“Anyebar Pemandeng Angringkes Pemantheng”, Memaknai Kembali Nasehat RMP Sosro Kartono Renungan Keduabelas


Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan renungan RM Panji Sosro Kartono kedua belas. Mereka menyadari bahwa kesadaran mereka terbatas sehingga mereka menggunakan pisau buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai alat pengupas.

Sang Istri: Renungan keduabelas “Eyang” Sosro Kartono……… “Anyebar pemandeng, tegesipun angringkes pemantheng; Ambuka netro, tegesipun anutup netro; Angukub kabeh, tegesipun anyandak siji”…….. “Membebaskan pandangan berarti mengakhiri fokus pada sesuatu; Membuka mata berarti menutup penglihatan; Merangkul semua berati memegang satu”.

Sang Suami: Pertama, “Eyang” Sosro Kartono sedang membicarakan sebuah kesadaran yang meluas yang telah melepaskan diri dari fokus atau keterikatan. Kedua, Beliau membicarakan tentang menutup mata sebagai gerbang utama panca indra dan membuka mata hati. Ketiga, Beliau membicarakan tentang kesadaran yang merangkul seluruh alam semesta dengan berpegang pada “Gusti dalam diri” atau mengembangkan kasih di dalam diri dan menyebarkannya ke seluruh alam semesta. Nasehat pertama tentang perluasan kesadaran, disebutkan ada beberapa tahapan dalam proses  meluaskan kesadaran. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan…….. Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu : Prinsip Pertama: Kesadaran. Dan yang bisa menghasilkan kesadaran hanyalah “meditasi”. Meditasi berarti “mengurus diri”. Sebelum diri sendiri terurus, jangan mengurus orang lain. Dalam ajaran Sang Buddha, prinsip ini disebut Hinayana sesuatu yang mendasar sekali. Secara harfiah, Hinayana berarti “wahana kecil”. Dalam hal ini, harus diartikan sebagai “langkah awal”, yang paling utama. Prinsip Kedua: Kasih Sayang. Setelah melampaui mind lewat meditasi, baru berbagi rasa. Kasih sayang merupakan buah meditasi. Tanpa meditasi, kasih sayang tidak akan pernah tumbuh. Tanpa meditasi, yang tumbuh hanyalah napsu birahi, paling banter cinta. Seorang yang belum meditatif, belum kenal kasih. Ini yang disebut Mahayana kesadaran yang meluas. Secara harfiah, Mahayana berarti “wahana besar”. Saya mengartikannya sebagai “langkah yang lebih besar”. Prinsip Ketiga: Kebijakan. Dengan hati yang mengasihi, kita menjadi bijak dengan sendirinya. Sentuhan kasih membebaskan dari rasa benci, dengki dan iri. Ini yang disebut Vajrayana puncak kesadaran. Vajrayana berarti “wahana yang kukuh”, bagaikan senjata “Vajra”……..

Sang Istri: Dalam buku “Neo Psychic Awareness” disampaikan……. Mind berkesadaran itulah Psychic Awareness, Kesadaran yang meluas dan merangkul. Itulah Mind ciptaan kita sendiri, sesuai dengan kesadaran kita sendiri. Selama ini kita hidup dengan mind ciptaan orang, ciptaan masyarakat, ciptaan orangtua, ciptaan keadaan dan lingkungan di mana kita lahir dan tumbuh………

Sang Suami: Nasehat kedua “Eyang” Sosro Kartono tentang menutup mata dan membuka mata hati. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan……. Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Misalnya kita “melihat” sesuatu di showcase toko. Muncul keinginan untuk memperolehnya, membelinya, maka tangan akan mencari dompet. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indra, tetapi mata adalah indra utama, gerbang utama. Jauh lebih mudah mengalihkan kesadaran ke dalam diri, bila gerbang utama ditutup……. Selama kita berada di jalan raya, mata lahiriah memang dibutuhkan. Untuk melihat jalan itu sendiri, kita membutuhkan sepasang mata lahiriah. Tetapi, kalau sudah sampai di Rumah-Nya, sepasang mata lahiriah itu harus diistirahatkan. Bahkan bukan sekadar sepasang mata, seluruh kesadaran lahiriah harus diistirahatkan…….

Sang Istri: Selama ini kesadaran kita mengalir ke luar kepada sesuatu yang kita anggap berharga. Padahal yang menentukan sesuatu yang di luar itu berharga atau tidak adalah diri kita. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan……. Bila kita masuk ke dalam diri, kesadaran kita tidak lagi mengalir ke luar, maka seketika kita akan berhenti mengejar sesuatu, karena apa saja yang berharga ada di dalam diri. Diri itulah yang berharga. Di luar sana apa saja yang kita anggap berharga sesungguhnya memiliki harga karena anggapan kita…. Coba pikirkan: Bila segala sesuatu di luar sana menjadi berharga karena kita menghargainya, betapa berharganya diri kita! Temukan diri, kenali dia, hargai dia, dan kita akan berhenti mengejar sesuatu di luar diri…….

Sang Suami: “Eyang” Sosro Kartono membicarakan tentang menutup mata dan membuka mata hati istilah lain dari “meniti ke dalam diri”. dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan…….. Untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk menemukan Keindahan dalam diri, kita tidak harus “berpengetahuan” banyak atau “berpendidikan” tinggi. Banyaknya pengetahuan dan tingginya pendidikan malah bisa menjadi penghalang. Pengetahuan berlebihan akan mengaktifkan pikiran. Dan pikiran tidak berkepentingan dengan “Keindahan” dalam diri. Pikiran selalu mencarinya di luar. Dengan pikiran yang super-aktif, kita juga akan semakin jauh dari rasa, dari hati kita. Kita akan semakin jauh dari “Keindahan” yang ada di dalam diri kita…….

Sang Istri: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan…….. Manusia sudah terbiasa melihat “ke luar”. Dia lupa melihat ke dalam diri. Padahal apa yang dilihatnya itu, apa yang ada di luar itu, tidak pernah memuaskan dirinya. Selalu mengecewakan. Walau demikian, kesadarannya masih tetap mengalir ke luar terus.Dia berharap pada suatu ketika akan menemukan sesuatu yang tidak mengecewakannya. Yang memuaskannya. Kita lahir dan mati, lahir kembali dan mati lagi, dengan kesadaran kita mengalir ke luar terus. Bahkan kita tidak menyadari hal itu. Kita tidak sadar bahwa kesadaran kita sedang mengalir ke luar terus. Seorang Narada menyadari kesalahan diri. Dia sadar bahwa kesadarannya mengalir ke luar terus. Dan dengan penuh kesadaran, dia mengalihkan alirannya ke dalam diri. “Kesadaran untuk mengalihkan aliran kesadaran ke dalam diri” inilah langkah awal dalam meditasi……..

Sang Suami: Nasehat ketiga Beliau tentang kesadaran yang merangkul seluruh alam semesta dengan berpegang teguh pada “Kesadaran Murni”. Dalam buku “Neo Psychic Awareness” memberi istilah orang yang kesadarannya meluas sebagai insan kamil…….. Seorang spiritual adalah insan kamil, a total human being. Setiap lapisan kesadarannya berkembang, sehingga ia dapat berpikir dengan kepala dingin. Ia dapat menganalisis suatu situasi dengan hati yang tenang. la dapat melihat dengan pandangan yang lebih jernih. Karena itu, ia tidak menolak sesuatu begitu saja. la juga tidak akan menerima sesuatu hanya karena ada yang menyuruhnya untuk menerima. la akan berijtihad. la akan berupaya sungguh-sungguh untuk memahami, menghayati, dan bertindak sesuai dengan kesadarannya. la melakoni agama. la tidak menjadi budak agama……..

Sang Istri: Suamiku kita perlu membicarakan tentang garis besar mind pada nasehat “Eyang” Sosro Kartono yang ketiga ini. Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan” disampaikan…….. Mind adalah synap-synap otak yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Tragisnya: sudah tidak bebas, dia juga tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diekspresikan. Meditasi mengantar kita pada penemuan jatidiri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya…….

Sang Suami: Guru Atisha yang terkenal di Tibet mengakui mendapatkan ajaran tentang “Bodhichitta”atau Kesadaran Murni  dari gurunya, Dharmakirti Svarnadvipi, seorang Guru di Svarnadvipa atau Sumatera. Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…….. Bodhicitta adalah Kesadaran seorang Buddha, kesadaran yang berani, tetapi tidak perlu membuktikan keberaniannya; mind yang tidak lagi membedakan materi dan energi, dunia benda dari roh; mind yang tidak berkiblat pada arah tertentu, karena ia melihat Wajah Allah di mana-mana……… Pikiran-pikiran kacau yang saat ini mengkristal menjadi mind harus lenyap dulu. Mind harus gugur dulu. Baru setelah itu kita menciptakan mind baru. Setelah mind gugur, kita menciptakan mind yang sesuai dengan kesadaran kita, yang tidak terpengaruh oleh masyarakat, tidak terpengaruh oleh buku-buku, tidak terpengaruh oleh apa yang dikatakan oleh orang lain; Mind yang  tidak terpengaruh oleh keinginan-keinginan kita yang tercipta dari ketaksadaran kita, dari ketidaktahuan kita; mind yang bebas dari belenggu, free!……..

Sang Istri: Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan…….. Lalu, apa yang terjadi bila pikiran atau mind sudah terlampaui? Apa yang dilakukan oleh mereka, yang konon sudah berkesadaran? Pertama, Apa yang terjadi? Mereka terbebaskan dari pengendalian “oleh” mind. Mereka keluar dari “penjara” mind; Kedua, Apa yang mereka lakukan? Mereka mengamati mind; mereka mengamati keadaan penjara di mana mereka ditahan selama ini. Karena itu, mereka dapat melihat dengan jelas dan jernih keadaan “diri” mereka. Mereka dapat memahami “sebab” atau “alasan” perilaku mereka selama ini. Kemudian, berdasarkan penglihatan dan pemahaman yang baru itu, mereka pun dapat “mengubah” keadaan; dapat melakukan transformasi atau perombakan total. Mereka dapat memperbaharui mind mereka. Mereka dapat menciptakan mind yang baru, mind berkesadaran…..

Sang Suami: Tentang kesadaran yang merangkul alam semesta dan berpegang pada “Gusti dalam diri” atau “Kesadaran Murni”. Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…….. Carilah Dia di dalam diri, karena siapa pun yang mencari pasti menemukan-Nya. Setelah menemukan-Nya, bagikanlah penemuan itu dengan setiap orang yang menginginkannya, setiap orang yang membutuhkannya. “Janganlah berhenti; berjalanlah terus untuk menyampaikan berita baik tentang Kerajaan-Nya”! Kerajaan-Nya yang berada di dalam dirimu, di dalam diriku, di dalam diri kita semua. Kerajaan-Nya yang meliputi semesta alam. Pesan Yesus sangat sederhana. Berita baikyang hendak disampaikan-Nya sangat direct, to the point dan mudah dicerna……… Mengembangkan kasih di dalam diri dan menyebarkannya adalah tujuan hidup setiap manusia. Dengan proses inilah kita memanusiakan diri. Dengan cara inilah kita menemukan Sang Anthropos, Sang Manusia Sempurna dalam diri. The Real Superman!…….

Sang Istri: “Eyang” Sosro Kartono telah menguraikan tentang sebuah kesadaran yang meluas yang telah melepaskan diri dari keterikatan; tentang menutup mata sebagai gerbang utama panca indra membuka mata hati sebagai awal tindakan meniti ke dalam diri; dan tentang mengembangkan kasih di dalam diri dan menyebarkannya ke seluruh alam semesta. Semoga semakin banyak putra-putri Ibu Pertiwi yang sadar. Terima Kasih “Eyang” Sosro Kartono…..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: