Hidup Kekinian Berarti Hidup Dinamis

oleh Marhento Wintolo pada 10 Oktober 2010 jam 8:13.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150296819265445

Pagi ini keindahan surat Al-Fushshilat menyapa dan mengingatkan kita supaya tidak mengikuti contoh mereka yang “lebih suka kebutaan dari pada bimbingan” (ayat 17). Mereka mengikuti kemauan pancaindra, dan pada akhirnya terjerumuskan oleh pancaindra pula. Kita mesti bertanggungjawab sendiri atas perbuatan kita. Ayat 20 dan 46 jelas sekali bahwa Allah tidak pernah menghukum kita. Apapun yang terjadi adalah hasil perbuatan kita sendiri.

Segala sesuatu dalam hidup ini adalah tentang pilihan, apa yang kita pilih? Pergaulan yang memuliakan dan yang menyenangkan pun adalah pilihan kita. Dan pergaulan yang menyenangkan menurut ayat 25 adalah yang menyesatkan. Pergaulan yang menyenangkan membuat kita memperhatikan masa lalu dan masa depan saja. Tidak membantu kita hidup dalam kekinian. Bernostalgia tentang masa lalu yang penuh duka atau suka – dua-duanya sama. Demikian pula mengkhawatirkan masa depan atau berharap tentang masa depan saja – lagi-lagi sama tanpa beda. Kita lupa hidup dalam kekinian, hidup dalam kekinian berarti menjadi saksi akan “berlalunya masa lalu, dan datangnya masa depan yang kemudian berlalu juga. Hidup dalam kekinian berarti cair, mengalir. Tidak berhenti. Hidup dalam kekinian berarti hidup dinamis. Inilah kehidupan ruhani.

Kehidupan fisik, mental/emosional, pikiran/perasaan, energi dan vibrasi – semuanya sedang berlewat – menyadari hal itu adalah spiritualitas. Berdasarkan pengalaman masa lalu “dulu saya dibahagiakan oleh hubungan, atau oleh keadaan tertentu” maka kita mengharapkan pengalaman yang sama di masa depan. Padahal pengalaman “makan gula” yang sangat menyenangkan pun malah membahayakan di masa depan kalau kita menderita diabetes. Dulu saya dibahagiakan oleh hubungan dengan lawan jenis, dan saya mendambakan pengalaman sama di masa depan. Padahal dulu kondisinya lain, besok kondisinya lain lagi. Kita tidak bisa mengharapkan “kebahagiaan yang sama dari suatu relasi yang tampak sama”. Kita sedang menciptakan masa depan diatas landasan pengalamann masa lalu. Ini adalah azab, ini adalah penistaan hidup as it is. Keindahan pagi ini lain, unik. Inilah berkah Allah. Salam Menikmati Keindahan pagi ini.

Al-Fushshilat ayat 17: Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

Al-Fushshilat ayat 20: Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.

Al-Fushshilat ayat 25: Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

Al-Fushshilat ayat 46: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya).

Iklan

Gunakan Yang Kita Miliki Saat Ini Sebagai Berkah Untuk Berubah

oleh Marhento Wintolo pada 09 Oktober 2010 jam 19:58.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia.

Sumber FB Bapak Marhento Wintolo. http://www.facebook.com/notes.php?id=1587274453&s=10#!/note.php?note_id=10150296176100445

Bagaimana Tuhan mengubah keadaan kolektif suatu bangsa, kaum, kelompok? Ar-Ra’du ayat 11 menjelaskan ketika mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Tiadalah Allah turun dari langit entah ke berapa untuk mengubah keadaan kita, Ia bekerja lewat kita sehingga kita mengubah-diri. Perubahan diri yang dimaksud adalah perubahan secara menyeluruh, ubah total, bukan tambal-sulam.

Ketika kita mengambil satu langkah konkret maka Ia melipatgandakan upaya kita sehingga 1 langkah itu menjadi 1000 langkah. Itu adalah kebesaranNya, kemuliaanNya, berkahNya. Namun berkah itu hanyalah datang ketika kita menghargai berkah sebelumnya dengan mengambil langkah pertama. Kita semua diberi potensi yang sama untuk melangkah ke depan. Apakah kita sudah memanfaatkan pemberianNya itu? Apakah kita sudah menggunakan berkah potensi-diri itu? Jika kita belum menggunakannya, maka kita tidak berhak untuk meminta dan mengharapkan berkahNya lagi. Gunakan terlebih dahulu apa yang sudah diberikanNya kepada kita.

Perubahan adalah hukum alam. Ketika kita tidak menyadari hal itu dan berusaha untuk mempertahankan status-quo, maka hasilnya adalah penderitaan. Air yang tidak mengalir menjadi kotor dan sarang nyamuk. Air kehidupan mesti mengalir terus, tidak dibendung. Perubahan berarti hari ini saya menjadi lebih baik dari kemarin. Dan, besok lebih baik dari hari ini. Maka Ia Yang Maha Baik akan menambahkan kebaikan kepada kita. Sementara itu keburukan adalah hari ini saya menjadi lebih buruk dari kemarin. Atau hari ini saya sama seperti kemarin, berarti saya tidak mengalir, saya tidak berubah. Berarti saya telah menolak berkahNya berupa potensi-diri yang saya tidak manfaatkan, tidak kembangkan. Maka berkah apa lagi yang dapat diharapkan? Sebab itu, kita gunakan dulu apa yang telah kita miliki. Kita manfaatkan, kita berubah dengan menjadi lebih baik. Jika aku berubah, kamu yang membaca ini berubah, kita berubah, maka kita akan mengalir bersama dan mendorong yang lain untuk ikut mengalir. Demikian terjadilah perubahan kolektif, inilah pesan Qur’an Karim, Salam Perubahan, Salam Pembaharuan.

Ar-Ra’du ayat 11: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Amati Dan Renungkan, Sesungguhnyalah Kitalah Pusat Timbulnya Persoalan Yang Melanda Kita

oleh Marhento Wintolo pada 08 Oktober 2010 jam 7:04.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150290246060445#!/note.php?note_id=10150295514615445

Ash Shaffat 25 dan 61 jelas sekali bahwa di mata Allah, sifat “tolong-menolong” dan meng”amal”kan kesadaran yang telah kita peroleh dari ilm itulah yang terpenting. Kenapa? Karena, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 39 bahwasanya kita hanyalah memetik buah-perbuatan kita sendiri. Hukum sebab-akibat inilah dasar kehidupan dan kematian.

Bertauhid, mendirikan shalat dan ketentuan-ketentuan iman yang lain semestinya menggerakkan tangan kita untuk meringankan beban sesama makhluk. Iman semestinya menggetarkan hati dan pikiran kita, jiwa kita untuk merasakan penderitaan sesama makhluk dan memikirkan jalan terbaik untuk keluar dari penderitaan itu.

Permainan dunia adalah permainan ular tangga, gelap terang, neraka surga, preya shreya, nikmat mulia, duka suka, derita bahagia. Ketika kita memilih tangga maka sesungguhnya kita membangun tangga bagi semua. Tangga itu bukanlah untuk diri kita saja. Setiap tangga yang dibangun adalah tangga-publik. Adakah kita telah membangun satu pun tangga seperti itu? Setiap tangga kebaikan yang kita bangun, tidak hanya mendekatkan diri kita saja, tapi manusia sejagad dengan DiriNya, dengan Tuhan, atau apa pun sebutan kita bagi Allah Taala.

Berbuat baik adalah jalan menuju surga, menuju fitrah, menuju tempat asal kita, menuju titik tengah yang adalah Dia. Ular kepalsuan, kebencian, keangkuhan dan lain sebagainya menjauhkan kita dari titik tengah. Itulah neraka. Neraka bukanlah ciptaan iblis. Neraka adalah ciptaan pikiran dan perasaan kita sendiri. Makin lemahnya pikiran, makin lemahnya perasaan makin jauhnya kita dari titik tengah.

Yang mesti kita waspadai adalah melemahnya pikiran/perasaan, karena celakanya kita yang berpikiran dan berperasaan lemah selalu menganggap diri yang terkuat. “Merasa” kuat adalah pertanda kelemahan. Ia yang kuat tidak perlu “merasa” kuat. “Berpikir” kuat pun sama, pertanda kelemahan, yang kuat tidak perlu “berpikir” kuat. Siapa yang memikirkan makanan? Siapa yang keluar air liurnya, ketika mencium makanan? Ia yang lapar. Seperti itu pula yang bicara tentang kebaikan, belum baik. Inti Qur’an adalah, Jadilah Baik!

Ash-Shaffat ayat 25: Kenapa kamu tidak tolong-menolong?

Ash-Shaffat ayat 61: Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.

Ash-Shaffat ayat 39: Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan.

Menjadi Murid, Renungan Kedelapan Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Istri: Kita berdua pernah membaca arsip di dunia maya mengenai komentar seorang Guru kala seseorang bertanya lewat email apakah Sang Guru berkenan menerimanya sebagai murid. Sang Guru berkomentar di dunia maya, pertanyaannya bukan apakah sang guru berkenan menerima murid, pertanyaan yang benar adalah apakah seseorang mau menjadi murid. Kata murid berasal dari bahasa Persia kuno. Kata asalnya adalah murad. Murad berarti seseorang yang pikirannya sepenuhnya tertuju untuk manunggal dengan Gusti. Itulah arti murad. Sehingga pertanyaannya apakah ada seorang murid? Apabila ya, Sang Guru dengan senang hati akan menerima perannya sebagai Murshid atau Guru.

Sang Suami: Dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran” disampaikan puisi dari Shri Chaitanya Mahaprabhu yang terjemahannya sebagai berikut………… Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku……….. Baca lebih lanjut

Ilm Bukanlah Ilmu Pengetahuan

oleh Marhento Wintolo pada 18 Oktober 2010 jam 11:47.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150293991510445

Al Israa ayat 107-110 mengingatkan kita supaya kita tidak menghakimi iman seseorang. Qur’an mengatakan Allah tidak berkurang karena kekafiran kita dan tidak bertambah karena iman kita. Ia tetap Maha Besar.

Mereka yang “berilmu” tahu dan bersujud. Maksud ilm disini adalah knowingness bukan sekedar knowledge atau ilmu pengetahuan. Ilm adalah “pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi”. Iman adalah hasil dari pengalaman pribadi. Amal adalah penerapan ilm dan iman seperti itu, applied knowingness dan faith.

Pertanyaannya adakah kita memiliki ilm dan iman seperti itu? Pernahkah kita mengalami Tuhan? Atau kita baru sekedar berpengetahuan lewat buku, ceramah dan lain sebagainya? Jika kita memiliki pengalaman pribadi, maka Qur’an jelas sekali, kita tidak akan mempersoalkan sebutan, Allah, Rahman “atau nama yang mana saja”.

Sementara ini kita masih mempersoalkan nama, sebutan, bungkusan. Kita belum masuk ke dalam isinya. Baca kembali ayat-ayat ini, firmanNya jelas sekali, ketika shalaat pun jangan “keras”, dan jangan terlalu “pelan”. Berarti, hindarilah ekstremitas. Jika dalam shalaat pun dianjurkan menghindari ekstremitas, maka betapa tidak dalam segala urusan lainnya! Kita menjadi ekstrem karena belum ber-tauhid.

Tauhid berarti Ialah Awal, Akhir dan Tengah. Ialah semuaNya. Maka untuk apa ekstrem kanan, untuk apa pula ekstrem kiri? Dimana kita berada disanalah, disinilah Allah. Para ekstremis adalah pengikut dualitas. Ekstremitas lahir dari paham dualitas. Para ekstremis belum memahami tauhid.

Melalui pemahaman ini,  kita coba mempraktekkan ayat-ayat yang indah ini, kita kirimkan pemahaman kita ini kepada beberapa teman yang beda agama, sambil mengucapkan dengan penuh keyakinan, Allahku juga adalah Tuhanmu. Kita semua sedang menujuNya lewat jalan yang beda. Aku yakin semua jalan menujuNya. Teman, aku cinta kamu, kita saudara. Dan, aku menghargai “jalan”mu. Jalan-ku dan jalan-mu sama baiknya karena sama-sama mengantar kita pada Ia yang Maha-Baik.

Al-Israa ayat 107-109: Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.

Al-Israa ayat 110: Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”

Pekerjaan Utama Manusia Adalah Membunuh Kehewanian Dirinya

 

oleh Marhento Wintolo pada 04 Oktober 2010 jam 17:24.

Semoga virus kesadaran yang dibawa Bapak Marhento Wintolo bisa menyebar ke seluruh persada Indonesia. Sumber FB Bapak Marhento Wintolo.

http://www.facebook.com/notes.php?id=1587274453&s=10#!/note.php?note_id=10150292650235445

 

Al Baqarah ayat 83/84 menjelaskan inti keagamaan dalam beberapa kalimat saja. Tidaklah cukup kita menyatakan keimanan kita. Iman mesti diterjemahkan dalam lewat laku kita sehari-hari. Yaitu dengan:

1.       Melayani keluarga, kerabat, sesama manusia,

2.       Bicara dengan lembut,

3.       Shalat, senantiasa mengupayakan peningkatan kesadaran,

4.        Tidak membunuh/mengusir menganiaya diri. Qur’an karim jelas sekali, barang siapa “membunuh” (siapa saja) telah melakukan bunuh diri. Menzalimi siapa saja berarti menzalimi diri. Ini yang terlupakan oleh kita. Bahwasanya begitu beriman pada Allah berarti melihat wajahNya dimana-mana. Sedemikian kronisnya penyakit lupa kita sehingga kita pun sudah lupa bahwa kita sedang menderita penyakit lupa. Dan, dalam keadaan lupa itu kita membaca kitab-kitab suci kita, bahkan menafsirkan ayat-ayat yang dibaca. Hasilnya pasti membingungkan diri dan juga membingungkan orang lain misalnya ayat 212 – perintah untuk membunuh/berperang disini mesti ditafsirkan sesuai dengan keadaan kita saat ini. Berperang melawan siapa? Membunuh apa atau siapa? Bukankah firman sebelumnya jelas sudah bahwa membunuh siapa pun sama dengan bunuh diri. Dalam ayat ini perintah “bunuh” sesungguhnya adalah untuk diri sendiri. Berperanglah melawan napsu rendahan. Walau apa yang kita peroleh lewat napsu rendahan itu menyenangkan dan nikmat (preya). Dan, terimalah yang kau peroleh dari kesadaran tinggi. Walau perolehan itu awalnya terasa tidak nikmat (shreya).

 

Perintah Al Baqarah untuk menyembelih hewan di “dalam diri” kita jelas sekali. Sejinak apapun hewan itu, ia tetap hewan, tidak perlu membela kehewanian-diri, “apa salahnya? Kenapa mesti dibunuh?” Jika manusia diperkenankan memelihara kehewanian di dalam dirinya, maka untuk apa dilahirkan sebagai manusia dengan bonus kesadaran tambahan? Tetap saja lahir sebagai hewan dengan insting hewani.

 

Kesadaran utama manusia adalah kesadaran akan kehewanian di dalam dirinya. Dan, pekerjaan utama manusia adalah penyembelihan hewan itu. Pencapaian utama manusia adalah hidup dalam kemuliaan dan kebahagiaan sejati, dan tidak berhenti di tingkat kenikmatn indra dan kesenangan sesaat saja.

 

Al Baqarah ayat 83: Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. 

Al Baqarah ayat 84: Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu, dan kamu tidak akan mengusir dirimu dari kampung halamanmu, Kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

Al Baqarah ayat 212: Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di Hari Kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas.

Pembersihan Diri, Renungan Ketujuh Tentang Berguru

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri.

Sang Suami: Kita ini sudah terpola begitu lama, subsconcious mind kita sudah terbentuk hampir permanen. Pola lama ini sudah membelenggu diri kita sehingga menyulitkan kita untuk mengubah diri kita ke arah perbaikan. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan………. Subconscious mind bagaikan rumput liar. Benih kebajikan apa pun yang kita tanam tidak akan tumbuh, karena dihalang-halangi oleh rumput liar. Tidak ada jalan lain, kecuali mencabut rumput liar, membersihkan lahan, dan setelah itu baru menanam benih kebajikan. Kita menyumbang, melakukan bhakti sosial semuanya percuma. Benih kebajikan tidak tumbuh, selama subconscious mind kita masih memainkan peran utama. Kita malah menjadi arogan. Pegawai di kantor kita tindas. Para gembel di jalanan kita beri makan…….

Sang Istri: ……..Persis seperti indera fisik, psikis pun membutuhkan pembersihan. Sebagaimana pendengaran kita terganggu bila telinga kita penuh kotoran; demikian pun perkembangan kesadaran psikis terganggu, bila “diri” kita penuh dengan sampah pikiran dan emosi. Demi perkembangan diri, atau lebih tepatnya, untuk “memfasilitasi perkembangan diri”, kita perlu “membersihkan diri”. Terimalah “keadaan” diri kita. Terimalah “keadaan kotor” itu. Tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Tidak ada yang salah bila kita mengakui bahwa lantai jiwa kita kotor, persis seperti lantai di rumah kita. Dan, sebagaimana kita perlu membersihkan lantai di rumah, perlu menyapunya setiap hari, begitu pula kita perlu membersihkan lantai jiwa setiap hari. Kendati demikian, hendaknya kita juga tidak berhenti pada pengakuan saja. Kita masih harus menindaklanjutinya dengan membersihkan lantai jiwa yang kotor itu…….. Demikian disampaikan dalam buku “Neo Psyhic Awareness”. Baca lebih lanjut