“Catur Murti”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Kedelapan


Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Nasehat RM Panji Sosro Kartono. Untuk mendekatkan jiwa mereka menyebutnya “Eyang” Sosro Kartono. Mereka sudah sampai pada Catur Murti, renungan kedelapan. Sebagai referensi buku-buku Bapak Anand Krishna mereka gunakan.

Sang Istri: Renungan “Eyang” Sosro Kartono kedelapan……” Catur Murti”, bersatunya empat hal dalam diri. Selarasnya pikiran, perasaan, ucapan dan perbuatan…….

Sang Suami: Keempat hal, pikiran, perasaan, ucapan dan perbuatan memang harus selaras, apabila terjadi ketidakselarasan di antara mereka, seseorang akan menjadi gelisah. Kita perlu membicarakan kaitan antara keempat hal tersebut. Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia” disampaikan……. segalanya bermula dari pikiran. Kita melihat sesuatu, ada ketertarikan, dan timbul keinginan untuk memperolehnya. Kemudian, keinginan itu yang ditindaklanjuti menjadi perbuatan atau tindakan. Keinginan = Pikiran + Pikiran + Pikiran. Jika dilihat dari belakang, dirumuskan dari yang paling bawah – maka Pikiran itulah yang menimbulkan Keinginan. Kemudian, Keinginan mendorong adanya Perbuatan atau Tindakan. Dan, Perbuatan atau Tindakan itulah yang menentukan Pengalaman – Pengalaman Hidup. Kehidupan = Pengalaman + Pengalaman + Pengalaman. Pengalaman = Perbuatan + Perbuatan + Perbuatan. Perbuatan = Keinginan + Keinginan + Keinginan. Keinginan = Pikiran + Pikiran + Pikiran. Komponen Terkecil dalam Bangunan Hidup kita adalah Pikiran, Thoughts. Sesungguhnya, hidup kita adalah cerminan pikiran kita. Pikirkan sesuatu yang baik, maka kita akan menginginkan hal-hal yang baik. Kita akan berbuat baik. Alhasil, pengalaman-pengalaman hidup kita baik pula. Dan, hidup kita “menjadi” baik……… Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World” disampaikan…… Keselarasan antara apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan itulah kebahagiaan. Jadikan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan sebagai tujuan kita. Jadikanlah pemurnian pikiran sebagai tujuan kita, maka semuanya akan beres. Diri seperti itu bukanlah diri manusia. Manusia dilahirkan dengan keunikan yang sungguh luar biasa. Luar biasa karena seunik apa pun juga, diri kita semua tetap selaras dengan alam, dengan semesta. Kita sedang bergetar bersama alam semesta. Pikiran kita yang sempit telah merusak keselarasan itu. Sekarang hidup kita terombang ambing dan kita bingung. Kita mencari solusi di luar sana, padahal solusinya ada di dalam sini. Solusinya keselarasan diri. Mulailah dengan menyelaraskan pikiran, ucapan dan tindakan. Saya menambah satu lagi, yaitu perasaan, karena terbentuknya watak manusia sangat tergantung pada apa yang dirasakannya……..

Sang Istri: Suamiku, kita perlu membedakan antara emosi dan rasa. Emosi adalah reaksi tubuh terhadap suatu kejadian. Semua emosi berasal dari sistem limbik dari otak. Kemudian setiap orang memberikan respon yang berbeda-beda terhadap rangsangan pemicu emosi yang sama. Di lain pihak rasa yang kita bicarakan adalah rasa pada ruhani yang kita rasakan dalam hati. Emosi adalah bagian dari lapisan mental emosional atau lapisan pikiran, sedangkan rasa sudah melampaui pikiran. Pikiran itu terbatas pada pengalaman yang dialami, sedangkan rasa sudah lebih luas. Dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” disampaikan……… Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa……. dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Cinta adalah alam rasa. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!……..

Sang Suami: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan…….. Pikiran, Ucapan, dan Tindakan yang selaras. Berarti yang kita ucapkan dan yang kita lakukan sesuai dengan pikiran kita. Kita tidak berpura-pura, tidak munafik. Kita tidak menipu orang dengan memperlihatkan wajah palsu. Ini juga berarti bila pikiran, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan alam semesta. Kita tidak mencelakakan siapa pun, termasuk lingkungan hidup, dengan pikiran, ucapan, serta tindakan kita.

Sang Istri: “Eyang” Sosro Kartono menaruh perhatian sekali terhadap “Catur Murti” agar tidak terjadi kemunafikan.  Apabila apa yang dipikirkan apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan maka terjadilah kemunafikan. Dan kemunafikan tersebut sampai saat ini masih berlangsung pada masyarakat kita. Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…….. Dengan peraturan kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat “menjujurkan” jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia………. dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan……. Jika kita memang melakukan kesalahan terhadap seseorang, tidak ada salahnya kita meminta maaf. Meminta maaf karena kita menyadari kesalahan yang terjadi. Meminta maaf karena kita menyadari bahwa hanya dengan cara itu kita dapat melampaui rasa bersalah. Seusai itu, selesailah persoalan kita. Tidak ada rasa bersalah lagi. Asalkan dalam permintaan maaf itu kita tulus dan jujur, tidak berbasa-basi……. Permintaan maaf yang semu. “Saya sudah minta maaf.” Banyak orang menghibur diri dengan kalimat jitu ini. la tidak peduli bahwa pihak yang dizaliminya telah memaafkannya. “Pokoknya, saya sudah minta maaf.” Bahkan ada yang menambah embel-embel yang sungguh tidak masuk akal, “Demikian anjuran agama. Dan, saya sudah menjalani itu.” Agama mengajarkan ketulusan hati, kejujuran, dan kesungguhan. Setahu saya, tidak ada agama yang mengajarkan “asal-asalan” dan “pokok-pokokan”. Keduanya adalah saudara kembar kemunafikan. Induk mereka adalah “Pembenaran”. Bukan, bukan permintaan maaf seperti itu yang dimaksud. Permintaan maaf yang sungguh-sungguh, itulah yang dimaksud……..

Sang Suami: Mari kita berpikir jernih apakah ada kemunafikan dalam kehidupan beragama kita? Saya pernah membaca di internet tulisan seseorang yang saya pikir sangat bijak dan lugas, walau saya sendiri tidak ingat di mana dan kapan, bahwa di Indonesia, tak seorang pun berani menentang agama. Baru berpandangan kritis sedikit saja sudah bisa berurusan dengan pihak berwajib. Tapi itu hanya terjadi pada tataran formal. Di permukaan, semuanya tampak rapi, tetapi bisa terselubung kemunafikan. Secara formal memang tidak ada yang menentang agama, tetapi banyak perilaku yang mencerminkan sikap menentang agama, dalam arti menentang nilai-nilai luhur yang terdapat dalam agama itu. Kita bisa jatuh pada ironi yang luar biasa: kelihatannya membela agama, tetapi sedang menginjak-injaknya, tampaknya menjunjung tinggi, tetapi pada kenyataannya sedang merendahkannya.  Yang ditentang adalah nilai-nilai ajaran yang ada dalam semua agama. Sekarang, agama sekedar menjadi asesoris, perlengkapan standar untuk menciptakan kesan kemegahan, kegagahan, kesalehan. Atribut-atribut luaran setiap agama ditonjolkan…….. Agama mengajarkan kedamaian dan kasih, tetapi kita melakukan aksi terror atas nama agama. Agama mengajarkan kesederhanaan, tapi kita suka pamer. Agama mengajarkan kepasrahan pada kehendak Ilahi, tapi kita malah menjadi tamak, serakah. Agama mengajarkan kepolosan dan keluguan, tapi kita ingin dikenal sebagai cendikiawan dan ahli tafsir, ahli teologi. Agama mengajarkan persatuan, tapi kita percaya pada perbedaan. Dengan mudah kita mengabaikan ketidakadilan yang dilakukan oleh sesama umat, karena “bagaimanapun mereka masih seiman dengan kita”. Kita tidak sadar bahwa ulah kita itu menyebakan ketakadilan. Padahal keadilan merupakan salah satu nilai dasar setiap agama…….

Sang Istri: Rasa malu itulah yang masih kita perlukan. Dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan” disampaikan……. Rasa malu merupakan sifat perempuan di dalam diri. Karena itu, bagi seorang yang lahir sebagai perempuan, sifat itu menjadi kodratnya. Bagi seseorang yang lahir sebagai lelaki, sifat itu masih berupa potensi yang harus dikembangkan, benih yang harus dipupuk. Sifat malu lahir dari kelembutan-kelembutan dalam diri manusia, kelembutan yang ada dalam diri setiap manusia. Sifat malu bukan rasa takut, misalnya takut dihukum atau didenda seorang penjahat bisa memberi kesan seolah dirinya sudah sadar. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh negara atau oleh institusi agama yang hanya menimbulkan rasa takut, tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan kesadaran manusia. Masyarakat  menjadi munafik. Hanyalah “rasa malu” yang dapat menyadarkan manusia. Kemudian, seorang penjahat akan meninggalkan kejahatan untuk selamanya, karena sadar. Rasa malu membuat sadar, sekaligus lembut……..

Sang Suami: Dengan “Catur Murti” Eyang Sosro Kartono, ingin menyelaraskan hati atau rasa dengan otak atau pikiran dan dengan badan atau perbuatan, “soul, mind and body”. Dengan keselarasan tersebut maka manusia akan menjadi sempurna. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan tentang Manusia Sempurna……… Pertama, Memiliki hati penuh Kasih yang lahir dari kesadaran diri dan bergetar dengan kekuatan yang dahsyat. Kedua, Memiliki sepasang tangan (mewakili badan) yang sakti yaitu sepasang tangan yang dipakainya untuk melayani seluruh dunia dan kesaktian yang diperolehnya dari keceriaan dan pencerahan diri. Ketiga, Memiliki otak yang terbuka bagi pengetahuan dari segala penjuru dan mampu menyelaraskan pengetahuan itu dengan nuraninya sendiri bahkan mengubahnya menjadi kehendak yang kuat. Berwawasan luas, selaras dengan hati nurani atau kata hati, berkehendak yang kuat. Keempat, Memiliki kemampuan untuk menyelaraskan hati (perasaan), raga, dan otak (pikiran) untuk berkarya bagi seluruh umat manusia dan jagat raya. Akhir kata dapat disimpulkan bahwa seorang Manusia Sempurna tak pernah menggunakan kekuatan-kekuatan atau kemampuan-kemampuannya untuk memperbudak atau menguasai dunia, tetapi untuk melayani semesta……..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: