan pikiran jernih untuk memahaminya. Dan pemahaman tersebut harus dilakoni dalam hidup nyata.

Sang Istri: Renungan kelimabelas…….. Berani berpikir beda: Semua perbedaan di dunia ini hanya dari derajatnya, bukan esensinya, karena keikaan adalah rahasia dari segala sesuatu.

Sang Suami: Einstein dengan rumus kekekalan energi E=MC2, menyatakan bahwa materi dalam kecepatan tertentu adalah energi, telah membuka cakrawala baru. Setiap materi mempunyai wujud dan sifat tertentu akan tetapi esensinya adalah sama yaitu energi. Semua materi di dunia ini terdiri dari kombinasi elemen alami, dan elemen alami tersebut memiliki esensi sebagai energi. Keikaan adalah rahasia dari segala sesuatu. Dalam buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra” disampaikan bahwa……. Energi dengan kepadatan yang paling dense, paling kasar, paling “padat” adalah Tanah. Dalam “keluarga besar tanah” pun sesungguhnya masih banyak anggota lain dengan kepadatan yang beragam. Energi dengan kepadatan yang kurang dense, disebut Air. Dengan berkurangnya kepadatan energi dalam bentuk Air pun lebih mudah menyebar. … Jiwa manusia pun persis sama. Makin ringan, tak terbebani, makin meluas, makin mudah menerima perbedaan. Api lebih cepat lagi menyebar, karena kepadatannya berada di bawah Air. Ia lebih ringan, lebih menyerupai Induknya, Energi Murni. Sebab itu, ia pun lebih kuat, lebih dahsyat. Elemen Angin berada di atas Api. Ia jauh lebih ringan, lebih halus, oleh karenanya lebih cepat menyebar. Angin, Udara, berada di hampir setiap tempat, dan hampir dapat disebut maha ada. Di atas Angin pun masih ada satu lagi yang kurang dense, kurang padat, yaitu Ruang – The Space. Dengan bantuan teknologi mutakhir, kita dapat menciptakan keadaan hampa udara, namun kehampaan itu sendiri tetap ada. Kehampaan itulah Space, Ruang yang kumaksud. Dan Space itulah Keberadaan – Existence………

Sang Istri: Ibarat sebuah roda, maka cara pandang terhadap sesuatu pun tergantung status kita berada di mana. Pada waktu kita berada di lingkar luar dengan kesadaran pikiran, maka segala sesuatu nampak berbeda. Semakin kita menuju ke dalam ke arah porosnya, maka perbedaan menjadi semakin sedikit dan di porosnya hanya ada satu, esensi keikaan. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya “intelegensia” bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari “intelegensia”. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind…….. Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum……. Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, budhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit…….. Sehingga dapat dipahami nasehat Swami Vivekananda, semua perbedaan di dunia ini hanya dari derajatnya, bukan esensinya, karena keikaan adalah rahasia dari segala sesuatu.

Sang Suami: Para suci menemukan esensi agama lewat rasa, bukan lewat pikiran. Dalam buku” Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan……. Mereka yang masih berada pada tingkat akidah agama, selalu membicarakan logika dan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Mereka masih sepenuhnya menggunakan pikiran atau mind. Sebaliknya, mereka yang sudah menemukan esensi agama mereka yang sudah memasuki alam spiritual justru membicarakan pelepasan pikiran. Pada tahap itu, yang berkembang adalah “rasa”. Lewat “rasa” inilah, seorang nabi memperoleh wahyu…….. Dalam buku “Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Esensi ajaran Islam, Hindu, Budha, Nasrani, dan lain sebagainya, harus mewarnai hidup kita, akhlak kita, batin kita. Dalam warna itu, kita semua dapat bersatu, akan bersatu. Karena, sebenarnya di balik warna-warna yang nampaknya berbeda ini ada warna dasar yangmampu mempersatukan kita, yaitu warna Kasih…….. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan…….  “Keagamaan” kita sama. Esensi atau nilai-nilai luhur yang terdapat dalam semua agama sama, yaitu Kasih, Kedamaian, Kebenaran, dan Kebajikan. Ketika kau menerjemahkan nilai-nilai itu dalam keseharian hidupmu, dan ketika aku menerjemahkannya dalam hidupku – maka kita bertemu!……..

Sang Istri: Buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” juga membahas pentingnya esensi agama…….. Spiritualitas membuat kita menjadi semakin lembut, semakin peduli terhadap lingkungan dan sesama mahluk hidup. Apabila kita menjadi semakin egois, semakin mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, kita belum spiritual. kita belum beragama. Walaupun kita mengenakan jubah seorang pendeta atau pastor atau ulama, ketahuilah bahwa sesungguhnya kita belum memahami esensi agama. Agama seharusnya membuat kita menjadi seorang warga negara yang baik. Esensi agama seharusnya membuat kita menjadi warga dunia yang baik. Fanatisme, kelompokisme, eksklusivisme – semua “isme-isme” itu harus dilampaui. Apabila kebaikan masih terkait dengan salah satu “isme”, kebaikan kita belum berharga, belum apa-apa……

Sang Suami: Semua perbedaan di dunia ini hanya dari derajatnya, bukan esensinya, karena keikaan adalah rahasia dari segala sesuatu. Dalam bahasa sufi keikaan adalah Tauhid……. Tauhid berarti “Kesatuan”. Satu Allah, Hyang Tiada Duanya. Bagi Einstein, Hyang Tiada Duanya adalah Medan Energi Terpadu yang mempersatukan kita semua. Bagi para resi inilah Advaita – Non Dualitas. Ekam Sat – Adalah Satu Hyang Memiliki Banyak Sebutan. Vedaanta tidak membedakan antara penemuan Muhammad, pemahaman Einstein dan pencerahan para resi. Semuanya bagian dari Hyang Maha Sampurna, Kesempurnaan itu sendiri. Maka, Vedaanta pun memahami betul ketika Isa menyatakan dirinya sama dengan Bapa Allah di Surga……. Vedaanta memahami ungkapan “Bagaimana pun jua, saya seorang manusia…. manusia biasa “ sebagai kekeliruan manusia. Kekeliruan dalam hal mengenal diri. Kekeliruan atau kesalahpahaman tentang jati-diri, yang disebabkan oleh pikiran. Maka, membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang keliru itu menjadi tugas awal manusia………. Demikian disampaikan dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan”.

Sang Istri: Para Founding Fathers mempercayai persatuan, sehingga memilih “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan. Mereka menerima kebhinekaan, perbedaan. Namun di balik perbedaan itu, mereka juga melihat kesatuan. Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan….. Banyak di antara kita tidak, atau tidak mau tahu bahwa para founding fathers kita memiliki kesadaran spiritual yang sangat tinggi. Kesadaran inilah yang membuat mereka melihat keikaan, kesatuan, di balik kebhinekaan – segala sesuatu yang tampak beda. Sekarang kita sibuk membedah kata, membedakan kesatuan dari persatuan. Kita tidak sadar bahwa persatuan hanyalah mungkin bila kita sadar akan “kesatuan” jiwa kita. Kita semua satu dalam jiwa, dalam spirit. Bung Karno, Cipto Mangun Kusumo, dan sederet pendiri Republik Indonesia Modern yang lain adalah siswa spiritual purnawaktu. Mereka tidak pernah berhenti menggali spiritualitas di dalam diri. Untuk itu mereka pun tidak segan-segan belajar dari sumber mana pun. Bagi mereka, berita baik adalah berita baik. Kendati demikian, mereka pun tidak langsung menerima ajaran Theosofi, Vivekananda atau pandangan kebangsaan Attaturk, Marx, dan lain-lain. Mereka tidak menelannya mentah-mentah. Setiap ajaran dan pandangan dicerna dan kemudian disesuaikan dengan budaya Indonesia sebelum disajikan kepada sesama anak bangsa…….

Sang Suami: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan…… Orang bijak melihat kesatuan di balik perbedaan. Jangan mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada. Perhatikan hal-hal yang bisa mempersatukan. Demikian, kau akan selalu jaya, selalu berhasil! Keberadaan tidak mengenal pengulangan. Karena Tuhan Maha Esa Ada-Nya, karena Allah Maha Kuasa Ada-Nya, setiap makhluk dalam alam ini adalah khas, unik. Perbedaan yang terlihat, justru membuktikan Kekuasaan-Nya, Keesaan-Nya. Perbedaan tidak bisa dihindari. Yang harus kita hindari adalah pertentangan. Pertentangan yang disebabkan oleh kesadaran rendah. Pertentangan yang muncul karena kita mempermasalahkan kulit sapi dan tidak memperhatikan susu sapi. Selama kita masih sibuk “membahas” Allah, “mendiskusikan” agama, “memperdebatkan” spiritualitas, kita tidak akan pemah bisa melihat kesatuan dan persatuan di balik hal-hal yang berbeda. Kita harus berwawasan cukup luas, sehingga dapat menerima pandangan-pandangan yang berbeda. Pada saat yang sama, kita juga harus memiliki kesadaran yang cukup tinggi, sehingga bisa melihat keikaan di balik kebhinekaan. Tingkatkan kesadaran kita, lihatlah kesatuan dan persatuan di balik perbedaan, dan kita akan selalu jaya, selalu berhasil!…….

Sang Istri: …..Sekarang apa yang terjadi? sejak usia kecil anak-anak kita sudah dididik untuk memperhatikan perbedaan, bukan untuk melihat kesatuan di balik perbedaan. Bhineka Tunggal Ika tinggal slogan saja. Dan, saya memiliki keyakinan bila motto itu kita khianati, maka bubarlah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nah, kalau mau melahirkan Manusia Baru, kita harus mulai dari mana, dari siapa? Barangkali ada yang menjawab, “dari anak”…. Demikian disampaikan dalam buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin”…… Spiritualitas, yang sesungguhnya merupakan esensi dari semua agama, sama sekali terlupakan. Kita sibuk dengan ritus belaka. Dalam pendidikan agama di sekolah pun “berapa kali sembahyang” dan “berapa sering ke tempat ibadah” menjadi patokan pemberian nilai. Karakter seorang anak tidak menjadi penting, asal ia sudah menunaikan apa yang dianggap sebagai kewajiban agama…….. Demikian disampaikan dalam buku “Youth Challenges And Empowerment”…… Semoga kita semua sadar……. Semoga…

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: