“Mandor Klungsu”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono, Renungan Kedua


Sepasang suami istri setengah baya membicarakan tentang “pitutur luhur”, nasehat bijak dari Raden Mas Panji Sosro Kartono. Untuk lebih mendekatkan rasa, sepasang suami istri tersebut menyebut beliau sebagai “Eyang” Sosro Kartono. Mereka sampai pada renungan kedua. Sebagai referensi, mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Renungan Kedua…….. “Eyang” Sosrokartono menyebut dirinya sebagai “Mandor Klungsu“. “Klungsu” adalah biji asam yang tak ada harganya dan hanya dipakai untuk mainan anak-anak pada zaman tersebut.

Sang Suami: Beliau mengatakan bahwa diri beliau adalah orang biasa, padahal pada tahun 1908 beliau mendapat gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra di Belanda. Sebuah pertanda kebangkitan intelektual-modern Indonesia. Intelektual Besar Belanda, Mr Abendanon, Mr Van Deventer, Prof Dr Snouck Hurgronye, dan Prof Hazeu mengakui intelektualitas beliau. Bahkan seandainya tidak dipersulit oleh Prof Dr Snouck Hurgronye, beliau akan menyelesaikan disertasi doktornya. Pada tahun 1925, beliau pulang ke negerinya setelah berkelana di Eropa sebagai mahasiswa, termasuk menjadi wartawan The New York Herald Tribune. Beliau pulang untuk mengabdi kepada negeri dengan menjadi pemimpin Nationale Middlebare School di Bandung. Akan tetapi, pemerintah Belanda mencurigainya dan memberikan tekanan politis. Beliau akhirnya mengabdi sebagai manusia bebas dan membuka praktik pengobatan fisik dan pengobatan jiwa tradisional dan menempuh laku spiritual khas Jawa….. Menjadi manusia biasa itulah keluarbiasaan spiritualitas. Pernyataan beliau sebagai “Mandor Klungsu” perlu direnungkan. Bukankah seorang Mahatma Gandhi pun juga menyatakan dirinya adalah orang biasa. Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World” disampaikan bahwa tujuan manusia adalah menjadi manusia biasa……. Seperti inilah kejujuran seorang Gandhi. Ia tidak mengaku dapat melihat masa depan. Ia tidak mengaku memperoleh bisikan dari siapa-siapa. Ia mengaku dirinya orang biasa, tidak lebih penting daripada orang yang derajatnya paling rendah, paling hina dan dina. Menjadi “manusia biasa” adalah tujuan setiap manusia. Manusia tidak lahir untuk menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak lahir untuk menjadi malaikat atau dewa. Ia lahir untuk menjadi manusia. Manusia biasa. Sulit untuk menjadi “manusia biasa”. Adalah sangat mudah bagi kita untuk mengaku sebagai “ini” dan “itu” – sebagai umat dari agama tertentu, sebagai alumni dari universitas tertentu, sebagai politisi dari partai tertentu. Dan, betapa sulit bagi kita untuk mengaku, “aku orang Indonesia”. Karena kita ingin menunjukkan bahwa diri kita beda. Ya, masing-masing ingin berucap, “ Aku bukan orang biasa; aku luar biasa. Jadilah manusia biasa. Pertahankanlah ke-”biasa”-an kita. Jadi pemimpin, jadi profesional, jadi apa saja, kita tetaplah manusia biasa, dengan segala kelemahan dan kekurangan kita. Mari kita mengajak sesama anak bangsa, untuk ikut menjadi manusia biasa. Manusia yang tidak diperbudak oleh sistem, oleh dogma dan doktrin, oleh agamawan dan ruhaniwan, oleh lembaga keagamaan dan upacara keagamaan. Manusia biasa yang berhamba sepenuhnya pada Gusti Allah, pada Hyang Widhi, pada Adi Buddha, pada Ia yang Sejati, pada Bapa di Surga……..

Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan bahwa……… Para bijak tidak berhenti berkarya. Mereka menerjemahkan kesadaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berkarya tanpa rasa angkuh, tanpa arogansi. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke”aku”an. Kesadaran dan ke”aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke”aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke”aku”an, keangkuhan…..

Sang Suami: Istriku, “klungsu” atau biji asam walaupun bentuknya kecil tetapi sangat keras dan kuat dan tidak gampang rusak. Dan apabila ditanam dan dirawat sebaik-baiknya, maka biji asam tersebut akan berubah menjadi sebuah pohon asam yang besar-kekar, berdaun rimbun dan berbuah lebat. Pada masa tersebut pohon asam sangat berguna sebagai peneduh jalan, buahnya untuk membuat minuman, bahkan ketika ditebang, kayunya juga bermanfaat untuk keperluan peralatan rumah tangga….. Perumpamaan “klungsu” hampir sama dengan perumpamaan “biji sawi”. Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan……  Kerajaan surga itu seperti biji sawi yang terkecil di antara biji-bijian, tetapi jika jatuh di atas lahan yang siap, ia akan melahirkan pohon yang besar dan lebat, sehingga bisa menjadi pelindung bagi burung-burung di angkasa………  Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan…….. Manusia lahir dengan potensi untuk mengungkapkan kemanusiaannya secara sempurna. la lahir bersama benih kemanusiaan. Pun Keberadaan menyediakan seluruh bahan baku, sarana dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengungkapan kemanusiaan itu. Namun, adalah kesadaran awal manusia yang dibutuhkan untuk meracik bahan baku yang telah tersedia dan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mengungkapkan jati-dirinya – kemanusiaannya………

Sang Istri: “Eyang” Sosro Kartono memahami tentang kecerdasan alam, sehingga beliau tidak terkecoh dengan wujud “klungsu”, biji asam yang tidak berharga. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……. Melihat sebutir biji yang seolah tak bernyawa itu, sulit memercayai bahwa kelak biji itu akan menjadi pohon yang lebat, berbunga, berbuah, dan menghasilkan entah berapa banyak biji baru. Dan, setiap biji memiliki potensi yang sama, yaitu berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji-biji baru……… Demikian pula halnya mereka yang terperangkap dalam alam pikiran, panca indra, dan pemahaman sempit tentang sains tidak bisa menerima bahwa di balik pikiran, panca indra dan pemahaman sempit itu terdapat Kecerdasan yang luar biasa. Perubahan-perubahan dalam organisme – atau  wujud kehidupan bersel satu atau lebih – seperti  tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia bersifat makroskopik dan mikroskopik……… Perubahan-perubahan makro atau besar dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak membutuhkan alat bantu. Namun perubahan-perubahan mikro atau kecil hanya dapat diamati dengan alat bantu. Dengan peralatan yang kian hari makin canggih, kita dapat mengamati mikro organisme, sel, bagian-bagian sel, bahkan DNA yang berada dalam inti sel, termasuk pemetaannya. Ulat yang berubah menjadi kupu-kupu tidak membutuhkan waktu yang panjang. Namun, ada pula bentuk-bentuk kehidupan yang membutuhkan waktu yang sangat panjang hingga jutaan tahun. Inilah yang disebut evolusi. Sebagai contoh, perubahan dari manusia purba yang hanya mampu membuat kampak dari batu hingga manusia modern yang dapat membuat bom atom membutuhkan waktu yang sangat panjang. Karena waktu panjang yang dibutuhkan itulah maka proses ini disebut evolusi, bukan revolusi. Dalam proses revolusi, perubahan bisa terjadi seketika atau dalam waktu yang relatif singkat dan pendek………

Sang Suami: Beliau yakin walaupun hanya “klungsu”, biji pohon asam , beliau terus mengabdi kepada sesama sebagai seorang manusia. Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern” disampaikan…… Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Ini merupakan hukum alam yang tidak dapat dielakkan. Apa pun yang kita tanam, itu pula yang akan kita peroleh. Biji buah asam tidak akan memberikan buah mangga. Apabila kita hidup dalam kesadaran demikian, kita tidak akan pernah menderita. Kita akan selalu sadar bahwa penderitaan itu karena ulah kita sendiri pada masa lalu. Dan, dengan kesadaran itu, kita bisa menghindari perbuatan tercela di masa kini. Kemurahan hati berarti berbagi rasa. Apa yang dapat kita bagikan, kecuali apa yang kita miliki? Kembangkan kasih dalam hati kita, sehingga kita dapat menyebarkan kasih pula. Kita harus mulai dari diri kita sendiri. Apabila yang kita kembangkan adalah kebencian, yang akan kita bagi, yang dapat kita bagi, juga kebencian. Sebelum beranjak lebih jauh, sebelum bermurah hati, kembangkan dulu rasa kasih dalam diri kita. Tanpa kasih tidak akan pernah ada kemurahan hati………  Dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” disampaikan…….. Karma berarti “karya, tindakan”, dan setiap tindakan akan membawa hasil. Setiap aksi ada reaksinya. Itulah Hukum Karma. Hukum Karma ini yang menentukan pola hidup kita. Kita menanam biji buah asem, jangan harapkan pohon apel. Apa yang Anda tanam, itu pula yang Anda peroleh sebagai hasil akhirnya. Oleh karena itu, bertindaklah dengan bijak……….

Sang Istri: “Eyang” Sosro Kartono tidak terikat dengan kenyamanan, karena mendapat tekanan dari pemerintah kolonial, beliau tetap mengabdi dengan membuka tempat pengobatan fisik dan jiwa bagi sesama……. Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan…….. Setidaknya kita semua sudah memiliki potensi untuk itu. Selanjutnya, tinggal dikembangkan. Namun, ada juga yang tidak mengembangkannya, sehingga potensi itu mulai berkarat. Pada akhirnya, potensi itu tidak dapat digunakannya, seperti biji yang tidak ditanam dan di sia-siakan. Akhirnya, ia mati. Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan. Seorang anak atau remaja yang sejak kecil dimanjakan; seorang pejabat yang terlalu lama berkuasa; orang kaya yang lebih percaya pada kekayaannya daripada kemampuan dirinya;  seorang miskin yang menjadi minder dan menerima kemiskinannya sebagai takdir atau nasib adalah “kenyaman” yang mematikan potensi kita……..

Sang Suami: “Eyang” Sosro Kartono nampak sangat lembut dan damai tetapi tegas dalam perjuangan membantu sesama. Seperti biji “klungsu” yang sederhana tetapi tidak gampang pecah, beliau yakin bahwa di dalam dirinya terdapat potensi pohon asam yang kekar dan berguna bagi sesama……. dalam buku “The Gospel Of Obama” disampaikan……. Setelah berkembang dari amoeba dan berjuang menjadi makhluk bersel satu, seperti yang diyakini para ilmuwan, kekerasan sudah menjadi tabiat kita. Kekerasan adalah insting hewaniah yang dimiliki seluruh anggota kerajaan hewan. Anti-kekerasan, dan kedamaian bukanlah hal alami bagi kita, belum. Ini adalah potensi tersembunyi manusia, yang harus dimunculkan ke permukaan. Keduanya ibarat biji yang bisa tumbuh menjadi pohon besar, tetapi kita harus merawatnya. Kita harus menyiraminya dengan cinta dan welas asih. Tidak selalu mudah untuk mempraktekkan anti-kekerasan. Tetapi, inilah nilai ideal yang harus kita sadari. Tidak mudah juga memang, untuk mengingat peran kita agar selalu membawa perdamaian, kapan pun. Namun ini jangan menjadi alasan untuk melupakannya sama sekali…….. Semoga kita dapat mengendalikan potensi kehewanian yang ada dalam diri dan berkembang menjadi manusia yang manusiawi…….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September, 2010.

Tambahan penjelasan seorang sahabat dalam facebook

 “Klungsu” adalah inti terdalam.  Dalam khasanah psikologi, terdapat tiga aspek dalam diri manusia: Id, Ego, Super Ego.Id ini lebih kepada dorongan2 bawah sadar yg berupa nafsu (keinginan-keinginan liar);ego adalah “aku” yang penuh dengan tempelan-tempelan atau label-label tentang “aku” yg akhir dari muaranya adalah “ke-akuan”; superego adalah inti terdalam yang terdapat dlm diri manusia. Ia sering diterjemahkan hati nurani . “Mandhor klungsu” dalam khasanah Kawruh Jiwa sebagai wujud manusia yang telah tercerahkan,karena ia telah mampu sampai pada inti terdalam dalam diri manusia. “Mandhor” bertugas “mengawasi”. Demikian dalam istilah “mandhor klungsu”, Klungsu bertugas me-mandhori (mengawasi). Mengawasi setiap hal; baik emosional;mapaun sikap-sikap yang tidak manusiawi menjadi manusiawi. Dengan demikian.tugas terpenting “mandhor klungsu” adalah mengingatkan kita untuk menjadi manusia seutuhnya. Memiliki kualitas manusiawi, tidak lebih dari itu. Dalam hal ini,saya sangat percaya bahwa seseorang yang telah sampai pada kualitas spiritual (sampai kepada inti manusia “klungsu”), ia akan menjadi lebih manusiawi. Sebagaimana note di atas, “menjadi manusia biasa”. “Mandhor klungsu” akan membawa pemiliknya untuk “dadi wong”, ora dadi malaikat atau Tuhan.Tugase manungsa menika inggih dadi manungsa utawi dadi wong sawetah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: